
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......MBOLOS NGAYOGYAKARTA KITA DATANG......
ANGIN menggoyangkan pohon harapan bagi buah yang telah terluka, keinginan untuk bertemu dengan burung merpati putih sangat menyesakkan dada. Berkali-kali rumput bergoyang memberikan semangat untuk pohon yang telah terluka tersapu dengan angin sepoi air mata kerinduan.
Sudah tiga hari ini Medina di kamarnya, dia tidak mau turun dan tidak juga mau makan. Sudah sering bibi Ijah membawa makanan sepiring nasi lengkap dengan lauknya yang sangat lezat dan segelas susu hangat. Namun, nasi itu menjadi dingin di atas meja belajarnya Medina. Berulang kali mamanya menjenguk Medina sambil berusaha membujuknya makan bahkan kalau perlu disuapin sama mamanya. Namun, itu tidak membantu. Air mata Medina telah menjadi kering dan isak tangisnya pun menjadi parau, layaknya suara burung jalak yang terluka sayapnya dan kedinginan terkena hembusan embun hujan. Medina meratapi dirinya karena dia merasa bersalah berpisah dengan papanya. Dia tidak rela berpisah dengan cara seperti yang tidak dikehendaki. Ketika itu dia sedang marah dengan papanya dan ketika itu juga dia berharap tidak bertemu dengan papanya selamanya. Dia sangat sedih sekali dan merasa berdosa, Tuhan telah mengabulkan angan Medina yang jahat ketika itu. Dia berangan dan berkata di dalam hatinya seperti itu secara tidak sadar karena sedang marah. Berulang kali jika Medina mengingat hal ini air mata meluncur dengan deras.
Sebenarnya kemarahan Medina hanya karena cinta suci yang bisa menjadikan marah dihatinya. Namun, kemarahannya di besar-besarkan Medina saja. Karena Medina sangat sayang bahkan dia sangat manja dengan ayahnya. Ketika itu Medina tidak ingin papanya pergi ke Singapura, Medina menginginkan papanya dirumah dan bermain scrabble dengan Medina. Setelah itu makan malam di tempat restoran jepang dengan papa, mama dan adik yang tercinta. Namun, papanya tidak bisa karena urusan bisnis yang sangat genting. Walaupun papanya berjanji akan mengganti hari yang lain, Medina tetap menolak karena waktu itu papanya sedang ulang tahun. Untuk itulah Medina keberatan jika papanya pergi, karena dia berencana akan memberi kejutan hadiah yang sangat istimewa. Kado ulang tahun untuk papanya sudah disiapkan selama tiga bulan bersama dengan Grace sahabatnya. Menyesal, itulah kata di dalam hatinya yang terus berulang dan terngiang di telinganya. Sambil menangis di atas kasur tertelungkup dengan kesedihan, Medina selalu memanggil nama papanya yang sudah tiada.
Tiga hari ini pula Medina sudah bisa bangkit dari masa kritis yang dia hadapi. Dia mulai sadar dan berusaha memperbaiki diri, karena tipe Medina adalah berhati lembut dan agak keras kepala. Pagi hari Medina ingin meringankan beban yang dihinggapinya, Medina mulai request lagu di Station Radio Prambors Fm Jakarta. Medina merequest lagu idolanya yang selalu dicinta.
“Pagi kak.” Ucap Medina yang masih sedih.
“Pagi juga, dengan siapa ya dan dimana.” Kata penyiar radio Prambors
“Dari Medina di Jakarta saja, mau request lagu kak penyiar yang cantik, lagunya dari Gita Gutawa yah.”
__ADS_1
“Lagunya yang mana ya.”
“Gita Gutawa sama itu loh kak Group Band Ada band.”
“Oh yang ituh Ada Band feat Gita Gutawa, judulnya Yang Terbaik Bagimu kan.”
“Iya kak.”
“Lagu ini untuk siapa sayang.”
“Aku turut berduka cita ya sayang, semoga Medina di beri kesabaran dan papanya Medina bahagia disana.”
“Makasih yah kak.” Telepon Medina ditutup, dia menangis sedih dan tidur lagi di kasur sambil mendengarkan radio.
“Aku turut sedih serta berduka cita sekali dengan kejadian kecelakaan pesawat terbang dan kapal laut yang telah tenggelam. Ada apa dengan dunia sekarang ini yang membuat miris kita yang masih hidup aja ya. Semoga keluarga yang ditinggalkan papa dan mamanya maupun putra dan putri tercinta bisa sabar dan tabah menghadapi cobaan ini. Baiklah langsung saja kita kembali ke lagu yang diminta sama Medina dari ADA BAND feat GITA GUTAWA yang berjudul YANG TERBAIK BAGIMU.” Musik dari suara Gita Gutawa melantun merdu, bahkan di barengi dengan suara dari Group Band Ada Band yang mendayu membuat Medina ingat papanya yang sangat dicintainya sepanjang masa. (STOP. Dengerin Musiknya. PLAYLIST. NO. 10).
Hari keempat Medina berangkat ke Sekolahnya, disana Medina bertemu dengan Grace sahabatnya. Ketika Medina bertemu dengan sahabatnya, Medina langsung di rangkul dalam pelukan Grace sambil di ciumi pipi sebelah kanan dan kirinya yang basah terkena air mata.
__ADS_1
“Medina sayangku janganlah bersedih, sahabatmu disini untuk menghiburmu.” Kata Grace sambil mengelus rambutnya. Mereka berdua sedang duduk di kursi teras di dalam taman sekolah. “Lihatlah dirimu Din, sekarang tubuhmu makin kurus dan wajahmu pucat. Aku nggak ingin kamu begini terus, aku sangat sedih sekali. Kamu tahu Din, tiap malam di kamar tidurku aku nggak bisa tidur memikirkan dirimu yang nggak mau makan. Bibi Ijah ngasih tahu ke aku jika kamu masih sedih.”
Sambil merebahkan kepalanya di bahunya Grace, Medina masih menangis. “Hati dan jiwaku telah terluka Grace, betapa kejamnya diriku yang telah membuat papa meninggalkan aku selamanya.” Hik-hik. Kata Medina yang masih menangis. Dia duduknya mulai tegak sambil melihat dua kupu-kupu yang terbang melayang-layang di sekitar taman yang indah.
“Lupakanlah Medina, nggak baik kesedihanmu terpendam terlalu dalam di hatimu.” Ucap Grace yang memegang tangannya Medina.
“Iya sih Grace, makasih yah kamu memberikan semangat sama aku bahkan kamu juga meminjamkan bahumu kepadaku untuk menangis.” Kata Medina yang mulai tidak menangis. Dia mulai bisa tersenyum sedikit karena wajahnya benar-benar pucat.
“Kata mamaku kamu mau cuti lima hari untuk liburan agar hatimu bisa melupakan kejadian ini serta nantinya hatimu mendapatkan hiburan, benarkah itu Medina.”
“Benar sih, tapi aku malas untuk pergi, sepertinya aku sudah nggak punya semangat, harapanku hampa terasa tawar Grace.” Ucap Medina yang berdiri sambil berjalan mendekati pohon tadi yang dihinggapi ke dua kupu-kupu.
“Ayolah Medina, semangat sedikit ngapa. Mamaku menyuruhku menemanimu dalam liburan ini. Lagian aku juga senang kalau kita jalan-jalan bersama sambil melihat lihat pemandangan yang indah.” Jawab Grace. Dia juga ikut berdiri mendekati Medina yang sedari tadi bengong tatapan matanya yang kosong. “Eh Din kalau kita liburan, enaknya kemana ya.” Tanya Grace. Dia berkata demikian agar Medina tidak bengong dan berharap Medina memikirkan liburan saja. “Kamu saat ini kepingin kemana Din.”
“Entahlah Grace, mendingan tidur di rumah saja. Lebih nyaman menurutku.” Kata Medina yang mendekati kursi taman, dia mulai duduk sambil melamun. Medina mulai berfikir memikirkan liburan yang akan mereka jalani. “Entah kenapa Grace saat ini aku terbayang sama tanteku yang berada di kota Yogyakarta.”
Grace mendekati dihadapan Medina, dia memegang kedua tangan medina sambil ditarik ke atas dengan kedua tangannya. “Baiklah kalau begitu, kita putuskan untuk berlibur ke Yogyakarta. Sudah lama aku nggak mengunjungi kota Yogyakarta Din.”
__ADS_1