Pilihan Kedua Orang Tuaku

Pilihan Kedua Orang Tuaku
Bab 17 Aku sudah tahu


__ADS_3

"Amir tadi aku dengar teriakan Mama Kamu. Kamu yakin tidak akan putra balik ini mumpung kita masih ada di pertengahan jalan loh, aku begitu kasian dengannya. Apa kah dia akan baik-baik saja aku takut terjadi sesuatu pada Mamamu itu "


"Ga sudah nanti juga Mamaku baik-baik saja, dia hanya sedih karena aku pergi sudahlah. Aku sudah bulat dengan pendirianku aku akan tetap pergi. Aku tidak mungkin pulang lagi aku juga ingin membuat Mamaku itu bangga, aku ingin membuat dia bahagia seperti orang lain "


"Aku malah jadi takut terjadi sesuatu dengan Mamamu itu Amir, apakah dia punya riwayat penyakit atau mungkin apapun itu yang bisa membuatnya drop"


"Tidak ada, Mamaku tidak pernah punya penyakit sudahlah jangan terus membebaniku dengan memikirkan Mamaku. Aku tidak bisa kembali lagi, pokoknya aku harus terus melangkah aku tidak mau sampai semuanya gagal"


"Baiklah baiklah nanti setelah aku mengantarkanmu aku akan melihat keadaan Mamamu, aku takut terjadi apa-apa dengan Mama kamu itu "


"Ya silakan saja, silakan kamu lihat Mamaku, dia juga akan baik-baik saja"


Temannya itu hanya menganggukkan kepalanya. Takutnya nanti terjadi apa-apa pada Mamanya Amir malah dirinya yang disalahkan, karena menyuruh Amir untuk merantau pergi jauh kan.


...----------------...


"Tunggu-tunggu kamu kan pengantin baru, kenapa sudah masuk kerja aja sih Nizar bukannya seneng seneng sama istri baru. Ibu malah sibuk disini sama berkas-berkas yang begitu menumpuk "


Nizar hanya tersenyum kecil saja pada temannya "Kamu tahu aku dan juga Alina dijodohkan, tahu sendirilah bagaimana kalau dijodohkan. Kamu sudah bisa membayangkannya "


"Masih canggung pastinya, tapi malam pertama maju kan. Masa sih ga malam pertama sayang banget kalau engga"


Nizar lagi-lagi hanya tersenyum, dia tidak mau membicarakan tentang rumah tangganya apalagi hal seperti itu.

__ADS_1


"Ya lihat saja dari raut wajahku. Menurutmu apakah aku sudah melakukan malam pertama atau belum, kamu bisa menebaknya "


"Hemm, menurutku sih sudah karena kamu tersenyum dengan sangat lebar sekali. Wajahmu juga berseri-seri Nizar. Aku jadi penasaran secantik apa Alina itu, sampai-sampai kamu mau dijodohkan dengannya"


"Kenapa sih dalam pikiranmu itu selalu saja harus cantik, memangnya kita harus selalu menikah dengan perempuan cantik"


"Iya tentu saja harus Nizar agar enak dipandang, agar tidak bosan juga kita di rumah melihat istri kita yang cantik "


"Menurutku tidak sih yang terpenting hatinya akhlaknya. Sudahlah kamu ini malah menggangguku kenapa malah datang ke kantorku, bukan ke kantormu sendiri dan kerjakan juga pekerjaan kamu yang banyak dan menumpuk "


"Iya pengen ketemu aja sama Nizar si pengantin baru, kirain gak akan masuk tapi ternyata malah ada di dalam ruangan. Mana adikmu yang selalu mengikuti kamu dari belakang si Abi "


"Ga ikut, dia katanya mau di rumah mau istirahat karena capek sudah pergi ke pernikahan aku"


"Aneh ga sih, Abi selalu ikut sama kamu selalu mantau kamu, iya kayak sedang ingin tahu sesuatu. Bukannya dia kerja saja disini malah terus mengekor kamu "


"Iya kamu ini jangan terlalu percaya lah pada mereka berdua. Aku lihat dari wajah-wajah Ibu dan juga adikmu itu terdapat sesuatu kebohongan dan juga sesuatu yang mereka pendam. Aku begitu curiga dengan mereka berdua tahu "


"Apa itu, apa kamu bisa melihatnya"


"Ya tidak, tapi kan dari auranya sudah terlihat kalau mereka itu tidak baik Nizar. Kamu harusnya tidak memberikan semua uangmu pada Ibumu, kamu seharusnya menabungnya. Apalagi kamu sudah mempunyai istri, pasti akan lebih banyak kebutuhan kamu itu "


"Tenang saja Bobby aku tidak sebodoh itu, aku juga menyimpan sebagian yang aku punya dan yang diberikan pada Ibuku itu bukan semuanya yang aku punya. Hanya sebagian kecil malahan, aku sudah memindahkan semua hartaku"

__ADS_1


"Yakin"


"Tentu saja, memangnya kamu saja yang bisa melihat gerak-gerik mereka. Aku juga bisa tapi karena mereka keluarga maka aku tidak bisa melakukan apa-apa Bobby. Aku di sini adalah anak tertua, Ayahku sudah tiada dan Ibuku serta adikku adalah tanggung jawabku"


"Tapi jika suatu saat nanti mereka sudah melunjak bagaimana Nizar"


"Iya kita lihat saja apa yang akan aku lakukan, mungkin untuk sekarang aku masih sabar dan bisa mengikuti apa kemauan mereka. Tapi semua orang itu punya batas kesabaran kan. Aku juga tidak bodoh kalau sampai aku memberikan semua hartaku pada Ibuku, memberikan uang hasil jerih payah aku semuanya pada Ibuku yang ada aku malah ditendang, aku juga selalu menyimpan uangku dengan baik tanpa mereka ketahui"


"Baguslah Nizar kalau begitu, aku kan menjadi tenang aku jadi tidak kepikiran terus "


"Kenapa kamu jadi kepikiran"


"Ayolah Nizar kita ini teman, kita ini sudah berteman dari kecil aku pasti memikirkan tentang keadaanmu, keluargamu yang mulai kacau. Ibumu yang mulai serakah, adikmu juga ikut-ikutan. Semenjak Ayahmu pergi mereka berdua malah menjadi-jadikan seperti itu. Apalagi setelah melihat surat wasiat kalau kamu lah yang paling banyak mendapatkan harta dari Ayahmu itu"


"Yah begitulah. Aku tidak bisa melawan Ibuku Aku tidak bisa tiba-tiba mengusir Ibuku ataupun marah padanya. Dia yang melahirkan aku Bobby, dia yang mengurusku saat aku kecil. Masa tiba-tiba karena hanya harta aku mengusir mereka. Aku tidak akan pernah tega Bobby "


"Kamu ini terlalu baik Nizar, aku harap istri kamu tak sebaik kamu "


"Kalau kita baik maka semuanya akan dibalas dengan baik juga kan, jadi kalau kita membalas dengan jahat maka kita akan mendapatkan ganjaran yang lebih lagi kan. Untuk sekarang aku akan membiarkannya, tenang saja Bobby aku akan membuat mereka terlena dulu dengan semuanya. Aku akan membiarkan mereka dulu. Akan sampai kapan mereka seperti ini "


"Baiklah baiklah aku ingin tahu seorang Nizar akan melakukan apa pada Ibunya yang serakah dan juga pada adiknya. Semoga saja keputusanmu ini membawa keberuntungan ya, jangan sampai nanti kamu yang kalah oleh mereka"


Nizar menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Sebenarnya Nizar sudah tahu dari dulu tapi Nizar tidak mau melukai hati Ibunya, surga ada di telapak kaki Ibunya Nizar tidak mau menyakitinya, membuatnya sengsara ataupun membuatnya terus menangis.

__ADS_1


Mau bagaimanapun sifat sikap Ibunya tetap saja dia adalah yang melahirkannya Nizar harus selalu berbakti pada Ibunya meskipun perlakuan Ibunya seperti ini pada Nizar"


Tidak masalah Nizar terlihat bodoh di hadapan Ibunya dan juga adiknya yang terpenting mereka bahagia saja. Nizar akan terus memantau apa saja yang mereka lakukan.


__ADS_2