
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......
“Ya sudah, enggak apa-apa. Kita ngerti kok dan memaklumi permasalahanmu put. Kamu jangan kuatir ya.” Sambut Papanya Ajeng yang melihat mukanya Putra. Beliau tahu jika Putra sedih kehilangan persahabatan dengan anak semata wayangnya. Jaman dahulu kala ketika masih SMA, Papanya Ajeng juga mengalami hal yang serupa sebagaimana yang dialami Putra.
“Iya Put nggak usah sedih begitu, yang sabar ya nak. Lebaran ini nggak bisa berkumpul bersama Papamu.” Kata Mamanya Ajeng yang terisak menangis mengenang almarhum Papanya Putra.
“Iya Tante.” Kata Putra yang menundukkan mukanya. Dia sedih mengenang kedua Orang Tuanya, dia mulai mengalihkan perhatian agar tidak mengenang Ayahnya yang pergi kemarin untuk selamanya. “Oh ya, maaf Tante, Om. Ini ada oleh-oleh sekedarnya dari Semarang pemberian dari Kakek dan Nenek putra. Pesannya harus di kasihkan secepatnya setelah Putra sampai di Yogyakarta.”
“Aduh, Putra ini loh. Kok repot-repot sih Put. Makasih banyak ya, wah Ajeng pasti suka pemberian oleh-olehmu ini loh.” Kata Mamanya Ajeng yang mengambil buah tangan dari Putra yang di taruh di atas meja. “Oh ya, kabar Kakek dan Nenekmu di sana bagaimana Put, sehatkan.”
“Alhamdulillah Tante, sampai saat ini masih di kasih kesehatan sama Tuhan.”
__ADS_1
“Eh Put, yang di balik bajumu itu apa. Sepertinya bunga ya, aha pastinya sekuntum bunga mawar yang indah tentunya. Untuk siapa Put untuk Ajeng ya. Aduh manisnya anak ini memberikan kepada sahabatnya sesuatu yang sangat romantis.” Kata Mamanya Ajeng yang sangat senang sekali mengetahui Putra membawa bunga. Mamanya Ajeng mengerti jika anaknya marahan sama Putra, karena akhir-akhir ini Ajeng sering diam dan melamun sendiri.
“Wah, kalian sudah gede ya sekarang. Sungguh romantis sekali, dulunya Om juga melakukan hal yang sama kepada Mamanya Ajeng loh Put. Malahan bunga pemberianku ditolak dan di kasihkan teman SMA yang sangat gendut sekali.” Kata Papanya Ajeng yang menimpali. Beliau sangat senang sekali mengenang masa lalunya.
“Ah, apaan sih say. Kamu dulu kan mau mempermainkan aku iya kan.” Kata Mamanya ajeng berdebat dengan suaminya yang sedang merayunya. Muka Mamanya Ajeng memerah karena di goda sama suaminya. Say adalah kata sayang untuk panggilan dari masing-masing sepasang suami istri dan mereka adalah kedua orang tuanya Ajeng.
“Maaf Om, Tante. Jadi malu nih. Iya sih bunga ini untuk Ajeng, karena Putra sedih Om, Tante. Putra takut kalau Ajeng marah untuk selamanya karena selama ini kita sedang marahan. Sepertinya Putra kehilangan seorang sahabat paling dekat yang selama ini selalu bersama.” Kata Putra yang menundukkan mukanya. Dia sangat malu sekali karena bunga yang diselipkan di dalam jaketnya ketahuan oleh keduanya. Sehingga, selama di ruang tamu Papa dan Mamanya Ajeng selalu menggoda Putra hingga wajahnya Putra memerah karena malu.
“Iya Pah, biar aku panggilin Putri di kamar atas kalau Putra datang kemari. Oh ya Put, anggap saja rumah sendiri ya.” Kata Mamanya Ajeng yang juga pergi ke dalam rumah. Putra malu dibuatnya, sehingga dia hanya bisa menundukkan mukanya. Setelah kepergian Papa dan Mamanya Ajeng, Putra sendirian di ruang tamu yang agak lama. Ada seseorang datang dari dalam rumah, ternyata Bibi pembantunya Ajeng yang membawa minuman untuk Putra.
“Monggo lo Den minumannya.” Kata Bibi.
“Iya Bi makasih banyak. Pak Triman kemana Bi, kok nggak ada sih.” Tanya Putra. Pak Triman adalah sopir pribadi Orang Tuanya Ajeng.
__ADS_1
“Pak Triman belum balik kemari Den, sepertinya seminggu lagi deh. Katanya sih Istrinya melahirkan lagi. Eh...Den, Bibi pikir, Pak Triman punya anak yang ketiga kali ini loh Den.” Kata Bibi yang menyilahkan makanan ringan yang berada di toples.
“Oh begitu ya Bi. Eh iya Bi, makasih banyak loh Bi enggak usah repot-repot.” Kata Putra. Bibinya Ajeng pamitan untuk masuk ke dalam karena dia sedang masak di dapur. Putra melamun di ruang tamu, dia melihat lukisan yang sangat besar. Ketika dia melamun Ajeng belum datang juga untuk menghampirinya.
“Kira-kira Ajeng mau enggak ya menemui aku, kok lama sekali sih dia.” Kata Putra dalam hati. Dia mulai gelisah karena Ajeng tak kunjung datang. Dia mulai berdiri dan melihat lukisan bergambar pantai yang sangat indah, di dalam lukisan itu juga ada perahu kecil yang sangat megah. Ketika putra melihat lukisan dia tidak sadar di belakang putra ada sesosok gadis cantik yang menghampirinya. Putra masih melihat lukisan itu, setelah merasa puas dia membalikkan badan. Putra kaget karena Ajeng sudah di sana yang sangat lama sekali melihat Putra dari belakang. Ketika Putra melihat wajahnya Ajeng, dia salah tingkah. Hampir saja dia terjatuh tersandung kaki kursi, seketika itu juga Ajeng tertawa cekikikan. Tangannya Ajeng menutup mulutnya melihat Putra hampir jatuh di hadapannya.
“Eh kamu Yu’. Sudah lama ya melihatku dari belakang.” Kata Putra yang gugup sambil menyalami Ajeng dengan tangan kanannya. “Minal aidzin wal faidzin, aku mohon maaf sedalam dalamnya baik lahir maupun batin ya Yu’ jika selama ini aku punya salah sama kamu.” Namun kali ini Ajeng tidak mau menyalami Putra. Apalagi memegang tangan kanannya Putra untuk berjabat tangan. Ketika Putra melihat wajahnya Ajeng, dia kelihatan marah. Ajeng berjalan, dia duduk di sofa di sebelahnya Putra. “Kamu masih marah ya sama aku Yu’.” Putra juga ikut duduk di sebelahnya Ajeng. Dia masih melihat wajahnya Ajeng yang sangat marah sama dia. “Ampun Yu’, dengan apa lagi agar kamu baikan sama aku Yu’. Kalau kamu marah begini sama diriku aku sedih Yu’ kehilangan kamu sebagai sahabatku yang paling baik. Engkaulah best of the best deh di hatiku.” Kata Putra agar Ajeng tidak marah lagi.
“Kamu jahat Put. Jahat, jahat sama aku.” Kata Ajeng sambil memukuli badannya Putra dengan kedua tangannya. Pukulan semacam ini tidak keras malahan pukulan rindu dan gemas. Putra pun diam membisu tidak membalas pukulannya Ajeng. Putra hanya bisa menundukkan mukanya karena dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Putra sudah tidak bisa berpikir apalagi memberikan alasan yang rasional kepada Ajeng. “Kenapa kamu kesini, lebih baik kamu nggak usah kesini. Aku sebel melihatmu, aku marah Put sama kamu, dasar kamu Sarmijooo...”
“Maaf aku Yu’, apa sebenarnya salahku sehingga kamu mencap aku sebagai orang jahat. Apakah masih kurang penderitaanku Yu’. Jika kamu masih marah, lebih baik aku pergi kalau gitu. Aku enggak tahu lagi harus berbuat apa, agar kamu nggak marah sama aku. Sejak kejadian malam itu sampai sekarang aku memikirkan kamu Yu’, aku merasa bersalah. Inikah yang kamu maksud Yu’, dengan ciuman semalam itu yang paling indah dalam hidupku.”
“Tuh kan, kamu mulai mengungkit masalah itu lagi. Emang aku marah sama kamu. Habisnya kamu sih nggak minta ijin sama aku dulu, terus kamu nggak respon sama aku lagi di sekolah, kamu hanya diam saja. Kenapa malam setelah itu kamu nggak datang kerumahku. Aku udah capek-capek menyiapkan makanan istimewa, eh malah kamu nggak datang. Terus kamu jarang menjemput aku lagi, maumu itu gimana sih put. Apa aku kurang cantik sebagai sahabat wanitamu ini.” kata Ajeng. Putra hanya diam membisu tidak bisa ngomong lagi. Memang Putra yang salah karena dia tidak berusaha sungguh-sungguh untuk meminta maaf. Apalagi perjanjian malam itu, dirinya dengan Ajeng yang akan makan bersama di rumahnya. Eh malah dia tidak datang dan pergi ke toko buku gramedia terus mampir ke rumah temannya. Putra juga tidak datang menjemput Ajeng ketika pergi ke sekolah. Dikira Ajeng marah sama dirinya, akan tetapi Ajeng menantikan kehadiran Putra untuk berangkat ke sekolah bersama-sama.
__ADS_1