
"Kenapa kamu begitu kasar padaku Alina, padahal aku tadi biasa-biasa saja hanya bertanya seperti itu padamu. Jika kamu tidak mau melakukan hubungan ini tidak masalah. Aku tidak akan keberatan, aku juga tidak akan memaksa "
"Aku tahu kamu sangat tidak menerima perjodohan ini. Aku sangat mengerti aku tidak akan memaksa sesuatu yang akan menyakitimu"
Nizar maju dan berhadapan langsung dengan Alina "Lebih baik kita menjadi teman saja kan, tidak usah menjadi pasangan. Aku tidak masalah kita menjadi sahabat saja saling mengerti bagaimana apa kamu setuju"
Alina mengerutkan keningnya, laki-laki di hadapannya ini kenapa sih biasanya kalau sudah menikah maksudnya melihat istrinya, pasti dia ingin langsung melakukan malam pertamanya. Ya meskipun dijodohkan tapi Nizar kenapa seolah-olah dia tidak mau, tapi ya bagus itu untuk Alina kan.
"Aku tidak akan pernah memaksa orang yang tidak mau denganku, asalkan kamu jangan berkata kasar seperti tadi lagi. Bicara denganku baik-baik maka aku akan mengerti. Aku tidak akan pernah menyakitimu dan kamu juga jangan pernah menyakitiku, kita sama-sama menjaga perasaan saja"
"Kalau untuk masalah tempat tidur, kamar aku bisa saja tidur di manapun. Aku bisa tidur di kamar sebelah bahkan di kamar tamu. Tapi itu akan membuat Ibuku dan juga adikku berpikir yang tidak-tidak, dan pastinya juga yang lain juga berpikir yang aneh. Kita ini suami istri masa berbeda tempat tidur, berbeda kamar akan sangat aneh kan "
"Maka dari itu agar kita tidak terlalu mencolok lebih baik kita satu tempat tidur saja, satu kamar. Tenang saja aku tidak akan melakukan apa-apa padamu Alina. Aku tidak akan menyentuhmu sebelum kamu yang mengizinkannya, aku akan tidur di sebelahmu dan aku tidak akan melakukan apa-apa"
Nizar segera berjalan ke arah tempat tidur dia langsung berbaring dan menatap Alina "Aku tidak akan melakukan apa-apa tidurlah di sampingku, dan aku tidak akan melakukan apa-apa. Kamu hanya perlu percaya padaku meskipun ini untuk pertama kalinya kita bertemu, tapi kamu harus yakin kalau aku tidak akan melakukan apa-apa padamu pegang lah janji-janjiku ini"
Saat melihat Nizar sudah menutup kedua bola matanya Alina bernafas lega, dia langsung berjalan ke arah tempat tidur. Melihat Nizar kembali dan sepertinya tidak akan melakukan apa-apa padanya. Baiklah Alina akan tidur di sampingnya.
Semoga saja Nizar bisa memegang kata-katanya dan tidak akan melakukan apa-apa nanti pada Alina. Alinea di sini hanyalah seorang perempuan yang tidak bisa melakukan apa-apa saat nanti Nizar melakukan sesuatu padanya.
Alina langsung membelakangi Nizar, sebenarnya Alina sangat ketakutan. Alina menarik selimutnya sampai ke dadanya. Alina akan mencoba untuk tertidur.
__ADS_1
...----------------...
"Yakin mau ikut kerja Amir, biasanya males banget tuh sama kerjaan. Tapi sekarang semangat banget "
"Iya yakin aku lagi butuh kerjaan dan aku ingin kerjaan yang cepat-cepat sukses. Aku ingin membuktikan pada seseorang kalau aku ini mampu, kalau aku ini bisa menjadi orang kaya seperti mereka"
"Pasti ini gara-gara Alina kan, kamu ditinggal nikah olehnya. Waktu kemarin pernikahan Alina begitu meriah sekali, bahkan megah sekali kalau kamu datang ya ampun kamu tidak akan menyangka. Pernikahan itu seperti pernikahan yang ada di dongeng-dongeng"
"Sudahlah aku tidak ingin membahas tentang pernikahan Alina dan juga laki-laki itu. Bagaimana bisakah kamu memberikan aku pekerjaan yang bisa membuat aku cepat kaya, aku akan merebut kembali Alina, dia akan ada di sampingku dengan uang dia akan bahagiakan"
"Tidak semua wanita bisa bahagia dengan uang"
"Tapi nyatanya Alina lebih memilih laki-laki itu kan, lebih memilih laki-laki kaya itu daripada aku. Hubungan kami cukup lama tapi dia lebih memilih uang daripada aku"
"Yayaya aku tahu dulu aku begitu tergantung pada Alina. Sampai-sampai sekarang saat Alina tidak ada aku seperti orang gila"
Temannya itu malah tertawa, memang Alina selalu saja memberikan apa yang Amir mau apapun itu. Alina tak pernah menolak.
"Ya maka dari itu dari awal aku juga sudah bilang kan cari perempuan yang sama saja dengan kita. Jangan mencari orang kaya, seharusnya kamu sadar diri Amir dari awal kalau kamu itu tidak akan pernah masuk dalam keluarganya"
"Ya jadi gimana kamu punya kerjaan ga atau akan terus memojokkan aku seperti ini, aku sadar aku tidak akan pernah masuk pada keluarga Alina itu, mereka itu terlalu angkuh sombong"
__ADS_1
"Akan aku cari dulu pekerjaan itu, kamu siap-siap saja dulu, lamarannya semuanya kalau misalnya merantau kamu siap tidak"
"Lalu bagaimana dengan Ibuku "
"Semua keputusan ada di tanganmu Amir, kalau kamu ingin jadi orang sukses maka kamu harus meninggalkan segalanya. Ibumu juga akan mengerti, bicaralah dengannya baik-baik, jika kamu mau merantau maka akan mudah mendapatkan pekerjaannya"
"Aku akan memikirkan semuanya dulu"
"Katanya ingin merebut Alina dari suaminya yang kaya itu, mau bagaimana merebutnya kalau kamu saja sekarang masih ragu untuk pergi ke perantauan. Siapa tahu itu sudah rezekinya kamu nanti di sana. Mau tunggu sampai Alina jatuh cinta sama laki-laki itu"
"Gila Alina ga mungkin jatuh cinta sama dia, Alina itu cinta mati sama aku"
"Cinta mati ga akan pernah ninggalin. Amir kalau benar-benar Alina cinta mati sama kamu dia akan bertahan, dia akan tetap tinggal bersama kamu apapun itu keadaannya"
Amir menghela nafasnya dan mengacak-acak rambutnya. Amir sudah tidak punya uang sepeserpun, uang tabungan, uang yang selalu diberikan oleh Alina sudah habis olehnya dipakai mabuk saat hari itu. Dihambur-hamburkan begitu saja, Amir tidak sadar sudah menghabiskan uangnya.
"Carilah perempuan lain Amir daripada kamu nanti sakit hati lagi saat melihat Alina bahagia bersama suaminya itu. Lambat laun Alina pasti akan menerima suaminya. Apalagi kalau setiap saat bersama seperti itu, pasti mereka akan saling mencintai sebentar lagi "
"Aku yakin Alina tidak akan mudah berpaling, dia itu sangat sulit mencintai seseorang. Sudahlah aku akan pikir-pikir dulu semuanya. Aku juga akan berbicara dulu dengan Mama. Jika dia setuju maka aku akan ikut ke perantauan itu, aku akan mengadu nasib di sana dan semoga saja seperti apa yang kamu bilang itu rezekiku"
"Baiklah aku tunggu keputusanmu"
__ADS_1
Amir pulang ke rumahnya, ini juga sudah sangat malam sekali tidak mungkin kan Amir terus di luar. Sedangkan dia tidak memegang sepeserpun uang, akan malu dengan temannya kalau mereka makan sedangkan Amir tidak.