Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
48. Bermalam Dengan Sang Pangeran 23


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......


Sungguh malang menimpa Putra. Ketika Putra mendorong dan marah sama keempat siswa ini yang tubuhnya lebih besar darinya, mereka juga marah dengan Putra yang tidak berdaya. Wajahnya Putra di pukul mengenai hidungnya, darah mulai memancar dari hidungnya. Ada seorang siswa yang menendang dadanya Putra dengan tendangan putar yang sangat keras, Putra terpelanting dan terlempar ke belakang sangat keras. Grace menjerit melihat kejadian ini, dia tidak rela Putra dianiaya seperti itu. Putra terlempar, kepala bagian belakang terbentur mengenai batu lancip. Darah di kepala Putra mengalir, dia tidak bisa berdiri lagi. Grace sangat marah, dia memukuli keempat siswa ini. keempat siswa ini pergi masuk ke ruang tamunya Ajeng. Keempat pelajar ini tidak merasa kasihan dengan Putra yang terluka. Grace tidak berdaya, dia mendekati tubuhnya Putra yang terkapar di jalanan. 


“Mampus kamu, dasar tidak tahu diri.” Kata seorang siswa kepada putra. Grace yang mendengar makian itu marah. Namun, dia lebih condong mendekati Putra yang kepalanya berdarah. 


“Put, kamu enggak apa-apa kan.” Kata Grace yang panik. Kepala putra di taruh di pangkuannya Grace, hujan mengguyur mereka berdua. Darah mengalir mengikuti air hujan yang mulai mengalir di jalanan. Tangan Putra meraih-raih ke angkasa, tatapan matanya juga kosong. Dia trauma dengan merasakan tenggelam lagi, yang mana kedua sahabatnya telah mati, hanya dia saja yang selamat. Darah mengotori dipangkuannya Grace, celana panjangnya yang berwarna putih penuh dengan darah. Grace menangis menitikkan air mata di wajahnya Putra. 

__ADS_1


“To..to..to..tol..tolong a..a..aakk...aku, aku teng...tenggelam di air. Kemana semua orang, tolong, tolong aku. Aku mulai tenggelam. Aku mohon tolong aku.” Tangan kanan Putra diangkat ke angkasa, seolah-olah meminta tolong untuk di angkat dari dalam kolam renang. Wajahnya Putra terkena hujan yang sangat deras, Putra mengira dia sudah tenggelam.


“Put sadar Put, lihatlah aku, kamu bukan di dalam air. Kamu disini bersama aku Put, ini sahabatmu Grace.” Kata Grace yang menangis dan memegangi luka di kepala bagian belakang yang mengeluarkan darah segar. Dia berusaha menutupi luka yang terus keluar. Putra sulit sekali bernafas, nafasnya Putra tersengal-sengal karena tendangan keras tadi yang mengenai ulu hatinya. Darah Putra di hidung mengalir bekas pukulan tadi, wajahnya Putra pucat. Mulutnya Putra mulai mengeluarkan darah segar, dia terbatuk-batuk dan muntah darah. Putra akhirnya sadar jika dia berada di pelukannya Grace, sahabatnya. Putra bisa tenang dan merasa senang karena Grace menolongnya. Suara Putra lirih, dia mau berbicara dengan Grace. Tangan Putra yang terkena darah meraih bahunya Grace agar telinganya mendekat ke wajahnya Putra.


“Grace, maafkan aku ya. Sahabatmu yang sangat kotor yang katanya seperti binatang ini dan juga penuh dengan dosa dan enggak termaafkan.”


“Aku memaafkan segala kesalahanmu. Put, kamu jangan banyak bicara yang isinya merendahkan dirimu sendiri. Kamu orangnya baik Put, kamu harus tetap sadar kamu nggak boleh pingsan. Jika kamu pingsan aku takut kehilanganmu.” Kata Grace yang sangat panik. Dia mulai menangis dan berteriak-teriak memanggil-manggil Medina dan Ajeng yang berada di dalam. Namun, keduanya tidak mendengarkan teriakannya. Suara Grace kalah dengan suara hujan, jaraknya juga jauh dari mereka. Putra berbicara lagi dengan suara lirih.


“Kamu jangan seperti itu Put, kamu kuat duduk kan. Kamu juga kuat berdiri biar aku bawa kamu masuk.”

__ADS_1


“Tidak, sepertinya aku nggak kuat berdiri.” Grace menarik tubuhnya Putra ke tempat pintu gerbang yang atasnya tertutupi atap. Mereka berdua mulai tidak kehujanan. Putra akhirnya bisa duduk dan bersandar di dinding, darahnya Putra masih mengalir. Tangannya Putra memegangi kepalanya yang masih berdarah. Putra ditinggal Grace sendirian yang tidur lagi, karena kepalanya masih pusing.


“Put kamu tunggu disini. Jika aku gerakkan badanmu, aku takut melukaimu, sepertinya kamu gegar otak. Tunggu sebentar ya, biar aku panggil bantuan. Kenapa Ajeng dan Medina nggak keluar sih. Tunggu sebentar ya Put, kamu harus tetap sadar jangan sampai pingsan, aku akan mencari Ajeng dan Medina. Nafas Putra masih sulit, dia masih tersengal, dadanya sangat sakit dan kepalanya pusing. Grace lari kedalam dan berteriak dengan keras memanggil dua sahabatnya. Ketika Grace sudah pergi, dia sendirian. Putra berfikir dia tidak mau merepotkan mereka, dia berusaha berdiri memegangi dinding. Putra bisa berdiri dan menyandarkan tubuhnya di dinding. Dinding itu penuh dengan darah yang bergambar telapak tangannya Putra. Dia berjalan walaupun gontai, dia terjatuh dan berusaha berdiri. Kepalanya Putra sangat pusing, hampir saja dia pingsan. Putra melihat jalanan nampak sangat gelap. Putra terjatuh dan berdiri lagi. Dia berjalan cukup jauh dari rumahnya Ajeng. Putra kehujanan di pinggir jalan, tiba-tiba dia terjatuh dan terkapar di pinggir jalan, dia sudah tidak kuat untuk berdiri lagi. Dia mengeluarkan hapenya yang berada di kantongnya. Dia menekan angka sembilan lama sekali, teleponnya berbunyi dan terangkat.  


“Irfan kamu dimana sekarang, to...tolong aku, aku kedinginan..”


“Tumben Jenang Lumpia memanggilku nama Irfan.” Jawab Gudeg. Nama panggilan Irfan adalah Gudeg, dia temannya Putra yang mempunyai warnet. 


“Aku serius, cepatlah datang kesini. Aku sekarang berada di dekat rumahnya Ajeng. Aku berdarah Fan, aku nggak kuat lagi. Cepatlah, aku mohon.” Kata Putra yang mulai terbatuk-batuk mengeluarkan darah lagi dari mulutnya.

__ADS_1


“Put, kamu nggak apa-apakan. Aku sekarang udah dekat di rumahmu, tunggu aku. Kamu jangan kemana-mana.” Kata Gudeg yang juga ikut panik. Tujuan Gudeg memang mau datang ke rumahnya Putra. Dia berencana mau mengajak Putra pergi jalan-jalan ke Malioboro. Beberapa menit kemudian, Gudeg datang membawa mobil Toyota  Kijang Kapsul.  Putra sudah terkapar tidak sadarkan diri di pinggir jalan. Gudeg kaget dengan kondisinya Putra, dia turun dari mobil dan menghampiri tubuhnya Putra.


 “Put bangun, ya Tuhan siapa yang menganiaya kamu seperti ini. sadis banget mereka.” Gudeg sangat panik. Dia menggandeng tubuhnya Putra dan memasukkan ke dalam mobil bagian belakang. Putra terkapar tidak sadarkan di jok tengah, darahnya Putra mengotori jok kursi bagian tengah. Gudeg pergi ke depan, dia masuk dan menyetir mobilnya sangat kencang. Gudeg pergi ke Rumah Sakit terdekat. Putra diangkat para perawat dan dimasukkan ke UGD, gudeg juga ikut masuk. Putra diperiksa dengan keadaannya, Putra masih tidak sadar. Gudeg bersyukur temannya cepat teratasi dan dapat tertolong. Putra memasuki masa kritis antara hidup dan mati, Gudeg setia menemani Putra yang tidak sadarkan diri. Kepala Putra di jahit bagian belakang dan di perban, seluruh bajunya di gunting sama perawat. Nampak sekali dadanya putra memar kehitam-hitaman dekat bagian ulu hati. Darah di hidungnya sudah tidak mengalir, wajahnya Putra pucat dan memancar kesedihan. Gudeg merasa kasihan dengan nasibnya Putra yang sangat malang dan tragis. Gudeg tidak mengira jika tubuhnya Putra sekarang berubah menjadi lemah dan kurus. Air mata Gudeg mengalir, dia malu sekali jika dia menangis. Tapi untuk sahabatnya dia rela untuk menangis sedih.


__ADS_2