
Nizar memberhentikan mobilnya dan menatap kearah Alina yang masih duduk dengan manis disampingnya. Nizar berhenti dan membukakan pintu untuk Alina.
Baru saja Alina menurunkan satu kakinya, Nizar langsung mengendong nya, Alina tentu saja berteriak saking kagetnya. Untung saja jantung Alina tidak copot kan.
"Turunkan aku, kenapa kamu tiba-tiba menggendongku, aku takut Nizar "
Tapi Nizar malah menggelengkan kepalanya, mereka sudah sampai di tempat mereka akan bulan madu. Sesuai pilihan Alina, Nizar benar-benar mengikuti apa kemauan istrinya. Nizar langsung membuka pintu dengan cepat dan membaringkan istrinya.
Alina menatap Nizar dengan lekat-lekat. Ternyata kalau dilihat lebih dekat seperti ini suaminya ini sangat tampan sekali, tapi Nizar yang jahil malah menggelitik Alena sampai-sampai Alina berguling-guling di tempat tidur.
"Ahh geli Nizar geli" Alina terus saja tertawa, Alina sungguh tak kuat.
Tapi Nizar bukannya berhenti dia malah terus menggelitik Alina sambil menciumi wajah Alina, Alina yang punya kesempatan langsung saja kabur dan menutup pintu kamar tak lupa menguncinya.
Alina memperlihatkan kuncinya ke arah Nizar dari sebuah jendela, memang kamar itu full dengan jendela semuanya. Nizar hanya bisa tersenyum sambil mengikuti langkah Alina.
"Kamu tak akan bisa keluar "ucap Alina sambil menjulurkan lidahnya entah Nizar akan mendengarnya atau tidak.
Tapi Nizar malah mendekatkan bibirnya dan mencium tangan Alina yang menempel di kaca, Alina mundur karena kaget. Tapi dia baru ingat mereka ini kan terhalang oleh kaca.
Alina sekarang menempelkan bibirnya di kaca mengikuti apa yang Nizar lakukan. Alina sekarang sudah mulai nyaman dengan Nizar apalagi dengan perhatian-perhatian kecil yang selalu Nizar berikan padanya.
Sepertinya Alina sebentar lagi akan melupakan Amir, tak akan pernah ingat lagi dengan Amir.
...----------------...
Alina malah sedang menyeduh teh dia tidak peduli dengan Nizar yang ada di dalam kamar. Alina yang sedang mengaduk-aduk tehnya tiba-tiba saja dikagetkan dengan sebuah tangan yang memeluknya dari belakang.
Sampai-sampai Alina berteriak. Tapi saat mendengar suara dari orang yang memeluknya Alina tenang, ini suaminya ternyata.
__ADS_1
"Nakal sekali ya kamu, mengunci suami kamu didalam kamar sendirian"
Alina ingin membalikan badannya tapi Nizar memeluknya dengan sangat erat, sampai-sampai memegang kedua tangannya lalu bibir Nizar yang memang setiap malam tidak bisa diam itu mencium leher Alina. Geli sekali ini.
"Lepaskan, kamu ini memelukku terlalu erat. Aku bisa-bisa kehabisan nafas "
"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskanmu kamu sudah mengurungku di dalam kamar"
"Ya makanya kamu jangan tiba-tiba menggelitiki aku geli tahu"
"Tapi aku suka"
Kembali Nizar mencium pipi istrinya itu, Nizar begitu gemas dengan istrinya ini. Rasannya Nizar ingin memakan pipinya yang mulai berisi ini.
"Nizar aku sudah membuatkan teh untukmu, ayo lepaskan dulu aku harus bergerak"
"Emm tidak aku sudah nyaman seperti ini, aku sangat nyaman sekali "
Nizar langsung melepaskan pelukannya lalu membopong istrinya masuk kedalam kamar, harus diberi hukuman istrinya ini.
"Akhh lepaskan aku Nizar lepaskan "
"Tak akan pernah, aku tak akan melepaskan kamu"
Nizar membaringkan istrinya dan tanpa banyak bicara lagi, Nizar memulai bulan madu mereka dan Alina menyambutnya dengan senang hati.
...----------------...
Amir terus saja menatap ponselnya, dari tadi Amir mencoba untuk menghubungi Alina tapi Alina sama sekali tidak mengangkat teleponnya, kemana sebenarnya Alina ini kenapa tak bisa mengangkat telfonnya.
__ADS_1
Amir ingin sekali mendengar suara Alina, sudah lama dia tidak mendengar suaranya. Untuk pertama kalinya Amir ingin menghubungi Alina, ingin membicarakan tentang hubungan mereka ini. Amir tidak bisa kalau harus sampai melepaskan Alina begitu saja, Amir sudah sangat jatuh cinta dengan Alina.
"Ke mana Alina ini, tidak mungkin kan dia sedang bersenang-senang dengan suaminya. Alina tak boleh melakukan itu, berarti Alina sudah mengkhianati aku"
Kembali Amir menelpon Alina, tapi nyatanya percuma saja tidak diangkat lagi tidak diangkat lagi. Alina ini sebenarnya kemana sih.
"Nelpon siapa sih Amir, serius banget deh kayaknya"tanya temannya yang sangat dekat dengan Amir, dan dia sama saja seperti Amir makannya mereka berteman juga m.
"Nelpon calon istri, siapa lagi coba "
"Calon istri, bukannya pernah cerita ya kalau perempuan yang kamu suka itu nikah sama laki-laki lain. Terus buat apa kamu hubungin dia lagi "
"Iya emang dia nikah sama laki-laki lain, tapi aku akan merebutnya kembali. Aku udah janji sama dia kalau aku akan jemput dia, dan aku juga yakin kalau Alina tidak akan pernah mencintai suaminya itu dia sangat tergila-gila dengan aku. Pasti dia akan terus mempertahankan hatinya"
Temannya Amir itu malah tertawa, "Kamu ini jangan berharap lebih, perempuan itu kadang bisa saja gampang jatuh cinta apalagi sudah menikah seperti itu, mereka berdua sering bersama-sama. Dia bisa saja langsung jatuh cinta pada suaminya apalagi dengan suami yang punya uang, memanjakannya pastilah akan langsung suka "
Amir malah jadi kepikiran kan, lalu Amir menggelengkan kepalanya tidak mungkin Alina menghianati cinta mereka berdua. Alina bukanlah perempuan yang gampang mengalihkan hatinya.
"Ga, ga mungkin Alina itu sulit banget buat berpaling sama orang lain. Dia itu udah cinta mati sama aku jadi gak akan pernah mungkin dia sampai jatuh cinta dengan cepat pada suaminya itu "
"Memangnya siapa sih yang nikahin pacar kamu itu"
"Pengusaha, orang terpandang dan pilihan orang tuanya juga "
"Tuh apalagi pengusaha, emangnya dia mau nikah sama kamu Amir yang kerjanya hanya serabutan aja. Dia juga bakal berpikir dua kali buat balik lagi sama kamu, lebih baik udah lupain aja lah cari yang sebanding aja ga usah cari perempuan yang udah dimiliki sama orang lain, ya mungkin anggapnya kalian berdua itu belum jodoh"
Amir malah marah mendengar semua itu, Amir langsung mengibaskan tangannya dengan raut wajah yang begitu marah "Udahlah jangan ikut campur, intinya aku akan tetap merebut apa yang sudah aku miliki dari dulu. Gak usah ikut campur kamu ini tidak tahu apa-apa "
"Ya udah sih cuman ngasih tahu aja, kalau perempuan itu kalau udah nikah mereka akan tetap teguh dan bertahan dengan suaminya, apalagi kalau suaminya baik, pengertian bisa kasih semua yang dia mau. Aku hanya ingin kamu merubah pikiranmu saja dan melupakannya itu saja, kalau kamu tidak mau ya sudah aku tidak akan pernah memaksa kok"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu temannya Amir langsung meninggalkannya. Amir jadi gelisah mengingat semua kata-kata yang diucapkan oleh temannya itu apakah Alina akan setega itu ? Apakah Alina akan meninggalkannya ?