
Alina terus saja menatap ponselnya, Alina melihat banyak panggilan dari Amir. Belum lagi sekarang Amir menelponnya lagi. Alina tak mau membuat Nizar marah.
Alina langsung menolak panggilannya dan Alina juga melepas nomornya itu. Lebih baik ganti yang baru saja. Alina tak mau berurusan lagi dengan Amir. Toh dia sudah menjadi mantan untuk apa Alina ladeni.
Alina tak mau membuka masa lalu, dan nanti Alina malah tergoda lagi. Alina tak mau mengkhianati Nizar. Nizar sangat baik padannya.
"Sayang, kenapa melamun ayo "
Alina langsung tersenyum kearah suaminya dan menganggukan kepalanya. Alina menerima uluran tangan dari sang suami.
Hari ini mereka mau jalan-jalan, menghabiskan waktu sebelum mereka pulang lagi kerumah. Alina akan menyembuhkan semua ini
...----------------...
"Nizar fokuslah menyetir, kenapa kamu malah terus menatap aku "
"Karena kamu cantik "
Nizar menarik tangan istrinya dan menciumnya, lalu Nizar juga mencium pipi istrinya.
"Nizar kamu harus fokus"
"Iya sayang ini aku fokus "
Alina melepaskan genggaman tangan suaminya dan berdiri, angin langsung menerpa wajahnya. Alina merentangkan kedua tangannya.
Nizar hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya, berarti tak salah Nizar membeli mobil ini, istrinya bisa berdiri dan menikmati angin yang begitu sejuk.
Akhirnya mereka sampai juga, Nizar menarik tangan sang istri dan mereka malah naik delman, kursinya tentu saja Nizar.
"Kamu yakin bisa Nizar "
"Tentu saja aku yakin bisa, kenapa kamu tak yakin dengan suami mu ini "
"Bukannya begitu, aku hanya sedikit takut "
"Lihat ya kita akan baik-baik saja "
Nizar segera melajukan kudanya itu, kuda berjalan dengan perlahan. Alina yang takut langsung memegang tangan suaminya itu.
"Tenang sayang, tenang semuanya akan baik baik saja nikmati saja, disini akan banyak yang kamu lihat "
Alina mencoba untuk tenang, Alina akan menikmati bulan madu mereka. Pertama yang Alina lihat adalah taman hingga, disana ada macam-macam bunga, Alina ingin turun dan berlarian disana pasti menyenangkan.
Lalu ada kuda yang sedang makan, lalu ada domba, jerapah disini sangat banyak hewannya. Alina menatap suaminya.
__ADS_1
"Kamu bawa aku ke kebun binatang"
"Ya semacam itu. Kita akan mengelilingi tempat ini mengunakan delman agar kamu tidak lelah "
Alina menyenderkan kepalanya di bahu suaminya tak lupa Alina juga memeluk tangan suaminya.
"Aku suka tempat ini, kamu tahu saja apa yang aku mau "
"Tentu saja sayang, kamu pasti akan suka dibawa ketempat seperti ini"
Alina mengecup pipi suaminya. Nizar yang kaget langsung menatap Alina "Apa "tanya Alina dengan malu-malu tadi Alina refleks saja.
"Tidak, aku hanya menyukainya saja "
Alina langsung menyusupkan kepalanya itu ke ketek semuanya.
"Sayang nanti kamu pingsan "
Alina malah memukul lengan suaminya.
"Aku berkata jujur sayang, kalau kamu diam disana terlalu lama kamu akan pingsan "
Alina mengangkat kepalanya dan kembali memukul lengan. Suaminya dengan pelan "Kamu ini "
Alina hanya bisa menundukan kepalanya dengan malu. Benar-benar Alina ini seperti baru pacaran saja.
...----------------...
"Ayo tangkap aku kalau bisa, sini tangkap aku " teriak Alina sambil tertawa renyah.
"Awas ya akan aku tangkap kamu "
Nizar terus saja berlari mengejar istrinya yang sudah menjahilinya. Mereka sedang sedang ada di taman bunga yang begitu lebat, bahkan tubuh mereka saja hampir tertutup dengan bunga-bunga itu.
"Mana katanya mau tangkap aku, sini tanggap " kembali Alina meledek suaminya dan menjulurkan lidahnya.
Nizar dengan tangannya langsung menangkap pinggang istrinya dan berhasil, mereka berdua terjatuh dan malah tertawa.
Nizar menindih sebagian tubuh sang istri. Nizar menatap wajah istrinya dengan lekat, lalu membelai wajah istrinya dengan perlahan.
Alina memejamkan kedua bola matanya menikmati sentuhan suaminya yang selalu membuatnya candu.
"Aku begitu menyayangi kamu Alina "
Alina membuka matanya. Dan menatap langsung mata suaminya. Alina menjulurkan tangannya dan membelai wajah suaminya juga.
__ADS_1
Nizar makin mendekatkan wajahnya dan akan mencium bibir sang istri, tapi tiba-tiba saja turun hujan yang langsung deras.
"Aduh kenapa hujan "dumal Nizar sambil membantu istrinya bangun.
Mereka berlari untuk mencari tempat berteduh. Untung saja didekat sini ada sebuah pondok. Jadi mereka tak terlalu basah.
Nizar yang melihat istrinya kedinginan segera membuka jaketnya dan memasangkan pada tubuh sang istri, lalu memeluknya juga agar istrinya tak kedinginan.
"Kamu juga pasti dingin Nizar, pakai jaket kamu "
"Tidak, aku sudah hangat dengan memeluk kamu saja " cup sambil mengecup kening sang istri.
...----------------...
Amir yang sedang bekerja jadi marah-marah terus alasannya karena Alina tak mengangkat telfonnya. Amir tak terima akan hal itu.
Apalagi sekarang nomor Alina malah jadi tak aktif "Sialan kemana Alina, pasti dia sedang bersama suaminya atau mungkin suaminya tak membolehkan Alina memegang ponsel"
"Amir cepetan kerja, bukannya marah-marah dari tadi, cepet ah biar cepet selesai ini "
"Kerja aja sendiri saja, ga usah nyuruh-nyuruh orang"
"Lah bukan nyuruh-nyuruh emang ini kerjaan kamu, seharusnya kamu tuh fokus sama kerjaan bukannya ponsel dari tadi marah-marah ga jelas, marah sana sini "
"Berisik mau dipecat hah "
Orang itu yang memberitahu Amir akhirnya mundur saja, dia tidak mau nanti kalau seperti karyawan-karyawan yang lain yang berurusan dengan Amir dan akan dipecat oleh bos.
Anehnya bos itu selalu saja percaya dengan kata-kata Amir tanpa mau mendengarkan perkataan yang lain. Amir ini sebenarnya mengunakan apa sih sampai-sampai bos itu seperti tunduk saja dengannya.
"Sialan, Alina kenapa tak ada jawaban. Kamu emang udah bener-bener mau lupain aku ya Alina. Padahal aku di sini tuh banting tulang buat dapetin kamu lagi, buat bisa bahagiain kamu tapi kamu malah asik-asik dengan suamimu itu"
Amir melempar ponselnya itu dengan kesal. Amir tak peduli dengan ponselnya yang hancur. Amir begitu marah dengan tingkah Alina ini, seharusnya Alina tidak boleh seperti ini padanya Alina tidak boleh mengacuhkannya.
"Akhh awas saja, aku akan mengambil apa yang sudah aku miliki "
Amir melangkah pergi dari tempat kerjanya. Tidak peduli nanti mau dimarahi atau tidak yang sekarang Amir ingin lakukan adalah tidur, lebih baik tidur untuk menenangkan emosinya ini daripada nanti meledak-ledak.
"Amir itu kayak pabrik ini tempat kerjanya aja"
"Udahlah biarin aja, malah nanti kita yang kena. Mau bagaimana pun dia kita ga usah urusan. Amir itu pintar dalam memutar balikan fakta, jadi biarkan saja lah dia "
"Hemm, benar dia adalah orang yang harus dijauhi dan jangan pernah disenggol nanti malah jadi kena getahnya lagi"
Mereka semua setuju dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
__ADS_1