
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......
Pada malam harinya, Putra mengirim pesan lewat Buku Passportnya kepada Grace, Medina dan Ajeng, kalau malam ini Putra tidak bisa chating bersama mereka. Karena Putra dijemput teman-temannya dari rumahnya untuk merayakan Halal Bi Halal setelah liburan lebaran. Buku Passportnya Grace, Medina dan Ajeng bergetar karena ada pesan yang masuk. Ketiga gadis cantik ini mengangkatnya, pada akhirnya mereka memakluminya jika acara malam itu gagal. Lagian ketiga gadis cantik ini juga pada malamnya ada acara sendiri dengan keluarganya masing-masing. Putra dan temannya begadang sampai pagi, akhirnya mereka ketiduran. Sebelumnya Putra minta izin pulang pada jam dua belas malam karena dia masih capek. Sedangkan keluarganya Grace dan Medina pergi ke luar rumah. Mereka melihat konser tunggal Gita Gutawa yang membuat pesona mereka berdua yaitu Grace dan Medina. Ketika GITA GUTAWA bernyanyi bersama ADA BAND yang berjudul YANG TERBAIK BAGIMU, nampak Medina menangis sedih. Medina menghayati ditinggal Papanya yang tercinta, dia merasa belum bisa membalas jasa-jasa Papanya selama ini. Ketika Medina menangis sedih, Grace yang ada di sebelahnya menghiburnya agar dia tidak larut dalam kesedihan.
__ADS_1
“Din, jangan menangis lagi. Masih ada aku yang menenamimu, kamu harus tegar ya sayang.” Ucap Grace yang memeluknya sambil berdiri.
“Iya Grace, makasih banyak yah. Aku terharu melihat dan mendengarkan Gita Gutawa yang menyanyikan lagu itu. Kapan yah aku bisa bertemu dengannya dan meminta tanda tangannya, kalau perlu kita foto bersama Grace. Aku selalu mendengarkan lagunya jika aku teringat dengan Papaku yang meninggalkan aku.” Ucap Medina yang makin menangis mengenang Papanya. Melihat Medina makin sedih, Grace makin erat memeluknya. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 27).
“Yang penting sudah dapat ijin dari Papa dan Mama dan perginya harus jelas kemana gitu.” Kata sebagian dari mereka yang tidak khawatir.
__ADS_1
Setelah teman-temannya Ajeng sudah pada pulang ke rumahnya masing-masing. Ajeng membereskan semua peralatan yang berada di ruang tengah, seperti LCD, laptop dan beberapa kertas. Sedangkan Bibi pembantunya membersihkan gelas yang ada di sana. Karena semua piring telah dibawa ke dapur oleh teman-temannya Ajeng untuk membantu membersihkan dan membereskan sebelum mereka pulang. Jam dua belas malam dia masuk ke kamarnya, Mama dan Papanya masih berada di lantai bawah yang duduk di sofa sedang membahas pekerjaan mereka. Ketika Ajeng di dalam kamarnya yang berada di lantai atas, dia tidak bisa tidur. Ajeng merebahkan badannya di atas kasur, isi kepalanya terus berputar memikirkan dan melamunkan sesuatu yang tidak jelas. Ketika dia berada di alam lamunan, ajeng melamunkan Putra sahabat dekatnya. Dia menyalakan radionya untuk meringankan beban pikirannya yang berat, hanya dia yang tahu dan merasakannya. Dia malas untuk curhat dengan orang lain, apalagi Putra yang kemarinnya mereka saling marahan. Terdengar suara musik dari radionya mengalun yang membuat dia ingin curhat dengan seseorang. Lagu itu dari Group Band VIERRA yang berjudul DENGARKAN CURHATKU. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 28).
“Ada apa ya dengan Putra, setiap kali aku tanya kondisi dan keadaannya. Kenapa kamu kok sedih Put, dia selalu menjawab, suatu saat nanti kamu pasti marah sama aku dan kamu nggak akan memaafkan aku. Memangnya apa sih yang dilakukan Putra dan dosa apa sih dia, sehingga Putra menghakimi dirinya sendiri.” Ajeng mulai gelisah, dia duduk dan tidur lagi. “Bagi aku, Putra itu orangnya asik untuk diajak bicara. Aduuuh......hhh ada apa ya dengan perasaan aneh ini ketika memikirkan Putra. Jika Putra tersenyum kepadaku rasanya hatiku tenang dan tentram. Bahkan aku sering malu dan salah tingkah di buatnya. Memang sih dia itu tampan dan care sama aku. Putra itu adalah cowok idamanku dan sesuai dengan kriteria yang aku inginkan. Apalagi ketika malam Ramadhan itu dia menciumku, rasanya bagai melayang di langit. Bahkan pelukan darinya membuatku susah untuk tidur. Ciuman dan pelukannya di malam itu benar-benar membiusku, hingga di malam itu aku nggak bisa tidur sampai pagi. Tapi Put, kamu nggak tahu rahasia kehidupanku. Aku sungguh mencintaimu, sayangnya aku sudah tunangan sejak kecil. Inilah yang mengganjal hubungan kita Put. Kamu tahu Put, ketika aku tunangan aku pun belum tahu apa-apa. Bayangin saja, ketika itu aku masih sekolah taman kanak-kanak. Mamaku sering bercerita kisah Romeo dan Juliet. Sampai suatu ketika keluargaku dan keluarga lelaki yang telah bertunangan denganku bermalam di sebuah vila. Mama bercerita jika Juliet mencium Romeo, kekasih impiannya yang menjadi pangeran cintanya. Waktu itu aku nggak sengaja mencium bibir calon suamiku yang nggak aku kenal ketika dia tertidur di kasur. Orang Tuaku dan Orang Tuanya tunanganku mengintip dan memotret dari pintu untuk mengabadikannya menjadi sebuah foto kenangan. Sayang mereka memfoto dari belakang puggungku, sehingga aku enggak tahu wajah kecil calon suamiku ini. Sampai sekarang pun aku nggak tahu wajahnya seperti apa dan namanya siapa. Kasihan Putra, dia belum tahu jika aku sudah tunangan. Padahal sepertinya Putra sangat mencintai aku. Apalagi ketika dia membisikkan di telingaku yang diriku di jadikan kekasih hatinya. Hatiku ini rasanya remuk redam, saat dia mencium dan memelukku aku menangis, bahkan sampai malam pun aku masih menangis di kamar, hingga aku enggak bisa untuk tidur di malam itu sampai pagi. Aku sedih dan bahagia, aku sedih karena aku sudah tunangan, akibatnya Putra nggak mungkin jadi kekasihku. Aku bahagia karena sahabat dekatku mencintaiku dan aku pun sebenarnya cinta dengannya. Tapi cinta kita berdua ini menjadi terlarang. Ya Tuhan kenapa hidupku begini.” Air mata Ajeng menetes karena memikirkan Putra. Ajeng berfikir bagaimanakah caranya suatu saat nanti menjelaskan kepadanya, bahwasanya dia sudah tunangan dengan orang lain. Ajeng berusaha mencari cara memberitahukan kepada sahabatnya yang sangat dicintainya dengan momen yang tepat dan tidak menyakiti hatinya.
“Mama dan Papaku ngasih tahu ke aku di malam itu ketika aku berulang tahun ke lima belas, jika aku telah bertunangan dan di jodohkan oleh mereka. Aku kaget, menangis dan sedih. Karena aku nggak ingin dijodohin dengan orang lain yang nggak aku kenal. Seharusnya Mamaku punya perasaan bagaimana rasanya dijodohin dengan orang yang nggak dicintai. Apalagi aku enggak bisa melihat wajahnya, minimal fotonya. Bahkan namanya saja, Mama dan Papa enggak ngasih tahu ke aku. Mereka berdua hanya mengasih sebuah kotak hitam, ketika aku membukanya, ternyata ada sebuah cincin dan foto aku waktu masih kecil yang sedang mencium calon suamiku di atas kasur yang dia sedang tidur. Tapi sayangnya foto lelaki calon suamiku nggak kelihatan karena terhalang sama badanku. Aku sedih...sungguh aku sangat sedih...ini pukulan berat bagiku. Namun, ketika aku melihat kondisi sahabatku, Putra yang kehilangan ayah tercintanya aku menjadi sadar. Bahwasanya duka besar yang telah menyelimuti telah menghinggapi sahabatku yang aku cintai. Aku harus tegar di depannya dan aku pun harus menghiburnya agar hatinya enggak terluka, sebagaimana hatiku yang telah terluka.” Hick-hick. Ajeng mulai menangis lagi, air matanya tidak terbendung untuk di tahannya. Dia terisak-isak sampai air matanya mengalir di pelipisnya yang membasahi bantal berwarna pink kesayangannya. “Kata Mamaku, aku akan dipertemukan dengan tunanganku setelah berumur delapan belas tahun. Sungguh hidupku menjadi berat dan hati ini menjadi sesak di buatnya. Bagaimana nanti jika aku enggak suka, bagaimana nanti jika dia jelek, gendut dan botak. Mama kenapa kamu jahat sama aku ma.....” Hick-hick. Ajeng menangis lagi, dia duduk di atas kasurnya. “Papa, kenapa sih Pa aku harus tunangan dulu. Aku kan ingin merasakan masa remajaku dan masa menuju dewasaku Pa. Kenapa dengan kalian berdua, kenapa kalian tega sama Ajeng Ma, Pa.” Ajeng menangis sangat lama sekali. Ajeng tidak bisa curhat kepada seseorang karena hanya dia dan orang tuanya saja yang tahu jika dia sudah bertunangan. Suara musik dari radio mulai berganti. Namun, Ajeng lebih suka mengganti dengan CD player. Dia mulai memencet remote nya dan menyalakan musik dari lagunya GITA GUTAWA yang berjudul KEMBANG PERAWAN. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 29).
__ADS_1