
Alina yang baru saja masuk kedalam kamar melihat suaminya yang sedang duduk sambil menatap sesuatu dari ponselnya.
Alina yang penasaran segera mendekatinya, Alina memeluk leher suaminya dan melihat apa yang suaminya sedang lihat. Ternyata itu yang suaminya lihat.
"Hemm, aku kira kamu lihat apa " ucap Alina sambil menatap suaminya.
Alina kaget dan akan melepaskan pelukannya, tapi tangannya dipegang oleh Nizar, Alina kaget suaminya menatapnya begitu dekat sekali.
Nizar mencium pipi Alina dan tersenyum "Aku tidak macam-macam sayang, aku hanya melihat foto pernikahan kita. Lihatlah banyak sekali foto kita ini, aku mau mencetaknya salah satu sayang untuk disimpan ruang tengah"
"Kenapa harus melihat fotonya kan yang aslinya ada, ini aku ada disamping kamu" goda Alina.
Alina langsung melepaskan tangannya saat Nizar lengah, Alina juga tadi mencium pipi Nizar. Ingin tahu saja akan seperti apa respon suaminya itu.
Nizar hanya bisa tersenyum lalu dia bangkit dan mengejar istrinya, mereka berlari-lari dalam kamar.
"Ayo sini tangkap aku "ucap Alina sambil berlari mengitari tempat tidurnya itu, tidak butuh waktu lama untuk Nizar, Alina sudah tertangkap dan mereka terjatuh di tempat tidur.
Tatapan mereka bertemu Alina mengusap wajah suaminya, Alina sudah yakin dengan rumah tangganya ini. Kalau semuanya akan berjalan seterusnya, Alina akan terus bertahan dengan suaminya apapun yang terjadi.
Nizar sendiri makin mendekatkan wajahnya itu ke arah istrinya, dan terjadilah kembali yang sering mereka lakukan di malam hari.
...----------------...
Alina menggoreskan kuasnya ke pakaian Nizar, Nizar yang sedang melukis langsung menatap istrinya.
"Oh jadi ingin perang cat saja nih, tak akan melukisnya "
"Tidak tidak aku tidak mau, tadi tidak sengaja" ucap Alina sambil cengengesan.
Nizar membawa kuasnya lebih dekat ke arah istrinya. Alina makin menjauh, Nizar menangkap kedua tangan istrinya dan ternyata tangan istrinya itu penuh dengan cat. Sebuah kesempatan yang bagus ini untuknya.
__ADS_1
"Ini kesempatanku, kamu juga harus mendapatkannya Alina "jawab Nizar dengan wajah yang tengil.
"Tidak tidak jangan lakukan itu, jangan kamu berikan cat itu padaku. Aku tak mau Nizar "
"Hemm, apa imbalannya kalau aku tidak membalas kamu ? "
"Tidak ada "
Nizar membalikan tubuh istrinya dan memeluknya dari belakang, dengan tangan Alina yang ada di depan wajahnya.
"Tidak jangan lakukan itu, jangan aku tak mau cat ini mengenai wajahku Nizar, tidak "
Tapi kekuatan Alina sangat berbeda dengan Nizar dan akhirnya tangan Alina yang penuh dengan cat itu mengenai wajahnya, setelah membalas apa yang istrinya lakukan Nizar berlari sambil tertawa.
Alina yang tidak terima membawa cat nya langsung dan menyiramkannya ke tubuh suaminya, mereka berdua malah main cat bukannya melukis. Bahkan mereka sampai berbaring di lantai dengan cat yang begitu penuh di badan mereka dan juga pakaiannya.
"Jadinya kita nggak akan melukis nih, catnya sudah habis sayang "
"Hem, iya lukisan yang lumayan berantakan "
Alina tertawa dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Alina memeluknya dengan erat sekali, meskipun hal kecil yang mereka lakukan tapi ini bisa membuat mereka bahagia.
Apalagi Alina, ini untuk pertama kalinya Alina melakukan hal semacam ini. Dulu bersama Amir tidak pernah yang ada hanya bertengkar.
Amir tak suka Alina bekerja, dia maunya Alina selalu ada disampingnya. Sedangkan Amir sendiri juga tak bekerja. Sungguh aneh sekali kan Amir itu.
...----------------...
Amir mengangkat kakinya dengan angkuh, dia memutar-mutar kan kursinya. Amir tertawa dengan suara yang menggelegar akhirnya apa yang dia mau tertuju juga.
Sekarang Amir sudah diangkat oleh atasannya menjadi karyawan yang hanya duduk manis seperti ini, dan di hadapannya hanya ada laptop, dokumen-dokumen dan tidak perlu dirinya bekerja capek lagi seperti kemarin-kemarin.
__ADS_1
Satu lagi, Amir bisa kapan saja menyingkirkan orang-orang yang sudah membuatnya kesal. Lihat saja ada yang membantah kata-katanya akan langsung Amir singkirkan.
"Akhirnya aku mendapatkan jabatan ini, tidak sia-sia juga aku menyingkirkan orang itu aku akan cepat kaya. Aku akan cepat banyak uang, yuhu aku senang sekali "
Amir melempar-lemparkan kertas kosong yang ada di mejanya. Amir benar-benar puas dengan pencapaiannya ini, hidupnya sebentar lagi akan meroket akan menjadi orang kaya.
Amir akan membalas apa saja yang pernah ayahnya Alina lakukan, Amir tidak akan pernah melepaskan ayahnya Alina itu, dia sudah merendahkan dirinya dan menikahkan Alina dengan laki-laki lain padahal jelas-jelas Alina memilikinya.
"Akan aku ambil lagi, akan aku buat ayahnya Alina itu malu didepan banyak orang, lihat saja aku tak pernah main-main dengan kata-kataku ini"
Amir segera keluar dari ruangannya dia akan mengecek orang-orang yang sudah bekerja, kalau saja sampai ada yang lelet dan tidak bekerja akan langsung Amir pecat. Tanpa pesangon sedikitpun.
Amir masuk ke dalam pabrik dengan angkuh, dia juga melipat tangannya dengan wajah menyebalkan. Amir menatap satu persatu orang-orang yang membencinya, sekarang mereka tak bisa mengkritik hidup Amir lagi.
Mereka sekarang ada dibawah Amir, di sini yang berkuasa adalah dirinya. Mereka hanya orang-orang tidak berguna.
"Kerja kerja cepat jangan malas, jika sampai ada yang malas akan langsung aku keluarkan kalian cepat kerja, bereskan dengan cepat, aku tidak mau ada barang yang rusak atau tidak sesuai "
Sepatu pantofel Amir terdengar begitu nyaring di sana, Amir menatap satu persatu karyawati yang ada di sana dan mencolek dagunya.
"Boleh juga cantik juga siapa namanya"
Karyawati itu hanya mundur, Amir yang kesal langsung menarik tangannya "Aku ini bertanya padamu siapa namamu, malah menjauh seperti itu. Aku ini akan banyak uang , tapi aku juga tidak berselera denganmu. Bau mu tak enak sekali rawat dirimu itu "sambil mendorong perempuan itu untung saja tidak jatuh kan.
Amir kembali melangkah dan melihat orang-orang yang fokus, sepertinya hari ini tidak ada target yang harus dia keluarkan Amir akan mencari strategi lagi untuk bisa lebih tinggi lagi jabatannya.
Amir mau menjadi pemimpin disini, Amir ingin lebih bebas lagi dari pada sekarang. Amir kembali lagi ke ruangannya. Mau apa juga lama-lama disini nanti yang ada malah gatal-gatal.
Amir akan mengawasi mereka saja lewat cctv, siapa tahu nanti ada yang membicarakannya, bisa langsung di tendang kan.
"Aku harus menghubungi mamah, pasti Mama akan senang mendengar kabar ini, mama akan mempunyai anak orang kaya. Dan orang-orang dikampung harus tahu juga "
__ADS_1