
Alina terbangun saat mendengar ada suara orang yang sedang mengaji. Alina melihat itu Nizar Alina tidak menyangka kalau Nizar seperti ini.
Apa yang harus Alina lakukan sekarang. Tiba-tiba saja Nizar berhenti mengaji dan menatap ke arah Alina.
"Kamu sudah bangun lebih baik ambil wudhu dan sholat subuh, mumpung masih ada waktu Alina"
Alina menelan ludahnya, dia tidak pernah melakukan sholat. Maksudnya pernah tapi entah kapan Alina lupa, rasannya sudah lama sekali.
"Tapi aku"
"Ayo ambil air wudhu dan aku akan membimbing mu untuk melakukan sholat subuh"
Alina dengan ragu segera turun dari tempat tidur. Dia juga lupa bagaimana caranya berwudhu.
Nizar yang mengerti segera membimbing Alina untuk masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu. Nizar akan memberitahu Alina bagaimana caranya berwudhu yang benar dan doa-doanya pula.
Nizar segera membimbing Alina, sebenarnya Alina malu tapi Alina tidak mungkin menolaknya kan.
Setelah selesai berwudhu sekarang Nizar membimbing Alina untuk shalat subuh. Alina benar-benar diajarkan oleh Nizar.
Setelah melakukan sholat subuh Alina menundukkan kepalanya.
"Ada apa"
"Aku baru melakukan kembali shalat"
"Lalu "
"Apakah tidak apa-apa"
__ADS_1
"Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali kan. Mulai sekarang kamu harus kembali shalat Alina. Aku akan membimbing mu Alina, aku akan membantumu belajar dari awal lagi. Kamu akan kembali sholat dan kamu akan kembali ke jalan Allah. Aku tahu kamu sudah terlalu jauh kan dari Allah"
Alina malah malu sendiri. Memang selama ini Alina sudah melupakan Allah. Alina sudah lupa dengan nikmat yang diberikan Allah. Alina malah sibuk dengan kehidupannya dan sibuk dengan pacarnya Amir.
...----------------...
"Selamat pagi Ibuku yang cantik"
"Selamat pagi Abi, kenapa kamu masih memakai piyama mu ini. Seharusnya kamu segera bekerja. Kamu harus mengikuti Kakakmu jangan sampai nanti kamu tidak tahu tentang apa saja perubahan yang ada di kantor. Ingat Ayahmu sudah memberikan semua tanggung jawab pada Kakakmu itu, tapi aku tidak suka kamu juga seharusnya mendapatkan hal yang sama, atau tidak kamu yang lebih besar "
"Aku lelah harus mengikuti Kakak terus, aku harus terus mengikuti Nizar. Aku ini seperti pembantunya saja aku juga ingin bebas. Aku tidak mau terus seperti itu Bu, aku sudah muak rasannya "
"Sebenarnya kamu ingin tidak harta ini, ingin tidak kekayaan ini. Jika sampai Nizar memiliki semuanya sudahlah kita tidak punya apa-apa lagi. Sekarang Nizar sudah menikah dengan perempuan yang sepertinya sangat pintar sekali, kita akan kalah olehnya"
"Yayaya nanti aku akan bersiap "ucap Abi sambil mengambil apel dan menggigitnya.
"Itu dia perempuan yang sedang tadi kita bicarakan, akhirnya muncul juga "
Ibunya Nizar segera memanggil Alina yang sedang berjalan ke arah dapur "Alina menantuku sayangku, kemarilah apa kamu tidak mau sarapan dulu. Bergabunglah dengan kami "
Alina diam dan Ibu mertuanya itu yang datang ke arahnya. Lalu Ibunya Nizar melihat Alina dari atas sampai bawah "Wah wah wah wah ternyata pakaianmu sangat mewah sekali ya Alina, ini gaun ini berapa harganya Ayahmu membelinya. Lalu kalung ini, anting dan juga gelang. Ya ampun kamu sangat dimanjakan ya oleh Ayahmu itu"
Alina hanya diam saja. Alina tidak mau berurusan dengan orang-orang yang ada di dalam rumah ini.
"Oh ya sayangku bagaimana kalau misalnya perhiasanmu itu aku saja yang menyimpannya, belum lagi mahar dari Nizar kemarin banyak sekali kan perhiasannya, sangat banyak yang diberikan oleh Nizar, belum uang belum apalagi sangat banyak sekali anak aku memberikan mahar padamu. Titipkan padaku saja agar aku bisa menjaganya sayang"
"Apakah mahar yang sudah diberikan oleh Nizar harus kamu pinta lagi, sepertinya tidak usah. Itu sudah menjadi milikku dan aku bisa menjaganya sendiri tidak usah kamu yang menjaganya Ibu. Aku bisa menjaga perhiasanku, barang-barang berhargaku dengan baik sendirian"
"Kamu tidak mendengar kemarin Nizar bilang kalau aku lah yang mengatur dan mengelola semua di rumah ini. Maka kamu harus mengikuti apa kemauanku. Bahkan uang Nizar saja aku yang memegang. Jadi seharusnya kamu memberikan padaku kan meskipun itu pemberian Nizar. Kamu itu tinggal disini maka kamu harus mengikuti apa yang aku mau"
__ADS_1
"Maaf Bu, tapi aku tidak bisa. Dari dulu aku sudah dipercaya oleh Ayahku untuk memegang sesuatu sendirian. Jadi untuk apa aku sekarang memberikannya padamu. Aku akan menjaganya sendiri, aku pasti bisa menjaganya "
"Dasar menantu tidak tahu diri. Seharusnya kamu itu ikuti aturanku. Di sini aku adalah tuan rumahnya bukan kamu, di sini tidak ada orang tuamu dan aku yang mengatur semuanya"
Alina mengerutkan keningnya. Kenapa tiba-tiba menjadi kasar seperti ini. Padahal Alina tadi berbicara baik-baik loh. Karena Ibunya sudah berpesan pada Alina jika mahar dari Nizar harus dipegang olehnya tidak boleh diberikan pada siapa-siapa, karena itu sudah menjadi miliknya juga kan.
"Kamu ini dasar perempuan jahat tidak tahu diri, masih untung anakku mau menikahimu. Masih untung anakku mau memberi mahar yang besar. Aku minta saja tidak mau aku hanya ingin menyimpannya saja"
"Kenapa Ibu tiba-tiba berkata kasar seperti ini padaku, apa yang sudah menjadi milikku tidak usah dijaga oleh orang lain. Sudahlah Bu kenapa harus dipermasalahkan perhiasan dan yang lainnya itu"
"Dasar anak tidak tahu diri ya kamu ini_"pandangan Ibunya Nizar langsung terarah ke arah tangga lalu dia berlari ke arah sana.
"Lihatlah Nizar istri kamu ini. Baru saja tinggal dengan Ibu tapi dia sudah kasar padaku. Apa salahku ini "
"Ada apa sih Bu pagi-pagi seperti ini"
"Alina, memarahi Ibu memaki Ibu, hanya karena Ibu meminta perhiasannya untuk disimpan oleh Ibu. Agar aman kamu kan yang sudah menyerahkan semua tanggung jawab pada Ibu, takutnya nanti ada pencuri Ibu kan sudah menyimpannya di tempat aman, tapi Alina malah mengejek Ibu, malah mencaci maki Ibu, dia benar-benar tidak sopan Nizar kenapa istrimu ini sangat keterlaluan sekali "
Alina tentu saja marah dengan apa yang Ibu mertuanya itu katakan. Alina segara menatap suaminya "Tidak, semua itu bohong. Aku berkata baik-baik saja. Bahkan aku tidak mengatakan apa-apa pada Ibumu itu, aku hanya mempertahankan apa yang sudah aku miliki. Memangnya salah aku tidak mencaci makinya"
"Lihat Nizar dia saja sudah berani kan seperti ini, dia berani membantahku. Dia berani mengatakan hal itu padamu. Lihatlah dia itu bukan istri yang baik Nizar, apa kamu akan membiarkan Ibumu diinjak-injak seperti ini. Bahkan Ibumu ini tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh keluarganya, tapi oleh dia, yang baru pertama datang ke rumah ini sudah seperti ini"
Nizar menatap istrinya "Minta maaf pada Ibu"
"Apa minta maaf. Memangnya aku salah, aku tidak punya salah dengannya"
"Alina minta maaf pada Ibu"
Alina hanya diam saja, Alina tak mau meminta maaf tanpa ada alasannya yang pasti.
__ADS_1