
Alina menopang dagunya menatap suaminya yang begitu lahap memakan masakannya. Alina hanya bisa tersenyum melihatnya berarti sekolah memasaknya itu tidak sia-sia dong, memanggil guru profesional untuk mengajarinya Alina senang sekali.
Padahal baru beberapa Minggu Alina belajar, tapi dengan cepat Alina sudah bisa memasak. Memang Alina ingin cepat-cepat agar suaminya juga bisa cepat-cepat makan masakannya.
"Sayang kamu beneran nggak mau coba, ini enak loh biasannya kalau sama makanan enak kamu suka ga tahan tapi sekarang kok diam saja "
Alina menggelengkan kepalanya dengan masih tersenyum, Alina senang saja makanan yang dia buat dimakan begitu lahap oleh suaminya.
"Beneran kmu yakin nggak mau, aku habisin sedikit lagi tinggal beberapa suap lagi sayang " Nizar terus menawari istrinya, bukan apa-apa kadang-kadang istrinya ini kalau sudah habis dia mau.
"Enggak kamu habisin aja, aku tahu kamu suka dengan masakan aku jadi habisin yah nanti aku buat lagi. Nanti aku buat menu yang berbeda lagi "
"Iya sayang aku habisin, aku akan tunggu masakan kamu yang lainnya pasti akan sangat enak lebih dari ini"
Nizar langsung menyantap kembali makanan itu, memang tidak bohong makanan istrinya ini yang sekarang memang enak, ya meskipun yang dulu tidak enak tapi Nizar tetap memakannya kan. Nizar akan selalu menghargai setiap apa yang istrinya lakukan.
Nizar menghabiskan makanan itu dan memperlihatkan isinya pada istrinya "Aku sudah menghabiskannya sayang, lihat tak ada yang tersisa sedikit pun "
Alina langsung bertepuk tangan "Akhirnya aku berhasil masak juga, nggak sia-siakan aku sekolah di rumah, aku senang banget sama gurunya karena dia begitu sabar ngajarin aku "
"Iya sayang kamu nggak sia-sia, pokoknya kamu emang hebat nanti bawa bakal lagi, aku akan selalu menghabiskan ya seperti ini "
"Iya aku nanti bawa lagi. Tapi aku mau kamu suruh asisten kamu itu ganti deh pakaiannya nggak usah kayak gitu, nggak usah pendek-pendek atau mungkin kamu cari asisten laki-laki aja. Aku ga suka ah sama dia "
"Iya nanti aku bikin peraturan deh buat semua karyawati yang kerja di sini untuk memakai pakaian yang sopan, dan tidak terbuka seperti itu nanti aku akan rubah semua pengaturannya, ini masih pengaturan ayahku yang dulu sayang makannya masih bebas, aku juga waktu itu ga kefikiran buat ganti "
Alina lagi lagi tersenyum, suaminya ini memang sangat penurut sekali tak pernah membantah kata-katanya. Selalu mengikuti kemauannya ini.
__ADS_1
Alina berjalan ke arah suaminya dan duduk di pangkuannya, Alina mengalungkan tangannya dan mencium suaminya "Aku sayang banget sama kamu. Kamu ini selalu turutin apa kemauan aku, kamu itu emang suami idaman tahu "
Nizar belum menjawab dia kaget saat Alina mengatakan sayang padanya, untuk pertama kalinya Alina mengatakan ini, sungguh ini seperti mimpi saja.
"Kok malah diem sih aku bilang aku sayang sama kamu Nizar, kamu ini menyebalkan sekali "
Nizar menatap istrinya "Kamu sayang sama aku ?" sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya iya terus aku sayang sama siapa, sama kursi kamu ya ga mungkin lah kamu ini ih buat aku kesel aja, aku baru baikan sama kamu loh kamu mau buat aku kesel lagi, marah lagi iya "
Nizar tidak menjawab. Dia langsung merangkum pinggang istrinya dan memeluknya dengan erat Nizar begitu senang mendengar ungkapan istrinya ini, berarti sudah berhasil dong istrinya sudah menyayanginya.
Sedangkan Alina bingung dengan suaminya ini, kenapa tidak menjawab suaminya ini malah memeluknya dengan sangat erat seperti ini, apakah suaminya malu. Tapi malu kenapa coba.
"Sayaanggg "
...----------------...
"Yang benar dari tadi kita nggak beres-beres loh, kamu emang ga kesel "
Alina dan juga Nizar sekarang sedang memasangkan seprai, mereka menggantinya tadinya memang tidak mau menyusahkan Bibi tapi tidak benar-benar karena Nizar terus saja tidak bisa menarik nya.
"Iya sayang sabar. Sayang kalau misalnya aku nanti nggak ada duluan gimana apa kamu akan nikah lagi ? Apa kamu akan cari lagi sayang "
"Kenapa coba tanya hal seperti itu, kita ini lagi masang sprei loh"
"Iya aku cuman pengen tanya aja gimana kalau aku nanti nggak ada duluan "
__ADS_1
"Aku nggak akan nikah lagi, aku akan menunggu sampai ajal aku sampai nanti bisa bertemu dengan kamu, aku tidak akan pernah merubah imamku, aku akan tetap menjadikanmu imamku. Lalu kamu sendiri bagaimana kalau aku yang duluan gimana"
"Aku juga sama nggak akan nikah lagi, aku mau nanti kita di akhirat berjodoh lagi"
"Kenapa kamu tiba-tiba tanya hal yang kayak gini, aneh banget deh aku suka takut "
"Ga tahu tiba-tiba aja terlintas dalam pikiranku. Kita kan nggak ada yang pernah tahu kapan kita akan hidup sampai kapan dan akan terjadi apa nanti sama kita"
"Kita berdoa aja, kamu ini Nizar pikirannya. Udah ah cepat itu sprei nya ditarik ke sana, ayo kita harus cepat-cepat benerin sprei nya. Mau sampai kapan kita dari tadi ngurusin sprei aja ga ganti-ganti "
Alina sudah selesai memasukkan sprei nya, tinggal bagian Nizar dia juga sudah selesai mereka berdua langsung berbaring dan menatap plafon.
"Capek juga ya"
"Capek gimana sih Nizar, kita ini cuman masang sprei aja kamu aja dari tadi nggak bisa. Aku udah bener yang bawahnya masuk kamu malah ditarik jadi keluar lagi, kita dari tadi pasang sprei hampir 1 jam loh"
Nizar memiringkan tubuhnya dan menatap istrinya "Ya habisnya ini untuk pertama kalinya aku pasang sprei, biasanya kan Bibi yang masang aku tinggal beres aja"
"Kayaknya kita harus lebih belajar lagi deh, kalau masalah beres-beres kamar sendiri seharusnya kita berbagi tugas ini kan kamar kita"
"Iya juga boleh sayang, ide yang cukup bagus juga"
"Ya udah mulai sekarang kita yang beresin kamar kita, lihat apakah kita bisa kayak Bibi beresin kamar dengan sangat rapi, bibi itu kan nggak pernah ada debu sedikitpun apakah kita akan bisa"
"Siap aku setuju mau tidur sekarang sayang "
"Boleh aku ngantuk banget aku pengen tidur, mata aku udah benar-benar lelah "
__ADS_1
Nizar membetulkan dulu istrinya untuk tidur, lalu Nizar menjadikan tangannya sebagai bantal dan memeluk Alina, setiap hari mereka tidur seperti ini tidak ada satupun hari tanpa berpelukan saling mencari kehangatan. Nizar juga nyaman tidur seperti ini soalnya ada yang empuk empuk.