
"Ibu kenapa malah kita yang menjadi terusir, harusnya kita yang mendapatkan rumah itu. Ibu juga aneh-aneh kenapa tiba-tiba saja mengatakan kalau akan pindah dari rumah ini, rumah yang satu lagi itu rumahnya kecil Bu, pasti tak akan nyaman untuk kita"
"Sudahlah Abi, yang terpenting kita masih bisa menjaga harga diri kita berdua, memang Nizar itu sudah terlalu percaya dengan perempuan itu akan sulit kalaupun kita tinggal di sini. Kita lihat saja apakah Nizar akan pergi menjemput kita, tapi Ibu yakin Nizar akan kembali membawa kita ke rumah ini"
"Kalau misalnya tidak apa kita akan terus tinggal di sana, dan lalu apakah Nizar akan memberikan uangnya pada kita lagi per bulan tidak akan pastinya Bu kita akan kekurangan uang, kita benar-benar akan serba kekurangan "
Ibunya mengibas-ngibaskan tangannya "Sudahlah yang terpenting kita selamatkan dulu harga diri kita. Nizar ternyata sudah tahu rencana kita dari awal dia sudah tahu kalau kita hanya ingin hartanya saja, kalau selama ini kita membohonginya apa kamu masih punya muka untuk tinggal di sini Ibu sih tidak, Ibu ingin Nizar bersujud pada ibu dan meminta maaf atas apa yang dia katakan tadi"
Ibunya Nizar memasukkan semuanya, semua barang-barangnya bahkan perhiasan Alina juga dia masukkan. Sebenarnya sih dia belum cek perhiasan Alina yang ada di dalam kotak itu, karena penasaran kenapa tidak berat dia membuka kotak itu.
Alangkah kagetnya Ibunya Nizar kotak itu hanyalah berisi sebuah kertas selembar kertas saja. Ibunya Nizar langsung memperlihatkannya ke arah Abi, Abi juga sama, dia sama kagetnya kenapa juga mereka tidak mengeceknya terlebih dahulu.
"Alina menipu kita Bu, lihat apa surat itu buka Bu surat itu buka. Aku jadi penasaran sekali dengan isinya itu "
Ibunya malah melemparkan surat itu ke arah Abi. Abi yang penasaran segera membuka surat itu dan membacakannya di depan Ibunya langsung, agar Ibunya juga bisa tahu apa isi dalam surat ini.
Jangan harap kalian akan mendapatkan perhiasanku, ataupun perhiasan pemberian dari suamiku. Aku tidak akan pernah rela memberikan semua itu pada kalian, ini adalah hakku bukan hak kalian. Meskipun aku mengikuti kata-kata suamiku tapi isinya tidak ada kan hanya surat ini yang aku tinggalkan untuk kalian.
__ADS_1
Semoga saja kalian tidak sadar dengan isinya. Memangnya kalian saja yang bisa mempermainkan aku. Aku juga bisa. Aku itu bukan perempuan bodoh yang akan bisa kalian tipu.
Selamat menikmati perhiasanku, aku begitu senang mempunyai ibu mertua dan adik ipar kurang ajar seperti kalian. Aku akan selalu mengikuti permainan kalian.
Abi lantas langsung meremas surat itu dan melemparkannya begitu saja "Lihat Bu dia berani menghina kita, perempuan itu memang benar-benar harus diberi pelajaran. Sekarang kita akan pergi dari sini dan kita tidak akan pernah bisa membela diri kita lagi. Nizar juga tidak akan percaya Bu. Dia akan masa bodoh "
"Memang dari awal seharusnya aku menolak perjodohan itu, ayahmu juga aneh-aneh saja menjodohkan anaknya sendiri dengan perempuan licik seperti itu. Kalau tidak ada surat wasiatnya aku tidak akan pernah mau menjodohkan Nizar dengan perempuan selicik itu, seharusnya Nizar itu menikah dengan pilihan kita"
"Lalu sekarang kita bagaimana Bu, hidup kita akan bagaimana sekarang "
"Sudahlah ayo cepat kita pergi dulu dari rumah ini, yang terpenting kita harus buktikan pada Nizar kalau kita ini akan pergi dari sini, kalau kita tidak akan pernah ada di sini sebelum dia yang menyusul kita ke sana. Ayo cepat kita harus pergi sekarang"
Dan saat pergi seperti ini dia hanya membawa sedikit uang saja dan juga perhiasan hanya sedikit, karena sudah dia jual sebagian untuk membeli tas impiannya yang harganya begitu mahal.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja dari rumah.
"Aku benar-benar takut Bu menjalani semua hidup ini, aku takut tidak punya apa-apa aku tidak bisa memamerkan apa-apa lagi pada teman-temanku kalau jauh dari Nizar. Aku tidak akan bisa meminta apa-apa lagi pada Nizar"
__ADS_1
"Sudahlah Abi kamu ini terus saja mengeluh, bisa tidak kamu diam dan jangan terus membuat ibumu ini pusing. Aku yakin Nizar akan datang pada kita dalam waktu 1 minggu paling lama itu pun, aku yakin dia tidak akan pernah tahan tanpa ibunya ini. Dia akan sangat membutuhkan aku"
"Baiklah aku berharap jika kata-kata Ibu itu benar, aku takut nanti Alina malah lebih mencuci otak Nizar dan membuat Nizar tidak akan pernah kembali lagi kepada kita Bu"
"Sudahlah lebih baik kamu fokus saja menyetir jangan terus berbicara seperti itu, akan aku pikirkan apa nanti kedepannya. Aku tidak akan pernah kalah oleh perempuan itu sudah fokus fokus"
"Baiklah"
Sebenarnya ibunya Nizar juga takut, dia ketakutan sekali takut Nizar tidak datang lagi padanya takut Nizar melupakannya. Apalagi tadi dia melihat Nizar begitu marah padanya, Nizar tak pernah seperti itu Nizar selalu mengikuti apa kemauannya, tapi sekarang dia mulai ragu sangat ragu sekali.
Alina itu ternyata perempuan yang pintar, dia tidak bisa ditindas seperti apa yang pernah dia pikirkan. Dia berpikir saat melihat Alina yang menikah dengan Nizar dan melihat wajah Alina yang begitu lugu dia begitu yakin kalau Alina bisa ditindas dan juga patuh padanya, tapi ternyata pikirannya itu salah Alina lebih licik darinya Alina bisa melakukan apa saja.
"Bu kita sudah sampai. Apakah ibu tidak mau turun apa kita akan terus di dalam mobil"
"Ya sudah keluarkan dulu saja barang-barangnya, baru nanti aku keluar. Aku juga tidak mau kalau rumah itu berantakan kamu bereskan dulu saja rumahnya"
"Tidak tidak Bu Abi mana mungkin bisa membereskan rumah, ayo bersama ibu saja kita bereskan sama-sama jangan seperti inilah Bu, bukannya yang mau pergi dari rumah itu ibu juga kan, yang menawarkan diri untuk pergi dari rumah Nizar. Kalau saja Ibu tidak berkata seperti itu mungkin kita masih ada di sana"
__ADS_1
"Sudah ah kamu ini sama saja berisik sekali"
Ibunya itu langsung turun dari dalam mobil dan membuka rumahnya, tanpa banyak bicara lagi dia masuk dan meninggalkan anaknya yang mengangkut semua barang-barang yang ibunya bawa, cukup banyak yang ibunya bawa ini tapi ibunya sepertinya tidak ada niatan untuk membantunya.