Petualangan Gembira

Petualangan Gembira
2. Rame, Berkunjung Ke Toko Buku 2


__ADS_3

...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...


......RAME BERKUNJUNG KE TOKO BUKU......


Mereka asik sendiri berbicara di lorong rak bagian novel sangat lama sekali, sampai akhirnya mereka melanjutkan pergi dari sana. Putra melihat Grace membeli novel Harry Potter seri pertama dan kedua. Sedangkan Medina membeli novel dalam negeri karangan mbak Djenar Mahesa Ayu juga novel baru terbit karangan dari mbak Dee atau mbak Dewi Lestari. Medina sangat senang sekali, apalagi bikinan orang Indonesia. Dia sangat superfanatik deh tak ubahnya Grace yang senang dengan novel dari Inggris sana. Medina juga bangga dan menggebu-nggebu kalau novel Indonesia tidak kalah dengan novel import katanya agak ketus. Seketika itu juga Putra dan Ajeng cekikikan dan tertawa, Ajeng menutupi mulutnya dengan kedua tangannya melihat perdebatan dua sahabat baru mereka, Grace dan Medina.


Setelah perdebatan mereka telah selesai, Ajeng mengajak mereka ke lorong rak bagian kedokteran karena dia mau membeli buku untuk pengetahuan tips menjadi dokter yang profesional. Dia juga mencari bahan dari sumber beberapa buku karena ada tugas dari sekolahnya. Sebelum Ajeng melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan lorong rak novel, tangannya Ajeng mengambil dua novel sekaligus yang berjudul Lord Of The Ring seri satu dan seri dua. Kemudian mereka berempat beranjak melangkah lagi untuk pergi memasuki lorong rak bagian ilmu kedokteran.  Di dalam rak bagian ini, putra dan ketiga cewek cantik sahabatnya seolah-olah diikuti dari arah belakang sesosok bayangan putih yang bersinar. Entah kenapa, siapa yang paling sensitif merasakan aura yang membuat merinding bulu kuduk mereka. Sepertinya Ajeng, Grace dan Medina lebih sensitif dibandingkan Putra. Semenjak kejadian yang aneh ini, mereka memilih untuk diam sambil melihat-lihat buku. Kadang ketiga gadis cantik ini menoleh kebelakang untuk memastikan sinar apa itu, padahal toko buku saat itu sedang rame.


“Grace kamu merasa aneh enggak.” Tanya Ajeng kepada Grace serta Medina yang pembicaraan mereka mulai bisik-bisik. Hanya mereka bertiga saja yang bisa mendengar suara Ajeng.

__ADS_1


“Iya, bulu kudukku merinding berada di sini.” kata Grace yang mulai memegang tangan Ajeng.


“Sepertinya di belakang kita ada yang ngikutin, semacam sinar putih atau bayangan.” Kata Medina yang mulai berdekat-dekatan dengan Ajeng dan Grace.


“Masa sih, aku toleh ke belakang enggak ada apa-apa kok. Malahan banyak berlalu lalang orang.” Kata Putra yang tidak peka. Dia tidak bisa merasakan sentuhan alam gaib yang membayangi mereka. Malahan putra bersuara keras sehingga ketiga cewek ini agak marah sama dia. Ketiga gadis cantik sahabatnya putra takut jikalau nanti makhluk yang membayanginya mendengarkan pembicaraan mereka karena mereka ketakutan.


Mereka berempat saling pandang satu sama lain, bayangan putih tadi melayang- layang di atas tempat yang bersuara keras di sebelah pojok ruangan. Grace, Ajeng, Medina serta Putra mulai khawatir dan ketakutan. Lampu di ruangan toko buku itu padam seketika kemudian terang lagi dan padam terus terang lagi. Setiap tiga detik lampu di toko buku berkelap-kelip membuat tiga cewek ini ketakutan. Putra sebagai seorang cowok satu-satunya yang mengetahui kejadian aneh ini merasa berkewajiban melindungi mereka. Putra merasa heran sendiri kenapa para pengunjung cuek tidak merasakan aura yang sangat menusuk kulit ini. Kekuatan gaib ini mulai beraksi terhadap ketiga gadis cantik sahabatnya. Mulai saat itu juga, Grace, Medina dan Ajeng seolah-olah ditarik oleh aura yang menyakitkan dan kejam untuk di rasakan ini untuk mendatangi dan menyelidiki apa yang terjadi di tempat lorong rak itu.


Entah pengaruh gaib apa ketiga gadis cantik ini berjalan mendatangi sumber suara. Cahaya yang tadinya melayang-layang itu sudah menghilang, begitu juga lampu yang tadinya padam mulai terang kembali. Bisa dibilang keadaannya sudah mulai normal lagi. Putra memanggil mereka bertiga yang meninggalkannya, namun ketiga gadis cantik ini seolah-olah tidak mendengarkannya. Putra mengejar mereka di belakangnya sambil memanggil-manggil namanya. Percuma saja dia memanggil mereka karena ketiganya cuek seolah-olah telinga mereka ada yang menutupinya.

__ADS_1


“Grace, Medina, Ajeng mau kemana kalian.” Kata Putra yang mulai di tinggal para gadis ini. ketiganya masih diam dan nyuekin keberadaan Putra. “Hai tunggu aku. Apa kalian terhipnotis dengan suara itu.”


Akhirnya mereka berempat sampai di tempat lorong buku yang bersuara tadi. Nampak ada lorong rak yang bertuliskan rak Filsafat. Mereka berempat merasa aneh dan keheranan, karena di sebelah rak filsafat ada rak lagi yang bertuliskan “FILSAFAT KEHIDUPAN DAN PENGHIANATAN ALAM YANG TERTIDUR.” 


“Aneh dari tadi sebelum kita melewati tempat ini enggak ada rak yang seperti ini, iya kan.” ucap Medina yang melihat tempat itu. Mereka berempat melihat lorong rak yang kumuh juga di lantainya kotor, berlumut serta berdebu. Apalagi ada rak yang bertuliskan Filsafat Kehidupan Dan Penghianatan Alam Yang Tertidur.


“kalau rak Filsafat memang ada, namun rak yang satu ini di sebelahnya kurang terawat dan tadinya tidak ada.” Kata Ajeng yang menggaruk-garuk kepala karena merasa heran. Di sekeliling rak yang aneh ini pun pada saat kejadian suara dentuman tadi, tidak ada pengunjung yang mendekati lorong rak Filsafat Kehidupan Dan Penghianatan Alam Yang Tertidur yang baru saja muncul dengan tiba tiba.


Mereka mendekati rak itu yang  baunya sangat menyengat, entahlah sepertinya berbau belerang. Keempat remaja ini mulai penasaran yang memberanikan diri memasuki lorong sambil menutupi hidungnya. Grace beserta Putra masuk ke lorong itu di sebelah kanan rak Filsafat Kehidupan Dan Penghianatan Alam Yang Tertidur, sedangkan Ajeng dan Medina di sebelah kirinya. Buku-buku di dalam rak itu kelihatan sudah berumur sangat tua, bahkan debu pun menumpuk meninggi. Padahal ruangan toko buku ber AC. Seketika itu juga Putra mengambil buku saku yang ada di rak itu, tiba tiba saja debu dari rak Filsafat Kehidupan Dan Pengkhianatan Alam Yang Tertidur beterbangan, keempatnya mulai batuk-batuk terkena debu ini. Sedangkan pengunjung yang kena debu dari rak ini merasa kedinginan, mereka mengira terkena embun dari AC yang berlebihan. Grace, Medina serta Ajeng mulai berhamburan menjauhi kedua lorong rak Filsafat Kehidupan Dan Pengkhianatan Alam Yang Tertidur untuk pergi menghindar menyelamatkan diri. Putra masih di sana yang mematung melihat buku saku tersebut. 

__ADS_1


__ADS_2