
Amir membuka pintu rumahnya dengan sangat kencang sekali. Amir baru pulang tengah malam Amir benar-benar mabuk hari ini. Dia menghabiskan semua uangnya.
Menghabiskan semua tabungannya, tadinya mau dibawa pergi untuk bersama Alina tapi percuma saja Alina tidak mau ikut dengannya kan. Lebih baik dihambur-hamburkan saja dihabiskan saja semuanya.
Amir tidak peduli nanti bagaimana hidupnya yang terpenting sekarang adalah mabuk dulu, melupakan Alina dulu. Amir begitu kecewa dengan keputusan Alina.
Padahal Amir sudah mati-matian untuk melakukan segalanya untuk Alina, tapi apa balasannya Alina malah memilih kedua orang tuanya. Alina malah mau untuk dijodohkan daripada memilihnya laki-laki yang sudah menemaninya selama ini.
Alina begitu egois. Alina hanya mementingkan bagaimana dirinya saja. Alina tak memikirkan Amir. Amir ingin membenci Alina tapi sulit sekali rasa cintanya terlalu besar pada perempuan itu.
"Amir ada apa dengan kamu. Kamu mabuk "tanya Mamanya yang keluar dari dalam kamar.
Amir langsung mendekati Mamanya itu dan memeluknya "Ya aku mabuk, aku mabuk Alina meninggalkanku. Alina telah meninggalkanku. Dia jahat Mama dia tak mengikuti aku, dia benar-benar sudah mengingkari semua janjinya itu "
Mamanya Amir tidak percaya mana mungkin Alina meninggalkan anaknya. Baru saja Alina datang kemari dan menerima anaknya, tapi tiba-tiba saja sudah meninggalkannya.
"Kamu pasti sudah berbohong kan, kamu yang sudah menyakiti Alina kan sampai-sampai dia pergi dari samping kamu. Sebenarnya apa yang kamu lakukan Amir, jangan membuat Mama kamu ini kecewa "
"Apa yang aku lakukan, aku tidak melakukan apa-apa aku melamarnya dengan baik-baik. Tapi Ayahnya menolakku dengan mentah-mentah Mama, dia tidak mau menerimaku dia tidak mau menerima orang miskin seperti kita Ma, dia hanya menginginkan anaknya menikah dengan orang kaya saja "
Mamanya Amir menangis, dia mengusap rambut anaknya dengan sayang. Kenapa harus seperti ini jalan hidup anaknya kenapa malah harus seperti dirinya terpuruk dan ditinggalkan.
"Alina sudah meninggalkanku, dia lebih memilih orang tuanya Mah. Dia lebih memilih laki-laki pilihan Ayahnya daripada aku. Aku tahu aku sadar diri kalau aku tidak punya apa-apa, aku sadar diri kalau aku ini bukan siapa-siapa makanya Alina mengikuti kemauan Ayahnya "
__ADS_1
"Tapi satu hal aku tetap akan mencintai Alina, aku akan tetap menyimpan rasa cintaku ini padanya sampai nanti. Aku akan berjuang dan aku akan merebutnya lagi"
"Sudah lebih baik kamu lupakan Alina, jangan bermimpi akan mendapatkannya semua itu akan sulit Amir. Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri, sudah jangan diteruskan "
"Tidak tidak Mama, aku pasti akan mendapatkan Alina, aku akan menikahinya dan aku akan merebut Alina dari Suaminya. Kamu bisa melihat aku nanti, aku akan membuatmu bahagia pula Mama, dia akan menjadi menantumu dia akan menjadi orang yang dekat denganmu. Aku janji itu pegang kata-kataku ini Ma"
"Sudahlah sudah lebih baik sekarang kamu istirahat ya, kamu istirahat jangan memikirkan Alina. Sudah Mama tidak masalah. Mama menerima semuanya, memang keluarga ini tidak pantas bersanding dengan keluarga Alina yang begitu kaya raya. Kita hanya akan seperti orang asing di keluarga mereka"
"Yah Mama benar, kita akan seperti keluarga asing dan aku akan membuktikan pada mereka kalau aku ini bisa menjadi orang kaya seperti mereka. Disaat itulah aku akan menghancurkan mereka, aku akan membuat mereka malu dengan sikap mereka dulu, aku akan menghancurkan keangkuhan Ayahnya Alina Mama. Kamu harus mendukungku kamu harus ada selalu di sampingku"
Mamanya Amir hanya bisa menangis sambil memeluk kepala anaknya. Semoga saja apa yang Amir katakan akan terwujud, kalau Amir akan menjadi anak sukses, tidak ada yang tahu kan ke depannya akan seperti apa.
...----------------...
"Alina kenapa kamu terus menangis. Ini adalah hari bahagiamu ayo semangat lah, jangan murung seperti ini "ucap teman Alina yang ada di sampingnya.
Alina menggelengkan kepalanya "Ini bukanlah pilihanku Airin tapi pilihan orang tuaku. Aku tak akan bahagia, aku tak akan sanggup Airin "
Airin menggenggam kedua tangan Alina "Kamu tahu dulu juga aku berpikir kalau pilihan orang tuaku itu tidak benar menikahkan aku dengan orang asing, tapi setelahnya kamu lihat aku hidup bahagia kan. Aku bisa mencintai suamiku meskipun sangat lama waktunya, kamu harus percaya kalau suatu saat kamu juga akan mencintai suamimu nanti'
"Aku dari awal sudah tidak suka dengan Amir dia terlalu angkuh, sombong tidak sopan. Kamu ingat saat kita sedang berkumpul Amir menarik kamu tiba-tiba dan memarahi kami semua karena membawamu jalan-jalan. Apakah itu terasa aneh bagaimana kalau kamu sampai menikah dengan Amir" Airin akhirnya mengkritik tingkah Amir.
"Yang ada kamu tidak akan pernah hidup bahagia, kamu hanya akan terkekang, kamu hanya akan banyak pikiran lepaskan semuanya lepaskan Amir. Biarkan dia menjadi masa lalu kamu saja Alina "
__ADS_1
Alina malah makin kencang saja menangisnya bukan berhenti. Orang yang akan mendandani Alina saja bingung harus bagaimana, kalaupun mereka memakaikan make up pada Alina malah akan luntur lagi luntur lagi.
"Nona anda akan siap kapan, kami tidak mungkin merias anda saat anda menangis seperti ini. Acara akan dimulai sebentar lagi kita tak punya banyak waktu "
"Ayo semangat Alina, jangan membuat Ayahmu kecewa. Ini adalah pilihan terbaik dari orang tuamu. Selalu ikuti kemauan mereka. Maka kebahagiaan akan datang padamu ikhlaskan semuanya Alina"
Alina menarik nafasnya dengan dalam, lalu Alina memejamkan kedua bola matanya mengingat semua kebahagiaannya bersama Amir, mengingat semua kenangannya bersama Amir.
Akan Alina simpan semua kenangan itu di dalam hatinya yang paling dalam, Alina tak akan pernah bisa melupakan Amir sampai kapan pun itu.
Alina sekarang sudah tenang Alina menghapus air matanya "Baiklah aku sudah siap di make up, aku sudah siap didandani oleh kalian "
Airin yang melihat itu tentu saja langsung tersenyum bahagia. Airin kembali duduk dan menunggu Alina untuk didandani, pasti Alina akan sangat cantik sekali.
...----------------...
Alina memejamkan kedua bola matanya saat mendengar ijab kabul yang sudah di lakukan oleh laki-laki itu. Alina sekarang sudah sah menjadi istri orang lain. Sakitnya hatinya ini.
Alina sebenarnya ingin menangis, tapi Airin terus menyemangatinya. Tiba-tiba saja Ibunya masuk ke dalam kamar"
"Alina sayang sudah waktunya kamu bertemu dengan suamimu, ayo temui dia. Dia sangat tampan sekali kamu pasti akan sangat mencintainya nanti"
Alina hanya diam saja, dia belum berdiri sama sekali lagi-lagi Airin mencoba untuk menyemangati Alina agar tidak seperti ini.
__ADS_1