
Nizar terus saja menciumi kening istrinya yang sedang memasangkan dasi padanya.
"Kamu ini kapan aku bisa selesainya "
"Aku hanya mencium kening kamu saja sayang aku tak mengganggu kamu "
"Ist kamu ini, lihat tangan kamu juga sama ga bisa diem nakal tahu "
Nizar malah tersenyum lebar "Hehe aku minta maaf sayang, aku ga lagi gitu deh "
Nizar langsung diam dan menatap istrinya yang fokus memasang dasinya "Nah kalau begini kan beres, sudah selesai "
Alina mengambil tas suaminya dan mengantarnya sampai depan rumah.
"Aku kejar dulu ya, kamu baik-baik dirumah kalau ada apa-apa langsung hubungin aku "
Alina menganggukan kepalanya, Alina menyalimi suaminya dan Nizar menciumi seluruh wajah sang istri, bahkan bibir istrinya itu menjadi sasaran yang paling banyak.
Alina melambaikan tangannya, suaminya sekarang sudah berangkat bekerja. Alina mau bersantai sejenak sebelum nanti dia belajar kembali memasak.
...----------------...
"Hati-hati ma gurunya "
Amir membantu mamanya turun dari dalam mobil, hari ini mamanya itu sudah diperbolehkan pulang. Sungguh Amir bersyukur sekali.
Mereka masuk kedalam rumah, Amir menuntun mamanya dengan sangat hati-hati tidak mau sampai menyakiti mamanya itu.
Setelah membaringkan Mamanya Amir duduk disampingnya.
"Apakah Mama ingin sesuatu biar Amir ambilkan"
"Tidak Mama tidak mau sesuatu. Apa kamu tidak dimarahi tidak bekerja, lebih baik kamu pulang ke sana lagi ya. Mama tidak mau nanti kamu dipecat kamu mendapatkan pekerjaan ini sulit kan, kamu harus bersyukur dan jangan membuat kecewa bos kamu "
"Ga masalah mah tidak usah menghiraukan itu. Aku baik-baik saja kalaupun aku mau cuti satu minggu, satu bulan itu pun tidak masalah, Mama lebih baik istirahat saja ya "
"Kamu itu di sana masih baru jangan seenaknya seperti itu Amir, kamu itu harus patuh dengan aturan. Jangan tiba-tiba ambil cuti sebanyak itu "
"Sekarang aku yang mengurus semuanya mah aku yang mengatur semuanya. Jadi aku bebas melakukan apapun "
"Iya Mama tahu, tapi kan ada atasan yang lebih dari kamu lagi Mama bingung kenapa tiba-tiba kamu naik jabatan seperti ini Amir. Apa kamu tidak melakukan hal yang membuat orang lain rugi kan, kamu tidak berbuat licik kan Amir "
__ADS_1
"Mama selalu saja membahas hal itu mana mungkin Amir licik. Amir bekerja dengan baik makannya Amir langsung diberi kepercayaan, kalau yang lainnya mereka bekerja dengan main-main makanya mereka tak naik jabatan juga. Mereka memang tak pantas dan hanya Amir saja yang pantas Ma "
"Kamu ini, datangi juga teman yang membuat kamu masuk kesana kamu harus berterimakasih "
"Iya ma nanti, lagian dia cuman masukin aja ga buat Amir naik jabatan, Amir berjuang sendiri Ma tanpa bantuan dia "
"Mulai lagi, kamu ini angkuh sekali Amir, kalau tanpa dia kamu tak akan masuk kesana. Jangan seperti itu temui teman kamu itu berterimakasih lah dengan sungguh-sungguh kamu bisa disana karena campur tangannya"
"Hemm, lebih baik Mama sekarang istirnya saja. Jangan terus memikirkan itu, biar nanti aku bergerak sesuai apa yang aku mau "
Mamanya Amir hanya bisa menghela nafasnya. Kalau sudah begini mau bagaimana lagi, sebentar Amir ini menurun pada siapa sih, dia begitu sombong dan angkuh sekali, tak habis fikir saja dirinya ini dengan tingkahnya Amir.
...----------------...
"Ist nyebelin, kenapa sih aku kalah terus "
Alina cemberut, karena dari tadi main ular tangga dengan suaminya kalah terus, Alina terus saja turun sedangkan suaminya dari tadi menang terus.
"Namannya juga permainan sayang"
"Iya tapi nyebelin banget tahu, kenapa aku kalah terus. Aku ga bisa kayak gini ah "
Alina melempar dadunya dan membaringkan tubuhnya. Alina sudah tak mau bermain lagi. Nizar ikut membaringkan tubuhnya disamping istrinya.
Alina mengubah posisinya untuk bisa menghadapi suaminya "Kesal saja, aku kalah terus, aku mau menang kayak kamu "
"Emm, kita main permainan lain saja bagaimana "
"Tidak, aku tidak mau nanti yang ada aku kalah lagi. Waktu itu saja kita main catur, monopoli selalu kalah sekarang udah ganti lagi sama kalah juga "
"Ya udah kita main ditempat tidur aja, yu "
Alina mengerutkan keningnya, main dikamar main apa coba "Kamu ini memangnya main apa ditempat tidur"
Nizar langsung bangkit dan mengendong istrinya, Nizar juga menyatukan bibir mereka. Alina mengalungkan tangannya dileher suaminya.
Alina sekarang mengerti permainan apa yang akan mereka lakukan dikamar. Alina tak sabar melakukannya, Alina sudah ketagihan sekarang dengan setiap sentuhan sang suami.
...----------------...
"Amir pulang ya "
__ADS_1
"Hem, pulang nih biasa kalau udah jadi bos ga usah terlalu mikirin kerjaan "
"Hah bukannya jadi buruh ya "
"Ya awalnya tapi karena aku pintar aku diangkat jabatannya hebat kan "
"Ikut dong kerja disana "
Amir diam, kalau dia membawa orang sini bekerja yang ada akan ketahuan bagaimana sikap Amir bekerja, yang ada Amir akan malu kalau pulang.
Amir juga tak mau sampai Mamanya tahu, bisa diceramahi 24 jam nanti. Amir tak mau sampai telinganya jadi panas.
"Gimana Amir, masa sih ga bisa bawa kan udah jadi bos jadi gampang lah masukin nya"
"Hemm, nanti deh kalau sudah ada yang keluar aku bantu masuk, soalnya harus tunggu dulu yang keluar"
"Oke deh kabari saja ya Amir, aku sangat butuh sekali pekerjaan nih"
"Iya iya tenang saja "
"Kamu juga bukannya dimasukin sama Harun ya disana"
"Ya betul sekali, tapi aku bisa menjadi seperti sekarang ini karena diriku sendiri "
"Harun sakit, ga akan tengok kamu. Sama kasih uang juga kali buat dia berobat, ya itung-itung rasa terimakasih kamu sudah dimasukan kerja olehnya"
Amir malah tertawa mendengar hal itu, "Hey memangnya ada yang lucu, kurasa tak ada Amir. Harun benar-benar sedang sakit "
"Ya terus kenapa aku harus kasih uang, ya kan dia masih punya keluarga, keluarganya saja yang keluarin uang. Mamaku juga sama sedang sakit, aku tak ada uang untuknya "
"Pelit sekali kamu, tanpa Harun kamu ga akan masuk sana. Kamu harus banyak-banyak terimakasih Amir, jangan sombong lah jadi orang "
"Heh kamu siapa sampai-sampai mengatur aku seperti itu "sambil menarik kerah pakaian temannya itu.
Tapi temannya itu tak tinggal diam, dia langsung mendorong Amir sampai tersungkur jatuh.
"Jangan sok kamu Amir, baru saja diangkat jabatannya sudah seperti itu, aku sumpah kan kamu akan turun jabatan atau sekali dikeluarkan"
Temannya Amir itu langsung saja melangkah pergi meninggalkan Amir.
"Awas ya tak akan aku masukan kerja "
__ADS_1
"Tak rugi aku, dari pada harus bekerja dengan kamu lebih baik tidak sekalian "