
Pesta begitu meriah, semua orang menikmati pesta ini, tak ada yang berdansa, mereka begitu senang dengan pesta ini, dari makanan, dekor dan juga semuanya yang ada disini membuat semua orang terkagum-kagum.
Tapi hanya Alina saja yang diam, dia sama sekali tak mau bergabung dengan yang lain atau beranjak dari tempat duduknya. Alina hanya diam saja sambil menunggu suaminya yang mengobrol.
Bahkan saat melihat ada ibu mertuanya disini, Alina tak peduli. Alina sama sekali tak mau menemuinya tapi berbeda dengan suaminya dia menemui ibunya itu. Tapi Alina tak melarangnya, mereka itu kan ibu dan anak mau bagaimana pun mereka tak akan bisa dipisahkan.
Sedangkan Nizar dari tadi terus saja mencoba membujuk ibunya itu yang masih marah dengannya. Nizar sudah duduk dari tadi disini tapi ibunya sama sekali tak merespon.
Bahkan Nizar sampai meninggalkan istrinya sendirian disana hanya demi bisa mengobrol dengan ibunya ini. Ya mungkin Nizar kecewa dengan tindakan ibunya ini, tapi mau bagaimana pun inilah perempuan yang sudah melahirkannya.
"Bu kenapa kamu hanya diam saja, dari tadi Nizar berbicara dengan ibu. Tapi ibu sama sekali tak meresponnya. Ada apa Bu "
__ADS_1
Ibunya itu malah membalikan badannya dan tak mau melihat Nizar, tapi Nizar langsung memutari kursi ibunya dan duduk berhadapan lagi dengan ibunya itu.
"Ibu dengan kan Nizar, kenapa Nizar seperti ini. Karena Nizar punya alasan "
Ibunya itu langsung menatap Nizar "Alasan apa hah, beri aku alasan yang masuk akal. Kamu saja membiarkan kami pergi karena perempuan itu, perempuan yang kamu nikahi, dia itu bukan perempuan baik tapi kamu malah menerimanya"
"Bu Alina itu baik, dia tak kenapa-napa sudah ya ibu jangan membawa Alina, kita bahas tentang kita saja"
"Hemm, sudah berapa tahun kamu ini menelantarkan ibu kamu hah, dan sekarang kamu malah mau bicara dengan aku "
"Aku harus berubah seperti apa lagi Nizar, aku tetap sama dan tak ada yang perlu dirubah, ibumu ini tetap sama dan tak akan bisa dirubah jangan membuat aku makin marah ya dengan kamu. Kamu itu sudah sangat berubah sekali tahu "
__ADS_1
"Aku tak berubah Bu, kenapa ibu selalu saja berkata seperti itu "
"Ah sudah ah aku tak mau bicara dengan kamu"
Ibunya itu kembali membalikan badannya, ibunya Nizar ini seperti anak kecil, tapi Nizar masih sabar dan mengikuti sikap ibunya yang seperti ini.
Alina sendiri yang sedang melamun dikagetkan dengan Amir yang menyimpan sebuah kertas dimeja nya.
Alina membuka kertasnya sebuah nomor, Alina menatap suaminya yang masih mengobrol dengan ibunya. Dengan langkah yang pasti Alina pergi dari saja.
Dan hal itu tak luput dari penglihatan Elina, dia menatap Alina dengan sangat benci.
__ADS_1
"Perempuan itu memang mata duitan sekarang malah ikut dengan Amir, hanya diberikan sebuah kertas saja, padahal sudah punya suami "gumam Elina.
Elina yang penasaran segera mengikutinya, Elina tak akan membiarkan Amir jatuh ke tangan perempuan itu, selama ini yang membantu Amir sampai sukses adalah dirinya, dirinya yang selalu memberikan ide ide yang bagus untuk Amir, jangan sampai pengorbanannya ini menjadi sia-sia saja.