
Alina terus saja mengibas-ngibaskan tangannya itu ke arah wajahnya, sungguh panas sekali. Suaminya mengajaknya ke Pantai. Alina kira mereka akan berenang mereka akan menghabiskan waktu bermain air atau apapun itu malah diajak memancing apa tidak salah.
Ini benar-benar di luar pikiran Alina, Alina pikir mereka akan bersantai, lalu minum es kelapa muda makan makanan seafood tapi malah diajak memancing seperti ini.
"Nizar ayo pulang, aku sudah sangat kepanasan sekali ayo cepat aku tidak mau ada di sini kulitku bisa hitam. Aku tak mau itu akan sulit lagi nanti, ayo pulang " rengek Alina yang sudah kepanasan sekali dan juga bosan.
Alina mendekati suaminya yang masih fokus saja dengan pancingannya itu, Nizar hanya tersenyum ke arahnya "Nizar aku ini sedang bicara dengan kamu, ayo pulang aku sudah tidak kuat aku ingin cepat-cepat mandi, akan sampai kapan kita ini disini "
"Iya sayang sebentar lagi, sebentar lagi aku masih memancing. Aku masih belum dapat satupun nanti setelah dapat kita akan langsung pulang ya, kita akan bawa pulang juga ikannya sabar ya sayang sebentar lagi tak akan lama aku janji sama kamu "
"Tidak aku mau sekarang, aku mau pulang sekarang saja ini tidak enak. Badanku ini sudah sangat lengket sekali, aku tak kita Nizar "
"Lihatlah lihatlah itu ikannya banyak sayang, ya ampun ikannya banyak sekali "
Alina langsung bersemangat dia menghampiri suaminya dan loncat-loncat "Mana-mana aku ingin melihat mana, aku tidak melihatnya, aku ingin melihatnya, mana Nizar mana aku ingin melihatnya"
"Itu itu yang itu, lihat-lihat itu banyak sekali ikannya, ya ampun kita akan panen Alina "
Alina yang memang tidak melihat pijakan langsung saja terjatuh, Nizar kaget dia langsung menyelamatkan istrinya. Alina sudah kehabisan nafas Nizar menangkapnya dan memeluknya dengan erat.
"Kamu ini membuat aku khawatir tahu, hati-hati kalau apa-apa tuh jangan asal pijak seperti tadi, kamu itu harus lihat dulu bukannya malah seperti itu, kalau kenapa-napa bagaimana "
Alina terbatuk-batuk lalu dia tertawa sambil memeluk leher suaminya "Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja kamu ini gampang sekali untuk aku ajak main main. Kamu saja bisa menipu aku, kenapa aku tak bisa"
"Tidak lucu Alina tidak lucu, aku sangat tidak mau kehilangan kamu jangan lakukan hal ini lagi jangan" Nizar sangat ketakutan sekali kalau sampai kehilangan sang istri, tapi istrinya itu malah tertawa dan makin mempererat pelukannya di lehernya.
...----------------...
__ADS_1
Sore harinya mereka minum teh di atas balkon, dengan musik yang mengalun dengan sangat romantis. Nizar tiba-tiba saja berjongkok sambil menggapai tangan Alina. Alina yang mengerti apa maksud Nizar langsung bangkit dan mereka berdansa, mereka menari bersama-sama mengikuti alunan musik.
"Apakah hidup kita akan terus seperti ini Nizar, apakah kita akan terus bahagia seperti ini"
"Tentu saja, kita akan terus seperti ini, aku akan selalu membuat kamu bahagia"
Alina menggoyangkan tangannya dan mendekati suaminya lagi "Kenapa ya aku belum hamil juga"
"Nanti juga akan hamil"
"Tapi kenapa tidak langsung, kenapa lama sekali "
"Akan ada saatnya nanti juga kamu akan mengandung, mungkin Allah ingin kita bersenang-senang dulu berdua seperti ini, kita nikmati saja dulu yang Allah berikan. Nanti juga kalau sudah saatnya akan diberi sayang "
Alina kembali memeluk leher suaminya "Baiklah aku akan menunggu. Tapi cepat hamili aku ya, aku ingin ada teman saat kamu pergi bekerja "
Nizar langsung menggendong Alina, Alina sampai berteriak karena saking kagetnya suaminya itu langsung menggendongnya dan berlari ke arah kamarnya. Alina hanya tertawa mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang suami, lucu sekali suaminya, padahal Alina tadi hanya pura-pura saja, hanya main-main saja tapi suaminya menganggap semuanya seperti serius.
...----------------...
Nizar memeluk istrinya dari belakang setelah mereka melakukan hubungan yang begitu panas, tadi bahkan keringat mereka sampai bercucuran AC saja tidak terasa dingin.
"Aku berharap kita akan selalu begini Alina, kita akan selalu bersama tanpa ada masalah sedikitpun, mungkin suatu saat akan ada masalah tapi ya bukan masalah besar yang bisa membuat rumah tangga kita hancur. Dan masih bisa kita hadapi sama-sama "
Alina hanya bisa mengganggukan kepalanya. Alina benar-benar lelah menerima setiap gempuran yang suaminya berikan, kadang Alina suka kewalahan tapi Alina juga menikmati semuanya.
"Sayang apa kamu tidur"
__ADS_1
Alina menggelengkan kepalanya "Aku lelah, aku belum tidur baru saja aku mau tidur"
"Baiklah segera tidur ini juga sudah sangat malam sayang"
"Hemm "
Alina hanya bergumam saja dan menutup kedua bola matanya. Alina menikmati pelukan suaminya yang hangat sekali. Alina suka kalau dipeluk dari belakang seperti ini seperti terlindungi saja.
...----------------...
Amir terbangun dari tidurnya dia bermimpi kalau Alina sedang bersenang-senang dengan suaminya. Kalau Alina menerima setiap sentuhan dari suaminya itu, sungguh mimpi yang sangat horor sekali untuk Amir.
Amir mengusap peluh yang membanjiri wajahnya. Amir tidak menyangka kalau dia akan bermimpi seperti ini.
Amir menyalakan lampu utama. Amir melihat sekitar dan keluar dari dalam kamar. Amir butuh udara segar dia tidak bisa terus diam di dalam kamar dan memikirkan mimpinya tadi, yang ada bisa-bisa Amir gila.
Amir mengeluarkan satu batang rokok dan menghisapnya. Amir butuh penenang dan salah satunya adalah rokok yang bisa membuatnya tenang lagi.
"Apa-apaan mimpi itu, kenapa aku harus mimpi yang tidak-tidak. Tidak mungkin Alina mengkhianati, dia itu hanya mencintaiku dari dulu juga dia tidak bisa hidup tanpaku, tidak tidak itu hanyalah sebuah mimpi karena aku dari tadi memikirkan terus Alina dan juga suaminya aku malah jadi seperti ini"
Amir menyedot rokoknya dengan kencang lalu menghembuskannya, dia menatap ke arah sekitar sepi tidak ada yang di luar teman-temannya juga sepertinya sudah tidur semua. Amir melihat tempat dulu dia tinggal, saat masih bersama-sama tidurnya bersama temannya tapi sekarang Amir sudah diberi tempat sendiri.
Amir tidak akan bisa tidur lagi, lebih baik bersantai saja dulu di luar sampai rokoknya ini habis dan pikirannya tenang, firasatnya benar-benar tidak enak apa dirinya harus cepat-cepat menemui Alina tapi dirinya belum bisa kaya.
Orang tuanya Alina masih akan terus menginjak-injak harga dirinya, orang tua Alina malah akan mentertawakannya jabatannya ini belum sebanding dengan suaminya Alina. Dirinya belum sekaya orang tuanya Alina.
Amir harus berjuang mati-matian untuk bisa melebihi mereka semua. Agar Alina bisa dia dapatkan dengan mudah.
__ADS_1