Pilihan Kedua Orang Tuaku

Pilihan Kedua Orang Tuaku
Bab 28 Kita harus bulan madu


__ADS_3

Alina dan juga Nizar mereka malam-malam sedang ada di balkon, dengan selimut tebal yang menyelimuti mereka. Alina menyandarkan kepalanya di dada bidang Nizar.


Sebenarnya sih Alina canggung tapi Nizar dari tadi terus memeluknya, mereka hanya diam sambil menatap ke arah langit yang penuh dengan bintang tidak biasanya.


"Kamu tahu ini semua tuh kayak mimpi "ucap Alina sambil menatap Nizar yang fokus menatap ke arah langit.


Lalu pandangan mereka bertemu dan Nizar mengadukan hidung mereka sambil memainkannya, tak lupa Nizar juga memberikan sebuah kecupan di bibir sang istri.


"Benar sekali memang seperti mimpi, tapi mimpi yang indah. Aku tidak menyangka kamu akan secepat ini membuka hati kamu buat aku"


"Iya, tapi semua ini bukan mimpi ini adalah sebuah kenyataan kamu bisa bantu aku kan untuk bisa membuka hati aku seluruhnya untuk kamu Nizar. Aku tahu mungkin aku belum dapat mencintaimu tapi aku bersungguh-sungguh. Aku ingin bersama kamu, aku sudah nyaman bersama kamu"


"Tentu saja aku akan terus membimbing kamu sampai kamu tergila-gila dengan aku"


Alina memukul dada suaminya dengan pelan "Kamu ini selalu saja lucu, aku ingin kita sampai tua. Aku sadar ternyata pilihan kedua orang tuaku memang tepat. Kamu adalah pilihan mereka dan seperti apa yang Ayah ku katakan kamu baik"


"Aku pun ingin sampai tua bersama kamu Alina, kita harus bersama-sama dalam hal apapun dengan rintangan apapun. Mungkin pernikahan kita ini memang baru tapi aku sudah mencintaimu kamu terlebih dahulu "


Alina kembali menatap suaminya "Sejak kapan" Alina jadi penasaran kan sekarang.


"Emm, sejak kapan ya tapi itu rahasia hanya aku saja yang tahu"


"Menyebalkan, aku ingin tahu sejak kapan"


"Sejak pertama melihatmu"

__ADS_1


Alina jadi malu, Alina langsung menundukkan kepalanya rasanya Alina seperti remaja saja yang malu-malu seperti ini. Tapi memang kenyataannya seperti itu setiap suaminya menatap matanya dengan lembut dan sepertinya penuh dengan cinta Alina seperti tersipu.


Dan jantungnya ini terus berdegup dengan kencang berbeda saat bersama Amir perbedaannya itu sangat jauh sekali, bahkan Alina bisa merasakannya.


"Tapi sepertinya dalam pernikahan ini ada yang kurang sayang"


Kembali Alina mengangkat pandangannya tapi dia tidak langsung menatap mata suaminya. Alina benar-benar tidak bisa menatap mata suaminya karena saking groginya.


"Apa memang yang kurang dari pernikahan kita, apa karena aku terlalu sibuk ya memikirkan tentang masa laluku. Makanya kamu bertanya seperti ini"


"Bukan, bukan itu seharusnya pengantin baru seperti kita ini bulan madu apa kamu setuju kalau kita misalnya bulan sayang "


"Aku sih ikut kamu saja "sambil memainkan kancing piyama suaminya.


"Baiklah kita akan bulan madu, aku akan cuti tapi kita pergi ke mana ya, biasanya kalau masalah bulan madu itu istri yang menentukan kamu ingin pergi ke mana"


"Iya kamu yang nentuin. Kamu mau pergi ke mana nanti biar suamimu ini yang mengikuti, aku akan pesan tiketnya dan kita langsung pergi bagaimana aku akan menunggu keputusan kamu"


"Baiklah"


"Hanya itu saja"


"Lalu aku harus bagaimana "sambil menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


"Ya kamu bilang. Baiklah suamiku aku akan mencari tempatnya dulu"

__ADS_1


"Ya ampun Nizar sama saja"


"Berbeda ayo coba ucapkan. Aku ingin mendengar dari mulutmu langsung"


"Baiklah, emm baiklah suamiku aku akan mencari tempatnya dulu setelah menemukannya aku akan memberitahumu"


Nizar langsung memeluk istrinya lebih erat lagi, Nizar begitu bahagia sekali akhirnya penantiannya tidak sia-sia kan. Nizar bisa mendapatkan Alina. Iya meskipun Alina belum sepenuhnya mencintainya.


Tapi Nizar yakin dengan berjalannya waktu semua itu akan terjadi. Alina akan bisa membuka hatinya untuknya dan hati Alina akan penuh dengannya. Nizar akan terus berjuang demi rumah tangganya ini, demi cinta mereka meskipun nanti di luar sana banyak rintangannya.


...----------------...


"Ibu bisakah Ibu diam dan tidak terus mondar-mandir seperti ini, aku yang melihatnya saja pusing. Aku benar-benar bosan juga melihat Ibu yang terus mondar mandir "


"Mau bagaimana aku diam. Lihat Nizar tidak datang kemari, sudah berapa hari coba, aku ingin Nizar datang menjemputku dan membawaku kembali pulang ke rumah itu. Tapi pada kenyataannya apa dia tidak datang kemari, aku sudah tak betah disini Abi aku ingin segera pulang "


Abi menyandarkan tubuhnya sambil menghisap rokoknya "Sudah aku bilang kan jangan gegabah kalau bicara. Nizar itu sudah berbeda, apalagi sudah ada Alina. Perempuan itu bisa merubah Nizar kapan saja, mereka itu satu tempat tidur maka Alina bisa saja mencuci otaknya Nizar, Ibu ini kalau bicara itu tak pernah disaring jadi susah sendirikan seperti ini "


"Halah diamlah, aku ingin anak itu menjemputku kemari aku ingin Nizar sujud di kakiku dan meminta maaf atas apa yang telah dia lakukan padaku. Aku tidak rela kalau tiba-tiba harus aku yang datang lagi ke rumah itu dan meminta-minta pada Nizar untuk menerima aku lagi, aku maunya Nizar yang datang kemarin aku tidak mau kalau harus merendahkan diriku datang ke sana"


"Ya sudah Ibu tunggu saja sampai Nizar datang kemari, kita tunggu saja kapan Nizar akan menjemput Ibu kesayangannya ini. Atau mungkin Nizar sekarang sedang senang-senang dengan Alina di rumah besar itu, dan sekarang Alina yang memegang semua kendali rumah itu Bum Aku yakin Nizar sudah memberikan segalanya dari kebutuhan rumah, kebutuhan dapur ya pokoknya semuanya Alina yang pegang"


"Kamu jangan makin membuat ibu takut ya, sudah lebih baik kamu diam saja Abi "sambil memukul tangan Abi.


"sakit Bu, kenapa ibu malah jadi main kekerasan seperti ini. Aku mengatakan apa yang aku pikirkan. Alina itu perempuan yang berpendidikan dia pasti dengan cepat bisa mengubah Nizar, Nizar itu laki-laki polos dia akan bisa tergoda oleh perempuan cantik seperti Alina, dari awal kan sudah aku bilang Ibu harus bertahan di rumah itu jangan sampai asal bicara kalau sudah keluar dari rumah itu kita tidak akan pernah bisa masuk lagi Bu. Kita sudah tak dianggap lagi oleh Nizar "

__ADS_1


Makin gelisah saja kan Ibunya Nizar itu, dia terus saja mondar-mandir Abi yang sudah tidak peduli hanya fokus dengan rokoknya dan juga ponselnya. Ya sudahlah kalau mereka harus hidup seperti ini. Abi juga tidak bisa melakukan apa-apa.


Abi hanya bisa pasrah saja, mau dipaksakan juga nanti malah malu Nizar pasti akan banyak bicara dan Abi tak mau mendengarkan itu, syukuri saja lah hidup yang sekarang. Merebut apa yang Nizar punya itu sulit sekali rasannya.


__ADS_2