
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......BERMALAM DENGAN SANG PANGERAN......
Tiga hari setelah kejadian, Putra mulai kembali sehat. Putra mencari Batu Meteor miliknya. Batu Meteor itu masih menempel satu sama lain, dia duduk di sofa dan memegangi Batu Meteor milik mereka berempat. Putra memencet tombol merah pada Batu Meteor miliknya, keempat Batu Meteor tersebut terlepas yang terjatuh di atas meja. Putra memencet lagi tombol Batu Meteor miliknya yang sudah lepas, Batu Meteor miliknya menjadi Buku Passport 3 Alam lagi. Putra juga sama memencet tombol ketiga Batu Meteor miliknya Grace, Medina dan Ajeng yang berubah menjadi Buku Passport 3 Alam lagi. Putra kangen dengan mereka bertiga, Putra hanya bisa memandangi ketiga foto cantik yang berada di Buku Passport 3 Alam milik mereka masing-masing. Putra membelai foto miliknya Ajeng yang sangat cantik, keduanya juga tidak kalah cantik. Namun, Putra sangat sayang dan mencintai Ajeng sahabatnya sejak kecil. Bagi Putra, Ajeng adalah kekasih hatinya yang tak tergantikan. Buku Passport 3 Alam itu di taruh di saku baju Putra, dia berencana untuk kerumahnya Ajeng untuk meminta maaf dan juga mengembalikan Buku Passport 3 Alam milik mereka masing-masing. Putra juga akan menyerahkan Buku Passport 3 Alamnya kepada mereka karena dia berfikir sudah tidak pantas lagi untuk memilikinya.
__ADS_1
“Ayu’, aku sangat mencintaimu. Tapi, kenapa harus begini jadinya. Kenapa kamu benci sama aku Yu’. Apakah persahabatan selama ini yang kita jalin bersama bisa runtuh begitu aja. Aku sakit Yu’, dengan dirimu yang perlakukan aku seperti ini. aku menderita Yu’, dengan derita ini tanpa akhir. Apa yang aku khawatirkan menjadi kenyataan. Kamu membenci aku sebelum satu tahun yang sangat berat ini. Aku nggak sanggup lagi jika seperti ini. Aku menderita dan sakit seluruh jiwa dan ragaku. Bunda, apa yang Engkau ucapkan benar dan menjadi kenyataan jika aku akan menderita, dikucilkan dan dimusuhi. Bunda, kenapa Bun. Aku sedih dan menderita dalam kesendirian.” Kata Putra sedih. Dia melihat fotonya Ajeng di sampul Passport 3 Alam yang nampak cantik dan anggun. “Yu’, dirimu sangat cantik banget di sampul ini. Mungkinkah aku bisa bersama denganmu lagi seperti dulu lagi. Aku sangat mencintaimu dan menyayangimu. Yu’, jangan lupakanlah aku dan cintailah aku apa adanya yang sebatang kara ini.” Putra mulai menciumi fotonya Ajeng di sampul Passport 3 Alam. Dia membelai dan mengelus fotonya Ajeng dengan tangannya. “Ah, sepertinya aku mulai nggak pantas lagi memegang Buku Passport 3 Alam milikku. Mendingan aku balikin saja kepada mereka bertiga. Aku berharap mereka bertiga mau memaafkanku, apakah kesalahanku ini enggak patut termaafkan. Ya Tuhan, dengan kembalinya Buku Passport milikku kepada mereka, semoga mereka mau memaafkanku.” Kata Putra yang melamun memandangi foto pujaan hatinya. “Oh Adindaku yang aku cintai sebagai sahabat dan pujaan hatiku yang diriku sangat mencintaimu seluruh jiwa dan ragaku. Engkaulah bidadariku yang memancarkan cahaya kedamaian ke dalam relung jiwaku, sehingga aku nggak mudah melupakanmu. Oh Adindaku, Ajeng Indah Ayu Putri, tunggulah kehadiranku. Aku akan mendatangi rumahmu, tuk menyatakan maafku kepadamu. Duh Adindaku, sahabat yang aku cintai sepanjang masa, terimalah aku apa adanya.” Kata Putra dalam ungkapan hatinya yang paling dalam dari sanubarinya. Setelah dia puas menyatakan perasaannya dalam kesendirian, dia mengambil hapenya. Dia memasang stereo portable handsfree hape di telinganya untuk mendengarkan lagu dari Group Band ST12 yang berjudul PUTRI IKLAN untuk menghiburnya. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 37).
Putra keluar rumahnya dan melangkahkan kaki ke rumahnya Ajeng yang berjarak lima puluh meter. Gerimis menyelimuti di kota Yogyakarta, Putra sudah sampai di depan rumahnya Ajeng. Di luar rumah ada mobil sedan Honda City berwarna putih yang sudah di modif. Putra kenal mobil ini, karena mobil yang di parkir di depan rumahnya Ajeng adalah miliknya ketua Badan Eksekutif Siswa di sekolahnya. Ajeng adalah Sekretaris dari BES, mungkin mereka sedang membahas kegiatan organisasi di sekolahnya, pikir Putra. Dia mulai masuk ke teras menuju ke pintu rumahnya Ajeng. Di dalam ruang tamu ada Grace, Medina dan Ajeng juga empat laki-laki anggota BES. Keempat siswa ini berbeda jurusan dan angkatan, yang menjadi ketua BES sudah tingkat tahun ketiga, dia hampir lulus. Teman yang satunya lagi juga sama tingkat tahun ketiga. Dua orang lagi baru tingkat tahun kedua dan tingkat tahun pertama.
“Assalamualaikum.” Putra memberikan salam dari luar rumah. Ajeng yang tidak tahu Putra datang keluar untuk menyambutnya. Ajeng mendekati pintu depan rumahnya. Dia kaget jika putra datang ke rumahnya.
__ADS_1
“Yu’, dengar dulu penjelasanku ini. apakah segitunya kamu nggak menerima sahabatmu lagi. Yu’, aku mohon dengarkanlah isi hatiku ini Yu’.” Putra memegang kedua tangannya Ajeng yang ditaruh di dadanya. Putra memelas agar dia mau memaafkannya. Ajeng mulai menangis dan mendorong tubuhnya Putra yang hampir terjatuh. Ajeng terus mendorongnya dan memukuli tubuhnya Putra dengan kedua tangannya. Temannya Ajeng yang mendengar keributan di luar pada ke luar rumah termasuk Grace dan Medina. Putra di lerai dengan keempat laki-laki ini untuk tidak menyentuh tubuhnya Ajeng. Dia menangis dipeluk Medina yang berada di sampingnya. Medina juga marah dengan keberadaan Putra yang bikin onar. Sedangkan Grace merasa kasihan kepada Putra. Grace berfikir, apakah benar selama ini yang mereka tuduhkan, dia sangat sedih sekali kondisi Putra yang mulai kurus dan pucat. Grace teringat dengan Putra ketika menolongnya di sarkem. Grace ingin sekali membantu Putra tapi dia tidak berani. Dia hanya melihat dan menangis sesenggukan di belakang Medina dan Ajeng. Dia sedih Putra diperlakukan tidak adil oleh Ajeng dan Medina, ditambah kehadiran keempat temannya Ajeng yang memperkeruh suasana.
“Kamu pergi, aku nggak sudi melihatmu lagi. Kamu itu binatang, nggak pantas berada di rumahku. Kamu telah melakukan dengan tubuhku ini.” Ajeng marah besar. Dia tidak mengontrol ucapannya lagi. Ajeng sering keceplosan, sehingga membuat marah empat laki-laki ini yang menghalangi Putra untuk mendekati Ajeng. Sebenarnya keempat siswa ini naksir berat sama Ajeng, dengan adanya kejadian seperti ini mereka sangat marah sekali jika Ajeng di perlakukan seperti ini. Mereka tidak tahu permasalahannya, pokoknya mereka marah saja. Keempatnya berfikir, inilah kesempatan untuk memisahkan dirinya dengan Ajeng yang sering berangkat ke sekolah bersama dan selalu bercanda di sekolah yang membuat iri seluruh laki-laki di sekolah mereka.
“Yu’ bukan seperti itu kejadiannya, apaan sih dengan kalian biar aku bicara dengan Ajeng. Jangan megang-megang gini dong, kamu itu siapa sih lepaskan aku.” Ucap Putra yang dipegangi sangat kencang dengan keempat siswa ini. Hujan mulai turun, Putra di dorong keluar rumah. Kasihan sekali Putra, dia dipukul dengan keempat remaja ini, Grace hanya bisa melihat dan menangis sedih. Putra berjalan mundur karena dia tidak berdaya untuk maju. Mereka semua maju dan mendorong tubuhnya Putra sampai ke luar pintu gerbang. Putra kehujanan di jalan, dia terus memaksa masuk untuk bertemu Ajeng yang berada di dalam teras di pelukannya Medina. Ajeng melihat Putra yang kecewa, dia masih marah sama Putra demikian juga Medina yang sangat benci sekali dengan Putra.
__ADS_1
“Kamu lebih baik pulang aja, jangan lagi masuk ke rumahku.” Kata Ajeng yang di gandeng Medina masuk ke ruang tamu. Grace dan keempat siswa ini masih berada di pintu gerbang. Putra mulai berteriak-teriak dan mendorong keempat siswa ini agar dia bisa masuk ke terasnya Ajeng. Hujan yang turun mulai lebat, guntur mulai tidak tenang lagi, kilat menyambar-nyambar mengungkapkan perasaannya yang marah dan terluka.