
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......HARI YANG ANEH......
Ketika itu hari Kamis Wage malam Jumat Kliwon, ketika Putra tidak bisa tidur malam. Waktu menunjukkan pukul satu malam. Di atas kasur, Putra meneliti buku saku itu yang sampulnya terbuat dari kulit hewan yang di depannya ada fotonya. Dia memikirkan dengan tulisan kalimat Pasport 3 Alam yang berada di sampul buku saku. Di dalam buku saku terdapat tiga lembar kertas putih yang kosong. Entah ada suara bisikan apa, ketika dia mulai mengantuk semilir sesepi mata yang akan menutup terdengar suara yang aneh. Suara itu menyuruhnya untuk mencorat-coret isi buku itu dengan pensil. Maka seketika itu juga dia bangun dari tidurnya untuk mengambil pensil di dalam tas sekolahnya.
Putra duduk di atas kasur sambil menuliskan kata-kata perkenalan, “Halo.” Pada halaman pertama. Buku saku bergetar sangat kencang di tangan kirinya, bukunya pun mengeluarkan bunyi angin sepoi yang sangat kencang mengeluarkan sinar putih yang mengenai wajahnya. Angin dari buku saku itu mengenainya yang membuat dia kedinginan. Rambutnya yang terkena angin, melambai-lambai ke belakang. Tiba-tiba saja buku sakunya membalikkan halaman sendiri ke halaman kedua. Ketika Putra melihat buku saku miliknya, ada huruf-huruf yang muncul satu persatu menjadi sebuah kata-kata yang bertuliskan. “Halo juga.”
Badannya Putra merinding bukan main, dia melemparkan buku saku itu ke meja belajarnya. Di malam yang sepi, Putra tertidur dalam ketakutan yang luar biasa. Dia tinggal sendirian di rumahnya, waktu itu juga bertepatan dengan malam Jumat Kliwon. Kata teman-temannya yang percaya dengan Mistik Kejawen, bahwasanya di malam inilah roh-roh yang gentayangan pada keluar dari sarang untuk mencari mangsa. Sebenarnya sih Putra kurang percaya dengan opini dari temannya, dia juga beralasan mana mungkin di jaman sudah modern seperti sekarang ini yang banyak lampu penerangan di kota ada roh gentayangan. Dia juga berfikir di dalam kamarnya, apa benar roh hitam bisa bangkit menjadi roh gentayangan. Putra terganggu dengan pikiran liar dari alam bawah sadarnya yang menjadi selimutnya ketika tidur pada malam hari yang bulu kuduknya terus berdiri sampai kedipan matanya untuk yang terakhir kalinya. Akhirnya dia bisa tertidur pulas juga di dalam ketakutannya. Pagi harinya dia bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, buku saku itu dibiarkan saja di atas mejanya. Putra mulai sibuk dengan pelajaran sekolah juga sibuk mencari orderan bisnis perdagangannya yang baru di geluti.
Hari Minggu telah datang setelah kejadian pada malam Jumat Kliwon, sudah tiga hari ini dia tidak memegang buku saku tersebut. Hari Minggu inilah dia mulai ingat dengan buku saku yang membuat dia merinding bukan main. Minggu pagi ini juga dia akan menelepon Ajeng untuk datang ke rumahnya, Ajeng pun pergi mendatangi kerumahnya Putra pada jam sembilan pagi. Dia bergegas datang ke rumahnya Sambil membawa pesanan Putra yaitu buku saku miliknya sendiri. Ajeng memencet bel rumahnya, tak berapa lama Putra membukakan pintu untuknya. Dia dipersilahkan masuk untuk duduk di ruang tamu. Sebenarnya rumah Putra baginya sudah seperti rumah sendiri karena mereka berdua bersahabat sudah sangat lama, malahan mulai dari kecil. Ketika itu ayahnya sering bersilaturahmi dengan mama dan papanya Ajeng karena keluarga mereka juga bersahabat sewaktu kecilnya. Jika keluarga mereka bertemu, dia dan Putra sewaktu kecil pasti bermain bersama. Untuk itulah, keduanya mengetahui karakter masing-masing. Mulai dari kesukaannya yang aneh, makanan favorit dan hobi juga saling tahu. Putra mengambilkan air bersoda yang dingin dari kulkasnya sambil membawa makanan ringan di toples. Putra duduk di sofa di sampingnya Ajeng yang cantik dengan gaun yang di pakainya.
Setelah mereka saling ngobrol yang tidak jelas, bercanda dan tertawa-tawa dengan kejadian cerita yang lucu, mukanya putra nampak serius. Dia teringat buku sakunya yang membuat Ajeng menjadi penasaran. Dia melihat Putra yang tiba-tiba diam dengan tatapan matanya yang kosong.
__ADS_1
“Ada apa Put kok kamu diam sih, sepertinya ada sesuatu yang kamu mau omongin sama aku.” Kata Ajeng yang penasaran.
“Eh...oh ya, ini loh Jeng. Mengenai buku saku milikku yang kemarin kamis malam itu loh.” Kata putra. Dia kaget dengan teguran Ajeng yang selalu membuat dirinya salah tingkah di depannya karena sebenarnya dia naksir berat. Bisa juga disebut penggemar gelap, karena ada juga penggemar terang yaitu orang yang berterus terang menyatakan cintanya. Namun putra malu karena Ajeng adalah sahabatnya, dia tidak ingin melukai hatinya. Jika saja suatu hari nanti Putra menyakiti hati Ajeng, maka dia tidak akan termaafkan untuk dirinya sendiri. Dia akan menghukum dirinya sendiri untuk meminta maaf kepadanya. Apapun akan dia lakukan demi sebuah persahabatan yang sejati.
“Emangnya ada apa sih Put, kok kamu grogi sih sama aku.” Ucap Ajeng yang tahu gerak gerik tubuhnya Putra. “Apa aku salah bicara ya selama ini.”
“Eh...bukan-bukan.” Kata Putra. Dia hampir saja ketahuan kalau dia naksir sama Ajeng. Walau bagaimanapun, Ajeng adalah calon dokter yang sangat cerdas. Untuk urusan bahasa tubuh dia tahu dan menguasai banget. ”Ini loh Jeng buku saku milikku ini yang aneh. Ketika itu aku akan tidur malam, memang sebenarnya aku sudah tidur waktu itu. Di dalam tidur itu, ada suara perintah untuk menuliskan di buku saku. Maka aku bangun dan menuliskan apa yang disuruh dengan suara yang tidak jelas itu. Pada halaman satu aku menuliskan kata ‘Halo’. Tiba-tiba saja buku sakunya mengeluarkan suara angin, dia juga bergetar hebat. Tidak hanya itu saja Jeng, sinar putih dari buku itu juga menyapu wajahku dengan hembusan angin yang sangat kencang banget deh. Akhirnya buku itu diam, ketika aku melihatnya buku itu membalikkan halaman kedua dengan sendirinya.” Kata Putra sambil merinding, tangannya memegangi leher bagian belakang. Ajeng juga merasa merinding melihatnya bersikap aneh.
“Ah...masak sih. Setahuku kejadian yang aneh-aneh udah lewat deh ketika kita berada di toko buku Gramedia, ya kan Put.” Kata Ajeng sambil meminta kepastiannya, hanya malam itu saja kejadian aneh yang dia alami.
“Masak sih Put.” Jawab Ajeng yang merinding lagi, kali ini bulu kuduknya benar-benar berdiri yang merinding luar biasa. Dia mulai mendekati Putra karena dia juga agak sedikit takut, padahal itu di siang hari bolong. Di dalam hatinya putra pun terurai kata-kata yang sok kritikus. Malahan dia cenderung tidak tahu diri merendahkan sahabatnya. Putra-Putra, dirimu benar-benar sudah keterlaluan.
”Dasar cewek, kalau ketakutan dan kurang nyaman sukanya saling mendekat agar lebih nyaman di hatinya. Apakah itu yang didekati berani atau nggak, cewek itu yah gini mencari amannya. Sebenarnya sih, jujur aja dia sama seperti aku karena aku juga takut. Gengsi aja sebagai cowok, karena bagi aku lelaki harus jantan dan nggak boleh takut apapun itu. Walaupun itu membuat diriku pingsan karena ketakutan. hihihi” kata Putra yang cekikikan menilai kepribadiannya Ajeng, sahabat cantik yang selalu dicintainya. Namun, Justru moment seperti ini yang di tunggui Putra. Cewek idamannya ketakutan dan mulai mendekatinya. Wah, rasanya hatinya berdebar-debar, dunia terasa indah di buatnya. Ditambah lagi dirinya yang salah tingkah bersentuhan dengan tubuhnya Ajeng.
__ADS_1
“Oohhh...Indahnya hidup ini.” kata Putra di dalam hati. Dia mulai mengambil buku saku miliknya di atas meja. Dia menuliskan di buku saku pada halaman pertama seperti pada malam jumat yang lalu. Jawaban dari buku saku pun sama seperti kejadian malam itu. Ajeng menjerit ketakutan, dia memeluk putra. Cahaya putih dan angin kencang disertai juga suaranya yang menggelegar mengenai mereka berdua. Ajeng sadar jika sudah memeluk putra yang sangat erat, dia pun malu sambil melepaskan tangannya ketika merangkulnya. Ajeng berusaha sebisa mungkin menguasai dirinya karena shock melihat kejadian yang aneh lagi. Dia mengambil minuman bersoda di atas meja dan meminumnya sambil menenangkan diri. Ketika Putra di peluk, dia bukannya ketakutan. Eh malah dia senang luar biasa karena gadis idamannya memeluknya. Dasar Putra.
“Benarkan, kataku...Jeng.” Kata Putra yang tidak merasa bersalah. Apalagi merasa berdosa membuat takut Ajeng yang shock. Dia diam sebentar, akhirnya dia memukuli putra di sampingnya dengan bantal kursi.
”Dasar kamu Put, nakut-nakutin aku aja.” Kata Ajeng yang marah. Mereka berdua saling tertawa, putra pun meminta ampun kepadanya ketika di pukuli Ajeng. Setelah Ajeng puas memukulinya dan tawa mereka mulai digantikan dengan diam dan keheningan, Putra meminta izin untuk menulis lagi dengan tulisan yang lain. Ajeng pun mendukungnya karena penasaran. Selanjutnya, pengalaman gaib apa lagi yang akan menyapu mental dan keberanian mereka berdua. Ketika Putra mau mengambil buku sakunya yang dibawa Ajeng, tangannya saling bersentuhan. Mereka berdua diam membisu saling pandang agak lama, kedua tangannya pun saling berpegangan. Keduanya salah tingkah, apalagi siang itu ada acara musik di televisi. Keduanya melihat GITA GUTAWA yang sedang menyanyikan sebuah lagu, berjudul DUA HATI MENJADI SATU. Mendengar lagu ini, keduanya makin salah tingkah. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 13).
Keduanya tersenyum dan saling berdekatan, Ajeng melihat Putra menulis lagi pada halaman kedua dan ketiga di sampingnya. Namun, kali ini kalimat yang ditulisnya sama sekali tidak ada jawaban dari buku sakunya. Dia menuliskan lagi pada halaman satu yang berbunyi ‘Siapa Kamu’. Seketika itu juga buku sakunya berubah menjadi batu meteor sebesar bola pingpong. Batu meteor itu berwarna hitam dan keras, bentuknya tidak bulat agak lonjong. Bahkan ada benjolan-benjolan kecil seperti batu kali juga berongga-rongga. Di atas batu meteor ini ada tombol kecil berwarna merah. Keduanya heran sekaligus takjub dengan kejadian yang baru saja mereka alami. Putra menyuruh Ajeng untuk melakukan seperti dia. Ajeng mengambil buku sakunya yang berada di meja, dia menuliskan pada buku sakunya dengan kalimat, ‘Siapa Kamu’. Sekejap mata, buku sakunya berubah bentuk menjadi batu meteor hitam seperti yang dimiliki putra.
Keduanya bersepakat untuk memberitahu sahabatnya yang saat ini berada di Jakarta, mereka pun mengambil hapenya masing-masing. Tangan Ajeng meraih hapenya dari sakunya, sedangkan Putra masuk ke kamarnya mengambil hapenya yang di taruh di atas meja. Ajeng menghubungi Medina dan Putra menghubungi Grace untuk memberitahukan kejadian yang aneh tadi. Kedunya tidak percaya bahkan dikira Ajeng dan Putra bercanda mengerjai mereka. Sahabatnya dari Yogya menyakinkan mereka berdua, kali ini serius tidak ada unsur candaan. Setelah mereka selesai saling bicara dan menutup telepon masing-masing, Medina mencari buku saku di rak buku kamarnya di dalam rumahnya. Sedangkan Grace mencari di tas sekolahnya yang berada di ruang tengah rumahnya
Grace menuliskan di buku sakunya ‘Siapa Dirimu Sejatinya’, buku saku miliknya berubah menjadi batu meteor hitam. Begitu juga Medina mengalami hal yang sama. Mereka berdua tidak menemukan hal yang aneh seperti yang dialami Ajeng dan Putra karena mereka menuliskan jati diri dari buku saku milik mereka. Keempat remaja ini mengamat-amati batu meteor yang tadinya adalah buku saku atau juga disebut buku Passport, karena bertuliskan Passport 3 Alam. Passport ini ada kesamaan dengan pasport milik manusia pada umumnya. Batu meteor milik mereka seperti batu berbiji besi akan tetapi nampak berlubang kecil-kecil dan lubang kecil itu tidak tembus. Lubangnya hanya sebatas kulit luar dari batu meteor.
“Put, aku pulang dulu yah. Aku udah ditunggu sama Mamaku nih, nanti malam kan ada acara arisan keluarga. Kamu mau ikut nggak nemenin aku di rumah sahabatnya Mamaku. Eh sepertinya Papamu juga sahabatnya loh.” Kata Ajeng.
__ADS_1
“Nggak tahu lah Jeng. Jika aku ikut, aku malah sedih teringat Ayahku.” Kata Putra yang sedih. Melihat dia sedih, Ajeng menghiburnya agar dia bisa bahagia. Sore harinya Ajeng pamitan untuk pulang dari rumahnya Putra sambil membawa batu meteor miliknya. Keempatnya masih mengamati dan meneliti batu meteor itu hingga tertidur pada malam harinya.
##T##