
...MATA MERAH SILUMAN MENERKAM BUMI...
......ROH GENTAYANGAN......
Bumi telah bergetar, pohon tak luput dari dengkuran yang panjang. Hatinya sabar walaupun komunitasnya telah hancur terkena mantra manusia yang rakus sehingga banyak yang roboh dan mati. Dulunya tanah ini hijau sekarang coklat berbau tanah yang terbakar. Jurang telah terbuka dari penutupnya, hati-hatilah maut akan menjemputmu. Roh gentayangan mengincar kuncinya untuk keluar dari siksaan yang panjang, telah terluka sampai ribuan tahun oleh tangan-tangan makhluk segawon yang bermoncong serigala putih dari salju yang terkutuk berwarna merah membara.
Indahnya kehidupan ini jika ada orang yang tahu dengan rasa syukur untuk Tuhan yang memberikan rasa cinta dan persahabatan. Berjuta-juta tahun Matahari menyinari Bumi, seperti itulah persahabatan yang tersembunyi. Bumi tahu jika Matahari itu bersinar, namun Matahari tidak tahu jika ia bersinar, karena dia tidak bisa merasakan dirinya sendiri dari cahaya. Sebab dialah sekumpulan cahaya yang terikat, Matahari tidak bisa pergi mengunjungi Bumi. Jika itu terjadi maka Bumi akan mati karena tidak ada lagi yang menyinarinya. ikatan Matahari telah lepas, lepas pula persahabatan mereka. Seperti itulah rasa cinta membutuhkan pengorbanan. Alangkah baiknya membiarkan dia untuk bisa berdiri sendiri, jika engkau bantu dan kamu tidak ada disisinya, selamanya dia tidak akan bangkit lagi dan akan mati.
Selama empat minggu Putra melihat ketiga sahabatnya melalui buku saku miliknya tanpa memberikan pengetahuan ini kepada ketiga gadis cantik sahabat dia. Parahnya lagi, ketiga gadis ini juga merasa malas untuk mengetahui lebih lanjut dari buku saku milik mereka masing-masing. Apalagi jika ada kejadian yang aneh-aneh lagi, mereka tidak mau merasakan lagi penderitaan yang disebabkan oleh buku saku tersebut. Setiap mereka chatting, putra jarang membahas keajaiban buku saku tersebut. Padahal yang sebenarnya, Putra melihat mereka melalui buku saku miliknya. Putra melihat di halaman ketiga tersebut melalui gambar yang bergerak-gerak, semacam video. Putra melihat Grace sedang ngetik di depan laptopnya, begitu juga Ajeng sedang ke dapur mengambil minum kemudian kembali lagi ke kamarnya Sedangkan Medina di panggil Mamanya untuk makan malam, dia pun turun dari kamarnya untuk makan bersama Mamanya. Putra cekikikan melihat ketiga gadis cantik sahabatnya, sedangkan mereka tidak bisa melihat Putra yang juga berada di kamarnya sambil duduk di depan laptop.
Pada malam hari ini juga, Putra akan membongkar rahasia yang selama ini dia ketahui. Walaupun dia agak jahat karena tidak dari dulu saja memberitahukannya, malah dia menikmati melihat mereka bertiga di atas tempat tidurnya. Putra sudah melanggar privasi mereka bertiga, apalagi ketiganya lagi tumbuh remaja. Parahnya mereka adalah para gadis pula, pastinya jika mereka tahu ketiganya akan marah besar. Lihat saja.
__ADS_1
Putra berbicara lewat microphonenya, bahwasanya dia bisa melihat mereka bertiga. Dia Pun mulai bercerita satu persatu kejadian yang dialaminya, mulai dari saling memahami antara dirinya dengan buku saku miliknya dan juga bisa saling berkomunikasi dua arah. Putra juga bercerita jika dirinya bisa menikmati melihat mereka selama ini. Entah hati yang sudah antipati dengan buku saku. Grace, Medina maupun Ajeng tidak percaya dengan perkataannya, malah Putra di anggap bercanda yang berlebihan.
“Jika kalian nggak percaya juga, saat ini aku tahu Ajeng pakai baju apa.” Kata Putra dengan pedenya melalui microphone. Mereka bertiga menuliskan pada laptopnya masing-masing memberikan tanggapan dengan menuliskan di laptopnya.
“Jika kamu memang tahu bajuku, coba tebak Put.” Kata Ajeng yang penasaran dengan jawaban dari Putra. Di dalam hati Ajeng mengatakan lagi. “Ah mana mungkin dia bisa melihatku dari sini pasti dia bercanda deh.”
“Iya nih, candanya Putra berlebihan deh. masak sih bisa melihat Ajeng dari rumahnya.” Kata Grace yang jengkel sama Putra. Dia mengomel di microponenya karena dia merasa tidak senang dengan keanehan buku saku itu lagi. Dia juga didukung Medina dengan beberapa kalimat di chating yang saling mengejek.
“Beneran, masak sekaliber Putra ucapannya dusta sih.” Kata Putra dengan nada tinggi yang berbicara melalui microphone. Akhirnya, amarah Putra mereda, dia bisa mengontrol diri. ”Saat ini ya, Ajeng tuh pakai kaos lengan pendek berwarna pink dan juga celana pendek berwarna putih, coba kamu Grace dan Medina tanya aja sama Ajeng untuk memastikan benar apa enggak.” Ucap Putra yang sangat pedenya.
“Idih, nih anak di bilangin bisanya bantah aja.” Kata Putra yang kebingungan untuk menyakinkan ketiga gadis cantik sahabatnya. “Sebentar, biar aku melihat buku saku lagi. Tunggu lima menit ya biar aku berfikir untuk menyakinkan kalian.” Akhirnya selama lima menit Putra berfikir dan berfikir, kira-kira bagaimanakah mereka bisa yakin dengan pengalamannya selama ini. Selama Putra berfikir, ketiga gadis cantik sahabatnya menulis di laptopnya memberikan sambutan yang ngeledek kepadanya.
__ADS_1
“Hai Put, sudah lima menit berlalu nih. Mana janjimu, kok kamu diam saja sih.” Kata ketiganya di laptopnya. Tiba-tiba saja Putra punya ide untuk menjelaskan kepada mereka.
”Coba deh kalian bertiga sembunyiin boneka kesayangan kalian di sekitar rumah, entah itu di teras atau di genteng terserah kalian sajalah. Pokoknya kalian kali ini harus percaya, satu kali ini saja aku mohon yah.” Kata Putra sambil memelas kepada mereka.
“Baiklah, demi persahabatan kita dan menghormatimu karena kamu laki-laki di room ini maka aku rela deh.” Kata ketikan Ajeng yang berada di laptop.
“Asal kamu enggak dusta ya. Awas loh nanti kalau ketemu aku jadiin tepung roti.” Kata Grace dengan nada ancaman, jika dia dikerjain sama Putra. Karena di masa-masa inilah ketakutannya sedang memuncak.
“Aku setuju dengan kamu Put. Dengan demikian kan bisa membuktikan benar apa enggak ucapanmu itu selama ini. Ceritamu tuh yah sering kamu bumbui dengan aura-aura mistik.” Ucap Medina yang ingin sekali membuktikan perkataannya untuk memastikan dia berkata benar apa berbuat dusta terhadap dirinya.
“Iya deh iya. Aku bertanggung jawab jika kalian anggap diriku ini pendusta nantinya. Kalian boleh marah dan memaki dengan makian buruk pun aku rela, bahkan pertaruhan putus persahabatan juga boleh. Kalian menjauhi aku dan enggak berbicara dengan aku untuk selamanya juga boleh kok.” Kata Putra dengan nada serius tanpa di buat-buat. Dengan perkataannya ini, Grace, Medina dan Ajeng mulai percaya. Ketiganya melakukan apa yang disuruh Putra yang saat ini sedang menyembunyikan bonekanya. Seketika itu juga Putra mengambil buku sakunya dan menuliskan di halaman pertama.
__ADS_1
“Coba perlihatkan pada halaman ketiga, mereka menyembunyikan boneka ada di mana.” Nampak pada gambar halaman ketiga itu gambar yang bergerak-gerak semacam video. Tepatnya persis sekali dengan hidden kamera yang tak terlihat oleh ketiganya. Buku sakunya Putra, langsung menunjukkan keberadaan ketiga cewek ini. Medina menaruh boneka di kamar mandi Adiknya, Grace menaruh boneka di dalam mobil kesayangannya sedangkan Ajeng menaruh boneka di tempat kerja Papanya. Setelah Grace, Medina dan Ajeng telah selesai menyembunyikan bonekanya, ketiganya kembali ke kamarnya. Mereka duduk lagi di depan laptopnya untuk chatting lagi dengan Putra.
”Put kita udah siap nih. Ayo cari dimana bonekanya.” Kata mereka bertiga. Putra menjawab satu persatu dengan benar melalui gambar yang bergerak pada halaman ketiga. Grace, Medina dan Ajeng takjub dengan jawabannya. Tetapi mereka bertiga sepakat untuk berbohong kepadanya. Di dalam hati ketiganya tertawa sambil membenarkan jawabannya. Putra agak jengkel dengan ketiga gadis cantik sahabatnya.