
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......ROH GENTAYANGAN......
“Hai Put kemana aja sih loh, kita belum selesai mengenai kasus pelecehan yang kamu lakukan terhadap kita.” Kata Medina dan Grace. Tulisan seperti ini sudah mencapai seratus dua puluh kalimat di laptopnya yang membuat hatinya menjadi sedih. Badannya bergetar hebat dengan makian dan tuduhan dari mereka yang menyakitkan dan menyudutkannya. tangannya bergetar untuk mengetik di laptopnya hanya menuliskan kata-kata maaf. Dia sering salah dan jarinya sering terpeleset dengan memencet huruf yang diinginkannya. Tangannya selalu meleset jika menuliskan kata itu sehingga dia pun diam seribu bahasa di depan laptopnya melihat makian dan tuduhan para sahabatnya yang menjadi-jadi, setiap dia membaca kalimat baru yang muncul di laptopnya. Air matanya selalu menetes tidak kuat dengan yang mereka tuduhkan. Ajeng sangat sedih dengan kata-kata yang berada di chating. Putra tidak berani berbicara jika lewat mikrofon, nantinya ketahuan jika dia menangis sambil bicara. Putra tidak bisa menyembunyikan perasaannya jika dia sedang sangat sedih. Sambil menenangkan diri dia lebih suka menulis kata-kata lewat keyboard.
“Madflah akuoiio...Akjf mrnjks; sajuhu.” Tulisan putra tidak jelas karena tangannya bergetar hebat, tulisan putra sebenarnya adalah Maafkanlah aku...Aku memang salah. Berulang kali dia menulis berulang kali dia mengetik dengan kesalahan yang membuat jengkel mereka bertiga. Ajeng juga ikutan benci sama Putra jika Putra main-main dengan menuliskan tulisan yang tidak bisa dibaca. Akhirnya mereka bertiga menutup chatting dan meninggalkan putra yang sangat sedih. Dia sendirian di dalam room chatting.
“Ada apa dengan kalian, kenapa kalian kok begitu tega sih sama aku. Aku sedih, siapa saja tolong bantu aku.” Ucap Putra yang tidak percaya dengan kejadian yang dialaminya. Laptopnya Putra dari tadi memutarkan musik, dia membuka winampnya dan memencet lagu dari DEWIQ FEAT INDRA BEKTI yang berjudul KOQ GITU SIH. Putra setuju dengan isi lagu ini, kalau mereka tidak adil sama dirinya. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 14).
Pagi harinya mereka pergi ke sekolah, Putra tidak berani menjemput Ajeng di rumahnya karena matanya Putra sembab. Ajeng melabrak Putra di taman yang hanya ada mereka berdua karena Ajeng menelepon Putra untuk datang ke taman sekolah. Ajeng sangat marah dengannya, matanya melotot melihat Putra, hampir saja Ajeng menampar pipinya. Ajeng menahan diri karena dia ingat jika Putra adalah sahabatnya yang paling baik.
__ADS_1
“Ayu’, silahkan tampar aku jika itu bisa melegakan hatimu yu’.” Kata Putra yang tahu tangannya Ajeng akan melayang ke pipinya dan tidak jadi. Putra waktu itu menggunakan kacamata hitam agar teman-temannya tidak tahu jika matanya sembab karena menangisi dirinya yang menderita baik jiwa dan raganya. Jiwanya remuk karena banyak sekali yang putra sayangi meninggal dunia dan raganya lemah karena dia jarang makan karena setiap hari memikirkan nasibnya harus bagaimana lagi semenjak di tinggal Ayahnya. Jika temannya tanya pasti Putra menjawab matanya baru sakit, dia takut nanti akan menularkan kepada mereka.
Ajeng mendorong badannya Putra hingga terjatuh di rumput taman, dia pun hanya duduk tidak bangkit lagi. Ajeng menangis, dia pergi di hadapan putra yang terjatuh. Dia duduk di kursi taman yang berada di balik punggunya putra. Akhirnya dia bangkit mendatangi Ajeng yang sedang menangis sedih.
“Ayu’ maafkanlah aku, bukannya aku memainkan perasaan kalian.” Ayu’ adalah panggilan untuk Ajeng jika putra sedang merayunya. Panggilan Ayu’ adalah panggilan kesayangan Putra untuk Ajeng. “Tadi malam bukannya aku bercanda, tanganku gemetar ketika aku menulis sehingga kalimatnya enggak jelas. Sebenarnya kata-kata ku hanya mau meminta maaf kepada kalian.”
“Kamu bohong, jika tanganmu gemetar kenapa enggak memakai mikropon semalam.” Kata Ajeng yang melihatnya duduk di sebelahnya. Putra diam, air matanya menetes di balik kaca mata hitamnya. Ajeng tahu jika putra menangis sedih, dia penasaran di dalam hatinya jika Putra menangis karena apa. Ajeng membuka kaca matanya, dia melihat matanya yang sembab kebiruan di sekitar kulit mata. Matanya Putra memerah mengeluarkan air mata.
“Ya Tuhan kamu kenapa Put, ada apa Put sampai matamu begini.” Kata ajeng yang terkejut dan mulai mendekati Putra. Dia tidak menangis lagi karena heran dengan sahabatnya.
“Ada apa Put bicaralah sama sahabatmu ini, apakah kamu enggak menganggap aku lagi. Apa salahku Put sehingga kamu diam begini. Kesedihanmu sampai kamu pendam seperti ini.” Kata Ajeng yang mendudukkan Putra di kursi taman, sedangkan dia berdiri di depannya sambil memegangi pundaknya agar dia tidak pergi meninggalkan dirinya lagi. Ajeng duduk di samping kanan Putra sambil memegangi tangan kanannya.
__ADS_1
“Aku takut Yu’.” Kata Putra kepada Ajeng, kali ini dia berani memandangi wajahnya Ajeng yang sangat cantik. Di dalam hatinya dia sedang berdebar-debar melihat wajahnya Ajeng yang begitu dekat. Apalagi dia sedang sedih, rasa ingin memeluknya sungguh besar. Putra mengurungkan niatnya untuk memeluknya, dia tidak berani karena dia merasa seorang pendosa.
“Takut apa Put, apa yang kamu takutkan. Bicaralah kepadaku, kepada siapa lagi kamu akan bicara. Saat ini cuma aku yang paling dekat denganmu, ya kan Put.” Kata Ajeng yang wajahnya sedih melihat kondisi sahabatnya seperti ini.
“Aku takut suatu hari nanti aku akan kehilanganmu begitu juga Grace dan Medina. Sungguh tadi malam aku sangat sedih sekali, hatiku terluka Yu’. Kamu tahu Yu’ ketika ayahku meninggal kemarin, sampai saat ini hatiku belum sembuh. Aku sangat terpukul, di tambah lagi dengan masalah ini. Sepertinya aku enggak kuat hidup lagi. Lebih baik aku mati saja atau pergi dari sisi kalian. Namun, jika aku pergi dari kalian tolong dengan sangat tolong maafkanlah diriku ini agar aku bisa pergi disisi kalian dengan tenang dan kamu pun bisa tenang dengan mengiklaskan kepergianku.” Kata Putra yang tidak berani lagi memandangi wajahnya Ajeng. Dia menundukkan wajahnya dan memakai kaca mata hitamnya lagi.
“Memangnya kamu akan pergi kemana Put, apakah kamu akan meninggalkan aku.” Kata Ajeng yang penasaran.
“Sudahlah Yu’ lebih baik kamu enggak usah tahu saja. Sepertinya aku akan pulang pagi saja kali ini, dan tidak mengikuti kuliah. Suatu saat nanti saja aku akan memberitahukamu. Aku mohon yu’, tolonglah aku untuk yang satu ini agar Grace dan Medina mau memaafkanku. Aku enggak bisa menelepon mereka karena kondisi jiwaku saat ini sedang labil. Aku takut jika nantinya ucapanku ngelantur dan kacau, malah mereka marah sama aku untuk selamanya.” Kata Putra yang akan pergi berpamitan kepadanya.
“Put jangan pulang dulu, di sini bersama aku aja. Aku enggak tanya lagi masalahmu asal kamu mau duduk di sini, agar hatimu tenang.” Kata Ajeng yang mulai menangis.
__ADS_1
“Janganlah kamu menangis Yu’, apalagi menangisi aku. Aku enggak pantas untuk di tangisi.” Kata Putra mengambil sapu tangan di saku celananya. Dia mengusapkan air mata di pipinya Ajeng. “Bawalah sapu tangan ini, selamat tinggal Yu’.” Sapu tangannya di berikan kepadanya. Putra pergi dari hadapan Ajeng dengan berlari sekencang mungkin agar tidak bisa di kejar. Ajeng duduk sendiri di kursi taman, dia sedih dengan tindakan putra sebenarnya apa yang terjadi. Tas putra ketinggalan di kursi taman, dia mengambil tasnya. Ajeng pergi ke parkiran mobil tidak jadi masuk kelas. Dia masuk ke dalam mobil honda jazz berwarna putih miliknya. Ketika dia menyalakan mobilnya cd player di mobilnya secara otomatis memutarkan musik. Dia mendengarkan lagu miliknya LETTO yang berjudul KEPADA HATI ITU. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 15).
Ajeng akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah mengendari mobilnya. Sesampai di rumahnya, dia mampir ke rumahnya Putra untuk mengetahui kondisinya. Rumahnya Putra kelihatan sepi sekali. Berkali-kali dia memencet bel rumahnya, namun pintu rumahnya Putra tidak bergeming sama sekali. Ajeng pulang kerumahnya sebentar mengambil kunci serep rumahnya Putra. Karena dia di beri sama Putra sebuah kunci rumah, kalau nantinya Ajeng ingin masuk kerumahnya. Setelah rumahnya terbuka, putra tidak ada di dalam. Dia agak kecewa dan duduk di sofa ruang tamu. Ajeng mengambil hape dari sakunya, dia menelepon putra. Namun, jawaban dari telepon itu sedang di luar area atau tidak bisa di hubungi. Dia kebingungan sendiri merasakan kehilangan seorang sahabat yang di sayanginya. Akhirnya Ajeng menelepon sahabat di Jakarta. Dia menceritakan kejadian semuanya pagi tadi kepada Grace dan Median. Keduanya akhirnya memaafkan kesalahan Putra apapun itu. Sayup-sayup terdengar sebuah lagu dari kamarnya Putra. Ajeng mendengarkan lagu itu, dia terharu mengenang sahabat dekatnya. Ajeng menangis sedih mendengarkan musik dari Group Band Potret. Dia masuk kekamarnya mencari sumber lagu yang membuat teringat dirinya. Ajeng mendekati kasurnya Putra mengambil MP3 Player miliknya yang loudspeaker .