
Alina mengerjakan matannya, menatap suaminya yang ada disampingnya masih tertidur dengan pulas. Alina begitu malu sekali dengan keadaannya sekarang. Alina mengintip kedalam selimutnya ternyata dirinya masih tak mengunakan apa-apa.
Alina harus bersikap bagaimana ini, Alina segera menurunkan kakinya untuk pergi dari tempat tidur, tapi baru saja turun satu kakinya, tubuhnya sudah ditarik oleh suaminya.
Lalu suaminya itu mencium lehernya "Mau kemana sayang, ini masih pagi tidurlah jangan kemana-mana dulu "
Alina menelan ludahnya dengan susah payah "Aku mau kekamar kecil "jawab Alina dengan suara terbata-bata.
"Temani aku dulu disini ya, jangan kemana-mana dulu aku masih rindu dengan kamu. Aku ingin terus memeluk kamu seperti ini "
Mau tidak mau Alina akhirnya mengikuti kemauan suaminya. Alina hanya diam dan pelukan suaminya ini makin erat saja. Jadi seperti ini ya rasannya kalau menghabiskan waktu dengan suami.
Alina senang bisa seperti ini, Alina harus membuka hatinya untuk suaminya. Ini adalah awal yang baru dan Alina tak boleh sampai menyakiti hati suaminya lagi.
Kembali Alina mendapatkan kecupan mesra dari suaminya. Alina hanya bisa menikmatinya saja. Alina benar-benar masih malu-malu.
...----------------...
"Bukan saya Pak yang salah, tapi Amir yang salah untuk apa saya berbohong "
Amir lantas maju dan membela dirinya, tentu saja Amir tak mau kalah. Enak saja dirinya yang disalahkan.
"Kenapa malah aku, tidak Pak, aku tak salah bapak tahu sendirikan bagaimana kerjaku. Aku tak mungkin berbohong aku selalu berkata jujur pada Bapak "
__ADS_1
"Hey Amir jangan memfitnah ku ya, jelas-jelas kamu yang sudah melakukannya kamu yang telah licik, kenapa aku yang disalahkan "
Amir mendekati bosnya itu, Amir menatap wajah bosnya itu dengan serius "Pak, Bapak tahu kan orang-orang yang ada disini sangat membenci aku, mereka ingin menjatuhkan aku. Makannya mereka seperti itu padaku, menyalahkan aku, padahal aku tak salah apa-apa aku benar-benar tak melakukannya "
Bosnya itu jadi binggung, siapa yang benar siapa yang salah. Masalahnya di tempat ini tak ada cctv-nya. Hanya beberapa yang dipasang. Sedangkan tempat yang ini belum dipasang karena baru.
"Kalian masuk dulu saja keruangan ku jelaskan disana, ayo "
Amir tentu saja langsung mengikutinya, Amir terus saja membela dirinya. Amir benar-benar tak mau disalahkan dalam masalah ini.
Didalam ruangan bosnya itu banyak yang mereka bicarakan dan keputusannya apa. Bukan Amir yang dikeluarkan tapi orang yang Amir fitnah.
Orang itu menatap Amir dengan tatapan benci "Awas saja Amir, aku akan membalasnya, kamu tak akan pernah lolos dariku, aku tak akan pernah rela dikeluarkan bukan karena salahku. Kamu yang salah. Kamu yang seharusnya keluar dari sini, dasar laki-laki licik kamu ini ya tak tahu diri"
Jamal tanpa banyak bicara lagi langsung pergi bahkan dia sampai membanting pintu. Dalam hati Amir. tersenyum senang. Akhirnya berhasil juga kan.
Satu persatu orang yang dia benci, yang selalu saja mengusik hidupnya akan pergi. Amir akan secara perlahan menyingkirkan mereka semua yang berani untuk menghalanginya akan Amir singkirkan.
Mereka tak akan pernah menang kalau melawan Amir, Amir punya 1000 alasan untuk membela dirinya.
"Kamu lanjut kerja saja Amir masalahnya sudah selesai kan. Tak perlu ada yang dibahas lagi"
"Baik Pak, Bapak percayakan kalau bukan Amir yang melakukannya. Mana mungkin Amir melakukan hal itu. Mereka semua memang tidak suka dengan Amir. Pertama Amir datang kemari mereka sudah memusuhi Amir, Amir ini butuh perlindungan Pak kalau tidak seperti itu Amir pasti akan diinjak-injak terus oleh mereka, pasti mereka juga akan marah pada Amir karena jalan dikeluarkan "
__ADS_1
Bahu Amir ditepuk dengan perlahan "Sudahlah semuanya sudah selesai kan, nanti saya akan bicara dengan anak-anak yang lain agar tidak seperti itu padamu Amir. Kembalilah bekerja, aku tahu kamu tidak salah. Aku yang akan hadapi mereka kalau sampai mereka melakukan sesuatu pada kamu "
Amir memasang wajah sedihnya, dia sengaja melakukan hal itu agar terlihat kalau dialah yang benar-benar memang disakiti di sini. Memang tadi awalnya memang Amir yang curang tapi ketahuan oleh Jamal.
Tentu saja Amir tidak mau dikeluarkan begitu saja, Amir akan menyalahkan Jamal. Memang Jamal adalah target utamanya, Amir selalu saja kesal dengan Jalan karena terus menceramahinya, untuk ini lah itu lah pokoknya menyebalkan sekali.
Jamal selalu saja mengkritik pekerjaannya, padahal terserah Amir saja kan mau pekerjaan yang bagaimanapun yang terpenting dia bekerja dapat gaji sudah bereskan.
"Terima kasih Pak terima kasih atas bantuannya, Amir benar-benar masih ingin bekerja di sini Amir tidak mau kemana-mana. Amir betah di sini tapi Amir tidak betah dengan teman-temannya mereka benar-benar mengusik hidup Amir. Padahal Amir tak pernah seperti itu pada mereka "
"Iya iya Amir, ya sudah kamu balik bekerja lagi. Saya jamin Jamal tidak akan melakukan apa-apa dan juga teman-teman kamu tidak akan melakukan hal seperti itu lagi padamu. Fokuslah bekerja aku tahu kamu anak yang rajin, bekerjalah kembali. Bukannya kamu juga ingin membahagiakan orang tua kamu kan maka berjuanglah untuknya "
Amir menganggukan kepalanya, dia segera berpamitan untuk keluar dari ruangan bosnya ini. Amir sudah bisa mengambil satu hati dari atasannya ini.
Tinggal perlahan saja Amir menyingkirkan orang-orang terpenting di sini, untuk dia bisa naik level dan bisa lebih dipercaya lagi oleh bosnya ini, untuk memegang salah satu pabrik di sini.
Amir ingin cepat-cepat mengambil wanitanya. Amir tahu semua wanita itu akan sangat suka uang maka Amir harus berjuang untuk semua itu meskipun dengan cara licik.
Baru saja Amir masuk ke tempat kerjanya itu, teman-temannya sudah menatapnya dengan sangat benci dan sinis juga.
"Minggir minggir awas awas awas ada si Amir tuh, nanti mau kayak Jamal tiba-tiba dipecat. Dia ini pengadu dia ini orangnya nggak bisa dipercaya, suka nyalah-nyalahin orang ayo ayo kerja kerja jangan sampai dekat sama orang ini "ucap salah satu karyawan.
"Iya benar-benar minggir minggir nanti kita yang disalahkan, kita juga yang dikeluarkan ayo jangan ada yang dekati Amir dia itu berbahaya. Dia itu suka sekali berbohong dan licik "
__ADS_1
Tapi Amir tidak peduli dia hanya berjalan dengan sangat angkuh. Tak peduli mereka akan mengatakan Amir sebagai orang apa yang terpenting tujuannya tercapai itulah yang selama ini Amir lakukan.