
Alina membuka pintunya dengan semangat, Alina kira yang datang adalah guru memasaknya tapi malah Ibu mertuanya yang datang. Alina tidak salah lihat kan Ibu mertuanya, waktu itu bilang mau pergi dan tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini tapi nyatanya sekarang dia ada di hadapan Alina.
Ternyata ibunya suaminya ini plin plan juga ya. Tak konsisten dengan kata-katanya sendiri.
"Wow ibu datang ke rumah ini lagi, apakah ada barang ibu yang tertinggal ? "tanya Alina seramah mungkin padahal dalam hati Alina begitu kesal dengan tingkah Ibu mertuanya ini.
Masih saja angkuh seperti awal, tak ada yang berubah dari ibu mertuanya ini.
"Awas kamu saya mau cari anak saya, jangan halangi jalanku, kamu itu disini orang asing tahu "sambil mendorong bahu Alina dan masuk ke dalam rumah.
Alina masih sabar, Alina masih mengikuti langkah Ibu mertuanya itu, masuk ke dalam rumah, setiap ruangan yang dibuka oleh ibu mertuanya itu Alina mengikutinya. Alina tak akan meninggalkannya begitu saja.
"Kenapa kamu mengikuti ku ini adalah rumah anakku, sama jangan terus mengikuti aku, aku tak suka ya. Aku bisa saja berbicara dengan Nizar untuk menceraikan kamu, sana awas "
"Iya aku tahu ini adalah rumah anak ibu, tapi sekarang yang mengurus itu aku bukan ibu lagi. Jadi ibu tidak berhak harus mengecek semua ruangan. Tidak sopan Ibu seharusnya ibu izin dulu padaku seperti dulu aku selalu izin pada ibu"
"Kurang ajar ya kamu ini "sambil menunjuk Alina, tapi Alina sendiri sama sekali tidak goyah dia masih berdiri tegak di hadapan Ibu mertuanya itu.
"Ibu ini bagaimana sih masa Ibu tidak tahu jam kerjanya Nizar, Nizar itu jam segini pergi kerja nggak mungkin dong Nizar tiba-tiba ada di rumah, seharusnya kalau Ibu mau ketemu sama Nizar itu sore hari atau nggak malam, atau mungkin Ibu emang nggak pernah ya peduli sama Nizar. Mau pulang kapan berangkat kapan ibu ga peduli "
"Makin berani aja ya kamu sama saya, saya ini ibu mertua kamu. Segarnya kamu hormat "
__ADS_1
"Berani bagaimana Bu, aku hanya mengatakan yang sejujurnya. Aku sama sekali dari tadi tidak menunjuk Ibu, tidak marah-marah pada ibu juga tapi Ibu bilang aku berani aku hanya menjawab setiap pertanyaan dari ibu saja apakah salah, kurasa tak ada yang salah bu "
Kembali ibu mertuanya Alina itu menyenggol bahu Alina. Lalu dia tiba-tiba pergi saja dari rumah, Alina juga tidak mengejarnya masa bodo lah Ibu mertuanya itu mau pergi ke mana aneh sekali tiba-tiba saja datang ke rumah marah-marah seperti itu.
Alina tidak pernah menyangka akan mendapatkan ibu mertua seperti ini, Alina fikir akan mendapatkan ibu mertua yang baik perhatian ya sama seperti ibunya, tapi ternyata tidak sangat berbeda sekali seharusnya sih dari awal Alina tidak berpikir ke sana.
Karena memang jarang juga kan mendapatkan mertua yang baik seperti ibu sendiri sangat-sangat mustahil mungkin.
Lebih baik sekarang Alina menunggu lagi guru memasaknya saja. Alina tadi sudah memikirkan dengan matang-matang saat melihat suaminya yang begitu baik memakan makanannya yang tidak enak.
Alina jadi merasa kalau dirinya memang harus belajar dan membutuhkan seseorang untuk membantunya, jadi Alina tidak akan menyia-nyiakan tawaran suaminya semoga saja Alina bisa cepat memasak.
Alina harus mempersiapkan segalanya, menjadi istri itu kan bukan hanya diam di samping suami saja tapi harus bisa segalanya juga kan itu sih menurut Alina.
"Abi kamu ini malah memberantakan rumah seperti ini. Lihatlah kulit kacang itu bukannya dibuang ke tong sampah malah dilempar-lempar seperti itu kerjaan kamu itu nonton TV nonton TV terus, kapan kamu bisa kerja. Berusaha dong Abi jangan diam saja seperti ini "
Abi malah melihat ibunya sekilas, Abi kembali melanjutkan aktivitasnya dia tertawa terbahak-bahak menatap filmnya. Ibunya yang kesal langsung mematikan televisinya dan mengambil kacang yang sedang dimakan oleh Abi.
Kalau terus didiamkan seperti tadi malah akan melunjak saja anaknya ini.
"Apaan sih Bu, kenapa coba diambil lagi dimakan loh sama Abi "
__ADS_1
"Apaan apaan kamu ini ya, jadi anak benar-benar kurang ajar tau nggak sih bukannya kerja. Malah nyantai seperti ini "
"Gimana hasilnya ketemu sama Nizar ? " Abi malah mengalihkan pembicaraan.
"Ga "jawab ibunya dengan sangat ketus sekali.
"Makanya kata aku juga lebih baik diam di rumah aja, Nizar itu udah nggak peduli sama Ibu. Percuma ibu datang kesana juga "
Abi bukannya menenangkan ibunya dia malah memanas-manasi nya, Abi ini benar-benar anak yang menyebalkan sekali.
"Ke sini Bu lebih baik gabung dengan Abi, kita nonton TV kita makan kacang terus kita buat jus juga mau, sini Bu jangan marah-marah terus ga baik ah "
"Makan tidur nonton, makan tidur nonton kerjaan kamu tuh gitu aja nggak pernah ada berubahnya tahu, kapan sih Abi kamu akan menjadi laki-laki yang benar, kamu akan giat seperti Nizar kapan "
"Nanti aja Bu masih banyak waktu, masih panjang lah Bu hidup ini "
Ibunya mengambil bantal yang ada di samping Abi lalu memukul-mukul kan nya ke anaknya itu kemarahannya ini sudah tidak bisa dipendam lagi Dia baru saja kesal dengan Alina sekarang malah dibuat kesal lagi oleh anaknya sendiri.
"Sakit Bu sakit, jangan kayak gini dong Bu. Ibu ini kenapa sih jadi suka menyiksa Abi, Abi ini sudah dewasa, Abi ini bukan anak kecil lagi bu"
"Kamu ini makanya kerja. Kalau emang kamu bukan anak kecil kerja cari uang kayak Nizar, cepat sana pergi cari uang "
__ADS_1
"Ya aku bukan Nizar Bu, kami berbeda Bu, jangan terus membanding bandingkan kami "
Bukannya berhenti ibunya itu terus memukul Abi, tak peduli anaknya akan seperti apa nanti.