
Alina dan juga Nizar sudah tidak berbicara beberapa hari ini. Alina juga tidak meminta maaf pada Nizar dia seperti masa bodoh dengan hubungannya ini bersama Nizar.
Alina memang tak merasa bersalah juga, toh apa yang dia lakukan itu juga benar. Untuk melindungi dirinya sendiri.
Alina yang sedang mengeringkan rambutnya melihat Nizar memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper, Alina mengerutkan keningnya suaminya ini mau ke mana. Kenapa tidak bilang padanya biasanya kalau mau pergi Nizar akan berbicara dulu padanya.
"Kamu mau ke mana Nizar, kenapa kamu membawa baju-baju mu itu. Kamu akan meninggalkan aku " Alina begitu ketakutan sekali.
Tapi Nizar malah diam saja, terus saja memasuk-masukkan pakaiannya itu. Alina langsung menahan koper yang akan ditutup "Aku ini sedang bertanya padamu, kamu mau pergi ke mana kenapa tiba-tiba memasukkan pakaianmu ini ke dalam koper. Jawab aku Amir jangan tiba-tiba menjadi orang bisu seperti ini "
Nizar menepis tangan Alina dengan pelan. Lalu menutup koper itu dan membawanya keluar. Alina tentu saja mengikutinya, Alina harus mendapatkan jawaban yang pasti tidak seperti ini.
"Nizar aku sedang bicara denganmu. Kamu ini kenapa sih kamu mau ke mana Nizar, Nizar kamu memang mulai tuli ya "
"Bi aku harus pergi ke luar kota, akan beberapa hari aku pergi"
"Aku yang bertanya Nizar bukan bibi, kamu ini kenapa sih "
Bibi yang tidak tahu apa-apa dengan keadaan rumah tangga Tuannya ini bingung. Dia hanya diam dan menatap Tuan dan Nyonya ini, yang sepertinya sedang tak baik-baik saja.
"Kamu kenapa tiba-tiba pergi, biasanya kamu akan bicara pada aku. Lalu aku dengan siapa kamu jangan tinggalkan aku begitu saja Nizar "
__ADS_1
Dengan wajah yang datar Nizar menatap ke arah Alina Kenapa, bukannya kamu suka dengan kesendirian kamu itu, bukannya kamu suka menghayal dengan mantanmu itu. Apa gunanya aku di rumah, maupun aku pergi ataupun tidak kamu akan terus menghayal dengan laki-laki lain kan"
"Lalu kalau aku misalnya membutuhkan sesuatu bagaimana, aku harus minta bantuan pada siapa Nizar aku harus bagaimana. Jangan tiba-tiba pergi seperti ini"
"Bukannya kamu wanita mandiri Alina. Bukannya kamu bisa melakukannya sendiri. Bukannya kamu tidak takut dengan apapun ya, sekarang silakan lakukan apa yang kamu mau. Aku harus pergi dan aku tidak punya waktu banyak"
"Kita urus saja kehidupan kita masing-masing, itu kan yang kamu mau akan aku turuti semuanya"
Nizar kembali melihat ke arah bibi "Saya pergi dulu bi tolong jaga rumah baik-baik ya"
Nizar melangkah pergi meninggalkan rumah. Alina yang kesal dengan sikap Nizar langsung berlari ke arah kamar. Kenapa Nizar menjadi berubah dia menjadi dingin datar seperti itu.
"Nizar benar-benar membuat aku kesal. Nizar membuat aku marah dia menyebalkan sekali, aku tidak suka didiamkan seperti ini. Aku tidak suka diperlakukan seperti ini Nizar Nizar Nizar Nizar. Aku benci sama kamu Nizar"
Alina yang lelah langsung membaringkan tubuhnya. Lihat saja Alina juga tidak akan berbicara pada Nizar nanti saat pulang, biarkan saja dia itu egois sekali. Memangnya apa yang membuatnya marah sampai-sampai harus mendiamkannya seperti ini.
...----------------...
"Amir kamu ini ya kerjanya dari tadi diem saja, ngelamun terus kamu ini sebenarnya niat kerja ga sih. Kalau emang ga niat kerja kamu pulang saja ga usah kerja di sini. Kamu ini malah jadi makan gajih buta tahu "
Nizar langsung mengusap wajahnya, baru saja Nizar berhenti sudah diomeli seperti ini "Maaf bos saya baru saja berhenti, tadi saya cuman mau memulihkan tenaga dulu. Nanti juga saya akan kerja lagi kok, saya ga lagi ngamuk saya juga niat kerja di sini"
__ADS_1
"Alah alasan kamu saja, kalau kamu ga betah kerja di sini pulang saja ga usah ada di sini. Cuma bengong ngelamun kayak gitu pulang lebih baik. Masih banyak orang yang mau kerja di sini"
Amir begitu marah diomeli seperti itu, berani sekali bosnya itu berkata demikian padanya. Lihat saja saat Amir nanti ada di atasnya akan Amir pecat bosnya itu. Amir tidak suka diremehkan seperti ini, hanya beristirahat sebentar tapi malah diomeli seperti itu di hadapan banyak orang lagi.
"Makanya Amir kalau belum siap merantau jangan kerja, jangan jauh-jauh lah kerja saja di tempat kamu asal, kadang di sini suka begitulah banyak ditegur"
"Makannya aku pergi itu ya karena aku sudah siap, makanya aku datang merantau kemari. Jangan sok tahu aku baru saja tadi berhenti bekerja karena kelelahan. Sedangkan kalian-kalian ini dari tadi hanya diam saja, aku bisa mengadukan kalian loh kenapa hanya aku saja yang selalu ditegur. Aku selalu kerja dengan baik sedangkan kalian selalu saja banyak berhentinya"
"Dikasih tahu malah ngelunjak kayak gitu Amir. Ya sudah sih kalau memang mau kerja gitu terus, ya pokoknya kalau memang belum siap ga usah kerja di sini. Bangun saja selalu kesiangan, sekarang nyalah nyalahin orang karena banyak istirahat. Memangnya ada buktinya"
Orang yang menasehati Amir tadi langsung pergi begitu saja, memang di sini Amir tidak mempunyai teman karena sifatnya yang angkuh, sombong dan juga tidak sopan.
Pertama datang Amir ke sini, Amir bahkan sudah menantang salah satu orang untuk bertengkar dengannya. Amir benar-benar membuat rusuh tempat ini. Sebelum kedatangan Amir semuanya baik-baik saja.
"Awas saja orang-orang yang sudah menginjak-injak aku seperti tadi, akan aku balas satu persatu. Main nasehati nasehatin memangnya mereka sudah bener kerjanya. Mereka saja masih ga bener kerjanya sudah berani tegur tegur. Memang mereka itu senior tapi ya ga gitu juga caranya"
Amir segera melanjutkan pekerjaannya, daripada dia terus mengomel sendirian dan nanti ketahuan lagi oleh bosnya. Bisa habis, mungkin nanti gajinya yang akan dipotong.
Tidak Amir harus mempunyai uang banyak. Amir juga harus bisa merebut jabatan mereka agar Amir langsung bisa menjadi orang kaya, lihat saja apa yang akan Amir lakukan untuk mendapatkan jabatan tinggi.
Amir sudah memikirkan bermacam cara licik untuk dia menyingkirkan satu persatu orang yang sudah membuatnya marah. Orang yang berani menegurnya seperti tadi. Amir tidak akan pernah tinggal diam, Amir tidak suka dengan mereka yang sok tahu dan juga sok berkuasa di sini.
__ADS_1