Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
41. Bermalam Dengan Sang Pangeran 16


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......


“Jahat gimana Ajeng, apa yang terjadi dengan dirimu. Bukankah kemarin sore kalian masih baikan. Apa yang di lakukan Putra kepadamu.” Medina mengelus rambutnya Ajeng yang panjang indah terawat dengan baik.


“Iya jeng, ada apa. Ceritakan lah kepada kita.” Ucap Grace yang juga mengusap air matanya Ajeng di pipinya. Ajeng masih menangis dan berusaha melupakan wajahnya Putra yang berada di pikirannya, dia mulai tenang dan tidak nangis lagi.


“Ceritanya panjang Grace, Din. Biarlah nanti saja ketika kita sudah bertemu dengan Sarmijo orang ndeso itu yang sangat kurang ajar. Tapi, saat ini aku masih menghormatinya karena malam ini Sarmijo menampung kita yang lemas dan ketakutan. Entah kenapa kita bisa di rumahnya Sarmijo yang mata keranjang itu, sebenarnya aku nggak ingin tinggal di rumah ini. Sungguh sangat menjijikkan bagiku.” Ajeng marah, matanya memerah yang tadinya sudah merah karena tumpahan air mata sekarang bertambah merah karena amarah. Dia mulai berdiri turun dari kasur begitu juga Grace dan Medina. Ketika mereka berdiri, Grace dan Medina memeluk Ajeng.


“Yang sabar ya sayang, nanti permasalahanmu kita pecahkan bersama-sama.” Ucap Grace yang berada di sampingnya Ajeng, Medina juga berada di sampingnya karena Ajeng berada di tengah. Keduanya berusaha menghibur Ajeng yang sakit hati.

__ADS_1


“Lebih baik saat ini kita menghormati Putra sampai waktunya tiba. Nanti kita sidang beramai-ramai, kenapa dia sampai hati menyakitimu. Aku nggak tega jika persahabatan kita pecah dan saling bermusuhan.” Medina memberikan semangat kepada Ajeng yang sudah putus asa dan sangat benci sekali dengan Putra. Dengan hadirnya kedua sahabatnya ini, hatinya Ajeng mulai tentram dan cukup bisa menerima keadaan. 


“Mendingan kita keluar dari kamar ini dan mencari Putra, sebenarnya apa yang terjadi dengan kita.” Mereka bertiga mulai keluar dari kamarnya Putra. Pintu kamar dibuka Grace, ketiganya keluar dari kamar tidur. Disana sudah ada Putra sedang duduk di sofa sambil menonton televisi di ruang tamu. Rumah putra tidak ada ruang tengah, rumah itu terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur dan ruangan depan yang ada sofa dari kulit. Bisa dibilang rumahnya putra minimalis yang sangat sederhana. Walaupun minimalis rumah putra kelihatan bersih dan rapi karena seluruh lantai rumahnya memakai lantai marmer, kecuali kamarnya saja yang memakai lantai keramik. Langit-langit eternit di ruang tamu seperti langit-langit hotel berbintang lima. Di tengah eternit ada lampu yang menggantung berwarna emas yang sangat indah sekali. 


“Eh kalian, ketiga sahabatku yang sangat cantik-cantik udah bangun dari tidurnya. Gimana, sudah enakan ya. Sini-sini duduk di sofa, anggap saja rumah sendiri. Oh ya ini ada beberapa nasi bungkus dan es kopyor, silahkan jangan malu-malu jika kalian lapar.” Kata Putra yang tadi sudah kenyang makannya. Dia berdiri menghampiri mereka bertiga. Di meja ruang tamu, banyak sekali nasi bungkus dan es kopyor yang mulai mencair.


“Wah kamu kok baik banget ya Put.” Mereka bertiga basa-basi menyanjung Putra. Padahal yang sebenarnya di hati mereka bertiga sangat sebel sama Putra.


“Begitu yah, sebentar ya.” Putra berjalan meninggalkan mereka bertiga yang masih mempunyai sisa-sisa kelelahan. Putra masuk ke kamar Ayahnya dulu yang sekarang digunakan Putra untuk menaruh beberapa lemari. Putra keluar dari kamar membawa tiga handuk bersih dan tiga baju kimono. Dua kimono bermotif penari kipas dengan gadis Jepang, kimono ini belinya dari Jepang pemberian teman Ayahnya. Sedangkan kimono yang satunya bermotif batik yang menjadi kesayangan Putra karena pemberian dari anak gadis sahabat Ayahnya dari Pekalongan, dimana Putra tergila-gila oleh kecantikannya. Mereka bertiga bergantian untuk mandi, ketiganya sangat cantik sekali memakai baju kimono pemberian dari Putra. apalagi dengan rambut basahnya Medina dan Ajeng yang terurai panjang kehitaman dan rambut panjang miliknya Grace yang kecoklatan. Grace dan Medina makan nasi bungkus pemberian Putra karena mereka jarang-jarang merasakan nasi bungkus yang di beli di warung. Biasanya mereka makan di restoran. Sedangkan Ajeng tidak nafsu makan, karena dia teringat Putra yang saat ini di bencinya setengah mati. Ajeng hanya makan es kopyornya saja. Setelah ketiganya sudah mulai kenyang, nasi bungkus yang dimakan Grace dan Medina tidak sampai habis karena sudah kekenyangan. Demikian juga Ajeng yang tidak nafsu makan, Putra mematikan televisinya.


“Apa yang terjadi dengan kalian bertiga, sehingga kalian bisa nyasar di rumahku.” Ucap Putra yang mulai membuka suara. Mereka berempat tadinya diam hanya menonton televisi sambil makan. Grace, Medina dan Ajeng saling pandang satu sama lain. Mereka belum mau bercerita karena masih takut dengan pengalaman yang sangat menakutkan dalam hidupnya. Ketiganya masih diam, Putra pergi ke kamarnya mengambil empat buah Batu Meteor yang menempel satu sama lain. Dia menaruh Batu Meteornya di taruh di dalam kardus berwarna hitam. Putra duduk lagi di sofanya dan meletakkan kerdus itu di meja.

__ADS_1


“Kardus apa itu Put.” Tanya Grace yang penasaran. Putra membuka kerdus itu dan mengeluarkan isinya. 


“Ini Batu Meteor milik kita yang menempel. Lihatlah sendiri, sampai saat ini pun masih melekat satu sama lain. Tadi pagi aku berusaha menarik satu dengan yang lainnya agar terlepas, tapi nggak bisa lepas juga.”


“Seharusnya kan berbentuk Buku Saku. Kenapa malah menjadi Batu Meteor dan menempel pula. Aneh!!” Kata Medina yang memegang empat Batu Meteor itu yang saling menempel, begitu juga Grace yang penasaran. Sedangkan Ajeng hanya diam membisu. Matanya mulai memerah hampir saja dia menangis jika melihat wajahnya Putra.


“Sebenarnya malam itu apa yang terjadi dengan kalian.” Tanya Putra yang melihat wajahnya Ajeng. Desiran rasa takut menghinggapinya. Putra tidak nyaman dan ketakutan lagi jika melihat wajahnya Ajeng yang pucat. “Kenapa dengan Ajeng ya, sepertinya ada sesuatu yang di rahasiakan. Matanya Ajeng memerah, sepertinya dia marah, dan sekarang dia enggak mau lagi memberikan senyum manis kepadaku. Apa salahku sehingga dia begini.” Ucap Putra dalam hati. Grace dan Medina mulai bercerita sedangkan Ajeng hanya diam membisu. Ketiganya masih duduk di sofa panjang saling berdekatan, kecuali Putra yang sedari tadi duduk di sofa pendek sendirian.


“Aku tadi malam telah diteror Roh Gentayangan dan Makhluk Berjubah yang melayang-layang. Roh Gentayangan ini takut dengan makhluk berjubah dan mereka lari ketakutan. Sedangkan Makhluk Berjubah yang melayang-layang membawa tombak melengkung untuk menarik rohku agar keluar, rasanya sakit banget. Grace dan Ajeng juga sama yang dialaminya seperti yang aku alami. Kita tadi bercerita di dalam kamar, sungguh hari yang berat buat kita.” Kata Medina. Jika dia mengenang kejadian ini menjadi merinding, takut dan menitikkan air mata.


“Iya Put, sungguh sangat memilukan. Roh Gentayangan ini meraba tubuhku, tubuh mereka tidak utuh lagi dan baunya sangat busuk menjijikkan, untung saja aku sudah makan nasi bungkus ini. Jika aku bercerita dulu sebelum makan, pastinya aku nggak doyan makan. Hii...bau banget.” Kata Grace yang merasa jijik dengan makhluk tadi.

__ADS_1


__ADS_2