
"Nyonya apakah anda baik-baik saja kenapa tiba-tiba kita pulang bukannya Nyonya belum belanja apa-apa"
Alina menatap supirnya itu, lalu menggelengkan kepalanya dengan kuat "Tidak aku hanya tidak jadi saja berbelanja, nanti sajalah aku ingin pulang cepat. Kita pulang sekarang jangan kemana-mana dulu "
"Baiklah nyonya"
Sopirnya itu tidak banyak bicara lagi ataupun bertanya apa-apa, dia hanya mengikuti kemauan nyonya saja, meskipun dia tadi sedikit aneh karena nyonya tiba-tiba mencarinya dan menyuruhnya untuk segera melajukan mobil.
Seperti ada yang terjadi, dirinya juga melihat kalau Nyonya itu terus melihat ke arah belakang dengan wajah yang gelisah dan ketakutan seperti ada yang dia lihat.
Alina juga bernafas lega saat sudah menjauh, kenapa Amir bisa ada di tempat itu, kenapa Amir tiba-tiba saja muncul Alina tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Amir lagi.
Sudah lama mereka berpisah, dan Amir masih menganggapnya sebagai kekasihnya. Padahal Alina sudah memutuskan hubungannya saat akan menikah.
"Nyonya kita sudah sampai "
__ADS_1
Tapi Alina malah diam saja, dia masih melamun, Alina masih belum sadar kalau dirinya sudah sampai dirumah.
"Nyonya kita sudah sampai "
Alina langsung sadar dan melihat keseluruhan, ternyata mereka sudah ada didepan rumah. Alina langsung saja keluar dari dalam mobil tanpa membawa apa-apa, dia benar-benar batal membeli bahan makanan.
Alina hanya berdoa semoga saja Amir tak datang kerumahnya, tak menganggu rumah tangannya ini. Alina sudah sangat kefikiran sekali.
...----------------...
Amir begitu sedih dengan tingkah Alina yang seperti menjauhinya, padahal Amir sudah berjuang sejauh ini untuk siapa lagi kalau bukan untuk Alina.
Amir sudah mendapatkan segalanya, bahkan Amir sudah menjadi atasannya tapi Alina belum masih bisa dirinya dapatkan kenapa seperti itu.
"Apakah kita akan terus ada disini Pak, apakah kita akan meninggalkan pekerjaan demi melihat rumah pujaan hati bapak saja " celetuk Elina.
__ADS_1
Amir menatap Elina dengan tatapan yang begitu tajam, Amir tak suka kalau misalnya Elina mulai ikut campur.
"Kenapa, aku juga membayar kamu kan, jadi jangan ikut protes, jika kamu sekali lagi begini aku akan memecat kamu Elina, masih banyak yang ingin bekerja dengan aku bukan kamu saja "
Elina hanya mengangkat bahunya saja, Elina tak takut untuk dikeluarkan karena Amir ini sangat butuh otaknya. Elina tahu itu hanya gertakan saja, sudah biasa Elina diancam untuk dikeluarkan tapi pada kenyataannya apa tak pernah.
"Hemm, tapi bapak itu harus sadar kalau Alina itu sudah punya suami loh, bapak tak akan bisa dengan mudah mengambilnya. Apalagi pernikahan mereka sudah 5 tahun, aku yakin Alina sudah sangat mencintai suaminya itu "
"Tidak mungkin, Alina tak mungkin mencintai suaminya, saat menikah saja dia terpaksa, jadi kamu jangan sok tahu. Jika tidak tahu apa-apa tak usah berkomentar "
"Aku hanya mengatakan sesuai dengan apa yang aku lihat, bayangkan saja bapak juga dulu dengan Alina bukan siapa-siapa kan karena sering bersama jadi saling mencintai, begitu saja Pak fikirkan nya "
Amir mendengus tak mau menerima setiap kritikan Elina.
"Sudahlah ayo kita pulang kekantor cepat lajukan mobil ini jangan diam terus, aku mau pergi kekantor sekarang juga"
__ADS_1