
Emeli sangat sedih karena kematian ibunya yang sangat tragis, tinggallah Emeli hidup seorang diri. Dia tak punya kekuatan dan semangat hidup tanpa seorang ibu yang menemani Emeli dalam penderitaan, tidak ada lagi yang memberi dia semangat di saat hati dia sedang rapuh dan dilanda masalah. Tapi Emeli harus tetap bangkit dan semangat untuk bisa membalaskan dendamnya kepada orang yang telah membuat hidupnya dan ibunya menderita.
Pagi hari dia harus tetap berangkat ke kampus meski hatinya lagi bersedih. Emeli menjadi sebatang kara karena ibunya sudah tidak ada lagi di dunia ini untuk selamanya, sedangkan ayahnya lepas tangan begitu saja dan tidak mempedulikannya lagi, berbahagia di atas penderitaan Emeli dan ibunya. Karena kematian ibunya Emeli tidak tidur seharian dan tetap kuliah karena Emeli sudah berjanji akan membuat ibunya bangga di alam sana untuk menjadi orang sukses.
Di koridor kampus yang sunyi, Emeli berjalan seorang diri sambil menundukkan kepalanya tanpa ada semangat hidup seperti biasanya, netranya mengeluarkan airmata kehilangan sosok yang disayanginya. Lalu ke tiga geng CDS mencegat Emeli, dan Aleta menyengkat kaki Emeli hingga Emeli pun terjatuh.
"Awww....." rintih Emeli kesakitan.
Monik, Aleta, dan Vero tertawa puas melihat Emeli yang terjatuh.
"Makanya, kalau jalan itu lihat lihat ke depan jangan ke bawah terus. Memangnya di bawah ada duit hahahaha......." Ledek Monik tertawa. Aleta dan Vero pun ikut tertawa.
"Aduh (pura pura kaget), saudara tiriku yang sudah tidak dianggap anak oleh papi jatuh ya. Sini sini aku bantu." kata Aleta sambil mengulurkan tangannya pas Emeli ingin menggapai tangannya dan ingin bangun, Aleta kembali menjatuhkan Emeli. Monik, Aleta dan Vero pun tertawa lepas terbahak bahak.
"Hahahahaha.....(tertawa), rasakan kamu Emeli." kata Monik, Aleta, dan Vero serentak.
"Awww......Aleta kamu jahat...." ucap Emeli.
"Kamu berharap aku bantu ya. Hahahaha.....(tertawa), jangan harap. Kamu baru tahu ya kalau aku itu jahat, apa lagi sama orang yang aku sangat benci seperti kamu." sambar Aleta.
"Salah aku apa sih sama kalian bertiga, kok kalian benci banget sama aku?" tanya Emeli marah.
"Salah kamu (nunjuk Emeli). Hem.....(mikir), ya salah kamu....karena kamu sudah hadir di kehidupan kita, jadi kamu harus siap siap kita bully." lanjut Aleta sinis.
"Yoay Aleta....benarnya pakai banget kata kata Kamu Aleta, kita takkan berhenti membuat Emeli menderita. Habis sih wajahnya ngeselin banget, kaya minta di bully hahahahaha....." sambar Vero tertawa.
"Dan kamu Emeli (nunjuk Emeli), jangan harap kita akan berhenti ngebully kamu sampai sini. Siap siap saja ya kamu bakal menderita selama kamu masih kuliah di sini, cewek kampung apa lagi kamu telah merebut laki laki yang aku sangat sayang." kata Monik.
"Oh iya Emeli, aku senang banget melihat kamu dihajar habis habisan sama bokap aku. Eh bokap kita hem......(mikir), bokap kamu juga bukan ya. Kayanya sudah tidak deh karena kan sudah tidak diakuin anak lagi hahahahaha...... (tertawa). Aduh duh....duh.... kasihan deh kamu Emeli." kata Aleta tertawa.
"Iya, kasihan banget anak yang terbuang hahahaha......" kata Monik dan Vero serentak lalu tertawa bahagia.
Lalu Monik, Aleta, dan Vero pergi meninggalkan Emeli yang sedang terjatuh kesakitan. Salsa yang melihat Emeli terjatuh sangat kaget dan segera menolong Emeli.
"Emeli kamu tidak apa apakan." kata Salsa.
"Salsa....." Tangis Emeli memeluk Salsa
"Sudah ya Emeli sudah, kamu jangan sedih lagi ya.....mereka sudah pergi kok. Kamu yang sabar ya tadi pasti mereka menyakiti kamu ya Emeli." ucap Salsa.
"Bukan soal itu Salsa, kalau mereka menyakiti aku sih itu sudah hal yang biasa (terisak). Ta....tapi ini soal ibu aku Sal....ibu aku....." tangis Emeli pecah.
"Ibu kamu (bingung), ibu kamu.....kenapa Emeli." tanya Salsa bingung.
"Ayahku kemarin sudah menikah lagi, dan ternyata ibu tiri aku itu ibunya Aleta " kata Emeli.
__ADS_1
"Apa? (kaget), jadi kamu sekarang bersaudara sama Aleta. Berarti nasib kamu sama kaya aku ya Emeli, yang bersaudara dengan Monik." kata Salsa.
"Iya Salsa, nasib kita sama.....dan terus kemarin aku nyamperin ayahku di hari pernikahannya.....ya aku tidak bisa terimalah Salsa ayah aku menikah lagi di saat keputusan cerai di pengadilan belum selesai. Lalu ayah aku tidak terima, aku mengacaukan pernikahannya dan dia memutuskan hubungan darah antara ayah dan anak di depan semua orang di sana. Terus kemarin ayah mengutus kedua anak buahnya untuk memberi pelajaran kepada aku dan ibu, la....lalu ibu aku melindungi aku di saat aku mau dipukul dengan guci besar oleh preman itu, da....dan akhirnya Sal....." kata Emeli terdiam menangis.
"Akhirnya.....akhirnya kenapa Emeli." tanya Salsa.
"A.....akhirnya ibu aku meninggal dunia. Karena ibu yang terkena pukulan guci besar itu, sangat dasyat kerasnya mengenai kepala ibu hingga kepala ibu bocor dan mengeluarkan banyak darah." Tangis Emeli memecah.
"Astaga.....ja....jadi tante Hanna sudah meninggal. Ya Tuhan kejam banget ayah kamu dan preman itu." kata Salsa kaget dan memecahkan tangisnya memeluk Emeli.
"Iya Salsa, makanya aku hari ini sangat sedih sekali tidak ada kekuatan lagi untuk aku melawan kehidupan ini Salsa." kata Emeli menangis.
"Kasihan tante Hanna meninggal dengan sangat tragis seperti itu. Berarti waktu aku main ke rumah kamu itu, tante Hanna masak terakhir untuk aku dan kita makan bertiga bersama, hari terakhir aku berkumpul bersama dengan tante Hanna, oh my god tante Hanna (menangis). Terus, kenapa kamu tidak kabarin aku Emeli, kan kalau kamu hubungin aku. Aku bisa hadir ke pemakaman ibu kamu. Karena tante Hanna sudah aku anggap sebagai ibu aku sendiri, jadi aku juga sangat kehilangan ibu kamu." kata Salsa mengenang saat makan terakhir bersama Hanna penuh kesedihan.
"Maaf ya Salsa, kemarin a....aku lagi sedih banget. Jadi aku lupa hubungin kamu dan aku memakamkan ibu aku seorang diri di belakang rumah aku. Ka.....karena aku tidak mungkin memakamkan ibu aku seorang diri di pemakaman umum." kata Emeli berbohong penuh kesedihan.
"Terus dari mana mereka tahu tempat tinggal kamu yang baru Emeli?" tanya Salsa.
"Entahlah Salsa....aku juga tidak tahu. Mungkin anak buahnya pak Ronald mengikuti aku dan ibu sewaktu pulang. Sekarang aku sudah kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidup aku. Orang yang telah melahirkanku ke dunia ini, penyemangat hidup aku. Ini semua karena ayah aku sendiri Salsa dan sekarang aku hidup sebatang kara....." kata Emeli memecahkan tangisnya menutup wajahnya yang penuh airmata.
"Aku turut sedih ya Emeli (memegang pundak Emeli), aku juga sangat kehilangan tante Hanna. Karena tante Hanna itu sangat baik sekali padaku, pengganti ibuku yang sudah tiada. Dan aku tidak menyangka kemarin makan terakhir aku bareng tante Hanna (menangis). Emeli aku paham kok apa yang kamu rasakan saat ini, karena aku juga pernah mengalaminya ketika kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidup aku. Tapi kamu tidak sendiri Emeli, kan ada aku sahabat kamu yang sudah mengganggap kamu sebagai saudara. Yang selalu siap menemani kamu dalam keadaan apa pun. Jadi jangan pernah kamu bilang lagi ya Emeli kalau kamu itu sebatang kara, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sendiri Emeli." kata Salsa menenangkan Emeli.
"Terima kasih ya Salsa.....kamu memang sahabat aku yang paling baik, sekaligus saudaraku. Aku beruntung mempunyai sahabat seperti kamu Salsa." kata Emeli sambil memeluk Salsa dengan erat Salsa tersenyum.
"Iya Salsa.....kamu benar, aku kan sudah janji pada ibu aku, untuk membuat ibuku bangga di alam sana. Dan membuat bokap aku menyesal karena menelantarkan aku. Aku akan buktikan kalau aku bisa sukses tanpa bokapku (menghapus airmata dari pipinya). Terima kasih ya Salsa, atas support kamu. Entah apa jadinya aku tanpa kamu Salsa, mungkin hatiku bisa sangat rapuh dan putus asa. Pokoknya aku janji, aku akan buktikan pada ibu dan ayah aku kalau aku Emeli bisa sukses." kata Emeli tersenyum.
"Nah gitu dong, itu baru namanya Emeli yang aku kenal." Kata Salsa sambil mengelus kepala Emeli.
"Memangnya tadi kamu tidak kenal dengan aku Salsa hahahahaha......." canda Emeli tertawa.
"Ya tidaklah.....habis tadi kamu cengeng sih, dan patah semangat gitu jadi bukan diri kamu banget karena Emeli yang aku kenal. Meski berat masalahnya tapi selalu bisa tersenyum dan ceria hahahaha......." canda Salsa.
Emeli dan Salsa tertawa sambil berpelukan seperti Teletubbies.
"Terima kasih ya sahabat aku Salsa yang blaem blaem." kata Emeli.
Gerry datang menghampiri Emeli yang memeluk Salsa dan bingung melihat Emeli yang sedang sedih.
"Sayang kamu kenapa, sepertinya kamu habis nangis ya." tanya Gerry.
"Gerry.....(meluk Gerry), ibu aku Gerr....ibu aku....." kata Emeli.
"Ibu kamu kenapa sayang." tanya Gerry.
__ADS_1
"Ibu aku meninggal dunia kemarin." kata Emeli.
"Astaga sayang, kamu serius. Kenapa kamu tidak kabarin aku." kata Gerry.
"Iya sayang aku serius. Maaf ya sayang aku kemarin tidak berpikiran Karena aku lagi sedih banget jangankan kamu Gerry, Salsa saja sahabat aku dari kecil aku lupa aku kabarin karena aku sangat terpuruk banget orang yang sangat berarti dalam hidupku telah meninggalkan aku untuk selamanya. Dan sekarang aku hidup sebatang kara tanpa ibu dan ayah yang sudah menikah lagi dengan wanita lain yang tidak lain adalah ibunya Aleta." kata Emeli menangis.
"Apa (kaget), jadi ayah kamu sudah menikah lagi dengan ibunya Aleta, dan jadi kalian berdua sekarang itu sudah menjadi saudara tiri. Ya Tuhan, sabar ya sayang aku turut berduka cita. Sini kamu duduk dulu....cerita apa yang sebenarnya terjadi." jawab Gerry.
"Kalau begitu aku ke kelas dulu ya, Gerry aku mohon kamu tenangkan Emeli." pinta Salsa.
"Siap Salsa....nih kamu minum dulu biar tenang Emeli sayang lalu tarik napas dan mulai menceritakan sedetail detailnya." kata Gerry.
Lalu Emeli menceritakan kejadian secara detail kepada Gerry sambil menangis dengan air mata yang membanjiri pipinya, penderitaan yang dialami oleh Emeli. Dan Gerry pun memeluk Emeli untuk menenangkan kesedihan Emeli.
"Kamu harus sabar ya Emeli, kamu tidak sendiri kok. Kan masih ada aku pacar kamu dan Salsa sahabat kamu yang selalu menemani kamu." kata Gerry.
"Iya sayang, terima kasih aku beruntung mempunyai pacar seperti kamu Gerry." kata Emeli lalu memeluk Gerry.
Setelah pulang kuliah Gerry dan Salsa ke makam palsu Hanna yang dibuat oleh Emeli.
"Maafkan aku Gerry, Salsa kalau aku telah membohongi kalian berdua. Sebenarnya ini makam palsu, yang aku buat agar kalian tidak curiga kalau mayat ibuku masih ada di tempat tidur ruang bawah tanah." batin Emeli melihat Gerry dan Salsa yang menabur bunga ke makam palsu Hanna.
"Kamu yang sabar ya Emeli." kata Salsa memegang pundak Emeli.
"Iya Salsa terima kasih." kata Emeli menangis.
"Kamu jangan sedih lagi ya kamu harus semangat. Kan ada aku." kata Gerry menyemangati Emeli.
"Terima kasih ya sayang." kata Emeli.
Hari berganti hari Emeli menjalankan kasih asmara bersama Gerry. Emeli pun sangat bahagia meski hati masih sangat kehilangan ibunya dan terus menangis dalam kesepian.
Setelah tiga hari Emeli mengambil gelas yang berisi darah ibunya, bekas rendaman kalung pemberian ibunya lalu dia memakai kalung itu di lehernya. Dan meminum darah ibunya yang bekas rendaman kalung merah delima pemberian ibu sambil menahan bau anyir darah dan rasanya yang tidak enak. Tiba tiba seperti ada kekuatan gaib yang merasuki tubuhnya. Lampu ruangan berkelap kelip, dan ada sekelebat bayangan ibunya lewat di hadapannya. Angin pun sangat kencang suasana pada malam itu sangat mencekam dan horor sekali di rumah kediaman Emeli, tapi Emeli tak takut sama sekali karena dia malah menginginkan arwah ibunya bangkit kembali untuk menemaninya, karena Emeli sangat merindukan ibunya.
"Ibu....itu ibu kah.....ibu....ibu di mana. Emeli rindu sama ibu." Emeli mencari keberadaan ibunya, tapi tak jua menemukan ibunya. Emeli sangat sedih, tapi Emeli langsung menghapus airmatanya dan terbayang bayang kejahatan ayahnya pada Emeli dan ibunya.
"Aku tidak boleh cengeng.....aku harus kuat....(sambil menghapus airmatanya) karena aku harus balas dendam pada keluarga pak Ronald Kertajasa, mereka harus mati sangat tragis lebih tragis dari kematian ibu. Tunggu saja pembalasanku pak Ronald Kertajasa.....kalian semua harus membayar penderitaan aku dan ibu." kata Emeli penuh dendam.
Emeli sangat marah kepada pak Ronald yang membiarkan ibunya meninggal, dan marah pada keluarga barunya yang menghancurkan kebahagiaan ibunya. Emeli tak peduli kalau Ronald itu ayahnya, karena dendam Emeli pada Ronald lebih besar dari pada kasih sayang Emeli pada Ronald. Karena selama ini Ronald tak pernah menyayangi Emeli.
* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘
__ADS_1