
Alina sudah memutuskan, dia akan pergi dan kabur saja dengan Amir. Kalau Ayahnya tidak bisa mengikuti apa kemauannya maka Alina akan pergi dari rumah ini. Alina tidak peduli bagaimana kedepannya yang terpenting yang Alina pikirkan sekarang adalah hidup bersama Amir dulu.
Alina sudah berjanji kan pada Amir akan bertemu sekarang. Alina tidak mau membuat kecewa Amir dan nanti Amir malah akan membencinya. Alina tidak bisa hidup tanpa Amir cintanya sudah terlalu dalam pada Amir.
Alina memasukkan beberapa pakaian ke dalam tasnya. Malam ini Alina akan pergi dari rumahnya. Alina juga sengaja pergi malam-malam sekali agar kedua orang tuanya sudah tertidur, pelayan dan juga penjaga sudah tidak ada.
"Maafkan aku Ayah, Ibu bukannya aku egois tapi aku tidak mau dijodohkan seperti ini. Aku tidak mau dipaksa, mungkin pilihan kalian itu memang benar. Tapi aku terlalu mencintai Amir sampai-sampai aku tidak mau mengikuti kemauan kalian"
Alina segera turun ke lantai bawah sambil mengendap-endap. Dia melihat semua ruangan sudah gelap berarti sudah tidak ada yang bangun kan, semuanya sudah tertidur dengan lelap.
Alina bernafas lega, berarti Alina akan mudah untuk kabur dari rumah ini. Alina yang akan membuka kunci pintu rumah tiba-tiba saja melihat lampu ruangannya menyala. Saat Alina berbalik sudah ada Ayahnya di sana sambil melipat tangannya, tak lupa dengan Ibunya yang ada di dekat saklar lampu.
"Mau ke mana Alina malam-malam sekali membawa tas seperti itu. Jadi pilihanmu adalah kabur bersama laki-laki itu yakin pilihanmu ini akan benar ? "
Alina menundukkan kepalanya. Ayahnya sudah berjalan ke arahnya. Alina takut sekali Ayahnya akan memukulnya, tiba-tiba saja tangan Ayahnya itu sudah melayang ke arahnya, tapi bukannya menamparnya Ayahnya malah mengelus rambutnya.
"Aku tidak mungkin kasar padamu Alina, aku tidak mungkin menyakitimu. Kamu adalah anakku satu-satunya kamu tidak perlu takut dengan Ayahmu, tapi keputusanmu ini sangat membuat Ayah kecewa"
__ADS_1
"Bahkan aku tidak pernah memukulmu kan Alina saat kecil, aku tidak pernah menamparmu. Mana ada orang tua yang akan sanggup menyakiti anaknya sendiri, tapi sebagian anak ada yang melakukan itu dia bisa menyakiti orang tuanya demi orang lain dan kamu adalah termasuk salah satunya Alina. Kamu membuat hati Ibu dan juga Ayah sakit kami yang selalu ada untukmu Alina, bahkan saat kecil siapa yang mengurus kamu jika bukan kami berdua"
Alina langsung mendongakkan kepalanya dia sadar, kata-kata Ayahnya benar. Ayahnya tidak pernah menyakitinya sama sekali. Bahkan Ibunya apalagi tidak pernah kasar padanya. Alina dipenuhi dengan kasih sayang yang berlimpah.
"Ayah sebenarnya sangat marah padamu Alina. Ayah marah besar, Ayah ingin memukulmu, Ayah ingin berteriak padamu tapi Ayah tidak pernah mampu melakukan itu padamu Alina. Ayah tidak sanggup untuk melakukan itu padamu"
"Kamu tahu dulu perjuangan Ibumu untuk mendapatkan seorang anak begitu sulit, kami harus menunggu 7 tahun lamanya, dan akhirnya lahirlah dirimu Alina. Kami begitu bahagia, lalu apakah kamu sekarang akan mengecewakan orang tua kamu pergi bersama laki-laki itu, kabur bersama laki-laki itu. Apakah masa depan kamu akan cerah, apakah masa depan kamu akan baik kedepannya Alina. Ayah tidak pernah mau melihat kamu hidup dalam keadaan sengsara, Ayah ingin selalu kamu terlihat baik-baik saja"
"Kamu begitu cepat percaya dengan laki-laki yang baru saja kamu kenal beberapa bulan. Sedangkan pada pilihan Ayah kamu tidak percaya. Ayah memilih tentu saja melihat dulu bagaimana sikap dia. Ayah ingin yang terbaik untuk kamu"
"Ayah tidak pernah mengurung mu dalam kamar jika ada masalah kan Alina. Ayah selalu membebaskan kamu. Apakah kamu akan mempermalukan Ayah dengan kamu tiba-tiba pergi bersama laki-laki itu. Apa kamu ingin menghancurkan reputasi Ayah ini. Ayah sudah membangun reputasi ini bertahun-tahun dan kamu akan menghancurkannya dengan cepat Alina"
Alina tentu saja kaget mendengar kata-kata Ayahnya, Alina tidak mau kehilangan Ayahnya ataupun Ibunya. Alina tidak mau kalau sampai harus melakukan hal sekeji itu pada orang tuanya.
Alina tahu kedua orang tuanya selalu saja mengikuti apa yang Alina mau, mungkin untuk yang pertama ini yang tidak diikuti yaitu ingin bersama Amir, hidup bersama Amir jadi tadi Alina berpikir pendek, sampai-sampai mengikuti apa kemauan Amir yang ingin kabur bersamanya.
"Ayo sekarang kamu bunuh Ayah saja bunuh Ayah sekarang Alina. Ayo agar kamu bisa cepat-cepat menyusul laki-laki itu yang sudah menunggumu kan, ayo habisi Ayah sekarang juga Alina"
__ADS_1
Alina menggelengkan kepalanya. Air matanya sudah mengalir dengan deras, untuk satu hal ini Alina tidak bisa. Alina tak akan sanggup melukai orang tuanya hanya demi Amir.
"Ayah tidak Ayah "
"Ayo bukannya kamu ingin hidup bersama laki-laki itu, ayo habisi dulu Ayah. Maka kamu akan bahagia bersamanya. Ayah rela, Ayah rela Alina "
Alina langsung memeluk tubuh Ayahnya dengan erat "Tidak aku tidak akan pernah bahagia, aku tidak akan pernah bahagia kalau menyakiti Ayah terlebih dahulu. Maafkan aku Ayah yang telah egois memilah Amir, aku akan mengikuti apa kemauan Ayah. Aku akan ikuti pilihan Ayah tapi jangan berbicara seperti itu"
Alina melepaskan pelukannya dan menatap kedua orang tuanya "Alina tidak mau kehilangan kalian berdua, kalian begitu berarti dalam hidup Alina. Maafkan Alina karena telah egois dan tiba-tiba saja ingin pergi bersama Amir. Tapi tolong Alina harus menemuinya dulu Alina harus berbicara dengannya, Alina sudah berjanji tadi "
"Alina akan kembali lagi. Alina tidak akan mungkin pergi bersamanya Ayah. Tolong hanya kali ini saja. Alina tidak akan ikut bersamanya, Alina akan mengikuti kemauan Ayah. Alina akan menikah dengan laki-laki yang Ayah pilih, janji Alina tidak akan mengecewakan Ayah seperti ini lagi"
"Baiklah Ayah akan mengizinkanmu untuk pergi menemui laki-laki itu, tapi tidak sendiri Alina Ayah sendiri yang akan menemanimu"
"Tapi Ayah"
"Itupun kalau kamu mau, kalau tidak ya sudah masuk ke dalam kamar kamu Alina"
__ADS_1
"Baiklah Ayah, baik ayo temani aku untuk bertemu dengannya. Aku ingin berbicara dengannya sekali ini saja ini terakhir kalinya, aku bertemu dengannya. Setelah itu aku tidak akan lagi bertemu dengannya aku janji Ayah "
"Baiklah "