
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......ROH GENTAYANGAN......
“Put, kenapa kamu harus pergi dan nggak ke rumahmu. Katanya kamu akan pulang, malahan kamu meninggalkan aku. Bahkan kamu juga lupa mematikan MP3 Playermu, aku harap kamu balik lagi dan kita bersama lagi.” Ajeng mengambil MP3 Player, dia berjalan dan duduk di sofa lagi. Ajeng mendengarkan lagu dari POTRET yang berjudul MUNGKIN sampai habis, setelah dia puas mendengarkan lagu dari potret dia pergi untuk pulang ke rumahnya. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 16.)
Masalahnya sudah dua minggu Putra tidak muncul. Ajeng selalu mencari di pelosok sekolahnya, mulai dari taman, di dalam gedung sekolah Fakultasnya Putra mulai dari tingkat satu sampai enam bahkan di perpustakaan, di toilet cowok pun putra tidak ada, juga ke tokonya Putra, Ajeng kecewa karena tokonya tutup. Dia bingung dan sedih, bahkan selama mereka bertiga chatting tiap malamnya mereka selalu membahas Putra. Ketiganya sering mengirimkan Email kepada Putra, mereka kecewa tidak pernah mendapat jawaban darinya. Ajeng sangat rindu dengan sahabat kecilnya, dia merasa di dalam dirinya ada sesuatu yang telah hilang. Dia selalu teringat dengan Putra yang sering menggodanya, dia gemas dengan putra yang selalu membuat rindu jika tidak bertemu dengannya. Di kamarnya dia mendengarkan sebuah lagu dari Radio Internet Suara Fanatisme Prabu Nusantara lewat hapenya, karena dia sedang browsing menggunakan hape barunya. Lagu itu dari GITA GUTAWA yang berjudul SAHABAT KECILKU sahabat kecilku. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 17).
Dua minggu lebih tiga hari sudah lewat, Ajeng pergi ke sekolah seperti biasanya. Ketika dia di lantai satu di fakultas ilmu komputer, sekelebat orang mirip dengan Putra, namun penampilannya berbeda. Karena Ajeng melihat dari belakang dia tidak bisa melihat mukanya. Rambutnya pun berwarna merah sedangkan Putra rambutnya berwarna hitam. cowok ini pun merokok sedangkan Putra selamanya tidak pernah merokok. Ajeng mengikuti dari belakang, cowok ini masuk ke toilet pria. Ajeng menunggu di luar pintu toilet. Dia menunggu lama sekali, akhirnya dia memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Di dalam dia menghampiri cowok ini yang sedang merokok di depan kaca besar. Ajeng tahu jika itu adalah Putra yang sedang sendirian.
“Putra kaukah itu...” kata Ajeng yang mendekat sama cowok ini. Dia menghindar pergi ke luar dari toilet menuju ke luar gedung sekolahnya, Ajeng mengikuti dari belakang. Sesampai di parkiran motor, Ajeng menarik bahu cowok ini, keduanya terjatuh. Ketika terjatuh, Ajeng melihat wajah mirip Putra yang mulai berubah tidak seperti biasanya. Mereka berdua saling pandang sangat lama sekali, akhirnya cowok ini berdiri. Dia berjalan menjauhi Ajeng yang sedih dengan kelakuannya yang aneh. Dia pun ikut berdiri mengejarnya sambil berjalan di samping cowok ini.
__ADS_1
“Iya kamu benar Putra, kenapa kamu begini Put. Kemana saja kamu selama ini, aku cari-cari kamu enggak pernah ada.” Kata Ajeng yang menarik tangannya agar berhenti. Cowok ini diam saja tidak menjawab. “Jawablah put, apa yang terjadi denganmu.” Dia diam seribu bahasa dan sering membuang muka. Ajeng menampar pipinya cowok ini yang diam. Setelah di tampar sangat keras, cowok ini melihat wajahnya Ajeng yang sedih. Dia memandangi wajahnya Ajeng sangat lama sekali, ada keinginan dia untuk menghiburnya.
“Terima kasih Yu’ kamu telah menampar aku, inilah yang aku tunggu-tunggu dari jawabanmu.” Kata Putra yang berubah rambutnya menjadi merah, telinga kirinya bertindik juga lehernya bertato. Ajeng menangis dan memeluk Putra sangat erat, karena dia sangat rindu dan ingin kembali sahabat yang seperti dulu lagi.
“Put jangan tinggalkan aku lagi, kenapa kamu begini put.” Hik-hik.
“Sudahlah Yu’ jangan menangis, aku hanya ingin merasakan menjadi orang lain saja.” Kata Putra yang mulai menghindar dari pelukannya.
“Ini palsu Yu’, tato ini juga palsu dan tindik ini pun palsu. Rambut ini juga akan aku semir jadi hitam.” Kata Putra yang mulai menaiki motornya.
“Aku ikut kamu Put, aku takut kehilanganmu. “ ucap Ajeng yang menaiki dan duduk di belakangnya Putra.
__ADS_1
“Aku mau pulang Yu’, mau membersihkan diriku dengan mandi pakai air hangat. Kamu masuk sekolah aja. Aku tunggu deh di rumahku, ayo turun.” Kata Putra sambil menyuruh Ajeng turun.
“Nggak mau. Aku nggak percaya jika kamu pulang ke rumahmu, selama ini kamu kemana aja sih Put.” Kata Ajeng yang ngotot duduk di belakang.
“Ya udah kalau kamu ikut aku, kita pulang loh sekarang. Tadi pagi kamu naik apa.” Kata Putra yang motornya mulai berjalan ke jalan raya.
“Di antar sama sopir.” Kata Ajeng yang tidak membawa helm dan memegangi pinggangnya Putra.
Akhirnya mereka berdua sampai juga di rumahnya Putra, Ajeng masuk ke rumahnya. Di dalam rumahnya Ajeng bertanya banyak kepadanya, selama ini dia melakukan apa saja di dalam dunia kesendiriannya. Hapenya putra berdering di sakunya, terdengar ringtone dari AGNES MONICA yang berjudul TERUSKANLAH. Mereka berdua asyik ngobrol sampai sore.. Ajeng berpamitan untuk pulang. Putra berpesan kepadanya, nanti malam chating lagi karena ada sesuatu yang akan dibicarakan sangat penting. Dia menyuruh Ajeng untuk memberitahukan kepada Grace dan Medina. Setelah Ajeng pulang sore itu Putra mandi membersihkan tato palsunya, tindik palsunya juga dilepas karena telinganya tidak di lubangi. Setelah mandi dia pergi ke salon untuk disemir rambutnya yang tadinya merah menjadi hitam. Sekarang putra kembali seperti dulu lagi, yang selama dua minggu dia berpetualang dengan mencari jati dirinya. Dia sudah baikan, hatinya pun tenang kembali. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 18).
Malamnya mereka berempat berkumpul di depan laptopnya masing masing, kali ini mereka berempat sudah baikan dan tidak marahan lagi. Keempatnya sudah bisa tertawa lepas lagi seperti biasanya, mereka tidak membahas kasus itu lagi yang menyebabkan perpecahan di antara mereka. Putra menyuruh ketiga gadis cantik sahabatnya untuk mengambil buku saku yang selama ini mereka simpan jauh-jauh dari hidupnya. Kali ini para gadis menuruti kemauan Putra, ketiganya tidak banyak beralasan lagi. Melalui mikrofon dan webcam di laptopnya mereka mulai saling berkomunikasi. Ketiganya mendengarkan apa yang diterangkan Putra dengan pengetahuan yang dia dapatkan dari buku sakunya. Putra mulai menyuruh ketiganya untuk membuka buku sakunya masing-masing. Putra menjelaskan fungsi dari ketiga halaman yang berada di buku saku. Halaman pertama fungsinya adalah untuk menulis dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada buku saku miliknya masing masing. Halaman kedua fungsinya adalah jawaban dari buku itu dan halaman ketiga adalah untuk mengetahui secara visual atau bisa nonton seperti video secara langsung maupun tidak langsung. Bisa juga disebut dengan hidden camera, karena orang yang dituju tidak mengetahui jika mereka di mata-matai.
__ADS_1