
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......MBOLOS NGAYOGYAKARTA KITA DATANG......
“Benar ya Grace, kamu temenin aku berlibur. Kalau aku sendirian malahan aku tambah sedih disana.” Kata Medina yang akhirnya berdiri memegangi sangat erat kedua tangannya Grace di depan dadanya.
“Ya pastilah sayangku, sahabat dekatku. Mana mungkin aku meninggalkanmu seorang diri dalam keadaan seperti ini. Tahu enggak Din, kesedihanmu adalah kesedihanku juga. Jangan nangis lagi ya sayang.” Jawab Grace. Panggilan sayang adalah panggilan mereka untuk mempererat persahabatan.
Medina mengangguk sambil tersenyum kepadanya. Akhirnya Medina memeluk Grace sangat erat. “Terima kasih ya Grace, aku pasti akan selalu tersenyum demi persahabatan kita.”
Mereka berdua pergi ke dalam gedung sekolah mereka sambil membawa tas yang ditaruh di kursi taman. “Din kelasmu hari ini sudah masuk belum, kelihatannya ruangan di sana siswa dan siswinya sudah pada masuk.”
“Iya Grace, hari ini aku ketinggalan sama mata pelajaran Matematika. Kamu sekarang mengikuti pelajaran apa Grace.”
“Sastra Perancis Din, kayaknya belum masuk deh. Udah gini aja mendingan kita berdua nggak usah masuk kelas, lebih baik kita pergi ke perpustakaan aja deh. Kamu kan sudah ketinggalan mata pelajaran yang kamu ambil, sudah tiga puluh menit loh Din. Dari pada kamu di lorong ruangan sendirian mendingan kita kesana sekarang. Yuk kita pergi.”
__ADS_1
“Ok deh kalo gitu.” Kata Medina. Mereka berdua turun ke lantai bawah berjalan menyusuri lorong ruangan yang akhirnya mereka masuk ke perpustakaan. Di dalam perpustakaan kampus atau sekolahan mereka sedang ramai, beruntung mereka menemukan tempat di pojok ruangan yang kosong. Mereka berdua mendatangi meja itu sambil berjalan mencari buku di rak perpus. Mereka akhirnya duduk di meja pojok yang kosong sambil membawa buku pilihan mereka. Grace dan Medina membaca buku itu sambil ngegosipin teman di kelas mereka masing masing.
Akhirnya hari itu juga mereka mengajukan cuti, namun mereka tidak diperkenankan cuti lebih dari dua hari. Lebih dari hari yang ditentukan oleh sekolahnya, mereka dianggap bolos. Mama Medina sudah menyiapkan tiket bus jurusan Jakarta menuju Yogyakarta. Mereka tidak boleh naik pesawat sama mama Medina karena trauma. Begitu juga dengan Medina yang sangat trauma kehilangan papanya. Untuk itulah karena tujuannya untuk menggembirakan Medina, daftar pesawat sudah di hapus oleh mamanya dari daftar transportasi di dalam hatinya untuk saat ini. Lagian saat ini seluruh bandara di tutup oleh pemerintah sampai batas waktu yang ditentukan oleh pemerintah sendiri jika kondisinya sudah aman.
Besok harinya mereka bersiap-siap untuk pergi, mulai dari perlengkapan kosmetik mereka sampai baju yang akan di pakai di Yogyakarta. Jam tiga sore mereka berangkat naik mobilnya mamanya Medina. Sebelum mereka berangkat ke terminal, mereka mampir dulu menjemput Grace dan mamanya di rumahnya. Akhirnya mereka sampai di terminal, tepatnya jam enam sore karena jalanan jakarta macet sekali. Di dalam terminal ramai sekali banyak yang mau menaiki bus ke luar kota, karena hanya transportasi darat yang masih beroperasi. Mereka saling berpelukan antara mama dan putrinya yang mereka cintai. Adik laki-laki Medina juga menggelayuti kakaknya, jika Medina akan pergi meninggalkan dirinya.
“Hati-hati ya kalian berdua, jaga kesehatan badan kalian.” Kata mamanya Grace yang sedang menciumi pipi mereka berdua.
“Iya ma.” Jawab Grace. “Iya tante.” Jawab Medina.
“Kayaknya sih enggak ada tante, barangmu ada yang ketinggalan Din.” Tanya Grace sambil memegang tasnya yang akan dimasukkan ke dalam bagasi bus malam.
“Cuma ini Grace, sekalian ini juga masukin. Kalau tas gendong kecil ini aku bawa naik, isinya snack dan softdrink.” Kata Medina yang menyerahkan tas besarnya kepada Grace agar sekalian di masukin ke dalam bagasi.
Sebelum mereka naik ke dalam bus malam, mereka dan mamanya mulai menitikkan air mata. Bunda mereka nggak rela jika berpisah dari pelukan putrinya yang sangat di cintai. Begitu juga Grace dan Medina tidak mau melepaskan pelukan bundanya karena kondisi saat ini yang sangat tidak menentu dengan cuaca yang sangat buruk. Mereka berpelukan untuk terakhir kali, Medina dan Grace juga menciumi adik kecil mereka yang imut-imut, karena Grace sudah menganggap adiknya Medina adalah adiknya dia yang dicintainya juga. Mama mereka mencium kening Grace dan Medina untuk yang terakhir kalinya, mereka masuk ke dalam bus malam yang mereka tumpangi. Ketika bus mulai berjalan mama mereka dan adiknya Medina melambaikan tangan yang terakhir kalinya. Mereka juga melambaikan tangan yang sama kepada bunda mereka. Di dalam bus malam, mereka berdua saling bercanda membicarakan tempat mana saja yang akan dikunjungi besok paginya. Akhirnya Grace dan Medina ketiduran bermalam di dalam bus sampai di kota Yogyakarta.
__ADS_1
Pagi harinya mereka sampai di kota Gudeg. Di terminal mereka berdua sudah ditunggu sama om dan tante serta keponakannya Medina yang masih kecil. Mereka saling bersalaman menciumi tangan om dan tante, juga menggoda keponakannya yang lucu dan imut. Mereka masuk ke dalam mobil kijang inova, di dalam mobil mereka saling bercerita, tak terasa pembicaraan mereka yang hangat sampai juga di daerah pemukiman perumahan di kawasan Sleman. Satu hari penuh mereka istirahat di rumah tantenya, bermalas-malasan sambil memandangi taman rumah yang sangat indah.
“Din, Grace ini loh makanan favorit kalian gudeg, makan yang banyak yah agar lelah kalian naik bus malam terobati.” Kata tantenya Medina.
“Gudeg ya tante. Asik, udah lama nggak makan gudeg nih.” Kata Grace yang mendatangi meja makan. Dia juga diikuti Medina dari belakang,
“Enak nih. Cocok lagi laper banget, selera makanku kambuh jadi laper deh kalau ada gudeg.” Kata Medina.
Pada esok harinya mereka diajak Om dan Tante beserta keponakannya yang imut-imut pergi ke candi Prambanan. Mereka berkeliling menaiki candi dari satu candi ke candi yang lain. Grace dan Medina saling bercanda dengan keponakannya. Mereka makan siang di sekitar komplek candi Prambanan, setelah itu mereka pulang ke rumah tantenya Medina. Lusanya mereka bertamasya ke candi Borobudur sampai sore, setelah merasa puas mereka pulang lagi. Malamnya juga Grace dan Medina di ajak shopping ke Ambarukmo Plaza untuk beli pakaian sambil cari makan malam disana.
Untuk hari ketiga hari selasa omnya Medina tidak bisa mengantarkan mereka karena omnya pergi ke luar kota, ada urusan bisnis yang di temani sama sopir pribadinya. Sore hari mereka pergi sendiri ke Ambarukmo Plaza untuk beli kamera digital baru, sebab kamera Medina ketinggalan di Jakarta. Begitu juga Grace, kameranya rusak kemasukan air ketika berada di borobudur. Seketika itu juga mereka mencoba kamera digitalnya dengan mendatangi hotel Ambarukmo. Sambil berfoto ria sana sini potret ini dan itu, mereka bergantian sambil berpose berusaha senatural mungkin.
Di waktu mereka asik foto bergantian, Grace dan Medina di datangi seorang cowok tinggi putih dan kurus seumuran mereka. Cowok ini membagikan flyer sambil berpromosi barang yang akan dijual.
“Permisi mbak-mbak yang sangat cantik banget, saya mau menawarkan produk baru yang berkualitas dan sudah teruji. Banyak loh mbak yang berhasil menjadi cantik. Produk saya adalah kosmetik untuk kecantikan, sangat cocok sekali seperti mbak-mbak ini yang cantik-cantik. Kalau mbak memakai produk saya di jamin makin tambah cantik deh beneran.” Kata cowok tampan berkulit putih ini. Grace dan Medina sambil berbisik-bisik, mereka berdua cekikikan merasa aneh ada cowok yang cukup tampan seumuran dia menjual produk kosmetik.
__ADS_1