Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
10. Masa Berat Medina Syahrani


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......MASA BERAT MEDINA SYAHRANI......


Hari ini adalah hari Medina Syahrani dan Grace Alexa Widawati untuk pertama kalinya mereka masuk ke dalam kelas. Mereka masuk pagi sekali karena di Sekolah mereka akan mengadakan acara yang sangat menyentuh dalam hidup mereka yaitu mengadakan tabur bunga bagi korban pesawat dan tenggelamnya kapal. Kebanyakan dari mereka menangis karena kakak kelas mereka menjadi korban ketika mengadakan liburan bersama ke Negara Australia. Tujuh puluh Siswa dan Siswi meninggal dunia dalam satu pesawat ketika akan pulang ke Jakarta, banyak dari mereka tidak kuasa dan pingsan. Begitu juga dengan para Dosen mereka, karena lima dari mereka ikut meninggal dunia ketika menjadi pendamping Siswa dan Siswi yang sedang berlibur. Hari ini tidak ada pelajaran, seluruh Siswa dan Siswi serta para Dosen masih dalam kesedihan dan berkabung. Sebenarnya Siswa dan Siswi baru di dalam hatinya merasakan senang karena terbebas dari ospek dan menjadi anak SMA baru. Namun saat ini mereka terselimuti kesedihan yang sangat dalam. kesedihan mereka hanya bisa digambarkan dengan deraian air mata. Duka yang nestapa terpancar dari muka mereka yang sayu. Kepala Sekolah mereka memutuskan untuk memulangkan pagi untuk para Siswa dan Siswinya agar kesedihan tidak berlarut-larut.


Matahari siang itu agaknya malu dan mulai redup, rombongan awan gelap berarak-arak di angkasa biru. Angin sepoi kesedihan menyelimuti angan yang kosong, harapan yang mulai pupus menggerogoti optimisme semangat. Medina Syahrani pulang ke rumahnya di kawasan elit tepatnya di perumahan Hunian Watermelon Damai. Sepertinya, keadaan rumahnya ramai tidak seperti biasanya. Bahkan siang itu mamanya Medina sudah pulang dari kerja yang biasanya selalu pulang pada malam hari. Medina akan masuk ke dalam rumah, namun di teras rumahnya sudah banyak bapak-bapak dan ibu-ibu warga yang memakai peci dan kerudung hitam. Ada apa gerangan pikirnya, wajah para warga banyak yang sayu dan menitikkan air mata. Dia berfirasat jika ada yang sakit atau hal-hal yang sangat buruk. Dalam pikirannya mungkin mamanya kena musibah kecelakaan di jalan. Ah nggak mungkin tepis angan Medina. Atau mungkin adiknya yang di cintai, angan Medina yang liar menyusupi pikirannya yang sangat cinta sama adiknya. 


“Paman ada apa gerangan rumah saya kok rame, apa mama Medina baik baik saja.” Kata Medina yang bertanya kepada tetangga rumah sebelahnya yang di dalam teras rumahnya medina sambil berdiri.


“Mamamu enggak apa-apa Din, keadaannya mamamu baik-baik saja. Lekaslah masuk ke dalam rumah, Kamu sudah ditunggu mamamu Medina.” Kata tetangganya tadi.


“Paman, kok banyak yang sedih sih, banyak pula yang memakai kerudung hitam. Jika mama nggak apa-apa, apakah bibi Ijah yang kenapa-napa.”


“Bibimu baik-baik saja Medina. Lekaslah masuk, mamamu menunggumu.”


“Kenapa dengan adikku paman, apa dia juga baik-baik saja.” Mukanya memerah karena dia sangat sayang sekali dengan adiknya yang masih kecil.


“Sudahlah Medina, masuklah dulu. Mamamu benar-benar menunggumu.” Kata tetangganya. Medina mulai masuk ke dalam rumahnya sambil mengucapkan salam, banyak warga yang berada di ruang tamu melihat Medina. Muka Medina menjadi memerah dan malu. Sambil berjalan masuk ke ruangan tengah di sana, Medina melihat mamanya sedang menangis didampingi ibu-ibu dari warga sekitar. Air mata mamanya Medina terus mengalir sambil menyeka wajahnya yang basah dengan tisu di tangannya. Dia mulai berlari menghampiri mamanya. 


“Mama, ada apa ma. Kenapa mama menangis.” kata Medina menubruk dan memeluk mamanya yang berdiri ketika mengetahui kehadiran Medina yang saat itu mamanya sedang duduk dikursi.


“Medina papamu Din.” Kata mamanya terisak dan menangis memeluk Medina yang saat itu juga mukanya memerah ikut sedih.

__ADS_1


“Papa kenapa ma, papa kenapa ma.” Medina sadar dan takut jika terjadi sesuatu yang buruk dengan papanya. Beliau sampai saat ini belum pulang ke rumah. Papa Medina sudah lima hari ini pergi berbisnis ke luar negeri. Ketika itu papanya berpamitan kepada Medina, papa tersayang Medina dan yang paling disayangi dan pula manja terhadap papanya. Bahwasanya papanya berpesan untuk menjaga mama dan adik kecilnya yang lucu dan imut-imut, ketika papanya akan pergi ke Singapura.


“Papamu sudah pergi Din.” Tangisan mamanya mulai terisak dengan keras.


“Bukankah papa pergi ke Singapura ma, kenapa mama menangis sedih. Apakah saudara di Singapura baik-baik saja.” Kata Medina. Setelah memeluk erat sekali dia mulai melepaskan pelukannya untuk melihat wajahnya mamanya yang menangis. Dia mulai mengeluarkan air mata karena terharu melihat air mata mamanya.


“Papamu sudah tiada Din, papamu pergi untuk selama-lamanya.” Jawab mamanya. Beliau tidak kuat meneruskan kata-katanya yang ambruk duduk di kursi. Seketika itu juga medina bengong tatapan mukanya kosong, dia menjatuhkan badannya ke lantai.


“Papa, papaku. Benarkah ma. Tidak-tidaaak Jangan-jangaaan papaku oh Tuhan papaaaaa jangan tinggalkan akuuuuuuuuu.” meledaklah tangisan medina secara histeris. Dia bertekuk lutut tidak berdaya dan menundukkan mukanya, deraian air mata mengalir di pipinya. Medina terisak-isak dan mengepalkan kedua tangannya.


“Papa jahat meninggalkan Medina, kenapa papa tega sama Medina. Papa...jangan pergiiiii....” Medina berdiri dan membanting tasnya yang digendongnya kemudian membuangnya ke lantai. Dia berlari sambil menangis, air mata Medina melayang-layang ke udara di belakang punggunya ketika dia berlari menaiki anak tangga. Dia  menabrak pintu kamarnya yang berada di lantai atas kemudian dia menangis sangat keras di kasurnya sambil merebahkan badannya dan mengambil bantal. Dia menutup mukanya dengan bantal kesayangannya.


“papaaa jangan tinggalkan Medina. Medina sangat sayang sama papa, maafkanlah aku pa yang marahan ketika papa pergi. Kenapa papa tega berpamitan denganku untuk yang terakhir kalinya dan untuk selamanya.” Medina tertelungkup dan kaki medina menendang-nendang di atas kasurnya. Air mata medina mengalir dengan deras, dia bangkit dan duduk di kasur sambil menangis. Dia berjalan mendekati meja belajarnya kemudian pergi ke jendela kamarnya. Di bawah jendela di pojok ruangan dia merebahkan badannya duduk di lantai. Dia tak berdaya membawa tubuhnya sambil membawa foto keluarga bergambar kedua orang tuanya, dirinya juga adiknya. Dia menangis dan meneteskan air matanya di foto itu.


“Papa...!!!!” Medina bangkit berdiri sambil membawa foto kedua orang tuanya. Dia masih menangis merebahkan badannya dan telungkup lagi di atas kasur sambil menutupi lagi kepalanya dengan bantal.


Sementara itu mamanya memeluk adiknya yang masih kecil yang tidak tahu apa-apa. Adik Medina berumur lima tahun. Bibi Ijah juga sedih jika tuannya kena musibah, para warga pun sedih dengan kondisi ini.


Papanya Medina ketika itu berbisnis ke Negara Singapura serta mengunjungi saudaranya yang berada disana. Lima hari papanya menelepon mamanya Medina jika lima hari yang lalu dia akan pulang ke Jakarta. Namun lima hari sudah lewat, beliau juga belum datang. Ternyata papanya Medina menjadi korban pesawat yang jatuh dan meledak di angkasa. Selama lima hari ini mamanya dan dirinya belum tahu jika papanya telah meninggal dunia. Mamanya Medina baru tahu dengan informasi dari keluarga di Singapura jika suaminya meninggal dunia menjadi korban pesawat yang meledak. Keluarga di negara sana pun baru tahu di pagi itu, kemudian mereka menelepon keluarga jakarta.


Keluarga Grace, sahabat Medina datang ke rumahnya yaitu Grace sendiri, papanya dan juga mamanya. Mereka masuk ke ruang tengah dan bertemu mamanya Medina. Mamanya Grace sedih sambil memeluk mamanya Medina, beliau berdua pun menangis lagi. Grace juga sedih dan mengeluarkan air mata. Grace mencari-cari Medina di sekitar ruang tengah, dia tidak menemukannya, pikirnya Medina telah menghilang.


“Bibi Ijah Medina kemana bi, kok ngga ada di sini sih.” Kata Grace yang mengusap mukanya yang basah dengan air mata, sambil berjalan menghampiri bibi Ijah yang menangis di pojok ruangan.

__ADS_1


“Anu non, dia dadi didini menadis kemudian dia ladi ke adas.”(anu non..., dia tadi disini menangis kemudian dia lari ke atas) Bibi ijah bicaranya tidak jelas yang kurang dipahami Grace karena bibi Ijah berbicara sambil menangis dan menyeka hidungnya dengan tisu yang ingusnya mulai keluar.


“Di atas ya bi.” Tanya Grace kepadanya. Bibi Ijah menganggukkan kepalanya. “Ya udah kalo gitu bi, biar Grace naik ke kamar Medina yang berada di atas.” Sambil berlalu, kaki Grace melangkah pergi menaiki tangga menuju ke kamar Medina. Grace membuka kamarnya Medina, dia menemukan Medina yang tertelungkup di atas kasur yang lagi menangis. Grace mendatangi Medina, dia duduk di kasur di samping Medina sambil membelai rambut panjangnya yang terurai indah di punggungnya. Medina kaget kalau ada Grace, kemudian dia duduk dan memeluknya.


“Grace papaku Grace. Dia sudah pergi, papaku meninggalkan aku selamanya .” Hik hik, ucap Medina yang menangis sambil memeluk erat Grace yang duduk di sampingnya. Grace juga memeluk erat sahabatnya, pecahlah sudah tangisan dua gadis cantik ini.


“Sudahlah Medina jangan sedih.” Hik-hik. “Menangislah sepuasnya di pelukan sahabatmu ini.” Walaupun Grace kelihatan tabah, dia juga menangis agak kencang. Medina lama sekali memeluknya, mereka berdua pun lama juga nangisnya. Setelah berdua agak tenang dan mulai tidak menangis, Medina mulai bercerita.


“Grace sahabatku, sepertinya aku tidak bisa hidup lagi. Sepertinya aku berdosa dengan mamaku karena aku jahat sama papaku ketika itu.”


“Kenapa kamu bilang begitu Medina, yang namanya musibah itu datangnya kapan saja dan tidak memberikan salam bertemu yang ramah kepada yang terkena musibah. Janganlah menyalahkan dirimu sendiri Medina, sahabatku.”


“Aku jahat Grace, karena ketika papaku pergi aku sedang marah sama beliau yang aku sayangi. Ketika itu aku melihat wajahnya mamaku yang kelihatan sedih jika aku marahan sama papaku.” 


Telunjuknya Grace mendekatkan ke bibirnya Medina dan menempelkannya. ”Sudah Din, janganlah kamu berkata begitu. Saat ini yang penting kamu sekarang harus tegar menghadapi ujian ini.” kata Grace yang berbicara sambil memeluk lagi Medina yang kelihatan sedih. Dia memeluknya agar Medina terhibur untuk melupakan kesedihannya.


“Sepertinya aku enggak sanggup lagi Grace, aku sangat sayang sekali dengan papaku. Kenapa Tuhan enggak mengambil nyawaku aja menggantikan papaku.” Kata Medina yang sangat manja sekali dengan papanya. Jika ada papanya di rumah, seolah-olah seluruh dunia miliknya. Bahkan bagian kasih sayang dari papanya untuk adik dan mamanya di ambil juga. Di rumahnya hanya dia yang boleh di sayangi papanya, medina tidak mau cinta papanya terbagi.


“Janganlah berkata seperti itu Din, ingatlah mama dan adikmu. Nanti siapa yang menjaga mereka jika kamu juga ikut pergi. Terus bagaimana dengan aku, sahabatmu ini apakah kamu melupakan aku Medina.” Ucap Grace yang berusaha menghiburnya. Mereka berdua menangis lagi, ketika Medina sedih seketika itu juga Grace menghiburnya dengan kata-kata melewati bibir merahnya yang indah. Mereka masih di kamar atas karena Medina tidak mau turun ke bawah demikian juga Grace yang tidak mau meninggalkan sahabatnya.


Para tetangga yang datang untuk belasungkawa mulai pada pulang karena sudah sore. Di sana masih ada beberapa warga yang berada di rumahnya Medina karena mereka adalah tetangga sebelah rumah yang dekat dengan keluarga mereka. Jenazah papanya Medina belum juga ditemukan, sebab sampai saat ini para korban belum satupun yang ditemukan. Keluarga jauh dari bandung pun datang ke rumah Medina yang berada di Jakarta, kakek dan neneknya Medina juga datang ke jakarta. Om dan tantenya dari Yogyakarta belum bisa datang ke Jakarta, karena omnya Medina ada urusan mendadak 


##T##

__ADS_1


__ADS_2