
"Alina dengarkan aku, sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi milik ku, kamu tak akan pernah bisa lari dari aku, kamu akan terus mengingatku, aku tak akan membiarkan kamu untuk melupakan aku sampai kapan pun. Lihat saja nanti kamu akan kembali kemari datang padaku "
Alina yang baru saja memegang gagang pintu langsung membalikan badannya. Alina memang wajah marahnya pada Amir.
"Dengarkan aku Amir, aku sudah lupa dengan kamu, mau bagaimana pun kamu mencoba untuk melepaskan aku dengan Nizar, aku tak akan pernah pergi dari sampingnya, kami akan terus sama-sama dalam keadaan apapun, jadi jangan berharap lebih denganku, kamu akan lelah nanti lebih baik mundur sekarang"
"Dalam kehidupan selanjutnya pun aku akan tetap menjadi milik Nizar, tak akan pernah ada yang bisa menggantikannya ingat itu "
Alina membuka pintu dan pergi begitu saja, Alina sudah muak sekali dengan Amir yang terus saja memaksanya, sudah tahu Alina punya suami.
Tanpa Alina sadari ada Elina yang sedang mengintip, Elina langsung masuk ke dalam kamar dan melihat keadaan Amir yang begitu kacau. Amir terduduk di bawah lantai dan tatapannya begitu sendu sekali.
"Apakah kamu selemah ini karena perempuan itu, apakah kamu akan terus seperti ini"
__ADS_1
"Diam kamu Elina, kamu tidak tahu apa-apa, kamu tidak tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang dengan sangat dalam sekali tapi pada akhirnya ditolak, untuk apa kamu ada di sini pergi dari sini "
"Aku tahu bagaimana rasanya tidak usah kamu jelaskan, bangkitlah kamu ini seorang laki-laki jangan seperti ini jangan perlihatkan kelemahanmu yang ada dia akan semena-mena dan menginjak-injak kamu"
"Aku tidak perduli, jangan kamu urusi masalahku, pergi kamu dari sini jangan terus mengurusi aku"
Elina yang sudah muak dengan tingkah Amir tentu saja langsung pergi dia menutup pintunya, dan Elina juga mendengar teriakan Amir yang begitu melengking, tapi Elina terus saja berjalan dia tidak akan kembali ke sana Amir sedang marah dan Elina tidak mau jadi sasarannya.
"Sayang kamu dari mana saja, aku mencarimu " tanya Nizar dengan tatapan yang begitu khawatir.
"Maafkan aku, tadi aku pergi ke toilet tapi malah tersesat, jadi aku lama sekali "
Nizar langsung memeluk istrinya "Aku khawatir sekali dengan kamu sayang, kenapa juga kamu ga bilang dulu sama aku, aku kira ku kemana tahu "
__ADS_1
Mereka melepaskan pelukannya, Alina mengusap wajah suaminya "Aku hanya pergi ke toilet, tapi kamu sudah sepanik ini mas "
"Tentu saja ku panik, kamu tiba-tiba tak ada, biasannya kamu akan bilang tapi ini tidak. Aku kira kamu ninggalin aku "
"Ga mungkin lah mas, mana mungkin aku ninggalin kamu. Kamu ini suka aneh-aneh saja. Apakah kita bisa pulang sekarang mas, aku sudah sangat lelah "
"Baiklah kita pulang, tunggu dimana Pak Amir kita harus pamitan dulu"
"Sudahlah Mas, kita langsung pulang saja, aku yakin dia juga tak akan ingat tamunya sangat banyak sekali. Kalau kita mencari dia dulu yang ada akan lama, kapan aku akan pulang, aku sudah sangat kelelahan sekali "
"Baiklah sayang, ayo kita pulang "
Nizar langsung mengandeng tangan istrinya dan keluar dari sana. Nizar juga sudah lelah, Nizar tak berhasil membujuk ibunya semoga saja nanti ibunya bisa dibujuk dan kembali seperti semula lagi, Nizar begitu rindu dengan ibunya.
__ADS_1