
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......
“Kita sih setuju aja, nanti malam ya. Daaaah....sahabat Yogya, eh hampir lupa oleh-oleh kalian dari Inggris aku paketin ya lewat pos.” Ucap Grace memberikan salam perpisahan kepada Ajeng dan Putra.
“Dah juga kalian. makasih loh Grace kamu nggak lupa sama kita berdua. Aku tunggu deh oleh-oleh dari mu.” Kata Ajeng yang mulai melangkahkan kakinya ke ruang tamu bersama Putra. Kemudian, Buku Passportnya di tutup oleh mereka berempat. Grace dan Medina masih di kamar, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk turun dan berkumpul dengan Papa dan Mamanya. Kecuali Medina yang kehilangan Papanya, dia jadi sedih jika ingat Papanya. Hik-hik. Sedangkan Putra pamitan untuk pulang ke rumahnya.
“Putra, makan ketupat dulu sebelum pulang. sayang loh kalau nggak makan ketupat. Ini kan masih lebaran.”
__ADS_1
“Makasih Yu’, aku masih kenyang kok. Aku pulang dulu yah. Papa sama Mamamu kemana Yu’, kok nggak ada sih. Apa lebih baik aku tunggu aja ya.” Kata Putra yang sudah keluar dan berdiri di pintu depan.
“Eh kayaknya tadi Papa sama Mama pergi keluar deh. Tuh lihat mobilnya enggak ada, ya kan Put.” Ajeng juga keluar dan berdiri di teras.
“Yu’, makasih banyak loh tadi. Aku tadi terhibur Yu’ dengan seluruh perhatianmu yang sangat ikhlas. Ayu’, kalau aku sedih lagi. Kapan-kapan kamu peluk aku lagi yah.” Putra tersenyum menggoda Ajeng.
“Ih, enak aja. Nggak sudi kalau gitu, jika kamu sedih aku nggak akan lagi memelukmu.” Kata Ajeng yang mulai marah dan malu. Dia mencubit tangannya Putra yang mengajak berjabat tangan untuk perpisahan.
“Dasar gombal, laki-laki buaya darat kamu Put.” Kata Ajeng. Dia marah dan membuang tangannya Putra.
__ADS_1
“Biarin, tapi kamu kan suka sama aku dan aku pun sahabat baikmu ya kan Yu’.” Putra mulai menaiki motornya dan menyetater dengan kakinya.
“Ih sebel banget sama anak satu ini. Udah sana kamu pulang ke rumahmu, bikin onar aja di rumahku.” Ajeng mulai mendorong motor vespanya Putra.
“Da.....Ayu’ sahabat cantikku.” Putra mulai berjalan dengan motornya sambil melambaikan tangannya.
“Dah juga. Hati-hati ya, jangan sampai nabrak kucing lagi. Kasihan tau.” Kata Ajeng. Kemarin Putra menabrak kucing di tengah jalan dekat dengan sekolah mereka. Sayang, kucing hitam itu mati. Putra membawa pulang kucing itu untuk di kubur memberikan kehormatan yang terakhir, pikirnya. Karena dia tidak suka dengan sesuatu yang bisa mendatangkan maut dan akhirnya bikin mati. Ajeng mulai menutup pintu gerbang rumahnya, dia masuk ke dalam rumahnya. “ Putra-Putra, kamu tuh aneh Put, tapi aku suka jika kamu dekat sama aku. Kalau nggak ada kamu Put, sepi hidupku ini.” Kata Ajeng yang menutup pintu rumahnya sambil melamunkan Putra yang selalu menggodanya. Ajeng mencari bibinya untuk menanyakan kepergian Papa sama Mama. Setelah itu dia naik ke lantai atas masuk ke kamarnya. Di dalam kamar dia mendengarkan radionya, terdengar sebuah lagu dari AURA KASIH yang berjudul ASMARA. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 26).
Pada malam harinya, mereka tidak jadi untuk kumpul dan chatting lewat Buku Passport. Karena malam hari itu Putra ada urusan bertemu dengan teman-teman sekelasnya yaitu Butet, Batak, Gudeg, Dayak, Badui, Betawi, Tengkleng, Reog, Leak, Papua dan Samin. Sedangkan dia di panggil teman-temannya dengan sebutan Jenang Lumpia, karena aslinya Putra berasal dari kota Kudus dan tinggal di Semarang. Istilah kerennya, jenang yang terselimuti kulit lumpia, begitu kata Gengnya Putra. Temannya yang bernama Gudeg adalah sohibnya Putra yang asli orang Yogyakarta tulen, teman inilah yang menampung Putra dulu ketika dia mencari pekerjaan. Putra ditawari Gudeg dengan menjadi penjaga warnet milik keluarganya. Jika temannya yang dipanggil Baduy, asli Bandung yang tinggal di Yogyakarta. Demikian juga Samin, dia asli kota Pati yang lama tinggal di Yogyakarta untuk studi di kota Gudeg. Sedangkan Reog orang Surabaya dan Leak asli orang Bali demikian juga Tengkleng, anak ini berasal dari kota Solo. Dayak, Batak, Betawi, Papua dan Butet juga sama, mereka adalah temannya Putra yang hijrah dari kampung halamannya untuk belajar di kota Yogyakarta.
__ADS_1
Mereka semua adalah cowok tampan yang sedang mencari cinta di kota pelajar. Walaupun pencari cinta, tapi mereka tidak pernah lupa tugas yang sebenarnya yaitu belajar, belajar dan belajar. Tapi aku yakin kok, ketika aku main ke Markas mereka aku lihat mereka adalah tipe cowok yang romantis dan setia. Beneran, aku juga pernah di kenalin cewek mereka satu persatu, kecuali Jenang Lumpia yang belum dapat. Entahlah katanya sih, dia menunggu bidadari surga yang turun dari kayangan. Tapi katanya Gudeg, Putra naksir berat sama Ajeng yang menjadi sahabat sejatinya. Menurut gudeg sih mereka adalah sepasang dua sejoli. Keduanya sudah menjadi belahan jiwa sejak lahir yang tidak bisa dipisahkan. Karena Jenang Lumpia pernah bercerita sama Gudeg dan Gudeg bercerita sama aku, bahwasanya mereka adalah sahabat sejati sejak masih di gendong oleh orang tuanya. Ketika masih balita, mereka sering ditidurkan bareng dengan kasur yang sama. Putra dan Ajeng kecil di tidurkan bersama-sama dan bersebelahan pula, itu sih kata Papanya Putra kepadanya. Jadi, wajar saja jika mereka itu seperti kembar, tapi bukan sejatinya kembar. Karena jika Gudeg cerita sama aku, keduanya saling mencinta. Namun, mereka masih malu untuk saling mengungkapkan perasaannya masing-masing. Pengakuan dari Jenang Lumpia sendiri sih, Ajeng pujaan hatinya tidak punya feeling sama dirinya. Makanya, dia berusaha mati-matian untuk mendapatkan Ajeng sebagai kekasih hati. Gudeg berharap sih mereka bisa jadian dan akhirnya Ajeng bisa main kesini dengan pasangan kekasih masing-masing.
Tapi sayang, saingan Putra itu berat dan banyak sekali yang naksir sama Ajeng. Karena Ajeng adalah gadis yang paling cantik di sekolah SMK Yogyakarta Unggulan Terpadu, dia pun pintar pula. Ajeng adalah calon Dokter yang sudah kategori profesional deh. Jika dilihat dari kacamata saingan Putra, mereka adalah teman sekelas Ajeng yang sama mengambil Kedokteran dan juga jurusan yang lainnya misalnya dari Farmasi, Otomotif, Elektro, Akuntansi dan lainnya. Bukan hanya sekelas, kakak kelas mereka juga banyak yang naksir kok. Memang sih, siapa sih yang tidak naksir sama Ajeng, dia itu yah sudah cantik, baik hati, lembut, anggun, tajir, calon Dokter pula. Dia juga tidak sombong, malahan suka menolong jika ada orang yang kesusahan. Jika aku melihat sekolahnya putra, sepertinya siswa dan siswi di sini tajir-tajir deh, kebanyakan mereka anak orang kaya. Kecuali Putra saja yang miskin dan anak yatim piatu pula. Makanya jangan heran, hanya dia saja loh yang pakai generasi bendi. Rata-rata jika para siswa memakai motor, kebanyakan mengendarai Honda CBR dan Kawasaki Ninja, kalau para siswanya pakai mobil sih banyak banget nggak cowok dan enggak cewek, merata deh pokoknya. Kebanyakan yang cewek sih naik mobil Honda Jazz, Toyota Yaris, Suzuki Swift dan sekelasnya. Itu untuk siswa angkatan tahun ketiga, karena mereka sudah boleh mempunyai sim A. Sekolahnya Putra saja sudah mirip Universitas, padahal baru setara Sekolah Menengah Atas atau Kejuruan loh. Gedung sekolahnya Putra menjulang tinggi dan itupun tidak satu gedung. Gedungnya sesuai dengan jurusan msing-masing, hebat ya sekolah mereka.