
Sekarang Alina tahu siapa yang mencintainya dan bisa mempertahankannya seperti ini. Alina tidak akan pernah mungkin mendapatkan sosok laki-laki seperti Nizar lagi. Dimana dia akan menemukannya sosok Nizar yang begitu membelanya dan membiarkan Ibu dan juga adiknya pergi hanya untuknya saja.
Alina bergegas menyusul suaminya masuk ke dalam kamar. Alina melihat kalau Nizar sedang mengganti pakaiannya. Dengan langkah yang ragu Alina mendekati suaminya dan menggenggam tangannya. Alina begitu takut kalau suaminya menolaknya.
Nizar awalnya kaget tapi dia mencoba untuk biasa-biasa saja, dan menatap Alina yang menundukkan kepalanya. Nizar benar-benar binggung dengan istrinya ini.
"Tidurlah Alina ini sudah sangat malam sekali. Kamu harus banyak istirahat "
Alina mendongakkan kepalanya dengan air mata yang bercucuran. Nizar tentu saja kaget "Ada apa dengan kamu. Kenapa kamu menangis apa ibu atau Abi melukai kamu"
Alina menggelengkan kepalanya, Nizar langsung mengusap air mata istrinya itu "Ada apa, apa yang terjadi dengan kamu, memangnya selama aku tidak ada di rumah apa yang terjadi aku tidak jadi berangkat kan. Aku pulang kerumah, coba ceritakan apa saja yang terjadi dirumah ini saat aku tak ada Alina"
"Maafkan aku" hanya kata itu saja yang bisa keluar dari mulut Alina.
Tentu saja Nizar mengerutkan keningnya, tiba-tiba saja meminta maaf "Maksud kamu, kenapa tiba-tiba kamu minta maaf. Aku rasa kamu tak punya salah apa-apa pada aku "
"Aku minta maaf atas sikapku padamu. Seharusnya aku tidak seperti itu Nizar. Seharusnya aku tidak melukai hatimu. Maafkan aku dengan kata-kataku itu padamu sampai-sampai melukai hatimu aku minta maaf atas segala kesalahanku. Aku begitu tak sopan pada kamu "
Nizar tersenyum kecil "Tidak masalah, aku saja yang tiba-tiba seperti itu padamu lancang sekali apa yang aku lakukan. Seharusnya aku yang minta maaf. Seharusnya aku tidak seperti itu, aku yang salah padahal aku sudah berbicara padamu kalau kita hanya akan berteman saja, tapi aku dengan lancang melakukan itu tanpa mendengarkan dulu jawaban darimu"
__ADS_1
Alina menggelengkan kepalanya lagi "Memang sudah seharusnya aku sebagai istri memberikan segalanya padamu. Maafkan aku Nizar, maafkan aku yang telah egois. Seharusnya aku tidak membiarkan diriku ini terus menolak kamu, memaafkan aku sekali lagi "
Alina langsung memeluk tubuh Nizar, tentu saja Nizar mematung dia tidak menyangka kalau Alina akan seperti ini padanya. Nizar melepaskan pelukannya dan memegang bahu Alina dengan sangat lembut sekali.
"Aku ingin kita memulainya dari awal Nizar, aku tahu mungkin aku belum sepenuhnya memberikan hatiku ini padamu, tapi aku ingin memulainya semuanya dari nol. Memulai rumah tangga ini dengan benar tidak seperti awal-awal, aku minta maaf karena aku telah lancang dan keras sebagai seorang istri padamu. Seharusnya aku memberikan segalanya padamu, seharusnya aku selalu patuh dan mengikuti kemauan kamu"
"Aku terlalu larut dalam masa laluku sampai-sampai aku tidak berpikir bagaimana perasaanmu. Seharusnya saat aku dinikahi olehmu saat ijab kabul itu sudah terjadi aku melupakan Amir, seharusnya aku melupakan semuanya "
Nizar mengelus pipi istrinya "Jika kamu belum siap aku tidak akan memaksamu Alina, aku akan tetap menunggumu sampai kamu bisa menerima aku sepenuhnya, aku takut tiba-tiba saja nanti kamu berubah pikiran"
Nizar langsung membelakangi istrinya, dia rasanya tidak sanggup kalau melihat wajah istrinya yang sedih. Nizar tidak mau gegabah bukan apa-apa Nizar takut Alina hanya sedang terbuai karena dia tadi membelanya. Nizar tidak mau nanti Alina menyesal telah memberikan segalanya pada Nizar.
Alina melepaskan pelukannya, mengelilingi suaminya dan berhenti di hadapan suaminya, Alina langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya. Alina bertekad kalau dia akan mencintai suaminya.
Akan menyerahkan seluruh hidupnya pada suaminya. Alina akan melupakan Amir, Alina akan melupakan masa lalunya biarkanlah Amir menjadi sebuah kenangan indah untuknya. Alina akan terus berada di samping suaminya sampai kapan pun. Dalam keadaan suka maupun senang.
Alina akan menggantungkan kehidupannya, kebahagiaannya ini pada Nizar dan Alina yakin Nizar akan bisa membuatnya bahagia. Bahkan lebih bahagia lagi dari sebelumnya.
Nizar adalah laki-laki baik baik, seperti apa yang ayahnya katakan kalau pilihannya tidak akan pernah salah. Dan benar Alina mengakuinya sekarang.
__ADS_1
Alina berjingkat dan mencium bibir suaminya. Pandangan mereka beradu "Miliki aku seutuhnya Nizar aku siap. Aku ingin menjadi seorang istri seutuhnya untuk kamu. Aku ingin melayani kamu, aku ingin menjadi istri kamu sampai hanya maut saja yang bisa memisahkan kita "
Kembali Alina mendekatkan bibirnya itu dan mencium suaminya, awalnya Nizar hanya diam saja tapi lambat lawan Nizar yang memimpin. Alina benar-benar menyerahkan semuanya pada Nizar. Alina tidak akan pernah ragu lagi.
Dibaringkannya Alina dengan sangat perlahan, di elusnya wajah istrinya yang begitu cantik ini. Nizar dari pertama bertemu dan saat ijab kabul sudah mencintai Alina, meskipun baru pertemuan tapi Nizar sudah tertarik dan menaruh hati pada perempuan yang dia nikahi ini.
Nizar menatap mata Alina lekat-lekat. Apakah yakin Alina memberikan semuanya padanya. Dengan suara seraknya Nizar bertanya pada sang istri "Apa kamu yakin, apa kamu tidak akan pernah menyesal telah memberikannya padaku Alina"
Alina mencium tangan suaminya yang masih mengelus pipinya "Aku yakin, aku akan memberikan segalanya padamu aku menggantungkan hidupku padamu. Aku benar-benar ingin menjalankan rumah tangga ini seperti rumah tangga orang lain Nizar. Aku ingin kamu memilikiku seutuhnya"
Nizar tersenyum mendengar kata-kata Alina, tidak ada keraguan dari ucapannya itu apalagi saat Nizar menatap kedua mata Alina tidak ada keraguan juga. Akhirnya Nizar melakukan apa yang diinginkan Alina dan juga memang diinginkan olehnya dari awal.
Nizar mencium kening istrinya terlebih dahulu, lalu kedua pipinya dan beralih ke bibir Alina yang selalu saja menggodanya, Nizar melakukannya dengan sangat perlahan Nizar ingin memberikan sebuah kesan yang begitu indah untuk sang istri.
Nizar tak akan mengecewakan sang istri. Nizar akan memberikan yang terbaik untuk istrinya, sampai-sampai istrinya ini akan terus mengingatnya.
Malam ini, mereka berdua akhirnya bersatu, dengan kejadian itu malah membuat Alina dan juga Nizar bersatu. Mungkin Alina nanti akan berterima kasih pada ibu mertuanya itu.
Berkat rencananya Alina bisa menyadari semuanya, kalau Nizar itu adalah memang orang yang begitu baik dan memang pilihan orang tuanya yang terbaik. Alina tak akan menyia-nyiakan semua yang terjadi padannya ini.
__ADS_1