
"Dengar Amir tanpa diriku pun kamu akan hidup bahagia, tanpa aku kamu akan bisa mendapatkan perempuan yang lebih dariku. Kamu akan bisa membahagiakan orang tuamu juga, jadi lebih baik kita berpisah saja daripada saling menyakiti seperti ini kan"
Alina mengusap air mata Amir. Alina juga sebenarnya ingin menangis tapi dia tidak mau terlihat rapuh di hadapan Amir dan nanti Amir malah mengungkit-ungkitnya lagi, dan memintanya untuk pergi bersamanya.
"Kamu hanya ingin menghancurkan hidupku saja Alina "sambil menepis tangan Alina, lalu Amir menjauh dan menunjuk-nunjuk kembali Alina" Kamu tidak bisa melakukan ini padaku Alina, kamu sudah menghancurkan aku, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi dari sini aku akan menghancurkan segalanya. Aku bahkan bisa menghancurkan kedua orang tuamu "
"Kamu tidak akan pernah bisa melakukan itu Amir. Kamu tidak akan pernah mampu jika sampai kamu menghancurkan orang tuaku, maka aku akan sangat membencimu. Aku tak akan pernah mencintaimu lagi"
"Alah sudahlah percuma aku juga mengejar mu tetap saja kamu akan menikah dengan laki-laki itu kan. Lebih baik dibenci olehmu saja daripada aku harus terpuruk sendirian seperti ini Alina. Kamu mungkin nanti akan bahagia bersama suamimu nanti, sedangkan aku, aku akan mati rasa aku akan hancur sehancur-hancur nya"
"Hentikanlah kamu jangan pernah mengejar ku lagi, aku akan menikah dengan pilihan orang tuaku. Semoga saja apa yang orang tuaku katakan semuanya benar, kalau pilihan mereka tidak pernah melenceng, kalau pilihan mereka selalu membuat anaknya bahagia"
"Aku kemari datang hanya ingin berpamitan denganmu. Aku tidak mau punya masalah denganmu nanti ke depannya Amir. Aku tidak mau kalau nanti kamu malah balas dendam padaku suatu saat. Maka dari itu kita putuskan hubungan ini sampai di sini saja. Terima kasih atas semua yang telah kamu berikan, waktu yang telah kamu berikan juga "
"Kamu adalah laki-laki yang bisa membuat aku bahagia. Tapi satu hal sikapmu yang angkuh, tidak sopan itu membuat Ayahku tidak suka. Kalau saja kamu tidak begitu Ayahku pasti akan merestui hubungan kita. Kita akan masih bersama-sama sekarang Amir "
"Padahal Ayahku belum berkata apa-apa, tapi kamu malah sudah sombong terlebih dahulu. Sudah aku bilang Ayahku tidak suka orang sombong dan tidak suka dengan orang yang tidak sopan seperti kamu, terima kasih untuk segalanya aku pergi"
__ADS_1
Alina langsung melangkah pergi meninggalkan Amir yang masih saja menatapnya. Alina melepaskan segalanya di sini, Alina akan melepaskan rasa cintanya pada Amir.
Meskipun begitu sakit hatinya ini, tapi Alina harus melakukannya. Alina akan menjalin hubungan dengan laki-laki lain, meskipun semua itu hanya terpaksa tapi Alina harus mengikuti pilihan kedua orang tuanya.
Saat ada di dalam mobil Alina terus saja menangis tak henti-hentinya. Alina sama sekali tidak malu dengan Ayahnya yang terus saja menatapnya dari tadi. Alina sekarang sedang mengeluarkan semua sakit hatinya ini.
"Keluarkan sekarang air matamu, keluarkan semuanya Alina dan nanti saat kamu menikah. Kamu tidak akan pernah bisa mengeluarkan air mata ini, karena suamimu akan membuatmu bahagia. Kamu akan hidup bahagia bersamanya Ayah menjamin semua itu"
"Jika sampai Ayah melenceng dan kamu sampai disakiti oleh suamimu. Maka Ayah rela untuk bersujud di kakimu atau membawa laki-laki itu lagi untuk menikah denganmu. Ayah akan melakukannya"
"Apakah keputusan kita ini sudah benar Ayah, kita akan menjodohkan Alina sama saja kita memaksanya untuk menikah dengan pilihan kita"
Ayahnya Alina mengusap lembut pipi istrinya itu "Pilihanku sudah pasti akan membuat anakku bahagia. Aku sudah memikirkan ini dari lama dan aku sudah mengetahui bagaimana latar belakang laki-laki yang akan aku nikahkan dengan anakku sendiri"
"Pilihanku ini sudah sangat baik untuk Alina, kalau sampai kita mengikuti apa kemauan Alina dan menikahkan dia bersama laki-laki tidak sopan itu kehidupan Alina tidak akan mungkin baik. Alina tidak akan mungkin bahagia bersamanya. Aku tidak akan mungkin memberikan anakku pada laki-laki itu"
"Dia angkuh, sombong tidak sopan. Apalagi kita sudah menemukan kekurangannya yang begitu banyak. Lalu nanti kita akan menemukan apa lagi. Aku sebagai orang tua ingin yang terbaik untuk Alina. Aku ingin laki-laki yang baik untuknya bukan seperti dia, aku sudah bilang aku tidak pernah memikirkan tentang bagaimana latar belakang dan juga ekonominya yang aku pikirkan itu adalah bagaimana dia bersikap pada orang tua dan nyatanya apa, dia sama sekali tidak punya sopan santun sedikitpun "
__ADS_1
"Aku tidak suka dengan laki-laki macam itu, bagaimana kalau nanti bertemu dengan keluarga besar kita. Yang ada dia hanya akan mempermalukan kita saja, dia hanya akan menginjak-injak harga diri kita saja sayang"
"Mungkin untuk sekarang Alina patah hati, tapi nanti untuk kedepannya Alina tidak akan seperti ini. Dia akan berpikir jauh nanti ternyata pilihan kita itu sudah benar. Pilihan kita untuk menikahkan dia, menjodohkan dia itu sudah benar"
"Suatu saat Alina akan berterima kasih pada kita. Pilihan orang tua tidak akan pernah salah"
"Baiklah aku mengikuti apa kemauanmu suamiku, apa yang menurutmu benar aku akan mengikutinya. Lambat laun pasti Alina akan bisa melupakan Amir dia akan bisa melupakan segalanya"
"Tentu saja Alina akan cepat melupakan Amir, dia tidak akan lama untuk melupakan laki-laki seperti Amir. Amir terlalu mudah untuk dilupakan, apalagi hubungan mereka baru saja terjalin beberapa bulan belum sampai beberapa tahun. Jadi Alina sekarang hanya sedang patah hati saja biarkan dia menangis dan jangan ganggu Alina biarkan dia menyadari semuanya"
"Satu hal lagi yang aku lihat dari Amir, dia adalah laki-laki kasar apa kamu mau anakku nanti dikasari olehnya"
Tentu saja Ibunya Alina langsung menggelengkan kepalanya, mana mungkin ada Ibu yang mau melihat anaknya disakiti oleh laki-laki atau sampai dikasari.
"Baiklah maka dari itu ikuti saja kemauanku ini, karena aku tidak pernah mungkin salah memilih seseorang. Pilihanku adalah yang terbaik, laki-laki itu adalah seorang yang pekerja keras. Dia anak yang sopan, dia anak yang rapi dia tidak gampang emosi seperti Amir tadi"
Lagi-lagi Ibunya Alina hanya bisa menganggukkan kepalanya, dia akan mengikuti kemauan suaminya. Apapun yang diputuskan oleh suaminya itu pasti akan baik tidak mungkin suaminya menghancurkan hidup anaknya sendiri kan.
__ADS_1