Pilihan Kedua Orang Tuaku

Pilihan Kedua Orang Tuaku
Bab 37 Lupakan Alina


__ADS_3

Amir memasuk-masukan seluruh pakaiannya. Amir ingin pulang dulu untuk menemui Mamanya. Amir ingin melihat keadaannya. Apakah baik-baik saja, karena sudah beberapa hari tak bisa dihubungi, Amir takut terjadi sesuatu saja.


Amir berjalan dengan angkuh di hadapan orang-orang yang menatapnya, Amir tidak peduli dengan bisikan-bisikan yang mereka lakukan. Amir punya kuasa yang besar disini.


Lihat saja sampai ada yang menjelek-jelekkannya Amir tidak akan tinggal diam, dia akan memecat mereka.


"Hei kalian ini kenapa melihatku seperti itu, apa kalian sudah tidak betah bekerja di sini apa kalian ingin aku pecat"


Orang-orang langsung pura-pura sibuk. Mereka pergi meninggalkan Amir, mereka masih ingin bekerja disini karena butuh. Kalau ada pekerjaan yang lain mereka lebih baik pindah saja dari pada disini kan.


...----------------...


"Ibu jangan sakit Abi dengan siapa, tak ada yang mencuci pakaian, tak ada yang memasak, tak ada yang membuatkan Abi kopi "


Ibunya itu malah membalikkan badannya, dia tidak mau melihat Abi yang tidak berjuang untuknya, dia malah seperti itu saja main games, nonton TV tidur terus saja seperti itu.


Tidak ada perubahan sama sekali dirinya kesal dengan tingkah anaknya ini, kenapa begitu menyebalkan sekali Abi ini.


"Bu, jawab Bu jangan diam saja seperti itu. Ayo bicara, aku tak suka didiamkan seperti ini Bu "


"Kamu ini menyebalkan, susul kakakmu bawa dia kemari katakan kalau keadaanku ini sangat parah sekali, keadaan ku ini sangat memprihatikan cepat panggil kakakmu itu, tapi jangan bawa Alina kemari"


"Bu aku tidak mau berurusan lagi dengan Nizar, sudah aku tak mau merendah dihadapannya "


"Ya sudah kalau kamu tidak mau berurusan dengan Nizar sana pergi tidak usah bersama ibu, ibu lebih baik tinggal sendiri saja disini "


"Ibu ini seperti itu terus mengusir Abi, Abi kan anak ibu juga. Kenapa juga Ibu memutuskan untuk pergi sudah enak-enak tinggal di sana tidak perlu mencari uang tapi ibu malah ingin berpisah. Ibu malah menantang Nizar jadi seperti ini kan Bu akhirnya, dirumah itu sudah ada Alina pasti akan berbeda bu "


"Kamu ini memang anak kurang ajar tahu, aku muak dengan kamu " sambil bangkit dan membuat Abi kaget.


Bahkan Abi sampai mundur beberapa langkah, dia kaget dengan ibunya yang tiba-tiba saja bangun. Dan menatapnya dengan sangat tajam sekali.


Ibunya kembali berbaring dan membalikan badannya lagi, menyebalkan sekali tidak mengerti kondisinya kalau saja Nizar kemari mungkin bisa membawanya pulang kesana, kerumah utama lama.


"Abi pengen makan Bu, Abi lapar banget Bu. Ibu belum masak apa-apa loh"

__ADS_1


"Masak sendiri ah, kamu kan punya tangan "


"Ga asik ah "


Abi langsung pergi meninggalkan ibunya itu. Abi tak akan menganggu ibunya dulu.


"Kamu ya Abi dasar anak durhaka kamu ini tak mau mengikuti kata-kata ibu, kamu ini hanya ingin enaknya saja "


Tapi percuma Abi sudah keluar dan tak terlihat lagi, dan satu lagi kata-kata itu tak akan membuat Abi sakit hati.


...----------------...


Amir yang sudah sampai di kotanya dan di tempatnya tinggal langsung turun berjalan ke arah rumahnya, Amir juga menatap tetangganya yang kagum dengannya. Karena sekarang Amir memakai setelan jas yang lengkap seperti akan pergi ke kantor.


"Amir sekarang udah sukses ya enak banget nih cuman sebentar langsung sukses "


"Iya dong, makannya kalau mau seperti aku itu merantau, pasti kalian akan seperti aku "


"Hemm, tapi kami tak tega meninggalkan orang tua kami. Mama kamu juga Amir sudah beberapa hari dirumah sakit "


"Jangan main-main ya kamu ini, jangan main-main dengan aku "


"Hey aku tak main-main memang kenyataannya seperti itu, ibu kamu tiba-tiba pingsan untuk saja ada yang menemukannya kalau tidak sudahlah tak tahu apa yang akan terjadi "


Amir langsung berlari kearah rumahnya dan benar saja tak ada siapa-siapa rumahnya kosong.


"Ma, mama dimana jangan buat Amir khawatir, mama dimana "


Tapi tak ada sahutan sama sekali, rumah juga sangat sepi sekali. Amir membuka satu persatu kamar, tak ada ibunya di dapur juga tak ada.


"Ma jangan buat aku takut dimana Ma "


Amir kembali keluar dari dalam rumah dan meminta antar pada orang tadi untuk kerumah sakit. Untungnya orangnya mau dan mengantar Amir.


Selama diperjalanan Amir begitu tak enak diam. Setelah ada didepan rumah sakit, Amir langsung berlari, diikuti oleh temannya ini. ,karena dia juga tahu dimana ruangan ibunya dirawat.

__ADS_1


Amir membuka pintu dengan sangat kencang sekali, disana benar-benar ada ibunya yang sedang berbaring. Mamanya itu terlihat begitu lemas sekali.


Amir mendekatinya dan memeluknya dengan erat "Kenapa Mama bisa sampai sakit seperti ini "


Mamanya itu malah tersenyum kecil "Ma aku butuh jawaban kenapa mama malah bisa masuk kerumah sakit seperti ini"


"Maaf, mama tiba-tiba pingsan "


"Apa yang Mama fikirkan "


"Kamu "


"Kenapa aku Ma, akan baik-baik saja, aku tak kenapa-napa lalu mama kenapa harus sampai memikirkan aku. Aku disana kerjakan, aku sudah menawarkan Mama untuk tinggal disana tapi mama tidak mau "


"Lupakan Alina, dia sudah bahagia jangan terus berambisi untuk mendapatkan Alina, dia itu sudah mempunyai suami, Alina sudah bahagia "


Amir langsung menjauhi mamanya, Amir menatap kearah luar "Aku tidak bisa Ma "


"Carilah perempuan lain Amir yang sebanding dengan kamu "


"Aku akan menyusul kekayaan suaminya Ma, dan aku akan sebanding dengan Alina "


"Sudah Amir sudah, mama tak mau kamu jadi perebut istri orang lain sudahi semua ini, sudah ya mama yakin kamu akan mendapatkan perempuan yang lebih baik "


Amir mengelengkan kepalanya, "Tak bisa Ma, aku benar-benar tak bisa melakukannya "


"Kamu itu bukannya cinta tapi kamu itu terobsesi pada Alina makannya seperti ini"


"Tidak aku sama sekali tak terobsesi, aku benar-benar mencintainya Ma, aku benar-benar membutuhkan Alina, aku tak bisa hidup tanpa nya "


"Jika kamu ingin Mama baik-baik saja maka lepaskan Alina, biarkan Alina bahagia bersama suaminya dan jangan berharap lagi padanya, kamu bekerja karena diri kamu sendiri saja Amir "


"Baik akan Amir lakukan, Amir tak akan mengigat lagi Alina, Amir tak akan menanyakan Alina lagi, Amir akan bungkam diam saja"


Amir langsung memeluk ibunya itu, Amir memeluknya dengan erat sekali, Amir tak bisa tak mengikuti apa kemauan Mamanya.

__ADS_1


Akan Amir fikirkan lagi bagaimana nanti kedepannya. Amir tak akan gegabah ini hanya agar membuat ibunya tenang saja dan tak banyak memikirkannya.


__ADS_2