Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
20. Roh Gentayangan 2


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......ROH GENTAYANGAN......


“Aku juga tahu daleman yang kamu pakai, sebentar aku tulis dalam buku saku milikku agar aku bisa melihat kamu hanya memakai daleman aja.” Kata Putra pura-pura menggertak dan mengancam kepada mereka agar mereka percaya. Inilah kebodohan dan ketololan Putra. Dengan mengatakan kata-kata seperti ini, dia masuk ke dalam sarang harimau betina yang sangat lapar. Para gadis cantik ini marah besar kepadanya, ketiganya juga memaki-maki dengan nama ndesonya Putra. Mereka bertiga serentak menuliskan di dalam laptopnya.


“Sarmijoo... orang ndeso...!!!. Jangan macam-macam ya. Awas kamu nanti jika ketemu, kita hajar rame-rame.” Kata Grace, Medina dan Ajeng yang marah besar. Jika saja Putra ada di depan mereka, habis sudah dia sebagai seorang laki-laki. Biasanya jika seorang gadis cantik sedang marah, mereka lebih menakutkan ketimbang seorang laki-laki. Apalagi ini yang marah ketiga gadis, pasti Putra akan dianiaya sampai habis tulang kurusnya.


“Sarmijo, kamu jangan macam-macam ya dengan kita bertiga.” Kata Medina yang marah sambil berbicara lewat microphone. Ajeng melalui microphonenya juga sama marahnya dengan Putra. Sambil cekikikan dia mendukung Medina kalau Putra itu orang ndeso apalagi di panggil Sarmijo. Biasanya jika Ajeng memanggil Putra menyebutkan Sarmijo, dia akan marah banget. Apalagi teman sekolahnya juga memanggil Sarmijo untuk ngeledeknya. Sedangkan Grace lewat webcam sambil mengancam kepadanya.

__ADS_1


”Sarmijo, awas loh kamu nanti.”  Kata Grace sambil mendekatkan mukanya ke webcam.


“Habisnya kalian nggak percaya sama sekali sih denganku, aku kan nggak dusta.” Kata Putra yang merasa bersalah dengan ucapannya. Dia takut jika nantinya selama ini dituduh macam-macam dengan mereka bertiga.


“Jadi selama empat minggu ini kamu melihat kita, jujur saja kamu Put.” Kata Medina yang sangat marah.


“Iya sih, maafkan aku ya. Aku mohon dengan sangat.” Ucap Putra sedikit bimbang dengan jawaban ini. Karena dari awal dia mengatakan tidak dusta, maka dia memegang komitmennya untuk jujur.


“Medina, maafkan aku Din. Aku memang salah, tapi aku kan jujur. Kamu jangan marah ya Din.” Kata Putra yang sedih, hatinya mulai berkecamuk. Matanya Putra memerah, hampir saja tangisannya pecah tapi dia bisa menahannya.

__ADS_1


“Iya nih, Putra tega sekali sama kita bertiga. Pasti kamu melihat kita yang seharusnya kita pribadi saja yang tahu. Kamu melihat kita mandi ya, sudah berapa kali kamu melihat kita mandi, selama empat minggu Put. Sungguh terlalu kamu Put, jahat, jahat banget kamu Put. Mulai saat ini persahabatan kita putus saja sampai disini. Jiwamu porno Put, baru bisa melihat kita dari rumahmu aja kamu melakukan perbuatan yang nista semacam ini. kamu jahat, jahat melecehkan kita bertiga seperti ini.” hik,hik. Kata Grace yang menangis dengan kata-katanya yang sangat menyentuh melalui microphon. Dia sangat marah dan masih menangis karena malu jika tubuhnya dilihat seorang laki-laki. Sesuatu yang sangat pribadi telah di ketahui apalagi di lihat sahabatnya selama ini yang dianggap baik dan bisa bertanggung jawab. Medina pun ikut menangis sedih di campur marah dengan Putra ketika mendengarkan kata-katanya Grace.


“Putra, benarkah apa yang di tuduhkan mereka Put.” Kata Ajeng yang berusaha menengahi permasalahan ini. Karena Ajeng tahu watak Putra yang tidak mungkin melakukan hal yang senekat itu. “Aku sebagai sahabat baikmu di Yogyakarta yang sudah sangat lama sekali, maka aku mohon kamu harus bicara jujur Put. aku tahu jika kamu enggak melakukan sejahat yang mereka pikirkan ya kan Put.” Kata Ajeng yang sangat sedih sekali mengetahui sahabat lamanya di tuduh seperti ini, apalagi Putra sudah seperti dianggap kakaknya sendiri.


“Enggak, enggak, aku enggak mungkin melakukan seperti itu Jeng. Benar aku berjanji enggak akan berdusta. Jika aku bohong kalian boleh menuntut aku apapun itu, tapi janganlah persahabatan kita putus yah. Aku mohon maafkanlah aku.” Kata Putra yang mulai gugup dan akan menangis. Dia berkata di mikropon dengan suara lirih, hanya dia yang tahu jika dia menangis sedih karena Putra telah membohongi Ajeng sahabat yang sangat dekat sekali. Di dalam hatinya dia membenarkan jika dirinya pernah melihat Ajeng mandi, dia melihatnya karena tidak sengaja. Bahkan diapun langsung menutup bukunya walaupun dia melihat sebentar sekian detik dari pandangannya. Ketika itu Ajeng sudah selesai mandinya, dia memakai handuk yang menutupi tubuhnya ketika Ajeng sedang menggosok gigi. Ajeng berusaha menenangkan situasi, agar Grace dan Medina percaya jika putra tidak berbohong. Ajeng pun memuji Putra kalau dia itu orangnya baik, sabar dan jujur. Situasi kembali normal seperti sebelumnya. Grace maupun Medina mulai percaya jika Putra tidak melakukan hal yang sangat hina ini.


“Kita pegang ucapanmu Put. Jika suatu waktu nanti terbukti, kita enggak akan memaafkanmu selamanya. Persahabatan diantara kita putus sampai disini, kamu berani bersumpah Put.” Kata Grace yang mulai percaya dengan Putra.


“Iya deh, tapi kok pakai sumpah segala sih.” Kata Putra yang mulai khawatir.

__ADS_1


“Ya iya lah, kamu harus bersumpah jika kamu enggak melakukan hal yang sangat menjijikkan itu. Bayangin, selama empat minggu loh Put, jika kita mandi dua kali sehari di kali empat minggu dan di kali lagi dengan mandinya aku, Grace dan juga Ajeng berapa coba.” Kata Medina yang tidak mau tahu apapun alasannya jika Putra berbohong.


“iya deh, aku bersumpah dengan nama Tuhan dan di saksikan oleh malaikat maut yang nantinya mencabut nyawaku jika aku kemarin dan selamanya melihat kalian mandi. Jika aku berbohong maut boleh menjemput aku. Selamanya diriku enggak akan termaafkan.” Kata Putra yang sedih. Dia berbohong untuk yang kedua kali, walaupun yang di tuduhkan tidak semuanya benar. Memang dia melihat sekali saja yang tidak di sengaja. Di dalam hukuman sumpah, putra telah berdusta. Putra melakukan pertaruhan dalam hidupnya, dia bersumpah karena dia tidak ingin kehilangan persahabatan. Apalagi dia sudah tidak punya apa-apa dan hidup sebatang kara, Orang Tuanya telah tiada dan tidak mempunyai saudara lagi. Dua sahabatnya di semarang juga telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Keduanya telah tiada di hadapannya tenggelam di dalam air waktu ada olahraga renang di sekolah lamanya. Walaupun di bantu dengan nafas buatan oleh gurunya, keduanya tidak tertolong. Saat itu Putra terpukul sekali, untuk itulah Ayahnya memindahkan Putra ke Yogyakarta agar dia tidak sedih. Dia di pertemukan dengan anak putri sahabat ayahnya, dialah Ajeng. Dia bersahabat dengan Ajeng agar kembali bahagia tidak sedih lagi. Putra lebih takut kehilangan sahabatnya ketimbang kehilangan nyawanya. Baginya kesendirian adalah sesuatu yang sangat menyakitkan untuk dirasakan. “Tuhanku maafkanlah aku jika aku membohongi mereka terutama sahabat dekatku Ajeng yang selama ini baik sekali terhadapku. Memang aku melihat Ajeng mandi tapi itu enggak di sengaja, lagian saat itu ajeng memakai handuk dan auratnya pun enggak kelihatan. Cuma tangan, kaki dan wajahnya Ajeng yang cantik dengan rambut basahnya. Tuhan ku jika suatu nanti dustaku terbongkar dan ketahuan bahkan aku tidak termaafkan, aku rela untuk mati ya Tuhan. Tapi aku minta satu permintaan ya Tuhan ku agar mereka mau memaafkanku dan menerima aku apa adanya dengan lapang dada alasan yang nantinya akan aku utarakan ,bahwasanya aku takut sendirian. Tuhan ku, Engkau telah mengambil Ayah dan bundaku. Hidupku sekarang pun enggak tentu, saat ini aku bingung harus berbuat apa. Biarlah diriku terselimuti dengan dosa, namun aku bisa bersahabat dekat dengan mereka walaupun hanya sesaat.” Kata Putra berdoa kepada Tuhannya. Sungguh sangat menyedihkan sekali kehidupannya Putra, dia sudah kehilangan orangtuanya, bahkan diapun akan kehilangan sahabatnya yang meninggalkan dia kemudian dia akan mati dalam kesedihan. Memang hidup itu tidak bisa memilih-milih, jika takdir sudah di catat dengan nasib kita maka itulah yang akan kita alami. Di dalam hatinya ketika Putra mengucapkan sumpah itu, seluruh badannya bergetar hebat. Dia pun pergi dari hadapan laptopnya berjalan ke kamar mandi untuk menenangkan diri setelah sumpah terucap yang matanya berkaca-kaca. Dia sangat sedih sekali dan lama di kamar mandi. Walaupun dia laki laki, dia merasa malu jika ada wanita mengetahui apalagi ketiga sahabatnya jika sedang sedih dan menangis teringat kesengsaraan hidupnya. Dia merasa takut jika permasalahan ini nantinya terbongkar, dia takut jika nantinya di musuhi mereka bertiga dan tidak mempunyai sahabat lagi. Dia takut sendirian yang sedang terluka hatinya dengan keadaannya yang labil, bahkan dia cenderung depresi karena dia belum bisa menerima kepergian ayahnya untuk selamanya. Putra bersukur jika dia di rumah sendirian dan bisa mengungkapkan perasaan yang di hinggapinya. Sebenarnya tipenya Putra adalah orangnya baik dan bertanggung jawab, dia tidak akan melakukan apa yang mereka tuduhkan. Tapi sumpah terlanjur terucap dan tidak bisa di cabut lagi. Sambil membasuh mukanya agar segar karena air matanya menetes di depan cermin. “Sudahlah, jika umurku pendek tak apa. Aku berjanji aku akan membahagiakan ketiga sahabatku. Aku akan berkorban banyak bahkan nyawaku sekalipun, inilah hukuman orang yang berdusta dan terkena sumpah yang di saksikan oleh Tuhan. Lagian aku udah putus asa dari hidup ini, jika nantinya aku terluka karena dustaku dan akhirnya mereka memusuhiku untuk selamanya aku harus menerimanya. Namun aku merasa takut jika Ajeng yang aku cintai marah denganku untuk selamanya, jika dia marah denganku sama siapa lagi aku akan curhat. Dia sangat baik banget sama aku, kenapa aku tega membohonginya. Maafkanlah aku sahabatku yang nantinya aku akan menyakitmu jika masalah ini terbongkar.” Kata Puta. Dia kembali ke laptopnya setelah puas mengunggkapkan perasaannya di kamar mandi, ternyata dia di kamar mandi selama tiga puluh menit lamanya. Bahkan ketiga sahabatnya juga gusar, kalau putra dianggap penghianat. Karena ketika mereka memanggil-manggil Putra, baik lewat mikropon maupun lewat tulisan Putra tidak menjawab dan membuat jengkel ketiga gadis sahabatnya. Dia memakluminya jika mereka marah, dan seharusnya mereka pantas marah.


__ADS_2