Pilihan Kedua Orang Tuaku

Pilihan Kedua Orang Tuaku
Bab 31 2 Minggu


__ADS_3

Bulan madu Alina dan juga Nizar sudah selesai, tadinya mereka mau lama di sini tapi ternyata Nizar tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Nizar harus datang ke cabang-cabang kantornya itu.


Alina yang sedang sibuk di dapur tiba-tiba saja mendapatkan telepon dari ibunya, dengan antusias Alina segera mengangkat telepon itu, Alina benar-benar sudah rindu dengan ibunya itu. Sebenarnya Alina tak bisa jauh dari ibunya.


"Halo Bu apa kabar, bagaimana kabarmu dan juga Ayah"


"Kabar Ibu dan juga Ayah baik nak, bagaimana kabarmu dan juga Nizar. Sepertinya Ibu mendengar kalau kamu sangat bahagia sekali bagaimana pilihan ayah dan juga Ibu tidak buruk kan, semua berjalan dengan baik kan sayang "


Alina mengganggukan kepalanya seolah-olah kalau ibunya ini ada di hadapannya, bahkan Alina tersenyum lebar sekali.


"Alina apa kamu masih ada di sana, sayang Alina"


"Iya Bu Alina masih ada di sini. Maaf Alina tadi malah melamun. Iya pilihan ibu dan juga Ayah cukup baik. Aku baik-baik saja kok Bu"Alina benar-benar tidak mau mengakui semuanya pada orang tuanya. Iya malu saja awalnya dia berkata kalau dirinya tidak mau bersama Nizar, bahkan menolaknya dengan secara mentah-mentah tapi sekarang malah menikmati semuanya.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja dan juga pilihan ayah dan juga Ibu tidak salah, nanti ibu dan ayah akan pergi ke sana ya bagaimana apa kamu sudah mengandung"


"Ibu kenapa tiba-tiba berbicara ke sana"


"Ya tentu saja itu yang Ibu tanyakan, Ibu ini ingin cepat-cepat menimbang cucu dari kamu "


"Ibu ini aku saja baru nikah masa tiba-tiba sudah isi"


"Kan tidak ada yang tahu sayang, siapa tahu kamu langsung diberi tak ada yang tahu "

__ADS_1


"Belum Bu, Alina juga belum siap sih Bu"


"Siap tidak siap kamu harus punya anak Alina, kalau kamu tunggu sampa kamu siap kapan, ibu juga dulu pernah berpikir seperti itu. Ibu tidak siap mempunyai anak tapi pada akhirnya ibu malah lama mempunyai anak, bahkan untuk mendapatkan kamu saja susah kan"


"Iya Bu Alina tahu Alina mengerti "


"Ya sudah Ibu hanya ingin mendengar keadaanmu saja sayang. Kamu harus selalu jaga kesehatan inget harus selalu patuh sama suami kamu, ikuti apa kemauannya jangan membantah jangan manja di sana. Kamu itu udah nikah kamu harus udah bisa masak, urus suami dengan baik ya pokoknya kamu harus jadi istri yang baik ya Alina "


"Iya Ma Alina mengerti, Alina juga sekarang lagi belajar kok. Alina akan mencoba untuk bisa menerima semuanya. Ya mungkin awalnya memang berat tapi Alina berfikir kalau pilihan ibu dan juga Ayah tidak buruk juga dia baik"


"Tentu mana mungkin Ibu dan Ayah memilihkan laki-laki yang buruk untuk kamu. Jadi sebelum kamu menolak seharusnya kamu bisa dulu melihat bagaimana laki-laki yang akan kami nikahkan denganmu"


"Ya karena awalnya tiba-tiba, Alina saja sudah punya pacar makannya Alina bersikap seperti itu "


"Tapi kan Ibu dan Ayah tidak tahu kalau Alina sudah punya pacar, tapi kenyataannya apa pacar kamu itu nggak punya sopan santun. Kalau misalnya kamu sampai menikah dengan laki-laki itu yang ada setiap hari kita akan bertengkar Alina, bisa-bisa Ayah kamu jantungan lagi "


"Ya makanya kalau waktu itu Amir mungkin sopan, pakaiannya rapi, baik mungkin Ayah kamu akan menerimanya tapi ya sudahlah semuanya sudah terjadi tidak usah diungkit-ungkit lagi, dia memang sudah tidak pantas untuk kamu"


"Iya Bu iya "


Setelah selesai berbincang-bincang dengan ibunya Alina kembali sibuk memasak. Meskipun tidak tahu makanannya akan enak atau tidak tapi yang terpenting Alina sudah memasak kan dan nanti Nizar mencobanya. Nizar sih sebenernya yang meminta Alina untuk memasak.


...----------------...

__ADS_1


"Bu apakah ibu tidak lelah dari tadi terus saja berbicara, Ibu duduklah makan yang benar"


"Sudah dua minggu tapi kakakmu tidak datang-datang juga, apa perlu Ibu datang kerumahnya "


"Untuk apa ibu datang ke sana. Ibu mau mempermalukan diri begitu di hadapan Nizar dan juga Alina. Bisa-bisa Alina malah tertawa Bu melihat ibu yang datang kesana dan marah-marah pada Nizar suaminya itu"


"Ya tapi kita sudah tidak punya apa-apa lagi, lihatlah di dapur sudah tidak ada apa-apa. Pelayan siapa yang bayar Ibu tidak punya uang dan kamu juga tidak punya uang pegangan sudah dijual semua perhiasan. Yang diberikan Alina ternyata kosong perempuan itu memang benar-benar sudah membuat Ibu marah sekali"


"Ya Ibu juga kenapa saat Alina memberikannya tidak langsung dibuka di hadapan Nizar, bukannya langsung membawanya begitu saja ke dalam kamar tapi ternyata zonk. Ibu seharusnya mengerti bagaimana perempuan itu"


"Tau ah pergi ke kantor kakakmu dan berbicara padanya, lalu minta uang juga padanya. Kita ini butuh hidup kita ini harus punya uang"


"Ga, ga mau Abi nggak mau ya tiba-tiba datang ke kantornya Nizar cuman buat minta uang, mau ditaruh di mana bu wajah Abi ini, lebih baik jual mobil saja lah buat hidup kita sehari-hari. Abi nggak mau harus ngemis-ngemis lagi sama Nizar udah cukup semuanya"


"Kamu ini Abi memang tidak ada gunanya, kamu ini hanya bisa menghabiskan uang saja "teriak ibunya sambil melengos meninggalkan Abi begitu saja.


"Lah kok aku yang disalahin. Padahal ibu selama ini yang selalu habisin uang ibu, yang selalu belanja tas mahal, pakaian belum lagi perhiasan sekarang malah nyalahin aku, di mana salahnya aku"


Abi yang tidak peduli melanjutkan kembali makannya, lebih baik mengisi perut daripada memikirkan ibunya yang marah-marah nanti juga ibunya akan baik-baik lagi. Abi tidak akan pernah mau datang ke kantor Nizar sampai kapanpun. Memalukan sekali sungguh.


Apalagi warisan dari ayahnya sudah habis ya bagian dirinya dan juga ibunya sudah tidak ada, Abi memberikan semuanya pada ibunya dan ibunya sendirilah yang sudah menghabiskannya.


Mungkin inilah kenapa ayahnya memberikan warisan yang sangat besar pada Nizar. Nizar tidak pernah menghabis-habiskan semuanya, bahkan kantor pun malah menjadi makin di atas membuka cabang dimana-mana.

__ADS_1


Tapi tetap saja Abi juga merasa kalau semua ini tidak adil, seharusnya dibagi rata kan dan ibunya yang lah yang paling besar mendapatkan semuanya karena ibunya adalah istrinya.


Tapi malah Nizar yang mendapatkan semuanya, mendapatkan harta yang paling banyak sekali bahkan rumah pun menjadi hak milik Nizar. Abi ini seperti di anak tiri kan saja oleh ayahnya itu.


__ADS_2