
"Ah kamu mengagetkan aku saja " teriak Alina saat ada yang memeluk dari belakang.
"Pintarnya istriku ini sedang memasak apa sih, begitu wangi sampai tercium ke lantai atas. Aku jadi tak sabar untuk mencicipinya "
"Kamu bisa saja, aku ini baru belajar memasak entah enak entah tidak nanti makanannya. Kamu yakin mau membawa bekal dariku? "tanya Alina dan sekilas menatap suaminya yang masih sibuk menciumi lehernya. Alina sekarang sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan suaminya yang seperti itu.
Ya mungkin memang pas awal-awal Alina geli dan tak nyaman risih, tapi makin hari makin terbiasa dan ya sudahlah ini kan suaminya. Alina juga sedang membuka hati untuk Nizar kan.
"Tentu saja aku yakin, kenapa aku tidak yakin untuk membawa bekal darimu sayang aku akan memakannya dengan sangat lahap jika kamu tidak percaya kamu bisa datang ke kantorku nanti. Atau mungkin kita bisa melakukan video call "
"Tapi kamu harus jujur kalau misalnya makanan itu tidak enak maka bicara tidak enak, jangan menyembunyikan segalanya aku ini sedang belajar jadi aku ingin selalu ada masukan "
"Iya sayang nanti pasti aku akan memberitahumu ayo sekarang kita sarapan"
Nizar melepaskan pelukannya, Nizar juga membantu istrinya untuk menata makanan yang sudah jadi ini. Nizar begitu bahagia sekali melihat Alina yang sudah sangat berubah sekali Alina benar-benar berubah secara drastis.
Nizar tahu pasti sangat berat jika menjadi Alina, tapi Nizar akan selalu membimbing istrinya ini, Nizar akan menjadi suami yang baik suami yang pengertian dan akan makin membuat Alina jatuh cinta padanya. Nizar yakin lambat laun istrinya akan melupakan mantannya itu.
Nizar sangat tahu seperti apa Amir sebelumnya. Nizar juga pernah diberitahu oleh ayahnya Alina siapa Amir itu dan diam-diam Nizar juga menyelidiki siapa Amir, ternyata memang seperti itulah sikapnya.
Pantas saja ayahnya Alina tidak merestui hubungan mereka, bukannya Nizar ingin membangga-banggakan dirinya tapi kalaupun Nizar ada di posisi ayahnya Alina akan sama bersikap seperti itu.
Mana mungkin sih ada orang tua yang mau menikahkan anaknya dengan laki-laki seperti Amir yang tidak sopan seperti itu, yang berani membantah. Padahal mereka itu belum menikah baru pacaran tapi sudah berani seperti itu kan.
"Ayo cobalah makananku "ucap Alina dengan antusias sekali bahkan Alina sudah menyajikan makanan itu di piring suaminya.
Nizar dengan semangat langsung mencobanya, Alina sendiri belum memakan makanannya itu, dia ingin melihat ekspresi suaminya yang akan seperti apa. Alina seperti sedang ada di kompetisi saja jantungnya ini tak bisa diam Alina sangat takut dengan respon suaminya nanti.
__ADS_1
Nizar mengunyahnya dengan sangat pelan sekali, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tapi matanya terus fokus melihat istrinya, lucu sekali ekspresi istrinya, ingin tertawa tapi Nizar takut istrinya malah akan salah faham.
"Emm, makanannya cukup enak sayang. tapi masih harus ada bumbu-bumbu yang dikurangi seperti garam, jangan terlalu banyak lalu gula juga ini terlalu manis sayangku. Padahal kamu saja sudah manis "
"Tuh kan apa aku bilang makananku tidak akan enak, aku benar-benar gagal sekali "
"Bukan tidak enak, cuman harus ada beberapa yang dikurangi kamu terus belajar nanti juga akan bisa atau aku datangkan saja guru untuk kamu belajar masak di rumah"
Alina menggelengkan kepalanya "Aku malu kalau sampai harus ada guru di sini yang mengajariku, terlihat sekali kan kalau aku ini memang tidak bisa memasak seharusnya dari awal aku itu belajar memasak. Aku benar-benar istri yang buruk "
"Kenapa sampai harus malu seharusnya kamu senang dong ada teman yang bisa ngajarin kamu. Nanti kamu bisa masak apapun yang penting kamu pede aja. Kamu bukanlah istri yang buruk, kamu adalah kesayangan aku. Jangan pernah menjelek-jelekan diri kamu sendiri "
"Emm, aku fikir-fikir dulu deh "
Nizar mengusap rambut istrinya "Ayo cepat kamu juga harus sarapan, ga boleh ga sarapan "
Alina menganggukan kepalanya, dia akan mencoba masakannya sendiri. Baru saja satu suap Alina sudah menyemburkan makanya itu.
Tapi Nizar malah menahannya dan mengelengkan kepalanya "Kenapa kamu mengambilnya aku belum menghabiskannya "
"Ini tak enak. Kamu jangan makan ini, emangnya kamu mau nanti sakit perut "
"Ga akan sakit perut sayang, udah aku habisin lagi ya"
Alina menatap suaminya yang malah lahap makan. Alina benar-benar tak habis fikir dengan suaminya. Kenapa begitu menikmati makanannya, padahal tak enak.
Alina saja tak mau memakannya. Sungguh makanan ini tak enak sekali, Alina bisa-bisa terus memuntahkannya.
__ADS_1
...----------------...
"Ekm yang baru pulang bulan madu, mana nih kabar kabar bahagianya "
Nizar hanya tersenyum saja pada Robi temannya ini pasti selalu saja datang. Pasti akan terus menggodanya temannya ini.
"Nizar beneran aku tanya, kamu pasti punya kabar bahagia kan, ayo cerita dong penasaran dengan kalian berdua nih "
"Makanya menikah jadi kamu tahu gimana rasanya biar ga penasaran terus "
"Hehehe belum siap ah, pengen lihat kamu dulu saja bagaimana perkembangannya, nanti kalau kamu berjalan dengan lancar aku akan menikah juga "
"Jangan samakan aku dengan kamu pasti akan sangat berbeda sekali "
"Pasti akan ada samanya lah, tak mungkin kalau berbeda sekali"
"Terserah kamu Robi tapi lebih baik carilah perempuan untuk bisa kamu nikahi, agar bisa ada yang mengurus kamu agar ada yang bisa menemani kamu"
"Hemm, tapi aku masih ingin sendiri Nizar, aku masih belum mau direpotkan dengan celotehan-celotehan mereka kamu tahu sendiri kan perempuan itu sangat cerewet dan aku belum siap untuk hal itu"
"Kalau terus begitu kapan siapnya umurmu itu sudah sangat tua"
"Kata siapa umurku ini masih muda, banyak loh laki-laki yang menikah diumur yang matang, nanti saja lah. Nanti juga ada saatnya aku menikah dan menyusul kamu "
"Baiklah-baiklah. Aku hanya ingin menasihatimu saja agar kamu cepat-cepat mencari pendamping itu saja, kalau kamu memang belum siap ya sudah jangan dipaksakan nanti juga ke depannya tidak akan pernah baik kalau kamu memaksakan semuanya"
"Ya betul sekali, akhirnya kamu mengerti juga. Aku senang dengan pemikiran kamu itu Nizar "
__ADS_1
Robi segera duduk dan dia menatap Nizar saja yang bekerja. Robi memang akan ada meeting bersama Nizar sekarang tapi belum waktunya. Robi hanya berangkat ke pagian untuk menggoda sahabatnya dulu.
Tapi malah dirinya yang ditanya kapan nikah, memang kalau menggoda sahabatnya itu agak susah. Karena apa dia selalu punya jawaban dan nantinya akan memojokkan Robi juga.