
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......RAME BERKUNJUNG KE TOKO BUKU......
“Eh tunggu dulu deh, buku sakuku berubah secara ajaib deh. Lihatlah tulisan Aksara Jawa udah enggak ada. Malahan ada tulisan Tropssap 3 Mala di atas kotak yang berada di tengah, tadinya kotak sama tulisan ini kan enggak ada. Lihat lagi, di dalam kotak ini ada sesuatu yang bergerak-gerak. Sepertinya ada gambar orang dari arah belakang, semacam punggungnya deh. Coba lihat lagi, rambutnya dan punggungya bergerak-gerak.” Kata Putra yang heran sendiri. Grace, Medina dan Ajeng mendekati Putra lagi yang tadinya menghindar. Kali ini pandangan mereka berempat serius dengan melihat buku sakunya putra yang di pegang tangannya.
“Wajiiii....nggg.” Buku saku ini bersin dan ingusnya keluar dari dalam kotak mengenai mereka berempat. Ingus ini banyak sekali yang menyemprot mengenai muka mereka. Wajahnya menjadi lengket terkena kutukan ingus ini. Tiba-tiba ingus ini berubah jadi air yang sangat-sangat dingin seperti air dari puncak gunung. Wajah dan rambutnya mereka yang tadinya lengket terkena seperti ingus berubah menjadi basah. Mereka berempat mulai kedinginan terutama bagian wajah mulus mereka. Keempatnya loncat sambil berteriak karena kaget.
“Yech...sial bau sekali ingus dari bersin ini.” kata putra sambil menghapus ingus yang berada di mukanya.
“Tapi kok meleleh menjadi cair yah. bahkan baunya wangi banget, seperti bau cendana dan melati.” Kata Ajeng kedinginan yang merasakan senang bau wajahnya menjadi wangi, yang tadinya sangat bau terkena ingus yang sangat banyak kemudian mencair menjadi air keparfuman.
“Eh lihat Putra. Buku sakumu di dalam kotak ada wajahnya, dia mulai membalikkan badannya. sepertinya wajahmu deh, mirip banget. Bahkan wajah di dalam kotak buku sakumu mulai diam deh, enggak bergerak lagi yah.” Kata Medina sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah sampul depan buku saku.
“Aneh, di bawah kotak itu juga ada tulisannya yang berbunyi Ojimras Hays Artup Oton Orogen. Tulisan yang aneh, enggak ada maknanya sama sekali.” Kata Grace yang sedikit bingung, takjub dan takut dengan kejadian yang dialami pada malam kesengsaraan terbalut keanehan.
“Coba ah milikku aku pencet.” Kata Grace lagi. Seketika itu juga dia mengalami hal yang sama seperti yang dialami Putra. Ingusnya mengenai wajah serta rambutnya yang pirang kecoklatan. Gambar yang berada di kotak pun sama seperti badannya ketika tubuh gambar itu membelakangi, ketika gambar itu menghadap ke depan wajahnya sama persis dengan grace. Tulisan di kotak atas bertuliskan Tropssap 3 Mala. Sedangkan di bawah kotak bertuliskan Ecarg Axela Itawadiw. Ajeng juga sama melakukan apa yang dilakukan dua sahabatnya lebih dulu walaupun dia agak takut. Dia juga mengalami hal sama, suara petir itu menggelegar membuat rambutnya berdiri. Dia menjerit sangat kencang karena kaget luar biasa. Ketika terkena asap putih dia mulai kedinginan. ketika gambar kotak membelakanginya persis seperti punggung dan rambutnya yang panjang. gambar wajahnya bergerak ke depan yang didahului bersin, dia juga basah kuyup. Wajah dan rambutnya menjadi bau, tak berapa lama ingus itu mencair menjadikan air yang wangi seperti apa yang dialami Grace dan Putra. Di halaman sampul depan dari buku sakunya juga ada tulisannya. Kalau di bawah tombol di atas kotak bertuliskan Tropssap 3 Mala, sedangkan yang berada di bawah kotak bertuliskan Gneja Hadni Uya Irtup. Ajeng sangat senang sekali karena mendapatkan buku ajaib dan di buku saku itupun ada foto dirinya.
__ADS_1
“Ayo Medina sekarang gantian kamu, coba deh pasti asik.” Kata Ajeng dan Grace yang keduanya senang senyam-senyum sambil memegangi buku sakunya.
“Tapi aku takut. Enggak usah aja ya, aku trauma. Nanti kalau terjadi apa-apa ketika kita sudah pulang ke rumah gimana coba.” Kata Medina yang khawatir karena dia merasakan ada yang aneh dengan kondisi malam ini yang membuat dirinya sedikit shock mengingatkan dia pada kepergian Papanya untuk selamanya.
“Sudahlah Din, kamu enggak usah takut. Ini buku ajaib yang sangat fenomenal loh, jarang ada orang yang punya dengan buku ini deh. Coba aja kalau ada yang mencari buku saku ini di toko buku, pasti mereka akan kesusahan menemukannya.” Kata Grace dengan pedenya yang didukung dengan kedua sahabatnya yaitu Putra dan Ajeng sambil menganggukkan kepalanya. Ketiganya memberikan semangat kepada Medina dengan kata-kata yang membangunkan jiwanya.
“Oke deh. Tapi ingat loh, jika suatu hari nanti ada apa-apa, kalian ya yang bertanggung jawab atas semua ini.” kata Medina yang merasa malas dengan memencet buku saku ini.
“Baiklah, biar aku saja yang akan bertanggung jawab jika ada apa-apa. Kalian bertiga tenang saja.” Kata Putra yang sok jantan dan sok tahu. Namun, ada benarnya juga putra berkata demikian, karena dialah yang paling berani dari ketiga sahabatnya ini. Apalagi dia laki-laki sendiri di antara mereka, makanya dia berusaha melindungi mereka bertiga karena dia tidak mau kehilangan lagi sahabat yang dicintainya. Di dalam hatinya, dia beralasan mempunyai dua sahabat dekat yang berada di Semarang yang sudah tiada ketika itu meninggalnya berada di sisinya. Putra juga kehilangan Ayah dan Bundanya.
Medina yang terpengaruh dari semangat ketiga sahabatnya mulai memencet tombol buku sakunya. Dia juga mengalami hal yang serupa dengan ketiga sahabatnya. Suara petir yang menggelegar membuat dia terpuruk duduk di trotoar yang sedang shock dengan tatapan matanya yang kosong, wajahnya pun pucat pasi. Mengetahui sahabatnya terjatuh yang shok berat, Grace dan Ajeng mengangkat Medina untuk berdiri. Buku itu beraksi lagi, dia mengeluarkan bersin. Ketiganya basah kuyup sambil berteriak karena kaget, walaupun Grace dan Ajeng pernah mengalaminya. Sedangkan Putra tertawa geli melihat ketiga sahabatnya yang menjerit-jerit. Ketiganya gadis cantik sahabat Putra akhirnya basah kuyup terbumbui aura shock yang tak terlupakan. Nampak pada sampul buku saku tersebut bertuliskan sama dengan yang dimiliki ketiga sahabatnya. Di antara tombol dan kotak bertuliskan Tropssap 3 Alam, sedangkan yang berada di bawah kotak bertuliskan Anidem Inarhays.
“Iya, kamu benar Ajeng. Jika tulisan nama kita bacanya saja dibalik dari belakang, maka tulisan di atas kotak ini berbunyi Passport 3 Alam.” Kata Grace sambil membacanya secara pelan-pelan memandangi wajah ketiga sahabatnya satu persatu. Keempat remaja ini pun merasa merinding.
“Benar banget Grace, tulisan yang berada di atas berbunyi Passport 3 Alam.” Kata mereka bertiga sambil melihat wajahnya grace. “Kira-kira maksudnya apa ya.”
Ketika mereka asyik ngobrol di bawah pohon besar di pinggir jalan raya. Mereka berempat di kagetkan dengan bunyi deringan hapenya Medina yang ditaruh di sakunya. Terdengar suara ringtone dari lagunya GITA GUTAWA yang berjudul DOO BE DOO. Ternyata Tantenya Medina yang menelepon agar segera ke parkiran mobil karena Grace dan Medina di tunggu disana. Akhirnya keempatnya pergi ke parkiran mobil untuk bertemu Om dan Tantenya Medina sambil memasukkan buku saku mereka ke dalam saku baju. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 11)
__ADS_1
Sesampainya mereka disana, mereka berempat bersalaman. Om dan Tantenya Medina menanyakan kabar mereka berempat terutama sama Putra. Dia juga disayang dengan keduanya, karena mereka tahu jika Putra hidup sebatang kara. Tantenya menanyakan kondisinya putra sudah baikan apa belum. Dia pun menjawab sudah agak mendingan, kondisi tubuhnya pun membaik. Ajeng dan Putra memberikan nomor telepon hapenya kepada sahabat baru mereka yaitu Grace dan Medina. Keduanya sangat senang sekali bisa bersahabat dengan Ajeng dan Putra. Apalagi nantinya mereka bisa saling berkomunikasi lewat hape, baik sms, nelpon maupun menggunakan 3G. Putra meminta ijin untuk mengambil si bendi motor kesayangannya. Ketiga gadis ini menunggui Putra bersama Om, Tante dan Inggrid. Ketiga gadis cantik ini bercanda sambil menggoda Inggrid. Apalagi Ajeng yang sudah kenal lama dengan Om dan tantenya Medina, beberapa menit kemudian Putra membawa si bendi, vespa bututnya.
Akhirnya Grace, Medina dan Ajeng memberikan semua novel kepada Putra. Masing-masing, novel Harry Potter, Lord Of The Ring dan karangan milik Mbak Jenar juga karangan milik Mbak Dewi. Putra kaget sekali, menerima beberapa novel dari mereka bertiga.
“Apa maksudnya ini.” Kata Putra. ketiganya malah cekikikan melihat Putra yang keheranan.
“Udah buat koleksi di rumahmu aja, kita bertiga tahu kok di rumahmu enggak ada novel sama sekali ya kan. Nih saksinya Ajeng, sahabatmu.” Kata Grace yang di dukung Medina. Ajeng tersenyum kepada putra, dia membuang muka karena dia malu sendiri. Nampak ketika itu putra memandangi wajahnya Ajeng yang malu, dia serasa melihat bidadari yang turun ke bumi. Di dalam hatinya terbersit sebuah kata-kata yang menginginkannya.
”Idih, ada-ada aja sahabatku yang baik hati terhadapku ini, bahkan dia juga sangat cantik loh. Seandainya aku bisa memilikinya menjadi cewekku, apapun pasti aku lakukan untuk membahagiakannya.” Kata Putra yang melamun sebentar memandangi wajahnya Ajeng yang mukanya memerah. Kemudian dia sadar kembali dari lamunannya, takut ketahuan sama Grace dan Medina jika dia naksir berat sama Ajeng. Karena mereka berdua memandanginya dan merasa heran sendiri. Feeling mereka berdua mengatakan jika putra menyembunyikan sesuatu.
“Makasih banyak ya, kalian semua udah care sama aku.” Kata Putra yang tersenyum kepada ketiga gadis cantik sahabatnya. Rambut ketiganya yang panjang kena terpaan angin malam yang melayang-layang seolah-olah rumput hijau yang bergoyang indah.
Tantenya Medina mengajak Ajeng dan Putra untuk makan malam bersama. Namun mereka menolak dengan halus karena mereka sudah makan sebelum berangkat ke toko buku. Akhirnya Putra dan Ajeng berpamitan karena sudah sangat malam.
“Kapan-kapan kita ketemu lagi ya.” Kata Grace dan Medina sambil melambaikan tangannya untuk salam perpisahan yang sangat indah.”
“pastinya...nanti aku hubungi kalian lewat hape yah.” Kata Ajeng yang diboncengin Putra. Dia duduk di belakang berpegangan di pinggangnya putra sambil melambaikan tangannya. Setelah Putra dan Ajeng pergi, giliran mereka mulai memasuki mobil untuk melanjutkan perjalanan mencari makan malam yang tertunda di dekat kampus UGM.
__ADS_1
##T##