
Di pagi hari yang indah, matahari juga tak begitu panas. Kesejukkan menyelimuti hati, dengan senyum dan keceriaan yang menghiasi pagi hari nan indah. Emeli pergi ke kampusnya, dia menjemput Salsa.
"Pagi Salsa." kata Emeli sambil tersenyum.
"Pagi juga Emeli." balas Salsa sambil tersenyum.
"Hari ini begitu indah ya." kata Emeli dengan keceriaan yang sudah lama hilang kini kembali lagi.
"Iya, seindah senyummu Emeli, seperti kamu tampak bahagia. Pasti karena kamu baru jadian ya kemarin. Jadi wajahmu berbunga bunga." goda Salsa dengan tersenyum manis.
"Apaan sih, pagi pagi sudah godain aku deh." kata Emeli tersipu malu.
"Tapi benar kan Emeli." kata Salsa sambil melirik Emeli dengan tersenyum.
"Iya.....iya aku ngaku Salsa, aku memang sangat bahagia banget sudah jadian kemarin sama kak Bima. Entah kenapa ya kalau aku dekat dia itu terasa nyaman banget, terus bahagia sekali. Pokoknya dia mengembalikan keceriaan aku yang telah lama pudar karena playboy Gerry." kata Emeli yang tersenyum manis pada Salsa.
"Tuh, kan ciye ciye Emeli (melihat Salsa tersenyum. Emeli aku dukung kok kalau kamu sama kak Bima sepertinya kak Bima itu laki laki yang baik, dia juga tulus sama kamu." kata Salsa.
"Iya terima kasih ya sahabatku yang cantik (megang tangan Salsa) aku doain semoga kamu juga akan selalu bahagia dan menemukan penggantinya Gantha yang terima kamu apa adanya." kata Salsa tersenyum.
"Tapi apa ada ya, yang mau terima aku apa adanya (sedih) sementara aku lagi hamil tanpa seorang suami." kata Salsa menunduk sedih.
"Hai Salsa, dengar aku ya (sambil menaikkan kepala Salsa) laki laki yang baik pasti akan menerima kamu apa adanya juga anak kamu. Aku yakin kok seyakin yakinnya kalau kamu pasti menemukan cinta sejati kamu (tersenyum) ya sudah kita ke kampus yuk nanti telat lagi. Sudah ya Salsa cantik jangan sedih lagi." kata Emeli tersenyun menenangkan Salsa.
"Oke princess yang lagi folling in love." kata Salsa tertawa.
Sesampainya di kampus Monik, Aleta, dan Vero menghilangkan moodnya Emeli. Vero menyengkat kaki Emeli hingga terjatuh. Monik, Aleta, dan Vero tertawa puas.
"Ups.....maaf, aku tidak sengaja. Makanya kalau jalan tuh lihat lihat ke depan jangan ke bawah terus. Emangnya ada duit ya di bawah hahahaha......" ledek Vero sambil tertawa.
"Eh.....Vero kamu sengaja ya nyengkat aku." bentak Emeli kesal.
"Loh....loh......loh.....kok kamu jadi nuduh aku sih Emeli, jelas jelas kamu yang jalannya meleng, eh malah kamu nuduh aku nyengkat kamu." kata Vero tidak mau kalah.
"Kamu tuh ya benar benar." kata Emeli kesal.
"Apa." kata Vero sambil memasang badan menantang Emeli.
Emeli lagi mendorong Vero hingga terjatuh ke lantai.
"Aduh." teriak Vero.
"Vero kamu tidak apa apa." kata Aleta dan Monik serentak membangunkan Vero.
"Dengar ya Vero, sehari aja kamu tidak buat masalah sama aku memangnya tidak bisa ya. Apa salah aku sama kamu hah.....Apa aku pernah mengusik kamu Vero. Tidak kan tapi kamu malah bersikap kaya gini terus sama aku juga kamu Monik Dan Aleta, kenapa jahat sama aku hah....." kata Emeli emosi tinggi.
"Eh, kamu harusnya nyadar dong kamu udah menghancurkan kebahagiaan teman kita Monik waktu itu." kata Aleta marah.
"Oh ya, siapa yang menghancurkan kebahagiaan. Aku atau Monik hah....Eh Monik kamu yang merebut kebahagiaan aku. Bukan aku yang merebut kebahagiaan kamu, seharusnya kamu ngaca dong Monik jangan bisanya menyalahkan orang lain saja. Aku peringatin ya sama kalian bertiga Kalian jangan coba coba membangunkan singa yang lagi lapar, karena itu akan membahayakan kalian. Paham." kata Emeli penuh emosi.
"Kamu kan Emeli bukan singa hahahaha..... (tertawa) kamu bisa apa sama kita. Di bully aja kamu tidak bisa melawan apa lagi nyakitin kita hahahaha......" kata Vero tertawa.
"Eh....dengar ya Emeli aku tidak pernah salah, jadi kamu ya harus di salahkan atas hilangnya Gerry. kamu kan cuma gadis kampungan, gadis cupu yang sok berubah menjadi gadis cantik padahal ibarat kucing. Kamu ini hanya kucing kampung jadi kucing kampung tidak akan pernah bisa menjadi kucing import meski di dandanin seperti apa pun tidak seperti aku yang dasarnya sudah cantik dan kaya." kata Monik sombong.
"Harta hasil merampas hak orang lain aja bangga kamu Monik." kata Emeli kelepasan bicara hingga Salsa ketakutan.
"Maksud kamu apa Emeli." kata Monik kaget mendengar ucapan Emeli.
"Sudah Emeli ayo jangan ngeladenin mereka." kata Salsa sambil memegang pundak Salsa.
"Eh kucing kampung kenapa kamu takut hah.....dengar ya kalau aku tidak akan pernah takut sama kucing kampung seperti kamu yang tidak bisa apa apa. Kamu itu hanya wanita lemah Emeli, kamu itu tidak sekuat kita. Jadi jangan sok ngancam ngancamlah karena pasti kamu yang akan kalah." kata Vero menyombongkan diri.
"Bentar Sal kita lihat aja nanti, siapa yang akan bertahan kamu atau aku." kata Emeli yang langsung pergi.
"Eh.....maksud kamu apa Emeli sini coba jelasin sama aku siapa yang merampas harta orang lain." teriak Monik penasaran.
"Ya, jelas akulah. Aku lebih segalanya dari kamu kucing kampung. Kamu tidak akan bisa mampu melawan aku apa lagi kalau kita sudah bersatu akan menjadi lebih kuat hahahaha......" kata Vero tertawa menyombongkan diri, Emeli melihat ke belakang.
"Kamu sudah menantang aku Vero. Tunggu saja aku akan menjemput kematian kamu Vero." batin Emeli memancarkan mata yang penuh dendam.
Di rumah Vero sangatlah sepi karena orang tua Vero lagi pulang kampung karena neneknya Vero ibu dari Yunita meninggal karena sakit, Vero di tinggal sendiri di rumahnya karena kuliahnya tidak libur. Padahal Vero ingin sekali ikut ke kampungnya tapi papanya melarangnya karena alasan takut ketinggalan pelajaran, orang tuanya Vero juga ke sana hanya menghadiri pemakaman neneknya saja dan menjemput saudara kembar Vero setelah itu pulang lagi ke jakarta. Di saat Vero lagi mengerjakan tugas kuliah, angin berhembus sangat kencang dan membuka jendela kamar Vero, tiba tiba ada burung gagak yang hinggap di jendela rumahnya. Vero pun kaget.
"Burung gagak....(ketakutan) kok bisa ada burung gagak di rumahku pertanda apa ini ya." kata Vero yang langsung menelepon Aleta.
"Hallo Aleta, aku takut nih masa tiba tiba ada burung gagak tadi hinggap di jendela aku. Katanya orang orang kalau ada burung gagak itu pertanda buruk." kata Vero ketakutan, Aleta yang mendengar cerita Vero justru ketawa.
"Hahahaha.....(tertawa) Vero....Vero mitos aja di percaya. Sudah jangan percaya, aku yakin kok tidak akan terjadi apa apa sama kamu." kata Aleta sambil tertawa.
"Tapi aku takut Aleta." kata Vero ketakutan.
"huahhh.....(mengantuk), sudah yah Vero. Aku ngantuk, aku mau bobo dulu. Sampai ketemu besok di kampus." kata Aleta yang langsung menutup hpnya.
"Ha.....hallo Aleta. Aleta (cemas) yah kok di matiin sih teleponnya. Aduh gimana ya, Oh iya telepon Vanessa aja." kata Vero yang langsung menelepon Vanessa.
"Iya hallo Vero, ada apa. Huahhh.....(ngantuk terbangun karena dengar suara hpnya bunyi lalu mengangkat teleponnya) kok malam malam telepon aku sih masih ngantuk nih." kata Vanessa yang matanya masih merem tapi sempet melihat itu telepon dari Vero.
"Vanessa....Vanessa.....tolongin aku.....aku takut Van (ketakutan sedih melirik kanan kiri) aku takut." kata Vero yang menangis karena ketakutan.
"Udah jangan menangis, emangnya kamu takut kenapa sih Ver." tanya Vanessa yang masih dalam keadaan mengantuk.
"Tadi tiba tiba di kamar aku ada burung gagak hinggap di jendela aku. Aku takut Vanessa Itu kan pertanda kalau akan ada kematian." kata Vero cemas.
"Apa.....(kaget) jadi kamu telepon malam malam cuma mau ngomong hal enggak penting kayak gitu doang (kesel) aduh Vero aku masih ngantuk nih. Mending kamu bobo ya, besok pagi kita kan ke kampus lagi. Udah ya, bye Vero." kata Vanessa yang langsung menutup hpnya dan kembali tidur.
"Ha....Hallo Van....Vanessa (cemas) aduh gimana nih, aku takut banget masa enggak ada sih yang percaya dengan perkataanku (perlahan lahan duduk di tempat tidurnya dan melihat sekitarnya, tiba tiba ada yang mematikan skring lampu rumah Vero dan rumah menjadi gelap gulita) yah, kok pakai mati lampu sih. Aduh gimana nih aku takut banget. Malah gelap lagi." kata Vero menangis ketakutan.
Sementara itu Livya terus menangis karena hilangnya Gantha yang tak kunjung kembali.
"Kak Gantha, sebenarnya kamu di mana sih. Aku merindukan kamu kak (menangis) ini semua gara gara kak Salsa, aku akan balas dia. Awas kamu kak Salsa. Tunggu pembalasanku." kata Livya pancarkan mata yang penuh dendam.
Emeli memasukki rumah Vero dengan membawa parang dan berbunyi di lantainya. Vero sangat ketakutan sekali.
__ADS_1
"Ah, i....itu siapa. Sepertinya ada yang masuk ke rumah aku." kata Vero.
Lalu Emeli membuka pintu kamar Vero dengan lilin, Vero langsung ngumpet di bawah tempat tidur. Emeli terus mencari dan mencari keberadaan Vero, Vero semakin ketakutan sekali dan tiba tiba Emeli mengetahui keberadaan Vero di bawah tempat tidur dengan satu lilin Emeli melongo ke bawah tempat tidur.
"Hai Vero." kata Emeli mengagetkan.
"E.....Emeli." kata Vero yang kaget.
"Iya ini aku masih ingat kah tantangan kamu tadi pagi. Katanya kamu enggak takut sama aku, kalau enggak takut silahkan buktikan kenapa malah sembunyi di kolong tempat tidur hahahahaha......" kata Emeli tertawa yang memakai sarung tangan.
"Aku emang enggak takut sama kamu Emeli, karena kamu cuma kucing kampung." kata Vero yang kemudian keluar dari kolong tempat tidur.
"Oh ya kok kalau enggak takut kamu berada di kolong tempat tidur pengecut." kata Emeli.
"Aku kira kamu itu maling atau perampok yang mau ngerampok rumahku. Kalau cuma kamu heh.....kenapa aku harus ngumpet." kata Vero.
"Jadi kamu yakin Vero enggak takut sama aku." kata Emeli yang mendekati Vero lalu mendorongnya hingga terjatuh kelantai dan Emeli mendekati Vero lagi dan bicara pada Vero.
"Aaawwww....." teriak Vero.
"Sekarang aku akan jujur sama kamu Vero biar kamu enggak penasaran lagi sebelum kematian menjemput kamu Vero. Hilangnya Gerry, Gantha, dan Joey itu semua karena ulah aku termasuk kematiannya Amanda." kata Emeli.
"Ulah kamu ma.....maksud kamu apa?" tanya Vero.
"Aku yang menculik mereka, dan Aku mutilasi lalu ginjal, hati, dan jantungnya aku pajang di aquarium rumahku lalu mayatnya aku kasih makanan buaya peliharaan aku." kata Emeli tersenyum.
"Apa (kaget) jadi ka....kamu yang yang menyebabkan mereka hilang tanpa kabar." kata Vero yang masih terkejut.
"Yupz.....benar sekali Veronica Pratama aku yang menyebabkan mereka hilang tanpa kabar. Dan aku yang menculik Gerry pas pesta topeng, lalu aku kirim chat ke Vanessa biar Vanessa percaya kalau Gerry pulang karena enggak enak badan (melihat Vero yang terdiam) kenapa kamu kaget kalau wanita yang kamu anggap lemah aslinya ternyata seorang psikopat. Terus Amanda, dia bukan mati karena bunuh diri tapi Amanda mati karena aku. Dia niat menculik aku dan membunuh aku tapi ternyata dia yang mati terbunuh.(tertawa) dan sekarang giliran kamu Vero." kata Emeli sambil menunjuk Vero.
"Jangan.....jangan.....jangan bunuh aku Emeli, aku enggak mau mati. Ternyata aku salah kamu enggak selemah yang aku kira Emeli, aku mohon maafkan aku Emeli." pinta Vero yang terbangun dan berlari, Emeli mengejarnya menggunakan parang.
"Hahahahaha.......(tertawa) kenapa nyali kamu ciut Vero bukankah tadi pagi kamu sombong banget menantang aku." kata Emeli.
"Iya aku pikir kamu hanya wanita lemah ternyata kamu tidak lebih dari seorang wanita psikopat. Tolong maafin aku Emeli jangan bunuh aku, aku enggak mau mati muda Emeli." kata Vero memelas yang berlutut di kaki Emeli minta di lepaskan tapi Emeli malah mendorong Vero hingga terjatuh di lantai sangat keras dan badannya sakit sekali, karena ketakutan Emeli tambah marah dan mendekat pada Vero. Akhirnya Vero berlari ke arah dapur dan mencari tempat persembunyian yang aman.
"Mau kemana kamu Vero. Kamu harus mati. Kamu enggak bisa lepas dari kejaran aku Vero." kata Emeli.
Vero bersembunyi di kolong meja makan, dan sangat ketakutan sekali jika Emeli menemukannya Vero akan mati terbunuh di tangan Emeli.
"Vero.....Vero....." kata Emeli yang mencari Vero. Dia mencari di hordeng dengan parangnya tapi belum juga ketemu. Lalu tiba tiba parangnya di tancapkan ke meja makan Vero ketakutan dan nangis karena hampir mengenai dia. Vero pun secara perlahan lahan ingin kabur lewat pintu dapur yang melewati kebun keluarganya Vero, dan Emeli yang melihat langsung mengejarnya lalu melayangkan parang itu hingga terkena kepalanya dan kepala Vero terputus. Darah berceceran di rumput belakang rumah Vero. Vero terkapar dan menghembuskan napas terakhirnya. Lalu Emeli yang menghampiri tersenyum puas melihat Vero mati kepalanya terputus.
"Itu balasannya, untuk orang yang udah menantang aku. Mati sia sia, makanya jagalah perkataan jika tidak mau berakhir mengenaskan. Karena aku bukan wanita lemah dan selugu wajahku, aku bisa melakukan apapun jika hatiku sudah tersakiti yang penting aku puas melihat korbanku tewas mengenaskan. Semoga kamu tenang di neraka ya Vero selamat tinggal." kata Emeli tertawa lalu meninggalkan mayat Vero tergeletak.
Keesokkan harinya pagi pagi buta orang tua Vero pulang ke rumah dan mencari cari anaknya tersayangnya bersama saudara kembar Vero.
"Vero.....Vero.....ini mama nak sudah pulang, kamu dimana." kata Samantha mama Vero.
"Vero, papa sudah pulang bawa oleh oleh yang kamu pesan. Dan ada kejutan untuk kamu Vero." kata Pratama papa Vero.
"Ya udah kamu cari di tempat lain ya Vera." kata Pratama.
"Iya pa." kata Vero yang segera mencari Vero di tempat lain.
"Vero kamu di mana sayang (bingung) apa jangan jangan Vero enggak pulang kali ya pa nginap di rumah temannya, masa iya pagi pagi dia udah pergi ke kampus kan enggak mungkin. Pasti dia nginap di rumah Vanessa atau Aleta karena takut sendirian di rumah karena di tinggal kita pa." kata Samantha menerka nerka.
Di saat kepanikan Vera berteriak penuh histeris dan menangis karena melihat saudara kembarnya mati terkapar dan kepalanya terpisah sekujur tubuhnya bersimba darah karena kena parang di kebun milik keluarganya.
"aaaa......mama, papa sini ma. Vero...." kata Vera yang menghampiri tubuh Vero sambil duduk lemas di hadapan mayat Vero.
"Pa itu suara teriakkannya Vera pa." kata Samantha kaget.
"Oh iya ada apa ya (bingung) ayo kita samperin sepertinya suaranya dari kebun belakang." kata Pratama yang langsung menghampiri Vera bersama Samantha.
"Iya pa ayo." kata Samantha.
"Ada apa sayang." kata Samantha dan Pratama serentak lalu kaget melihat anaknya Vero sudah jadi mayat dan kepalanya pun putus.
"Oh my god Vero....." kata Verlita histeris langsung pingsan.
"Ma....mama....bangun ma." kata Samantha yang langsung menggendong Verlita masuk kedalam.
"Ma....mama bangun ma bangun." kata Vera dan Pratama yang kemudian langsung menelepon polisi. Dan banyak polisi dan orang yang melihat mayat Vero tapi ada penghalang di TKP.
"Aleta, Vero mana ya (duduk disebelah Aleta) kok belum datang. Tumben, apa jangan jangan kesiangan karena kemarin dia telepon aku ya malam malam. Gara gara ada burung gagak yang hinggap di jendelanya." kata Vanessa bingung.
"Oh.....jadi kamu juga di telepon sama Vero ya Vanessa." kata Aleta.
"Iya." jawab Vanessa.
"Lucu juga ya Vero dia masih percaya aja sama mitos kayak gitu (tertawa) ada ada aja ya sih Vero. Vero.....Vero.....Nelepon cuma ketakutan yang enggak penting seperti itu." kata Aleta tertawa bersama Vanessa.
Kemudian papanya Vero telepon Vanessa memberi kabar buruk tentang Vero sahabatnya.
"Aleta ini nomer enggak di kenal siapa ya." kata Vanessa bingung.
"Coba aja angkat dulu Van, siapa tahu aja penting." kata Aleta menyuruh angkat teleponnya.
"Hallo ini Vanessa ya." kata Pratama.
"Iya, ini Vanessa. Ini siapa ya." tanya Vanessa penasaran.
"Ini papanya Vero Vanessa." kata Pratama.
"Oh, papanya Vero (ngomong sama Aleta pelan) papanya Vero......papanya Vero." kata Vanessa.
"Terus....terus....." kata Aleta menyuruh lanjutkan.
__ADS_1
"Iya om ada apa ya." kata Vanessa.
"Om cuma mau ngasih kabar aja Vanessa kalau Vero di temukan tewas di kebun tadi jam 3 pagi." kata Pratama.
"A.....apa om." kata Vanessa kaget dan kemudian diam tak bersuara hpnya Vanessa pun terjatuh. Vanessa lemah tak percaya sahabatnya tewas mengenaskan.
"Vanessa kamu kenapa Van (bingung menepak pipi Vanessa pelan) Vanessa." kata Aleta bingung karena melihat Aleta yang tiba tiba berdiam dan menangis lalu Vanessa memeluk Aleta.
"Aleta...." kata Vanessa menangis histeris.
"Vanessa kamu kenapa. Kamu tenang dulu Van, kamu tenang (menenangkan), Vanessa sebenarnya kamu ada apa sih, kok setelah dapat telepon dari papanya Vero kamu menangis kaya gini." kata Aleta bingung.
"Vero let Vero." kata Vanessa terbata bata.
"Iya Vero kenapa." kata Aleta bingung.
"Ternyata mitos tentang burung gagak itu enggak bohong let karena papanya Vero barusan menelepon untuk memberi kabar kalau Vero itu di temukan tewas di kebun miliknya." kata Vanessa menangis terbata bata.
"Apa....Ve.....Vero tewas." kata Aleta kaget dan menangis.
Emeli yang mendengar perbincangan Vanessa dan Aleta tertawa puas melihat dari kejauhan Vanessa dan Aleta sedang menangis kehilangan sahabat baiknya.
"Iya let" kata Vanessa.
"Ka....kamu serius Vanessa." tanya Aleta enggak percaya.
"Ya aku serius masa dalam hal seperti ini aku berbohong sih." kata Vanessa menangis.
"Vero (menangis histeris) maafin aku Ver maafin aku karena semalam aku enggak percaya sama kamu. Seandainya aja aku semalam percaya sama kata kata kamu, dan menemani kamu di rumah pasti kejadiannya enggak akan seperti ini Vero." kata Aleta yang sedih.
"Iya aku juga merasa bersalah banget sama dia. Semalam aku malah menutup telepon dia, di saat dia lagi ketakutan. Soal burung gagak itu, ternyata benar firasat dia, kalau itu pertanda kematian untuk Vero. Jadi.....jadi kemarin itu pertemuan kita yang terakhir. Kita memang bodoh sebagai teman bukan ya menemani teman kita yang lagi ketakutan tapi malah mementingkan tidur." kata Vanessa yang menangis histeris penuh penyesalan.
"Iya betul banget aku juga sangat menyesal banget Van. Ya udah, kita izin sama bu Tamara yuk. Sekalian kita bilang berita buruk ini sama bu Tamara." kata Aleta mengajak Vanessa.
"Iya ayo." kata Vanessa.
Vanessa dan Aleta langsung ke ruangan Bu Tamara.
Samantha bangun dari pingsannya dan berteriak histeris memanggil nama anaknya Vero.
"Vero.....Vero....pa Vero pa Vero....." kata Samantha menangis penuh histeris.
"Iya sayang, papa tahu Vero sudah enggak ada di dunia ini." kata Pratama yang menenangkan istrinya.
"Seandainya kemarin kita enggak ninggalin Vero sendiri, dan minta izin ke kampus untuk Vero ikut ke kampung pasti kejadiannya enggak mungkin seperti ini, Vero enggak mungkin ninggalin kita unruk selamanya. Padahal kemarin Vero pengen banget ikut kita ke kampung tapi kan papa yang melarang karena takut Vero ketinggalan pelajaran." kata Samantha penuh penyesalan.
Iya sayang papa sangat menyesal sekali ini semua gara gara papa yang meninggalkan Vero sendiri, padahal Vero enggak pernah di tinggal sendiri sebelumnya." kata Pratama menangis penuh penyesalan.
Vera hanya terdiam melamun mengingat saudara kembarnya dan menangis.
"Vero aku ke sini, tuh pengen kita sama sama lagi kaya waktu kecil. Dan pengen satu kampus sama kamu. Tapi ternyata kamu udah enggak ada di dunia ini. padahal aku semangat banget pengen ketemu kamu Vero." kata Vera sambil menangis. Aku kangen banget sama kamu Vero." kata Vera yang menangis melihat jenazah saudara kembarnya.
"tok....tok....tok....." bunyi ketokan pintu, dan bu Tamara membuka pintu.
"Vanessa, Aleta ada apa kalian ke sini. Ayo masuk." kata bu Tamara mempersilahkan masuk. Vanesa dan Aleta pun masuk ke ruangan bu Tamara.
"Bu kami ke sini mau memberikan kabar buruk bu, info dari papanya Vero barusan kalau Vero di temukan tewas di kebun miliknya." kata Monik.
"Apa.....tewas. Astaga." kata bu Tamara kaget.
"Iya bu saya...say juga enggak tahu kronologisnya seperti apa bu tapi tadi papanya Vero menelepon Vanessa dan semalam Vero juga sempat menelepon kami bu, dia sangat ketakutan sekali karena udah ada firasat buruk yang datang ke rumahnya, karena sebelum Vero meninggal Vero sangat ketakutan karenaa rumahnya di datangi oleh burung gagak." kata Aleta yang menangis bu Tamara pun ikut menangis.
"Yang lebih buat kita sangat menyesal lagi bu kita tidak menghiraukan keetakutan Vero dan menganggap semua ini cuma mitos aja hingga kitaa melanjutkan tidur kita dan pada akhirnya kita mendapatkan kabar buruk ini." kata Vanessa terbata bata menangis penuh penyesalan.
"Astaga, sebenarnya ada apa sih dengan kampus kita. Waktu itu ditemukan Amanda bunuh diri, sekarang Vero ditemukan tewas (bingung sambil menangis) ya udah sekarang kita kelas dan bubarkan pelajaran untuk menyuruh semua ke rumah Vero untuk belasungkawa." kata bu Tamara.
"Iya bu ayo." kata Vanessa dan Aleta serentak lalu keluar dari ruangan dosen bersama bu Tamara.
"Anak anak yang ibu cintai maaf hari ini ada kabar buruk kalau satu lagi teman kita Veronica Pratama telah di temukan tewas di kebun rumahnya pada pukul 03.00 sekarang kita semua harus berkabung ke rumah Vero." kata bu Tamara.
"Apa Vero di temukan tewas di kebunnya, ih seram banget sih." kata Della.
"Sepertinya kampus kita itu telah di kutuk deh masa banyak mahasiswi yang tewas mengenaskan dan mahasiswa yang menghilang tiba tiba tanpa kabar." kata Vee.
"Aduh kalau kaya gini mending aku keluar aja deh dari kampus daripada aku juga jadi korban pembunuhan." kata Aqila.
"Iya aku juga ah mending keluar daripada harus mati ih seram, aku enggak mau mati di usia muda." kata Sakilla.
Vera masih syok dengan kejadian tragis yang menimpa saudara kembarnya Vero hingga dia terus menangis dan enggak sanggup melihat mayat Vero hingga Vera terus mengunci diri di kamarnya padahal di rumahnya sangat ramai teman kampus Vero pada berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa untuk keluarga Vero akan kematian Vero. Di saat Pemakamannya pun Vera tak menghadiri, karena tak sanggup melihat saudara kembarnya dimakamkan. Semua mengiringi tangis kepergian Vero, Samantha, Vanessa, dan Aleta pun menangis histeris melihat Vero di makamkan memanggil manggil namanya tak terkontrol. Pratama terus menenangkan Samantha sedangkan mahasiswi lain menenangkan Vanessa dan Aleta.
"Vero, mama nyesal Vero meninggalkan kamu sendiri di rumah. Seandainya waktu itu mama mengajak kamu, padahal kamu mau banget menghadiri pemakaman nenek, dan bertemu saudara kembar kamu tapi papa kamu melarang kamu karena takut kamu ketinggalan pelajaran. Maafkan mama Vero sayang, mama sayang kamu (menangis) pa Vera mana pa." tanya Samantha.
"Vera masih syok karena kematian Vero, jadi dia menyendiri dikamar mengunci diri." kata Pratama.
"Kasihan Vera, padahal dia mau tinggal di sini karena pengen dekat sama Vero ternyata Vero malah tewas sangat tragis." kata Samantha yang menangis.
Vera perlahan lahan berjalan menuju fotonya Vero dan melihat dengan airmata yang membanjiri pipinya.
"Vero, aku enggak nyangka kalau kamu akan tewas setragis ini. Siapa.....siapa yang membunuh kamu Vero. Siapa.....gue janji Veronica Pratama demi kamu, aku Veranica Pratama akan membalaskan dendam kematian kamu Vero." kata Vera matanya terpancarkan dendam untuk saudara kembarnya dan ingin mencari pembunuh yang menyebabkan kematiannya saudara kembarnya itu.
Tangis mahasiswa mahasiswi mengiringi kepergiannya Vero sedangkan Emeli tersenyum senang karena musuh yang menantangnya telah tewas di tangannya. Ada kepuasan sendiri dalam hati Emeli seorang psikopat cantik karena jika musuhnya belum tewas di tangannya hatinya belum tenang dan mengganjal di hatinya.
* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘
__ADS_1