
Mereka semua sudah ada di depan rumah Nizar. Alina menatap rumah Nizar yang begitu besar sekali, bahkan lebih lebih besar dari rumah Ayahnya.
Tapi itu tidak merubah segalanya. Alina tetap mencintai Amir. Alina tetap tak bisa melupakan laki-laki itu meskipun dia angkuh, sombong tidak tahu diri, tidak punya sopan santun. Tapi entah kenapa hatinya ini terlalu dalam mencintainya.
Mereka keluar dari dalam mobil, sudah ada beberapa pelayan yang menyambut mereka dari tadi. Alina dan juga Ibu mertuanya sama sekali tidak bertegur sapa, karena Alina berpikir kalau Ibu mertuanya itu tidak menyukainya.
Apalagi dengan adiknya Nizar terus saja menatapnya. Alina tidak suka dia seorang laki-laki yang mungkin sudah seharusnya menikah, tapi dia terus saja mengikuti pantat Ibunya seperti anak kecil saja "
"Selamat datang di rumah kami Alina, Ibu harap kamu bahagia tinggal di sini, dan mungkin Nizar mulai sekarang kebutuhan rumah akan diatur oleh Alina. Dia kan sekarang istri kamu ini kan rumah kamu juga "
Nizar langsung menatap Ibunya dan menggelengkan kepalanya "Semuanya masih akan sama, yang mengurus semuanya adalah Ibu. Ibu adalah yang paling tua di sini maka aku tidak akan mungkin memberikan hak itu pada Alina. Hanya Ibu yang akan mengatur semua keperluan rumah"
Ibunya Nizar langsung tersenyum miring sambil menatap Alina. Tapi Alina tidak peduli Alina pun tidak mau mengurus masalah rumah tangga, silakan saja kalau Ibunya Nizar mau mengurus semuanya. Alina tidak mau dipusingkan dengan hal-hal seperti itu.
"Baiklah bi bawa Alina masuk ke dalam kamarnya, tunjukkan di mana kamarnya. Sepertinya dia mengantuk "
Bibi yang dari tadi diam menatap Alina langsung pergi ke arah Alina sambil tersenyum "Ayo Nyonya saya antarkan ke dalam kamar Nyonya. Nyonya pasti akan sangat suka dengan kamarnya"
Alina tanpa banyak bicara mengikuti langkah dari Bibi. Mereka naik lantai 2, Alina bahkan tidak sampai melihat ke sana kemari. Alina hanya ingin cepat-cepat sampai di dalam kamar. Alina benar-benar tidak nyaman dengan keluarga ini seperti banyak kebohongan saja.
"Nyonya kalau perlu apa-apa panggil aku, aku akan langsung datang."
"Siapa namamu bi"
"Namaku bi Nani "
__ADS_1
"Baiklah bi Nani salam kenal. Maaf ya kalau nanti aku banyak tanya"
"Tentu tidak masalah Nyonya, aku akan membantumu untuk beradaptasi di sini. Nyonya hati-hati dengan Ibu dia sedikit licik "bisik Bibi Nani.
"Tuh kan sudah Alina tebak pasti ada yang tidak beres kan di sini "Baiklah aku akan hati-hati bi, semoga saja aku bisa melawan segalanya sepertinya Nizar sangat menyayangi Ibunya itu "
"Iya begitulah Nyonya, saking baiknya Tuan Nizar selalu saja percaya dengan Ibunya itu. Jadi Nyonya di sini harus selalu hati-hati, karena akan selalu banyak fitnah yang terlontar dari mulutnya itu. Mungkin terlihat baik-baik saja tapi pada kenyataannya dia tidak baik. Dia hanya ingin menguasai semua harta anaknya itu dan adiknya sama saja seperti Ibunya tak ada bedanya "
"Aku harap Nyonya bisa menyelamatkan Tuan Nizar, agar mata Tuan Nizar terbuka dengan lebar, agar dia tak menutup mata terus Nyonya "
Alina harus mulai waspada sekarang. Alina tidak boleh lengah dan sampai-sampai dia di injak-injak di sini. Alina harus kuat dan harus bisa menghadapi semua ini.
...----------------...
Saat malam tiba Alina hanya diam sambil menatap ke arah luar jendela, sepertinya akan hujan tapi Alina tidak peduli pikirannya begitu bercabang kesana kemari, memikirkan bagaimana sekarang keadaan Amir apakah dia baik-baik saja, selalu saja Amir yang difikirkan.
Alina menatap suaminya sekilas "Aku tidak peduli, aku mau kehujanan atau tidak itu bukan urusanmu aku tidak takut apa-apa"
"Baiklah jika nanti kamu sakit. Apakah itu akan menjadi urusan aku "
Tiba-tiba saja petir menggelegar, sampai-sampai Alina kaget. Alina langsung mundur dan meninggalkan suaminya. Nizar hanya tersenyum melihat istrinya yang katanya tidak takut apa-apa, tapi sekarang malah takut dengan suara petir saja.
Nizar segera menghampiri istrinya, dia duduk dan berhadapan dengan sang istri. Tempat tidur sudah dihias dengan kelopak bunga mawar yang sangat banyak sekali.
"Katanya tidak takut apa-apa, tapi dengan mendengar suara petir saja kamu sudah takut"
__ADS_1
"Yah kalau dengar suara petir aku takut. Wajarlah seseorang takut dengan sesuatu"
"Hem begitu ya, apalagi yang kamu takutkan selain suara petir"
Nizar ingin mencoba dekat dengan istrinya ini. Untuk pertama kalinya mereka bertemu tidak tahu wajah istrinya saat akan dijodohkan. Nizar hanya mengikuti kemauan Ayahnya Alina.
Toh Nizar pun percaya apalagi Ayahnya Alina adalah teman lama Ayahnya yang sudah tiada, jadi kenapa tidak Nizar setuju dengan pernikahan ini.
"Sudah aku bilang kan aku ini tidak punya rasa takut sedikitpun. Aku tidak akan pernah takut dengan apa-apa"
"Benarkah, lalu bagaimana agar kita bisa bersama bagaimana kita bisa menjalin hubungan ini"
Alina langsung bangkit dan menatap Nizar dengan tajam "Jangan pernah berharap, aku tidak mau ada hubungan apa-apa diantara kita berdua. Kita hanya menikah di hadapan Ayahku saja, tapi untuk menjalani pernikahan ini aku tidak mau. Aku tidak akan pernah menjadi istri yang baik untukmu, aku tidak mau menjalani semua ini. Lebih baik kita masing-masing saja"
Nizar malah tersenyum, dia sama sekali tidak tersinggung "Aku tidak menyangka Alina perempuan yang terlihat begitu anggun akan berbicara seperti ini padaku. Aku ini suamimu kamu "
"Iya aku tahu kamu suamiku, tapi aku tidak berharap menikah denganmu. Aku tidak berharap untuk menjadi istrimu. Ini adalah sebuah perjodohan, aku tidak mau melakukan apa-apa denganmu"
"Memangnya apa yang akan kita lakukan Alina ?"
Alina malah jadi salah tingkah, kenapa juga Nizar malah berbicara seperti itu. Alina tahu apa yang akan dilakukan sepasang suami istri.
"Jangan pura-pura tidak tahu dan jangan paksa aku untuk melakukannya"
"Memaksamu dalam hal apa, memangnya aku dari tadi terlihat memaksamu? Memangnya aku tadi terlihat kasar padamu dan meminta sesuatu dengan kasar tidak kan. Aku tidak meminta apa-apa dan aku juga tidak memaksa apa-apa padamu Alina"
__ADS_1
"Ya pokoknya jangan memaksaku. Aku tidak suka dipaksa. Aku tidak akan pernah menjadi istri yang baik, jadi kamu jangan pernah berharap padaku. Kamu jangan terlalu berharap banyak padaku Nizar, karena aku tidak akan pernah bisa melakukannya.
Alina langsung membelakangi Nizar, dia tidak sanggup untuk menatap suaminya itu. Kenapa Nizar seperti biasa-biasa saja Nizar sama sekali tidak marah padanya, padahal Alina sudah berkata kasar seperti itu bahkan tadi berteriak ke arah Nizar.