Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
40. Bermalam Dengan Sang Pangeran 15


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......


“Kalian tidur aja dulu, besok pagi kalian boleh cerita.” Kata Putra menimpali. Dia berdiri dan pergi ke meja belajarnya untuk mengambilkan mereka teh hangat bikinannya.


“Terus kamu mau kemana Put. Maukah kamu menemani kami tidur yang sudah letih ini.” Ucap Medina yang tidak berani mengatakan takut di depannya, karena dia tidak mau dibilang cemen sama putra. Biasanya mereka sering ngeledek satu sama lain.


“Oh...begitu ya. Baiklah aku akan tidur bersama kalian di kasurkan, di sisi kalian jadi berempat. Wah boleh juga tuh.” Putra bercandanya kelewatan. Jika ada seorang gadis apalagi ini tiga gadis diperlakukan seperti ini, pasti mereka akan marah besar. Lagian kasurnya tidak muat untuk berempat, bertiga aja mereka hampir jatuh ke bawah. Ketiganya melempari Putra dengan bantal, hampir saja Grace menumpahkan gelas di tangannya 

__ADS_1


“Dasar mata keranjang, buaya darat ya tidur di lantai lah.” Ucap Grace dan Medina. Sedangkan Ajeng makin yakin dengan kebencian kepadanya jika Putra itu mata keranjang. Sikap Putra yang kelewatan makin menjadi-jadi. Dia menakut-nakuti mereka yang masih pucat.


“Nanti kalau kamu semuanya hilang lagi gimana, lihat saja kalian semua bisa tinggal di rumahku ini. Rumah kalian kan jauh, contohnya kamu Grace dan kamu Medina. Kalau Ajeng sih dekat, paling dia bisa pulang berjalan sambil tidur.” Ucap Putra yang tidak merasa berdosa dan kasihan kepada mereka. Ketiganya semua diam, malahan Grace, Medina dan Ajeng mau menangis lagi. 


“Dasar Putra orang ndeso, yang tidak tahu penderitaan kita yang sedang kita alami.” Kata ketiganya di dalam hati. Muka mereka memerah marah yang sangat jengkel dengannya.


“Putra, pokoknya kamu disini menemani kami. Put, badan kita masih lemas, ya kan Din. Nanti kalau makhluk itu datang lagi, siapa yang akan melawan mereka. Kita nggak bisa lari lagi, energi kita habis Put.” Ucap Grace meminta dukungan kepada Medina.


“Iya deh. Kalian tidur saja, biar aku duduk di kursi ini.” kata Putra yang mengambil kursi belajarnya dan menaruh di dekat kasur untuk menjaga mereka. Putra merasakan kasihan kepada ketiga gadis cantik sahabatnya. “Kasihan banget mereka, wajahnya sampai pucat. Kira-kira apa ya yang dilakukan Buku Passport yang berubah menjadi Batu Meteor terhadap sahabatku.” Putra menuduh Buku Passport karena dia tidak tahu kejadian yang sesungguhnya. Putra menoleh melihat wajahnya Ajeng yang hampir tiada jika saja penanganan yang terlambat beberapa menit. Pastinya Putra akan kehilangan sahabat paling dekat meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Putra menitikan air mata jika mengenang kejadian yang memilukan itu. Ketiganya mulai menutup mata untuk tidur, mereka masih kelelahan dan shock dengan kejadian yang mengerikan di malam itu. “Ayu’, terima kasih kamu masih hidup untuk menghiburku. Jika saja aku terlambat dan enggak menguasai CPR, pasti kamu tiada sebagaimana kedua sahabatku di semarang yang telah tenggelam dan tidak terselamatkan. Walaupun mereka ditolong menggunakan CPR oleh guru olahragaku tetap saja mereka nggak selamat. Oh Tuhan, terima kasih banyak. Engkau masih memberikan kesempatan kepada Ayu’ untuk hidup, sahabat dekat yang aku cintai. Terima kasih Tuhan, terima kasih banyak Tuhanku yang aku cintai.” Putra mulai menangis lagi melihat wajah cantiknya Ajeng yang telah pucat. “Ayu’, bukannya aku cengeng yang suka menangis atau dikit-dikit air mata ini mengalir. Siapa sih yang kuat dengan ujian yang aku hadapi Yu’. Kamu tahu, setiap yang aku kasihi dan aku cintai mulai meninggalkan aku untuk selama-lamanya. Lihatlah Bundaku yang telah tiada, lihatlah kedua sahabat sepermainanku juga tiada. Bahkan, lihatlah Ayahku juga meninggalkan aku. Hati siapa yang enggak teriris dan terluka menjadi sedih begini, Yu’. Kamu tahu saat ini umurku baru enam belas tahun yang harus menghadapi kerasnya hidup di dunia seorang diri. Aku masih remaja Yu’ yang enggak tahu apa-apa, aku hanya mempunyai pengalaman hidup yang sangat sedikit, sehingga aku mudah rapuh dan putus asa. Jika saja kamu juga ikut tiada di hadapanku, betapa hancurnya hati ini yang telah lama hancur. Kepada siapa lagi aku akan menyandarkan hati ini jika aku sedih dan merasakan gembira karena engkaulah tempat curhatku. Aku sangat takut kehilanganmu Yu’ karena saat ini aku hidup sebatang kara yang membutuhkan sahabat sepertimu. Aku baru sadar dan merasakan kesepian jika enggak mempunyai kedua Orang Tua, saat ini hanya kamulah yang bisa menghiburku. Maafkan aku ya Yu’ saat ini kamu yang aku andalin dan yang aku punyai untuk menghiburku. Maafkan aku Yu’, dirimu yang aku manfaatkan untuk menghiburku dengan rela dan ikhlas. Yu’, mungkinkah suatu saat nanti kamu akan membenciku dan kamu enggak mau menerimaku lagi. Segitu parahkah kesalahanku sehingga diriku enggak termaafkan darimu. Jika kamu benci aku setelah satu tahun berlalu mulai dari sekarang, mungkin aku bisa bertahan dan luka hati ini bisa sembuh. Namun, jika suatu saat nanti kamu marah sebelum satu tahun ini yang sangat berat sepanjang hidupku. Mungkin aku akan menderita Yu’, mungkin aku enggak bisa bertahan. Bisa jadi aku akan hancur nggak kuat dengan ujian hidup yang sangat berat. Mungkin aku lebih mencintai kematian bertemu dengan kedua orang tuaku daripada hidup menderita seorang diri. Ah...kenapa aku berangan Ayu’ membenci diriku, memangnya apa salahku sehingga dia membenciku. Bukankah saat ini hubunganku baik-baik saja.” Kata Putra di dalam hati yang memandangi wajahnya. Ajeng tidurnya sangat pulas begitu juga Medina Grace. Putra sangat tentram sekali hatinya yang bisa melihat ketiga sahabatnya yang sangat cantik. Jarang-jarang Putra melihat wajahnya Ajeng yang tertidur, apalagi ini di kamarnya. Putra agak bangga, seolah-olah jiwanya utuh dan merasakan mempunyai saudara lagi yang selalu akrab dan saling mencintai layaknya keluarga. Putra berfikir seperti ini karena dia haus akan keluarga, haus akan belaian Bundanya, rindu akan kasih sayang kedua Orang Tuanya. Ketika dia melamun melihat wajahnya Ajeng yang sangat cantik, di hatinya terlintas sebuah lagu yang jika dia mendengarkan lagu ini dia selalu teringat dengan Ajeng, sahabat yang selalu dia cintai sepanjang masa. Lagu yang terngiang itu dari GITA GUTAWA yang berjudul YOUR LOVE. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 32). 

__ADS_1


Kicau burung telah mengiringi ketenangan ketiga gadis cantik ini yang masih terlelap tidur. Jam sembilan pagi mereka bertiga bangun dari tidurnya, badan mereka mulai pulih merasakan enakan kembali. Grace bangun dari tidurnya yang terganggu suara nyanyian ayam jantan, sedangkan Medina dan Ajeng masih terlelap dalam tidurnya. Grace mulai duduk di atas kasur dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


“Udah jam berapa sekarang, sepertinya sudah siang deh”. Kata Grace yang berbicara sendiri. Matanya Grace mencari-cari jam kesana-kemari jika ada jam di dinding kamar.


“Medina, Ajeng bangun sayang. Kalian enggak apa-apa kan.” Grace membangunkan mereka berdua dengan menggoyangkan tubuh Medina dan Ajeng. Tubuh keduanya menggeliat, nampak ketika Ajeng menggeliat air matanya menetes di pipinya. Sebenarnya Grace penasaran ada apa dengan Ajeng yang kelihatan sangat sedih.


“Sudah pagi ya Grace, kamu enggak apa-apa Grace.” Ucap Medina yang mulai duduk di atas kasur, Grace menganggukan kepalanya. “Kamu gimana Ajeng, baikan.” Ajeng hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaan dari Medina. Ajeng juga mulai duduk di atas kasur sambil memeluk mereka berdua, dia menangis sesenggukan.


“Oh sahabatku, Grace, Medina hiburlah aku. Sarmijo Din, Putra grace. Dia sangat jahat banget, dia jahat sama aku.” Ajeng menangis di pelukan mereka, Grace dan Medina bingung dengan perkataan dan sikap Ajeng.

__ADS_1


__ADS_2