
"Amir pergi bekerja lagi, Mama hati-hati di rumah. Mama mau tetap di sini atau mungkin Mama ingin ikut Amir saja Mama udah berubah pikiran belum. Amir khawatir banget sama mama kalau disini sendirian "
Mamanya Amir lagi-lagi menggelengkan kepalanya, tak akan pernah berubah fikiran "Mama tidak mau, Mama di rumah saja di sini mama lebih nyaman di sini banyak orang yang akan membantu Mama juga, saat waktu itu mama sakit siapa ya bantu tetangga kan, mama nyaman sekali disini "
Amir yang memang tidak suka mamahnya memuji-muji tetangga langsung mengambil tasnya "Ya sudah Amir pergi dulu Mama hati-hati di sini. Amir akan selalu mengirimkan uang untuk mama. Ingat jangan bagi-bagi sama orang cari uang susah belum tentu orang juga bakal kasih kita nanti, mama harus hemat-hemat ya "
Setelah mengatakan kata-kata itu Amir langsung pergi meninggalkan Mamanya. Mamanya Amir hanya bisa menggelengkan kepalanya, anaknya ini benar-benar sombong sekali dia benar-benar seperti tidak membutuhkan seorang tetangga padahal tetangga itu sangat dibutuhkan kalau ada apa-apa mereka bisa bantu kan
Entah harus dengan cara apa lagi berbicara pada Amir, Amir itu tidak bisa diberitahu. Kalau tidak ada tetangga kemarin siapa yang akan membantu dirinya tidak ada.
"Amir mama berharap kamu akan berubah tak seperti ini lagi. Kamu harus berubah tak boleh angkuh "
...----------------...
Alina yang mau keluar dikagetkan dengan orang asing yang mendekatinya. Siapa mereka Alina benar-benar baru pertama kali melihatnya, siapa coba.
"Maaf Nyonya Alina mau keluar"
"Iya mau belanja bulanan kenapa, kamu juga siapa ya aku baru pertama melihat kalian ini" Alina harus curiga dong tak boleh begitu saja menerima orang.
"Pak Nizar menyuruh saya untuk mengawal nyonya, kemanapun Nyonya pergi saya harus mengikuti nyonya, saya tak boleh lepas dari nyonya"
"Kenapa sampai harus segitunya, biasanya juga aku pergi sendiri kenapa tiba-tiba sekarang harus dikawal. Aku tidak mau ah aku malah akan risih kalau terus di ikuti "
"Ini perintah dari Pak Nizar langsung, saya hanya mengikuti apa yang disuruh oleh Pak Nizar. Boleh saya minta kunci mobilnya Bu, biar saya antarkan nanti juga di belakang akan ada yang mengikuti kita untuk mengawal juga"
__ADS_1
"Tapi aku bisa biasa sendiri, tidak usah nanti aku akan menelpon suamiku. Aku akan meminta padannya agar tak dikawal seperti ini "
"Maaf tidak bisa, kalau misalnya Nyonya tidak mau dikawal maka nyonya tidak boleh keluar dari rumah"
Alina memberikan kunci mobilnya pada laki-laki yang ada di hadapannya itu, pintu mobil juga langsung dibuka kan. Alina akan menelepon suaminya sekarang kenapa juga tiba-tiba harus dikawal, biasanya juga Alina pergi sendiri ke manapun.
Setelah mobil melaju Alina menelpon suaminya, tidak butuh waktu lama langsung diangkat.
"Kenapa sayang, kamu mau membawakan aku bekal lagi kemari, tadi pagi kan kamu sudah membawakan aku bekal"
"Bukan begitu aku mau belanja. Tapi kenapa tiba-tiba harus ada sopirnya. Aku biasa pergi sendiri kenapa tiba-tiba harus ada pengawal emangnya aku ini anak presiden"
"Bukan seperti itu, itu untuk perlindungan kamu. Takut nanti terjadi apa-apa, aku tidak mau kecolongan biar aku tenang juga bekerja sayang "
"Iya memang aku baru dapat orangnya sekarang sayang dan aku lupa untuk bicara sama kamu. Sudah ya kamu pergi di kawal saja agar aku di sini tenang, mereka juga tidak jahat mereka hanya ingin melindungi mu. Nanti juga kalau misalnya kamu sedang belanja mereka akan mengikuti dari jauh tidak akan dekat-dekat "
"Baiklah lah lain kali kamu harus diskusi dulu sama aku ya "
"Iya sayang, apa ada yang ingin kamu tanyakan lagi "
"Sudah tak ada"
Alina kembali menyimpan ponselnya dan hanya diam saja. Alina sebenarnya tak biasa dikawal seperti ini, tapi ya sudahlah nanti juga akan terbiasa.
...----------------...
__ADS_1
"Hah Nizar malah mengawal istrinya itu, padahal Alina itu sering berangkat sendiri akan mudah aku melukainya, aku harus pulang dan berbicara dengan ibu. Mungkin ibu punya solusinya "
Mobil itu kembali berputar dan pulang ke rumahnya. Saat baru saja turun dari dalam mobil sudah di brondong dengan berbagai pertanyaan oleh ibunya ini.
"Bagaimana sudah kamu melihat Alina, dia pergi ke mana, dengan siapa, kamu bisa melukainya atau mungkin merampas uangnya. Apa yang kamu dapat" sambil membuka tas anaknya tapi tak ada isinya dalamnya malah kosong.
Abi mengangkat baunya "Susah sekarang Nizar membawakan Alina pengawal. Sepertinya dia tahu rencana kita, diam-diam sepertinya Nizar menyimpan seseorang di sini makanya dia bisa tahu kalau kita sedang mengawasi istrinya itu, kita harus hati-hati Bu, kita tak bisa bergerak dengan leluasa sekarang "
"Hah sialan kenapa sulit sekali, pusing aku memikirkan semua ini "
"Ibu sih mau main-main sama Nizar, sudahlah Bu kita mundur saja, jika mau ibu sendiri saja yang cari tahu Abi sudah tak mau ah. Manti kalau sampai ketahuan malah malu Bu "
"Kamu ini tidak lihat aku sudah tua, aku mau mengikuti Alina begitu. Aku yang harus melukainya yang ada aku tertangkap terlebih dahulu oleh pengawal barunya itu, selama hidup aku tidak pernah dikawal Nizar juga tidak pernah memikirkan bagaimana aku di luar sana"
"Iya nggak mungkinlah Ibu dikawal, Alina itu perempuan tersayangnya jadi Nizar tidak akan pernah mungkin membiarkan Alina tersakiti sedikitpun. Nizar itu sudah dicuci otaknya oleh Alina makanya dia sekarang begitu nurut dan tak akan pernah bisa kita miliki lagi, Nizar akan sulit kembali lagi pada kita"
"Kamu harus cari cara, pokoknya Nizar harus jatuh ke tangan kita lagi. Nizar tidak boleh tunduk dengan perempuan itu, enak saja kita yang merintis dari 0 bersama Nizar tapi perempuan itu yang menikmatinya"
"Caranya gimana Bu, Abi nggak mau banyak mikir deh nanti kepala Abi malah sakit dan pecah. Abi inget sih cuman Nizar yang berjuang kita hanya menikmati saja Bu "
"Abi kamu ini ya kenapa selalu saja membuat aku marah, lama-lama aku malah akan jadi darah tinggi tahu menghadapi anak seperti kamu ini "
"Turunkan saja Bu darahnya, tak usah difikirkan terus"
Setelah mengatakan itu Abi langsung masuk saja ke dalam rumah. Abi menutup kedua telinganya karena ibunya berteriak begitu melengking sekali, sudah makanan sehari-hari Abi mendengar ini jadi ya sudah biarkan saja nanti juga ibunya baik lagi padanya.
__ADS_1