
Rania belum bisa hidup tenang karena dendam pada ayahnya begitu dalam, amarah memuncak jika ingat penghinaan dan penderitaan yang Rania dapatkan beserta ibunya sampai Rania kehilangan ibu tercintanya. Maka itu dendam Rania pada ayah dan keluarga barunya begitu dalam tak bisa terungkapkan oleh kata kata, melainkan harus dengan tangan sendiri dia menghabiskan orang yang membuatnya menderita apa lagi menyangkut ibu tercintanya.
Malam hari udara sangat dingin mencekam, Rania memantau keadaan rumah ayahnya.
"Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menakut nakuti mereka, tunggu pembalasanku keluarga Dirgantara." kata Emeli.
Lalu Emeli berjalan dalam kegelapan malam, dia mematikan skring lampu keluarga Kertajasa ayah Emeli.
"Loh kok mati lampu sih." kata Alexa.
"Iya nih mi Aleta takut nih, mana Gelap lagi." kata Aleta ketakutan.
"Mbok nah....mbok nah.....kok mati lampu sih mbok." teriak Alexa.
"Iya nih nyonya mau mbok cek dulu." kata mbok Nah.
"Oh...ternyata skring lampunya turun nyonya." kata mbok Nah sambil menyalakan skring lampu.
"Oh kirain dari PLN nya mati lampu." kata Alexa
Lalu Alexa masuk ke kamar tiba tiba dia berteriak ada tulisan di meja riasnya. bertulis;
"Darah dibalas dengan darah.....airmata dibalas dengan airmata.....penderitaan dibalas dengan penderitaan, maka itu kau harus menderita sebelum kematian datang menjemputmu." Emeli menulis pesan dengan cat merah yang terlihat seperti darah di kaca rias Alexa.
Alexa menutup matanya dengan kedua tangannya Alexa. Mbok Nah, pak Dirga, pak Andreas, pak Oji, pak Darwin, dan mbak Sitha. Supir, pembantu, satpam, dan tukang kebun menghampiri nyonya Alexa di kamarnya karena mendengar teriakan Alexa. Mereka melihat tulisan ancaman untuk Alexa.
"Mi.....kenapa sih mi." tanya Alexa.
"I....itu lihat." kata Alexa ketakutan dan memeluk Aleta
"Mi siapa yang melakukan itu mi." tanya Alexa.
"Mami juga tidak tahu Aleta, tiba tiba pas lampu menyala sudah ada tulisan itu. Mami takut Aleta, mami takut." kata Alexa ketakutan.
"Tenang ya mi tenang." kata Aleta menenangkan.
Emeli senang sekali melihat Aleta ketakutan.
"Ini baru awal pelakor, tunggu teror selanjutnya. Anda akan mati dalam ketakutan. hahahaha....." Emeli tertawa lalu menghilang dalam kegelapan malam.
Aleta membaringkan Alexa ke tempat tidur, karena Aleta masih syok akan kejadian barusan.
"Mi yang tenang ya, kan ada Aleta mi." kata Aleta
"Kamu temanin mami ya, karena papi kan masih dinas di luar kota mami takut Aleta." kata Alexa.
"Iya mi, Aleta akan menemani mami di sini." kata Aleta.
"Nyonya, saya ambilkan minum dulu ya nya." kata bi Nah.
"Iya bi." kata Aleta.
"Pak Dirga apa kamu lihat ada orang mencurigakan masuk ke rumah." tanya Aleta.
"Tidak ada nyonya." kata pak Dirga.
"Kok bisa sih, kamu kan keamanan di sini pak Dirga kok bisa tidak melihat orang mencurigakan masuk ke rumah. Kerjaan kamu apa saja. Ngegosip." kata Aleta kesal.
"Ma....maaf non." kata Dirga sambil menundukkan kepalanya tanda penyesalan.
"Ah.....ya sudah sekarang pak Dirga, tolong cek semua pintu. Kunci jangan sampai ada yang ketinggalan, mas Oji.....tolong bantu pak Dirga takut ada yang ketinggalan. Pak Andreas tolong cek semua jendela jangan ada yang ke buka, dan mas Darwin tolong bantu pak Andreas." perintah Aleta.
"Baik non Aleta." jawab pak Dirga, pak Andreas, mas Oji, dan mas Darwin berbarengan.
"Aleta mami takut Aleta mami takut." kata Alexa.
"Tenang ya mi, semua akan baik baik saja. Nah sekarang mami bobo ya biar Aleta temanin." kata Aleta sambil memegang tangannya.
"Iya Aleta, Aleta jangan ke mana mana ya." kata Alexa.
"Iya mi Aleta ada di sini kok mi temani mami bobo." kata Aleta.
Di ruang rias Emeli memajang foto Alexa.
"Sekarang giliran anda pelakor, malam ini selamat mimpi buruk. hahahaha.....(tertawa sambil menancapkan panah ke foto Alexa). Aku akan membuat kamu mati ketakutan tante Alexa karena rasa sakit ibu aku, itu semua karena kamu yang sudah mengambil suami dari ibuku. Jadi aku tidak akan membiarkan tante Alexa hidup bahagia bersama pak Ronald di atas penderitaanku." kata Emeli matanya memancarkan api dendam yang membara.
Mengambil kertas lalu meremasnya.
"Seperti kertas ini jika di remas dia tidak akan kembali utuh begitu juga dengan hati aku yang hancur karena ulah keluarga Kertajasa, apa lagi ayahku sendiri tega membiarkan ibu meninggal dalam kesakitan, tidak ada hati dan tidak punya perasaan ayahku sendiri meninggalkan ibu yang terluka parah padahal aku sudah memohon untuk membawanya ke rumah sakit. Aku akan buat kalian hancur. aaaghhhh.....(teriak). Pak Ronald, tante Alexa, Aleta kalian harus mati dengan tanganku sendiri." Lanjut Emeli menggema terdengar suara gledek.
Lalu bi Nah datang membawa minuman.
"Ini nyonya minumannya." kata bi Nah.
"Terima kasih bi." kata Alexa meminum air dari bi Nah tapi halusinasi air yang bi Nah buat dikira darah dan gelasnya dilempar hingga pecah.
"Kenapa mi." tanya Aleta.
"I....itu darah." Jawab Aleta ketakutan.
"Darah (bingung). itu air teh mi bukan darah mi." kata Aleta.
"Tapi itu darah Aleta itu darah." kata Alexa tampak ketakutan.
"Bukan mi, ya sudah mami tenangkan diri dulu. bi tolong rapikan ya bi." kata Aleta.
"Baik non." kata Bi Nah.
"Ayo mi sekarang bobo ya." Pinta Aleta.
Akhirnya maminya memejamkan mata, dan dia di bayangkan rasa takut karena teror dari Emeli.
Alexa mimpi di kejar kejar perempuan bertopeng membawa parang, Alexa kaget dan terbangun dari tidurnya, Alexa tampak ngos ngosan karena ketakutan.
"Aaaghhh......" teriak Alexa
"Kenapa mi." tanya Aleta terbangun.
"Mami mimpi di kejar, perempuan membawa parang Aleta." jawab Alexa.
"Itu kan cuma mimpi mi, ayo mami tidur lagi ya. mungkin mami terbawa mimpi karena tulisan itu, jadi mami tidak usah pikirin ya mi. Ya sudah Aleta matiin lampu ya mi." kata Aleta.
"Ja....jangan biarkan saja lampunya nyala. Mami takut Aleta, mami sangat takut sekali kalau dimatikan lampunya Aleta." kata Alexa.
"Ya sudah kalau gitu mi, Aleta tidak akan matikan lampunya. Nah sekarang mamiku tersayang ayo tidur mi...." jawab Aleta.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu keluarga Kertajasa selalu mendapatkan teror yang aneh aneh, tapi hanya Alexa yang merasakan teror yang sangat menakutkan yang membuat jantung Alexa hampir copot.
Alexa sangat ketakutan karena kejadian aneh akhir akhir ini, pas Alexa mau bobo. Dia melihat sekelilingnya tiba tiba ada sekelebat bayangan hitam yang lewat di jendela kamarnya.
__ADS_1
"Aaaghhhh...." teriak Alexa ketakutan langsung menutup selimutnya. Tapi Alexa penasaran dengan bayangan hitam itu. Alexa pun mulai mengintip dari kamarnya, tapi tiba tiba ada bayangan hitam memegang pisau tepat di jendela kamarnya dan terdengar suara aneh;
"Kamu pelakor.....kamu harus mati di tanganku hahahaha......" kata kata itu terulang berkali kali.
"Aaaghhhh....tolong jangan bunuh saya, jangan bunuh saya. Saya tidak mau mati. Pergi kamu pergi jangan ganggu hidupku pergi." kata Alexa ketakutan dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, tiba tiba Aleta masuk tanpa terdengar suara pintu dan memegang maminya yang sedang ketakutan.
"Mi ini Aleta mi, ini Aleta mami." kata Aleta
"Tolong jangan bunuh saya, saya belum mau mati, tolong jangan bunuh saya." kata Alexa yang histeris.
"Mi ini Aleta." kata Aleta sambil menarik selimutnya dan Alexa memeluk Aleta dengan sangat erat.
"Aleta, mami takut Aleta. Mami takut, tadi ada orang berjubah hitam di depan jendela kamar mami." kata Alexa sambil menunjuk ke jendela.
"Mana sih mi, mana." kata Aleta yang langsung bangun dari tempat tidur maminya dan melihat keluar jendela, ternyata tidak ada apa-apa.
"Tuh kan mi, tidak ada siapa-siapa." kata Aleta.
"Tapi, tadi....." kata Alexa sebelum dilanjutkan kata-katanya Aleta memotong.
"Mungkin mami mimpi buruk lagi, sudah sekarang mami bobo ya." kata Aleta sambil menyelimuti maminya.
"Tapi mami takut Aleta." kata Alexa.
"Mami jangan takut Aleta ada di sini kok menemani mami. Nah......sekarang mami bobo ya." kata Aleta menenangkan.
"Iya, benar ya. Aleta di sini temani mami jangan tinggalkan mami ya Aleta." kata Alexa.
"Iya mami Aleta janji, Aleta akan menemani mami sampai mami tertidur pulas. Ya sudah mami bobo ya." kata Aleta tersenyum yang duduk di sebelah Aleta.
"Ya Tuhan, kasihan mamiku jadi seperti ini. Dia di teror seseorang dan jiwanya jadi tidak tenang seperti ini. Sebenarnya siapa sih peneror itu." batin Aleta bingung.
Aleta sangat khawatir oleh mental maminya yang terganggu, karena teror untuk keluarganya. Dan Aleta penasaran siapakah orangnya yang sudah meneror keluarga Kertajasa hingga maminya sangat ketakutan sekali.
Pagi hari Alexa terbangun dari tidurnya, dia ke dapur dan memanggil mbok Nah untuk dibuatkan susu hangat untuk Alexa dan Aleta. Tapi mbok Nah lagi memasak dan memegang pisau, Alexa pun berhalusinasi kalau mbok Nah itu si peneror itu.
"Mbok.....tolong buatkan susu hangat untuk aku dan Aleta ya." kata Alexa.
"Baik nyonya." jawab mbok Nah berbalik badan dengan memegang pisau dapur.
Kemudian Alexa berteriak dan Aleta pun datang menenangkan Alexa.
"Aaaghhhhhh......" teriak Alexa menutup matanya.
"Mami.....mami kenapa mi." tanya Aleta.
"Mbok Nah kaget dan langsung menaruh pisau itu di meja dapur.
"I.....itu tadi." kata Alexa yang langsung melihat sekelilingnya.
"Tadi.....tadi kenapa mi." tanya Aleta.
"Maaf nyonya tadi saya mengagetkan nyonya." kata mbok Nah.
"Mengagetkan apa sih mbok." tanya Aleta.
"Iya tadi pas nyonya menyuruh mbok, mbok lagi memegang pisau daging karena mbok kan lagi memotong daging." jawab mbok Nah.
"Ya sudah mbok lain kali kalau mami menyuruh mbok, kalau lagi memegang pisau tolong pisaunya ditaruh dulu ya mbok. Soalnya mami masih trauma karena akhir akhri ini lagi ada yang meneror mami." kata Aleta yang memeluk Alexa.
"Ba....baik non. Sekali lagi mbok minta maaf." kata mbok Nah menyesal.
"Iya mbok. Ya sudah mi kita ke meja makan yuk mi (memegang pundak mamanya pelan dan menuntunnya ke meja makan), mbok jangan lupa susu hangatnya ya." kata Aleta.
"Mami tenang dulu ya mi di sini." kata Aleta menyuruh duduk di kursi makan.
"Tapi Aleta, mama takut sekali. Teror itu terus menghantui mami. Hidup mami jadi tidak tenang begini." kata Alexa sedih.
"Mami tenang ya mi, mami jangan takut lagi. Aleta sedih mi melihat mami seperti ini. Sekarang kita sarapan dulu yuk mi." kata Aleta kemudian mboh Nah mengantarkan susu putih ke meja makan.
Setelah selesai sarapan Aleta membawa Alexa ke kamarnya, kemudian Alexa pun pamit kepada maminya untuk ke kampus.
"Mi.....mami istirahat ya mi, kalau ada apa apa panggil mbok Nah saja ya mi, atau mbak Sitha. Aleta mau berangkat dulu ke kampus." kata Aleta.
"Iya sayang, kamu hati hati ya di jalan." kata Alexa yang mengelus rambut Aleta.
"Iya ma." kata Aleta tersenyum manis.
Setelah kepergian Aleta ke kampus, ada paket dari orang tak di kenal karena tak tercantum namanya.
"Nyonya ada paket untuk nyonya." kata Sitha yang masuk ke kamar Alexa.
"Dari siapa Sit." tanya Alexa.
"Entahlah nyonya, saya juga tidak tahu soalnya tidak ada nama pengirimnya." kata Sitha.
"Oh ya sudah, terima kasih ya Sit." kata Alexa.
"Iya nyonya." kata Sitha yang langsung keluar dari kamar Alexa.
Alexa pun membuka bungkus paket itu dan Alexa berteriak.
"Aaaghhhh....." teriak Alexa.
Sitha yang mendengar teriakkan Alexa pun kembali ke kamarnya.
"Ada apa nyonya." tanya Sitha panik.
"Li.....lihat itu.....lihat itu." kata Alexa menunjuk bungkus paket yang sudah terbuka jatuh di lantai.
Sitha mengambil kotak yang dibuang oleh Alexa, ternyata pas dibuka itu adalah foto keluarga Kertajasa dan wajah Alexa dalam foto itu yang tercorat coret oleh lipstik merah menyerupai darah lalu ada tulisannya "Kamu harus mati. Kehancuran untuk keluarga Kertajasa hahahahaha......." tulisan dibelakang foto itu. Emeli mendapatkan foto itu saat lampu mati, dia mencurinya dari album foto yang sampai sekarang belum disadari kalau salah satu foto keluarga Kertajasa telah hilang.
"Ya Tuhan......" kata Sitha kaget.
"Si.....siapa yang ngirim foto itu siapa." teriak Alexa marah.
"Maaf nyonya saya juga tidak tahu nyonya." kata Sitha panik.
"Buang foto itu buang, saya tidak mau melihat foto itu lagi berada di sini." kata Alexa yang ketakutan.
"Ba.....baik nyonya." kata Sitha.
Sitha pun bingung sambil memegang megang foto keluarga Kertajasa, yang telah di corat coret.
"Sebenarnya siapa sih, yang sedang meneror keluarga Kertajasa ya." kata Sitha bingung.
"Sitha ada apa, kenapa tadi nyonya Alexa berteriak." tanya mbok Nah.
"Ini loh mbok, ada yang mengirim foto ini tapi fotonya sudah tercorat coret. Sitha juga bingung siapa yang sebenarnya mengirim foto ini ya, karena tak ada nama pengirimnya." kata Sitha bingung.
Mbok Nah melihat foto yang dikasih Sitha, dan kaget melihat foto yang telah di coret corer ada kata kata ancaman juga buat keluarga Kertajasa.
__ADS_1
"Ya Tuhan, seram banget ya. Kenapa ya akhir akhir ini keluarga Kertajasa ada yang meneror ya." tanya mbok Nah bingung.
"Sitha juga tidak tahu mbok. Mungkin ada orang yang pernah tersakiti oleh keluarga Kertajasa dan berniat balas dendam." kata Sitha menerka nerka.
"Hem....mungkin juga ya Sit." kata mbok Nah.
Aleta pun di kampus hatinya tak tenang dan terus memikirkan maminya. Lalu tiba tiba Alexa menelepon Aleta.
"Hallo mi, ada apa." tanya Aleta sewaktu Aleta mengangkat telepon dari Alexa.
"Sayang mami takut sayang mami takut, ta....tadi ada yang mengirim paket tapi setelah mami buka, isi paket dalam kotak itu adalah foto keluarga kita Aleta yang sudah tercorat coret, terus di belakangnya ada tulisan ancaman gitu.....mami takut Aleta mami takut." kata Alexa ketakutan.
"Apa mi (kaget). Mami yang tenang ya Aleta segera pulang, tapi Aleta mau izin dulu ya mi." kata Aleta yang khawatir sama maminya.
"I.....iya Aleta iya." kata Aleta.
"Guys.....aku mau izin pulang ke rumah dulu ya." kata Aleta.
"Kamu mau izin memangnya ada apa." tanya Monik.
"Ada yang meneror mami aku lagi." jawab Aleta.
"Teror....teror apa sih Aleta." tanya Vero.
"Iya, tadi kata mami aku ada yang mengirim paket. Dan ternyata isi paket itu adalah foto keluarga aku yang sudah tercorat coret dan ada kata ancamannya juga." kata Aleta.
"Astaga seram amat ya Aleta." kata Monik.
"Iya makanya aku harus segera pulang, karena mami aku lagi butuh aku di sampingnya." kata Aleta.
"Oh ya sudah cepatan deh sana izin sama bu Tamara." kata Vero.
"Iya oke....bye teman teman." kata Aleta.
"Bye Aleta.....hati hati kamu di jalan." kata Monik dan Vero serentak.
"Oke." jawab Aleta.
Setelah izin sama bu Tamara, Aleta pun segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Aleta sangat tampak khawatir sekali dengan maminya.
"Non Aleta, sudah pulang." tanya Sitha.
"Iya mbak tadi mami telepon katanya ada yang mengirim paket foto keluarga Kertajasa terus ada kata kata ancaman juga ya." tanya Aleta panik.
"Iya non, tadi nyonya suruh Sitha untuk buang foto itu." jawab Sitha.
"Apa dibuang, kamu buang di mana. Apa masih ada foto itu." tanya Aleta.
"Iya non masih, Sitha buang di tempat sampah. Belum ada yang ngambil sampahnya kok non." kata Sitha.
"Oh ya sudah, kamu ambil saya mau lihat foto itu." kata Aleta.
"Baik non." kata Sitha yang segera ke tempat sampah dan mengambil foto yang dibuang Sitha.
"Ini non." kata Sitha yang segera memberi foto ke Aleta.
"Astaga.....ini seram banget mbak. Kalau gitu simpan foto ini, jangan kamu buang ya. Aku mau kasih tahu ke papi kalau sudah pulang dari luar kota." kata Aleta.
"Baik non." kata Sitha.
Aleta segera ke kamar Alexa. Dan Alexa memeluk Aleta ketakutan.
"Aleta....Mami takut sayang mami takut." kata Alexa memeluk Aleta menangis.
"Mami tenang dulu ya mi.....mami tenang." kata Aleta menenangkan.
Lalu Ronald pun datang dari luar kota, terdengar suara mobil Ronald.
"Mami itu papi pulang, ayo kita ke bawah mi samperin papi." kata Aleta.
"Iya ayo sayang." kata Alexa, lalu Alexa menuntun maminya yang masih syok biar tidak terjatuh.
Ronald pun masuk ke dalam rumah.
"Hallo anak kesayangan papi, dan istri tercintaku. Papi kangen banget sama kalian sayang." kata Ronald yang segera memeluk Aleta dan Alexa.
"Aleta kenapa mami kamu, sepertinya dia sangat ketakutan sekali." kata Ronald.
"Iya pi, mami memang lagi sangat ketakutan sekali." kata Aleta.
"Ketakutan....ketakutan kenapa." tanya Ronald.
"Iya pi, akhir akhir ini ada yang meneror keluarga kita." kata Aleta.
"Meneror.....meneror apa Aleta." tanya Ronald.
"Kemarin pi ada yang menulis di kaca tentang ancaman ke mami, terus tadi ada yang mengirim paket berisi foto keluarga kita yang tercorat coret dan ada tulisan di situ pi." kata Aleta.
"Foto keluarga kita." tanya Ronald.
"Iya pi foto keluarga kita, Sitha tolong ambilkan foto yang tadi dikirim oleh si peneror. "kata Aleta.
"Baik non." kata Sitha.
Sitha lalu mengambilkan foto keluarga Kertajasa, yang sudah tercorat coret oleh si peneror dan memberikan kepada Aleta.
"Ini non." kata Sitha memberikan foto yang sudah tercorat coret.
"Iya terima kasih Sitha. Ini pi." kata Aleta sambil memberikan foto yang diberikan Sitha.
Ronald mengambil foto itu dan kaget melihat foto keluarga Kertajasa sudah tercorat coret.
"Berengsek, siapa yang sudah mengirimkan foto ini. Dan dari mana orang itu bisa mendapatkan foto ini." kata Ronald kesal.
"Alexa juga tidak tahu pi dari mana si peneror itu mendapatkan foto keluarga kita, yang jelas ini bisa membahayakan kita pi. Karena ini berisikan ancaman dan mungkin ada yang ingin balas dendam pada keluarga kita pi." kata Aleta.
"Kalian tenang saja, papi akan perintahkan anak buah papi untuk mencari tahu siapa peneror itu yang sudah berani meneror keluarga kita." kata Ronald.
"Iya pi." jawab Aleta
"Sekarang bawa mami kamu ke kamar. Biar bisa lebih tenang."
"Iya pi." kata Aleta.
"Sayang kamu istirahat di kamar dulu ya, biar kamu bisa lebih tenang." kata Ronald.
"Baik mas." kata Alexa lemas tak berdaya.
"Ayo bu." ajak Aleta.
Ronald pun menelepon Oscar tapi nomernya tak bisa dihubungi, lalu dia pun menelepon Rifal tapi nomernya pun tak bisa dihubungi.
"Aduh ke mana sih tuh Oscar dan Rifal, kenapa nomernya tidak bisa dihubungi." kata Ronald kesal.
__ADS_1
Ronald pun bingung karena akhir akhir ini ada yang meneror keluarganya, Padahal Ronald merasa tak punya musuh. Ronald juga bingung karena kedua anak buah kepercayaannya tak ada yang bisa dihubungi. Sementara itu Alexa masih takut dengan teror yang sering terjadi akhir akhir ini. Hidup Aleta pun tak tenang, karena setiap ada teror yang datang Aleta selalu di telepon maminya untuk pulang segera ke rumah, padahal masih ada pelajaran di kampus karena papinya sering dinas keluar kota mau pun luar negri.
* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘