Pilihan Kedua Orang Tuaku

Pilihan Kedua Orang Tuaku
Bab 39 Alina merajuk


__ADS_3

Hari ini Alina pergi ke kantor suaminya, sebenarnya sih sebuah kejutan Alina sudah mencoba memasak makanan yang enak yang sudah dia pelajari selama ini, Alina akan memperlihatkan pada suaminya untuk pertama kalinya lagi Alina memasak, ya maksudnya memasak yang enak langsung tak coba-coba seperti itu.


Selama Alina belum bisa memasak dengan benar, Alina tidak memasak untuk suaminya masih Bibi yang memasak tapi sekarang Alina akan memberikan pada suaminya.


Saat Alina datang dia langsung disapa oleh resepsionis, dia sepertinya sudah tahu siapa Alina. Dia juga langsung menyapa.


"Selamat siang Nyonya Alina, ingin bertemu dengan Pak Nizar"


Alina langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Alina mencoba untuk ramah pada setiap orang yang ada di sini, ya meskipun ada yang menatapnya dengan sinis seperti tak suka begitu.


"Iya aku mau bertemu dengan suamiku, dia di lantai mana ya apakah dia sekarang ada meeting ?"


"Bapak ada di lantai 5 nyonya, dan sedang tidak ada meeting mau saya antarkan ke ruangannya"


"Tidak usah aku pergi sendiri. Terima kasih ya"


"Tentu nyonya sama-sama"


Alina langsung masuk ke dalam lift, sebenarnya sih mau diantar tapi kasihan juga tidak ada yang menunggu lagi di bawah takutnya nanti ada tamu dan malah merepotkan, nanti resepsionis itu juga kan yang akan dimarahi oleh Nizar.


Setelah ada di lantai 5 Alina segera menelusuri tempat itu ada petunjuknya, jadi Alina dengan mudah langsung menemukan ruangan suaminya.


Saat Alina akan membuka pintu ruangan suaminya itu, tiba-tiba saja ada yang mencekal lengannya dan menariknya dengan sangat kuat sekali agar tak membuka pintu itu.


"Kamu ini siapa. Kenapa tiba-tiba masuk ruangan Bapak, kamu ini harus buat janji dulu jangan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Pak Nizar seperti itu. Bapak itu tidak bisa diganggu harus ada janji dulu"

__ADS_1


Alina menatap orang yang memberhentikannya dia, Alina menatap dari atas sampai bawah ini pekerja suaminya apakah tidak salah dengan pakaiannya. Dia memakai rok yang begitu pendek.


Bahkan kalau sampai menungging ********** akan terlihat, lalu sepatu hak tinggi yang begitu tinggi itu sih tidak masalah untuk Alina, Alina pun sering memakai sepatu yang sangat tinggi seperti itu tapi ini pakaiannya bahkan belahan *********** pun terlihat.


"Kamu ini sebenarnya mau bekerja atau mau pergi ke diskotik sih, tak salah kah "


"Maaf kamu ini siapa ya lebih baik kalau tidak ada kerjaan dan tidak ada pertemuan dengan Bapak lebih baik anda pergi dari sini, anda tidak bisa langsung bertemu seperti itu apakah anda sudah punya jadwal temu dengan Bapak ? "


"Kalau belum bagaimana "Alina malah menantang perempuan itu yang ada di hadapannya ini. Alina tak habis pikir suaminya mempekerjakan perempuan seperti ini yang tadi saja di bawah resepsionis itu begitu rapi tertutup. Ya meskipun tidak memakai kerudung tapi dia benar-benar rapi dan sopan.


"Maka kalau belum silakan pergi jangan tiba-tiba masuk seperti ini, kamu ini ya tidak sopan sekali saya juga belum pernah melihat kamu, kamu bukan teman Pak Nizar ataupun rekan kerja Pak Nizar jadi lebih baik pergi sekarang sebelum saya panggilkan satpam"


"Ya sudah kamu panggil saja satpam, aku tidak takut".


"Oh begitu ya kamu menantang aku "sambil berkaca pinggang di hadapan Alina.


Perempuan itu menahan tawanya sambil menutup mulutnya lalu berdehem "Istrinya, jangan mengada-ngada Pak Nizar itu belum menikah dia itu masih bujangan jangan aneh-aneh deh "


Alina menatap perempuan itu yang sudah meremehkannya. Alina langsung membuka pintu dan pandangan suaminya langsung teralih padanya.


"Pak maaf ini tadi tiba-tiba masuk, saya sudah mencoba mengusirnya tapi dia malah membuka pintu Bapak saya minta maaf Pak"


"Biarkan dia masuk Indah, dia itu istri saya"


Perempuan itu langsung diam bengong, dia langsung menatap ke arah Alina lalu menundukkan kepalanya, "Saya tidak tahu kalau anda benar istrinya Pak Nizar, saya minta maaf "

__ADS_1


"Ga tahu. Aku kan tadi udah kasih tahu makanya kerja itu yang bener bukannya penampilan yang kayak gini, ubah penampilan kamu ini nggak pantes kerja di kantor sampai penampilan kayak gini. Lihatlah teman-teman kamu yang lain yang rapi ini pakaian kurang bahan kayak gini masih aja dipakai atau kamu nggak kebeli pakaian gitu, makannya pakai pakaian yang ga muat kayak gini "


"Maaf Nyonya saya akan menggantinya maaf sekali lagi saya minta maaf"


Alina tidak mau gubrisnya dia langsung masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya di depan wajah perempuan itu. Alina langsung duduk di hadapan suaminya dan tidak lupa melipat tangannya sambil cemberut.


Nizar segera berhenti mengerjakan tugasnya dan mendekati istrinya. Nizar juga memeluk Alina dari belakang dan mencium pipinya.


"Ada apa sayang, kenapa marah-marah seperti itu. Kamu bawa bekal untukku "tanya Nizar saat melihat ada sebuah bekal di atas mejanya.


"Aku tidak suka ada pekerja yang seperti itu, dia itu siapa sekretaris kamu?"


Nizar langsung melepaskan pelukannya dan mengganggukan kepalanya, makin bete saja kan Alina mendengar semua itu, jadi perempuan yang memakai pakaian seksi itu adalah sekretaris suaminya.


Jadi selama ini suaminya melihat sekretarisnya berpenampilan seperti itu dan membiarkannya saja, sungguh suaminya ini minta di tampol.


"Lalu kamu membiarkan sekretaris kamu memakai pakaian seperti itu ? Kamu suka ya sama dia makanya membiarkan dia berpakaian seperti itu"


"Kamu ini bicara apa mana mungkin aku suka sama dia, penampilannya aja nggak banget buat aku"


"Ya terus kenapa kamu biarin dia pakai pakaiannya kayak gitu, seharusnya kamu tegur dong masa di kantor pakaian seksi kayak gitu kayak mau godain aja"


"Iya aku sih terserah mereka aja ya, yang penting kinerja mereka bagus aku juga nggak tertarik sama Indah karena emang kerjaannya bagus, ya makanya dia jadi asisten aku, aku nggak pernah kepikiran buat ngatur gimana pakaiannya"


"Kamu ini nyebelin banget sih, emang kamu suka mungkin perempuan kayak gitu"

__ADS_1


Nizar memutar kursi yang diduduki istrinya dan berjongkok di hadapan istrinya. Nizar menciumi kedua tangan sang istri "Aku akan tetap setia sama kamu, maupun di luar sana banyak perempuan yang berpakaian tidak sopan. Aku tetap akan bersamamu hatiku akan tetap sama kamu. Untuk apa aku punya kamu di rumah kalau aku masih jelalatan sana sini, masih rayu sana sini masih suka perempuan sana-sini kalau gitu aku nggak usah nikah aja deh"


Alina masih saja cemberut tapi dalam hati senang juga Nizar mengatakan hal ini, membuat hatinya senang sekali.


__ADS_2