
"Alina kenapa kamu hanya diam saja, aku sudah bilang kan minta maaf pada Ibuku jangan seperti itu. Ayo katakan maaf padannya"
Alina lantas menggelengkan kepalanya, tidak sudi Alina melakukan itu "Aku tidak mau minta maaf, aku tidak punya salah apa-apa aku benar tidak salah. Ibumu ini terlalu banyak drama Nizar. Seharusnya kamu sadar jangan dibutakan oleh semuanya, kamu tak boleh seenaknya seperti ini padaku Nizar "
"Alina aku bilang minta maaf, kamu sudah tidak sopan pada Ibu. Seharusnya kamu menghormati Ibuku seperti kamu menghormati Ibumu sendiri "
"Aku bilang tidak mau ya tidak mau, karena aku tidak salah. Dalam prinsip hidupku jika aku tidak salah aku tidak akan pernah minta maaf"
Alina langsung berlari ke arah kamarnya. Alina tidak mau dipaksa seperti itu. Kenapa juga harus mempunyai Ibu mertua yang menyebalkan seperti ini, sepertinya Alina akan banyak tantangan tinggal di sini.
Nizar mengejar istrinya dan menatap istrinya yang sedang melipat tangannya di dalam kamar, istrinya sangat marah sekali.
"Berikan perhiasan itu Alina pada Ibu, itu hanya sebuah perhiasan saja kan. Aku nanti bisa memberikannya lagi untuk kamu bahkan lebih banyak lagi"
"Sudah aku bilang kan, aku tidak mau ya tidak mau ini adalah pemberian Ayahku bukan hanya pemberianmu saja. Ini adalah bekalku di sini aku tidak mau memberikannya pada siapapun, ini adalah hartaku bukan harta Ibumu "
"Iya aku tahu, tapi kamu harus menghormati Ibuku mau bagaimanapun dia yang paling tua di sini. Kamu harus memberikannya padanya. Aku tahu kamu orang baik mungkin sekarang kamu sedang marah dan tidak mau memberikannya pada Ibuku, tapi nanti aku yakin kamu akan memberikannya padanya. Jangan egois yang Alina"
"Seharusnya aku yang berbicara seperti itu padamu Nizar, kamu yang seharusnya jangan egois. Kamu terlalu membanggakan Ibumu, kamu terlalu membebaskan Ibumu. Semua orang harus memberikan apa yang dia punya pada Ibumu. Memangnya orang-orang itu apa. Aku tinggal di sini karena menikah denganmu, kalau aku tidak menikah denganmu aku tidak akan tinggal di sini ingat itu"
__ADS_1
"Berikan nanti pada Ibu ya, aku akan memberikan lebih banyak lagi padamu. Mengalah lah dia sudah tua, Ibu pasti akan menyimpannya dengan baik"
Nizar langsung saja pergi begitu saja. Alina menghentakkan kakinya dengan keras "Aku tidak akan memberikannya Nizar. Aku tidak akan memberikannya. Jangan harap aku akan dengan sukarela memberikannya"
Alina yang tidak mau lagi tinggal di sini langsung membuka lemari, Alina mengambil kopernya dan memasuk-masukkan kembali pakaiannya, tidak peduli Ayahnya nanti akan marah atau apapun. Alina tidak bisa hidup dengan keluarga yang seperti ini. Nizar bukannya membelanya sebagai istrinya, tapi malah terus saja membela Ibunya yang tidak tahu diri"
"Nyonya Nyonya apa yang kamu lakukan, mau ke mana Nyonya. Jangan pergi, Nyonya baru saja datang kemari "
"Aku tidak betah tinggal di sini yang ada aku bisa jadi nenek-nenek kalau terus di sini. Orang-orang di sini sangat menyebalkan, tidak akan pernah ada yang membelaku di sini. Aku yang benar tapi yang dibela orang yang salah aku tidak mau terus begitu "
"Jangan pergi Nyonya itulah yang diinginkan oleh Ibu, agar kamu pergi dari sini. Bertahanlah Nyonya tolong bantu Tuan Nizar untuk lepas dari Ibunya dan juga adiknya itu. Tuan Nizar sudah terlalu baik pada mereka"
"Ayo ikut aku Nyonya aku perlihatkan kalau mereka itu sengaja ingin mengusir Nyonya dari sini. Ayo Nyonya ayo tadi aku mendengar sesuatu"
Tangan Alina langsung ditarik oleh Bibi, Alina hanya bisa mengikutinya saja. Alina sebenarnya tidak mau ikut terlalu dalam masalah keluarga ini.
Alina melihat Abi dan juga Ibunya yang sedang tertawa terbahak-bahak. Alina dan juga Bibi hanya diam dan saling pandang.
"Lihatlah Nyonya mereka itu memang serakah, mereka itu ingin semua harta yang dimiliki oleh Tuan Nizar. Makanya mereka melakukan ini"
__ADS_1
"Ibu, Ibu kamu ini memang hebat selalu membuat drama yang bagus, sampai-sampai Nizar percaya saja dan menyuruh istrinya itu untuk memberikan semua perhiasannya padamu. Mungkin lain kali kamu suruh saja Nizar memberikan semua uang yang istrinya pegang, pasti istrinya itu memiliki uang yang banyak,. Pasti Ayahnya itu membekalinya dengan uang yang sangat banyak aku yakin itu"
"Kita harus pelan-pelan, kita harus mengambilnya dengan pelan-pelan. Perempuan itu juga kan orang kaya. Pasti orang tuanya membekali dengan uang yang banyak. Nanti kita akan peras dan dia akan pergi dari sini kita akan buat rencana agar dia pergi dari sini"
"Iya benar sekali Ibu, benar aku lebih suka ide Ibu itu, usir dia saat dia saat tidak punya apa-apa, pasti dia tidak akan bisa menghubungi orang tuanya kan"
Alina menggenggam erat tangannya. Berani sekali mereka ingin memerasnya. Alina itu bukanlah perempuan yang mudah untuk ditindas. Lihatlah saja Alina akan membalas setiap apa yang mereka lakukan tidak peduli nanti Nizar akan marah.
"Kamu lihat Nyonya, sudah aku bilang mereka itu ingin mengusir Nyonya. Bahkan mereka ingin memeras Nyonya, kalau saja tadi aku tidak melihat mereka sedang berbicara seperti ini mungkin kita tidak akan pernah tahu Nyonya. Kamu harus bertahan di sini kamu harus bisa merubah segalanya Nyonya, memang orang tuanya Tuan Nizar itu tidak ada habisnya ingin mengambil semuanya "bisik babi, takut kedengaran oleh orang yang sedang berbicara di hadapannya itu.
"Aku tidak akan pernah tinggal diam bi, aku akan melakukan apapun. Enak saja dia ingin mengambil hartaku, mereka ini memang benalu mereka ini memang hanya ingin menumpang saja. Kenapa Nizar tidak berpikir ke arah sana kenapa dia percaya terus"
"Iya mungkin Tuan Nizar percaya karena mereka itu adalah Ibunya dan juga adiknya. Bibi juga bingung kenapa ada Ibu dan adik yang begitu jahat pada Kakaknya sendiri. Pokoknya Nyonya harus membantu Tuan Nizar. Kasihan dia Nyonya dari dulu seperti ini terus, saat aku mendengar Tuan Nizar akan menikah aku begitu senang"
Alina diam, apakah dia harus membantu Nizar kasihan juga sih. Apakah nanti Nizar akan membelanya. Tentu saja tidak Nizar tidak akan mungkin membelanya.
Alina akan mencoba untuk membantu Nizar dulu untuk menjauhkannya dari Ibunya yang menyebalkan seperti ini. Alina tidak habis pikir saja Nizar mempunyai Ibu seperti ini.
Kalau Alina mempunyai Ibu sepert itu. Mungkin Alina sudah kabur dan tak akan pernah kembali. Tapi untungnya Ibunya baik sekali.
__ADS_1