Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
31. Bermalam Dengan Sang Pangeran 6


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......


“Bawa, ini.” Grace mengambil buku Passport dari saku rok panjangnya. Setelah buku sakunya ketemu yang sedari tadi di cari oleh Medina, mereka berdua mencari tempat yang nyaman di dalam kamar Medina. Mereka berdua duduk di bawah dengan karpet permadani yang sangat lembut sekali berwarna hijau tua. Juga ada beberapa bantal berwarna pink. Kemudian mereka berdua menuliskan nama sahabat baru mereka di halaman pertama. Di dalam bukunya Grace, dia menuliskan Passport Sarmijo dan juga Passport Ajeng. Medina juga sama, dia menuliskan nama dua sahabatnya yaitu Passport Putra dan Passport Putri. Seketika itu juga Ajeng dan Putra kaget bukan main, karena buku saku milik mereka yang berada di dalam saku baju berbunyi nyaring sekali. Miliknya Putra berbunyi dentuman berkali-kali dan mengeluarkan asap putih ketika dia mengambil dari saku bajunya. Sedangkan miliknya Ajeng mengeluarkan suara tertawa nyaring berkali-kali dan bergetar hebat, miliknya juga mengeluarkan asap putih. Mereka berdua kaget dan ketakutan karena tidak biasanya ketika buku mereka dihubungi mengeluarkan asap putih.. Jangan-jangan kena kutukan seperti yang lalu yang asapnya menyelimuti seluruh ruangan kemudian mereka bau badan dan gatal-gatal yang akhirnya pingsan.


“Awas Put, buku saku kita mengeluarkan asap.” Ucap Ajeng yang kaget bukan main, buku sakunya yang di pegang keluar asap putih.


“Iya, wah bahaya nih.” Buku itu di taruh di lantai setelah di pegang dengan tangan mereka. Ajeng dan Putra menunggu lama sekali sambil ancang-ancang untuk lari. Jangan-jangan firasat mereka berdua benar jika akan meledakkan asap putih yang sangat pekat. Mereka berdua menunggu sampai lima belas menit. Mereka saling pandang, ternyata tidak terjadi reaksi apa-apa. Sedangkan Medina dan Grace sedikit jengkel, karena buku Passport mereka tidak di buka juga oleh Ajeng dan Putra.


“Gimana sih mereka, sebenarnya buku mereka dibawa nggak sih.” Ucap Medina yang jengkel.


“Mungkin mereka sedang sibuk Din. Biasanya kita kan menghubungi mereka pada malam hari.” Jawab Grace. Kedua sahabat dari Yogya masih ketakutan. Setelah kejadian asap putih itu, buku mereka diam seribu bahasa yang di taruh di lantai kayu berongga karena di bawahnya ada kolam ikan. Ajeng dan Putra diam melihat dari kejauhan dan mulai mendekati buku saku mereka.


“Ayu’. Biar aku lihat ke sana buku Passportnya, kok mulai diam enggak ada reaksi yang aneh juga nggak mengeluarkan suara lagi.” Ucap Putra yang mendekati buku miliknya.


“Hati-hati Put. Aku agak takut nih.” Kata Ajeng. Buku itu diam karena Grace dan Medina menutup buku Passport mereka. Grace mengambil inisiatif untuk membuka buku Passport miliknya untuk menuliskan pada halaman pertama. 


“Dimanakah kedua sahabatku yaitu Ajeng dan Putra.” Tulisan Grace pada halaman satu.

__ADS_1


“Putra dan Ajeng sedang berkumpul bersama. Sekarang mereka berada di rumahnya Ajeng di teras belakang rumahnya.” Jawab buku Passportnya yang tertulis di halaman dua. Ketika jawaban ini muncul buku Passportnya Grace bergetar pada lampiran kedua. Medina penasaran apa yang dilakukannya, dia hanya diam melihat wajahnya Grace yang serius. Dia pun malas untuk bertanya kepadanya.


“Apakah Buku Passport mereka tidak dibawa oleh mereka berdua.” Tulisan Grace lagi.


“Buku Passport mereka dibawa. Namun, mereka lari menghindar ketika buku saku miliknya berbunyi.” Jawab Buku Passport miliknya.


“Apa maksudmu mereka lari. Apakah ada keanehan pada Buku Passport mereka.” Grace mulai heran dengan jawaban dari Buku miliknya.


“Benar sekali feelingmu. Mereka takut lantaran Buku Passport mereka mengeluarkan asap putih yang sangat pekat. Mereka pun lari terbirit-birit sambil melihat keanehan pada Buku Saku milik mereka dari kejauhan. Jikalau terkena kutukan lagi seperti yang lalu, menyebabkan pingsan dan dampak aneh yang dirasakan.”


“Bisa tunjukkan sama aku seperti apa mereka ketakutan.” Buku Saku miliknya pada halaman ketiga yang berfungsi untuk menampilkan secara visual bergerak-gerak. Grace membalikkan halaman pertama dan membuka halaman ketiga. Grace tertawa melihat kejadian ulang tadi yaitu Ajeng dan Putra yang lari ketika asap itu keluar dari bukunya yang berada di saku mereka. Bukunya pun memperlihatkan kejadian langsung yaitu Putra yang mendekati Buku miliknya yang tidak bersuara dan tidak mengeluarkan asap lagi. Medina yang memperhatikan Grace sedari tadi penasaran, Medina mendekatinya yang duduk di depannya. Dia berdiri di belakangnya sambil melihat Buku Passportnya Grace. Medina juga ikut tertawa sama seperti Grace.


“Kalau aku jadi mereka juga takutlah Din, serem banget. Lihat saja asapnya pekat banget dan menyebar di ruangan rumah belakang Ajeng secara cepat banget.”


“Eh Grace. Kira-kira Buku milik kita nantinya seperti mereka enggak yah.”


“Tak tahulah Din. Moga aja nggak ada kejadian lagi.” Grace bangkit dari duduknya dan berdiri menghampirinya yang sudah berdiri sedari tadi. “Din, kasihan mereka. Coba deh kamu kasih tahu dengan menghubungi mereka. Hapeku ketinggalan di rumah. Aku lupa bawa nih, tadinya aku buru-buru.”


“Iya Grace. Emang kasihan mereka, apalagi Ajeng sampai wajahnya pucat loh.” Medina berjalan mendekati tempat tidurnya mengambil hapenya yang di taruh di atas kasur. Dia memencet nomer hapenya Ajeng. Hapenya Ajeng pun berdering di sakunya, dia mengangkat teleponnya. Ketika hapenya berbunyi, dia sangat kaget sekali. 

__ADS_1


“Ih...siapa sih yang nelpon aku di saat lagi takut.” Ajeng berbicara sendiri sambil sebel dengan hapenya. “Oh Medina to.”


“Halo honey ada apa ya, tumben pakai telpon biasanya kok pakai Passport milikmu.” Suara Ajeng dibuat sehalus mungkin karena tubuhnya merinding dan bergetar.


“Halo juga sayangku, iya nih. Sekali-kali nggak papa kan. Gimana kabarmu, sedang shok ya.” Ucap Medina sambil tersenyum kepada Ajeng, yang menjadikan  Ajeng heran dengan suara tertawanya Medina.


“Kok kamu tau’ sih kalau aku lagi shock. Jangan-jangan tadi kamu ngerjain kita ya.” Ajeng agak marah dengan jawaban Medina, karena dia tidak mau lagi terkena kutukan Buku Passport miliknya.


“Maaf ya Jeng, tapi jawabanmu hampir benar. Memang kita yang menghubungi kamu lewat Buku Passport. Tapi kita enggak tahu loh kalau bukumu sampai mengeluarkan asap, mungkin Buku Passport kita sudah rusak kali.” Medina berjalan mendekati jendela kamarnya untuk melihat keluar. “Eh Jeng, Grace ada di sini loh. Dia sudah pulang dari London.”


“Syukurlah, kalau asapnya udah nggak ada.” Ajeng berjalan mendekati Putra yang duduk di teras sambil memegangi Buku Pasport miliknya juga miliknya Ajeng. Dia masih meneliti bukunya tersebut. “Oh ya! Grace udah pulang. Dia bawa oleh-oleh enggak untuk aku. Dia lupa sama aku ya, kok aku nggak dikabarin sih kalau dia sudah pulang. Terus mana oleh-olehnya.”


“Hari ini Grace mau menghubungi kamu kalau dia sudah pulang ke jakarta. Oleh-olehnya ya. Kamu tanyain sendiri aja deh sama dia, aku nggak tau’.” Medina berjalan lagi dan duduk di bawah di atas permadani, di sampingnya Grace. “Eh Jeng, kita ngobrolnya pakai Buku Passport aja ya lebih asik kan bisa saling bertatap muka.”


“Boleh juga sih, sambil ngetes apa ada keanehan lagi dengan buku saku milikku. Udah ya daaa...”


“Daaa juga.” Telpon mereka terputus.


“Grace, Ajeng nanyain tuh oleh-oleh dari Inggris. Kamu nggak lupa kan.” Kata Medina. Dia menaruh hapenya di atas kasur.

__ADS_1


__ADS_2