
Satu Minggu kemudian
"Alina kamu ada di sini kamu mendatangi aku, kamu tahu dari mana kalau aku bekerja di sini. Kamu tidak betah tinggal bersama laki-laki itu ya, makannya kamu datang kemari. Kemarilah Alina peluk aku "
"Alina kenapa kamu diam saja, kamu kenapa Alina "
Amir mendekati Alina yang terus saja diam mematung, Amir ingin menarik Alina untuk mendekat dengannya tapi Alina malah menjauh. Alina seperti tak mau didekati. Ada apa dengan kekasihnya ini.
"Kamu ini kenapa malah menjauh seperti itu Alina, kemarilah ada apa ceritakan padaku. Aku pasti akan mendengarkan kamu dan membantu kamu juga "
"Aku benar-benar tidak bisa melupakanmu Alina, kamu terus saja datang dalam mimpiku kamu terus saja ada dalam pikiranku. Sekarang aku bekerja Alina, aku akan menjemput kamu. Aku akan mengambil kamu lagi "
"Alina awab aku, kenapa kamu diam saja. Jangan buat aku takut ada apa dengan kamu "
Alina malah makin menjauhi Amir, bahkan Alina berlari. Amir langsung mengejarnya, dia tidak mau kehilangan Alina lagi. Alina sudah ada di dekatnya tidak mungkin kan dia lepaskan begitu saja.
"Alina Alina jangan tinggalkan aku Alina, mau ke mana kamu Alina. Tunggu aku Alina, Mama juga sangat ingin bertemu dengan kamu. Alina "
"Bangun Amir bangun bangun, kamu ini mau kesiangan ayo bangun "
Amir langsung terbangun dari tidurnya, kembali bermimpi tentang Alina yang datang padanya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Alina kenapa selalu saja datang dalam mimpinya ini. Tak ada habis-habisnya Amir memimpikan Alina.
"Kamu ini manggil-manggil nama orang terus. Sudah cepetan. Ini udah siang mau kerja ga "
"Iya iya maaf, sekarang siap-siap sekarang siap-siap, aku nanti nyusul "
"Ya udah sana jangan terus tidur, nanti malah mimpi lagi dan teriak-teriak lagi berisik tahu "
__ADS_1
Amir hanya bisa menggaruk kepalanya. Entah kenapa Alina terus saja datang padanya. Semoga saja Alina tidak apa-apa.
Amir sudah mulai bekerja, ternyata capek juga ya bekerja di perantauan seperti ini. Amir takut kalau dia tidak bisa cepat-cepat menjadi orang kaya dan mengambil Alina lagi.
Kerjanya begitu banyak dan sangat melelahkan sekali. Untuk pertama kalinya Amir bekerja dengan sangat keras seperti ini.
"Tunggu aku Alina, aku akan menjemput mu, aku akan segera datang untuk kamu. Jangan pernah melupakan aku Alina, karena aku akan tetap mencintaimu. Aku tidak akan pernah bisa membencimu Alina sampai kapanpun itu"
...---------------...
Nizar melihat Alina yang sedang menyiram bunga. Nizar segera menghampiri Alina, ini kan hari libur siapa tahu Nizar bisa mendekati Alina. Mereka ini benar-benar seperti orang asing saja. Nizar harus sabar menghadapi Alina yang terus saja keras kepala seperti itu.
Nizar menoel tangan Alina sampai-sampai Alina yang sedang memetik bunga mawar merah tertusuk durinya. Nizar kaget dan langsung mengambil tangan Alina.
Nizar langsung membersihkan darah yang keluar sambil menatap Alina yang hanya diam saja.
Alina langsung menarik tangannya "Lain kali jangan seperti itu, jangan mengagetkanku seperti itu. Kalau misalnya aku sampai terjatuh pada bunga-bunga ini bagaimana "
Alina berjalan kembali dan memetik kembali bunga mawar merah itu "Kenapa kamu sangat menyukai bunga mawar merah ini. Padahal aku menanam berbagai macam bunga, tapi kamu hanya singgah di bunga ini saja. Setiap hari kamu hanya merawat yang ini saja Alina "
"Aku suka warna merah, makanya aku suka dengan bunga ini apa salahnya "jawab Alina masih dengan berjalan dan tanpa melihat ke arah Nizar.
Sedangkan Nizar sendiri mengikutinya dari arah belakang, Nizar ingin lebih mendekatkan dirinya lagi pada Alina. Tidak mungkin kan rumah tangga mereka akan terus begini, tidak ada kemajuan sedikitpun Nizar ingin memulainya dari awal.
Nizar ingin rumah tangga ini tak berakhir begitu saja. Saat menikahi Alina waktu itu, Nizar sudah berjanji tak akan melepaskan Alina, hanya Alina saja istrinya sampai kapan pun.
"Ingin sesuatu yang berwarna merah mungkin kamu ingin gaun merah, nanti akan aku belikan atau mungkin kita bisa berbelanja bersama-sama"
__ADS_1
"Tidak terima kasih, gaunku banyak dan aku punya gaun merah beberapa. Jadi tidak usah kamu belikan nanti kalau tiba-tiba Ibumu mau aku harus memberikan gaun itu juga kan pada Ibumu "
Nizar tertawa kecil mendengar itu "Kalau itu muat pada Ibuku "
"Ibumu akan selalu mau apa yang aku punya. Apapun yang aku punya dia akan mau, mau cocok ataupun tidak dia akan memintanya"
Tiba-tiba saja Alina tergelincir. Untungnya Nizar menangkapnya, pandangan mereka bertabrakan Nizar menatap seluruh wajah Alina, begitu cantik ciptaan Allah ini.
Tanpa Nizar sadari dia mengecup bibir Alina, Alina yang sadar tentu saja langsung bangkit dan mendorong Nizar.
"Apa yang kamu lakukan. Sudah aku bilang kan jangan pernah lakukan itu padaku, jangan pernah sentuh aku "sambil mengusap bibirnya.
"Apa kamu mulai lupa dengan perjanjian yang sudah kamu buat sendiri, kalau kita ini hanya berteman kita ini tidak lebih dari itu. Kenapa kamu melakukan itu, kenapa kamu menyentuhku"
"Aku suamimu. Maafkan aku tadi aku khilaf karena telah melakukan itu padamu"
"Jangan harap kamu bisa melakukan hal itu lagi padaku Nizar, kamu sudah berjanji kan padaku. Maka jangan ingkari semua itu. Kamu mengatakan padaku kalau kita ini hanya berteman, bersahabat, tapi kenapa kamu tiba-tiba melakukan itu. Aku tidak suka dengan kamu yang seperti itu Nizar"
"Iya aku minta maaf atas apa yang aku lakukan padamu. Aku tidak akan melakukan itu lagi padamu, sungguh aku tadi tidak sengaja. Aku kira kamu sudah mulai bisa menerimaku pernikahan Alina, aku ingin pernikahan kita ini kokoh dan baik-baik saja "
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menerimamu Nizar, jadi jangan berpikir lebih. Jangan berpikir kemana-mana. Aku tidak akan pernah mau bersamamu, pernikahan ini adalah kemauan kedua orang tuaku bukan pilihanku, maka kamu jangan terlalu berharap lebih padaku"
"Aku akan tetap seperti ini, aku tidak akan pernah berubah. Cintaku hanya pada Amir saja, rasa sayangku hanya pada Amir saja tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan semua itu, Amir adalah laki-laki yang akan memiliki seluruh hatiku, tidak akan pernah ada yang menggantikannya"
"Sekali lagi kamu sampai berani seperti tadi, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu Nizar ingat itu. Aku tidak suka dengan tindakanmu itu"
Alina langsung saja berlari meninggalkan Nizar. Sedangkan Nizar sendiri hanya diam termenung sendirian di sana, apakah sebagai suami Nizar tidak boleh melakukan itu. Ternyata Alina masih terjebak dengan cintanya, dengan laki-laki lain apakah Nizar harus bertahan atau mungkin Nizar melepaskan Alina saja.
__ADS_1